
“Bukankah itu batu delima dari monster tersebut?” tanya Richard.
“Apa kalian tau tentang inti kehidupan?” Zeed bertanya balik.
“Hmm aku hanya tau sedikit. Inti kehidupan adalah energi yang berasal dari monster kuat. Selain itu, inti kehidupan hanya bisa didapat ketika monster tersebut memiliki unsur elemen. Ya mungkin seperti itu,” jawab Dom.
Sejak kapan bocah ini berwawasan luas?
Richard seketika mendekati Dom dan membisikan sesuatu ke telinganya.
“Hey nak, darimana kau tau tentang itu?”
“Aku hanya membaca … hanya membaca … ahahah.”
Jika dia tau aku mendapatkan informasi tersebut dari seekor naga, maka pak tua ini pasti akan kembali bertanya tentang kejadian yang ada di Dungeon. Ah ... bahkan aku tidak ingin mengingatnya lagi.
“Jadi maksudmu … karena Zackal adalah monster yang memiliki unsur elemen, maka benda ini adalah inti kehidupan? Selain itu apakah kau tau cara menyerap kekuatan dari batu ini?” tanya Zeed.
“Hmm kalau soal itu, aku tidak begitu mengerti dengan jelas. Hanya saja, semakin kuat monster yang didapat, maka inti kehidupan akan semakin memancarkan kekuatannya,” jawab Dom.
“Hemm begitu ya …,” balas Zeed.
Apa aku bawa saja benda ini? Lagipula ketua tidak memberi tahu bentuk dari inti kehidupan. Selain itu, batu ini juga terlihat memancarkan kekuatan yang cukup kuat. Yah ... mungkin aku akan bertanya pada orang lain tentang bagaimana cara mengaktifkan inti kehidupan.
“Kau bawa saja benda bodoh itu, lagipula kami tidak membutuhkannya,” ungkap Richard.
Bukankah seharusnya kau yang bodoh membiarkanku membawa benda langka seperti ini?
“Kalau begitu aku akan membawanya.” Zeed pun mengambil dan menyimpannya.
Setelah Zackal lenyap, cuaca kembali menjadi normal. Medan di sekitar juga sudah seperti jalur pendakian pada umumnya. Setelah keluar dari area tersebut, mereka bisa melihat puncak dari Gunung Greenfield yang semakin dekat.
“Hey lihat Paman, aku bisa melihat Puncaknya!!!” Dom menunjuk ke arah puncak gunung tersebut.
Bukankah daritadi memang terlihat ….
“Yah, sepertinya sedikit lagi kau akan mendapat kekuatanmu nak,” jawab Richard.
Melihat puncak Gunung Gereenfiled yang terlihat semakin dekat. Zeed memutuskan untuk pergi karena dia sudah tidak punya tujuan dan kepentingan lagi disini. Ditambah lagi masih ada hal yang harus dilakukan oleh Zeed.
“Sepertinya urusanku disini sudah selesai,” ujar Zeed yang berjalan pergi.
“Hey ayolah Paman, kita belum tiba di gunung, bisa saja kita tersesat lagi. Aku merasakan firasat buruk ketika pergi bersama orang ini.” Dom menunjuk ke Richard.
Setidaknya jangan menghina gurumu anak setan.
“Biarkanlah pemandu ini pergi Dom, lagipula dia sudah tidak ada gunanya lagi disini,” ujar Richard dengan wajah ketusnya.
“Kalian cukup mengikuti jalan ini, lalu kalian akan sampai,” jawab Zeed.
“Tapi paman listrik ….”
“Jangan lupa bahwa aku adalah penjahat. Setelah ini aku akan kembali menjadi musuh kalian. Untukmu bocah, jadilah lebih kuat karena suatu hari kau pasti akan melawanku. Pada saat itu, mungkin aku bisa saja membunuhmu,” seru Zeed.
“Hmm kalau begitu, sebelum kau membunuhku, aku akan menyadarkanmu agar kau tidak berbuat jahat lagi!” teriak Dom.
__ADS_1
Jangan bermimpi bocah ....
“Hmm aku menantikan itu ….” Zeed pun berbalik ke belakang.
Mengapa aku merasa peduli? Cih sepertinya aku sudah terlalu lama bersama mereka sehingga timbul aura kebaikan dalam diriku. Tapi … mungkin anak ini bisa mengalahkan orang itu di masa depan.
Zeed pun tersenyum karena pikirannya sendiri.
“Selamat tinggal,” Zeed memberikan gestur melambai dengan tangannya.
“Sampai jumpa paman petir!” teriak Dom.
“Hey kau tidak perlu melakukannya pada musuhmu,” seru Richard.
Setelahnya Zeed pergi meninggalkan Gunung Greenfield. Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju puncak untuk mengambil Imperial Stone.
Karena sudah dekat, tidak berselang lama mereka akhirnya tiba di puncak Gunung Greenfield. Namun … ketika mereka menginjakan kaki di puncak ini, perasaan yang pertama kali dirasakan adalah ketakutan.
“Kenapa … kenapa di tempat ini banyak sekali tengkorak manusia?!” Dom menengok ke kiri dan kanan dengan wajah takut, sambil berlindung di belakang Richard.
“Sepertinya puluhan tahun yang lalu, banyak orang yang mengincar benda tersebut,” seru Richard.
Sebenarnya apa yang terjadi? Terlebih, apa hanya perasaanku saja, atau racun disekitar sini lebih kuat dari sebelumnya?
Puncak dari Gunung Greenfield adalah medan yang melingkar seperti dalam film Kimi no Nawa. Di dalam lingkaran tersebut terdapat sebuah danau besar yang sudah mengering. Namun ... meskipun sudah mengering, di sekitarnya terdapat aroma racun yang sangat mematikan.
Tidak heran jika banyak tengkorak yang tergeletak disitu karena tidak kuat menahan racun yang ada.
“Hey Dom, mungkin kita harus meminum penawar racun lagi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.”
Dom serta Richard meminum penawar racun yang diberikan oleh Lyfa. Kemudian mereka perlahan masuk ke dalamnya.
Selama memasuki area danau, mereka tidak melihat ada makhluk hidup yang singgah disitu, baik itu Monster ataupun manusia. Namun, ketika menelusuri lebih dalam, terdapat sebuah cahaya yang cukup menyilaukan dari jauh.
“Hey Paman, sepertinya aku melihat cahaya, apa mungkin itu batunya?”
“Hmm kau benar, sepertinya kita sudah dekat.”
“Kalau begitu tunggu apalagi!” teriak Dom yang mulai berlari.
“Tunggu! Sebaiknya kita berjalan secara berhati-hati,” seru Richard.
Mereka mulai bergerak perlahan untuk memasuki tempa tersebut lebih dalam. Namun, semakin mendekati area danau, Dom dan Richard tidak sadar bahwa mereka sedang diikuti oleh sesuatu yang menakutkan.
Area lain di puncak Gunung Greenfield.
“Ahh rasanya sudah lama manusia tidak menginjakan kaki di tempat ini. Hmm bocah itu sepertinya punya sihir yang menarik,” suara makhluk misterius yang memantau Dom dari kejauhan.
“Tapi yang satu lagi sepertinya cukup kuat. Ini pasti akan menarik,” menyeringai.
----------------------
Sementara itu, di area danau puncak Gunung Greenfield.
“Ingat, jangan terburu-buru dan pastikan langkah kita tetap tenang,” ujar Richard sambil mencoba fokus.
__ADS_1
“Sial ini lebih susah dari yang kuduga,” balas Dom.
Meskipun sudah lama mereka berjalan di danau tersebut. Namun, mereka tidak menemukan perangkap ataupun musuh yang lewat. Tentunya hal tersebut membuat Richard khawatir mengingat biasanya tempa yang memiliki sebuah harta akan dipasang sebuah jebakan.
“Aneh, bukankah pawang petir itu bilang bahwa di tempat ini terdapat Guardian?” tanya Richard.
“Sudah kubilang untuk tetap mengajaknya, paman malah keras kepala,” seru Dom.
“Diamlah nak, meskipun orang itu membantu kita, tidak ada jaminan bahwa nantinya dia akan berkhianat pada kita,” balas Richard.
“Benarkah begitu? Atau jangan-jangan paman iri karena dia bisa lebih diandalkan?” tanya Dom sambil mengejek.
“Haa?! Apa maksudmu cacing kering?!” Richard mulai mengeluarkan auranya.
Hih … kenapa pak tua ini mudah sekali terpancing!
“Ah liat paman, cahaya itu sudah semakin dekat!” teriak Dom sambil mencoba mengalihkan perhatian Richard.
“Jika kau berbohong, maka api ini akan membakar habis bokongmu!”
“Untuk apa aku berbohong, lihatlah sendiri,” balas Dom.
Richard melihat apa yang ditunjuk oleh Dom.
Hmm memang benar, cahaya tersebut semakin dekat. Tapi … entah kenapa aku merasakan aura lain di sekitar sini.
“Kalau begitu, sebaiknya-” Belum selesai Richard berucap, Dom sudah menghilang.
“Dom?” Richard baru sadar bahwa dia sedang berbicara sendiri.
“Cepatlah paman!” teriak Dom yang sudah berlari meninggalkan Richard begitu jauh.
Anak setan!!! Dia bahkan tidak mendengarkan saranku ....
“Jangan gegabah nak!” teriak Richard.
Ketika Dom hampir sampai di sumber cahaya, muncul makhluk misterius yang menganggu mereka.
"Hoo rupanya kalian cukup berani mendatangi cahaya itu," menyeringai.
Richard yang menyadari keberadaan musuh, langsung berteriak ke arah Dom.
"Dom menjauhlah!" teriak Richard namun tidak didengarkan oleh muridnya.
"Kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh bocah ini," ujarnya.
Dom masih belum mengetahui keberadaan musuh.
“Srang!" Sebuah tebasan pedang yang cukup kuat mengarah langsung kepada Dom.
“Celaka! Dom awas!” teriak Richard.
"Boom!" Tanah di tempat tersebut terbelah dengan sangat dalam.
"Sial! Apa-apaan serangannya ini!
__ADS_1
Bersambung …