
Ketika hendak melanjutkan perjalanan untuk mengambil Imperial Stone, Dom, Richard, dan Zeed dikejutkan dengan kemunculan monster Rank A+ yang bernama Zackal.
Zackal adalah yang memiliki bentuk seperti beruang besar dengan tubuh bersisik kristal dan memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya. Selain itu, di atas matanya terdapat sebuah nama yang diselimuti oleh batu delima berwarna merah terang.
Setelah monster itu muncul, tiba-tiba cuaca menjadi gelap dan hawa disekitar tempat bertarung menjadi dingin seperti es.
“Kenapa disini jadi dingin sekali??” ungkap Dom sambil memeluk badannya sendiri.
Tempat ini terlalu aneh bahkan jika di dunia sihir sekalipun. Sebenarnya seberapa banyak rahasia yang ada di gunung ini.
“Brrrr! Jangan mengeluh, kita harus menghadapinya,” jawab Richard yang juga kedinginan.
“Bagaimana mungkin kita menghadapi yang seperti itu,” ungkap Dom.
Saat mereka masih sibuk mengeluh, Zeed terbang ke udara untuk mencoba menyerang monster itu terlebih dahulu.
“Elemen Petir … Divine Storm!!!”
“Bzzztt … duarrrrrrrrr”
Gumpalan asap menyelimuti tempat tersebut.
“Groaaa!!!” teriak Zackal.
Sihir yang dikeluarkan oleh Zeed tidak menggores Monster itu sedikitpun. Sebaliknya, karena percobaan serangannya membuat keberadaan mereka diketahui oleh Zackal.
“Uaaa kita ketahuan!” teriak Dom.
“Sial, orang itu langsung menyerang saja. Tapi … kenapa tiba-tiba area ini semakin dingin?? Apa jangan-jangan?”
“Kenapa Paman?” tanya Dom.
Angin semakin kencang sehingga membuat mereka kedinginan
“Apa hanya perasaanku saja, atau memang cuaca disini menjadi semakin dingin?? Brrrr,” ujar Dom.
“Tidak salah lagi, ini elemen es.”
“Apa? Jadi monster itu pengguna elemen?!” teriak Dom.
Berarti tingkat kekuatannya sama seperti Red Tyrant? Hih ini berbahaya!
Keadaan cuaca di area tersebut terus berubah seperti tidak menentu.
“Kenapa aku merasa bahwa terjadi perubahan iklim yang cepat sekali?! Tanya Dom.
“Elemen es mempunyai kelebihan yaitu dapat mengontrol cuaca disekitar. Berbeda dari elemen lain yang hanya cuma bisa digunakan untuk menyerang dan bertahan,” ujar Richard.
“Ah, kenapa terdengar merepotkan sekali.”
“Hey apakah kalian sudah selesai berbicara?” tanya Zeed yang tengah kesulitan melawan Monster.
__ADS_1
“Ahaha … maaf paman petir, baiklah kita harus membantunya juga Paman.”
“Mengapa aku harus membantu pemandu dungu itu??” tanya Richard dengan angkuh.
Belum sempat menyelesaikan diskusi, Zackal kembali memulai aksinya. Sebuah serangan cepat yang berasal dari cakar monster tersebut datang ke arah Dom, Zeed dan Richard.
“Wueesssh!” Hempasan angin yang sangat kuat.
“Menunduk!!!” teriak Richard.
Meskipun berhasil menghindar, namun karena tekanan serangan tadi membuat mereka terbawa angin.
“Uaaa!” Dom terhempas cukup jauh karena beratnya yang masih ringan.
“Hey Dom! kau tidak apa-apa?” Mencoba mencari Dom
“Aku tidak apa-apa,” balas Dom dari kejauhan
Ahh kuat sekali, kalau begini aku hanya jadi bahan samsak oleh monster itu ….
Selagi monster tersebut mulai melancarkan serangan berikutnya, Zeed mencoba menyerang dari belakang menggunakan sihirnya.
“Elemen Petir … Lightning Fortex! Hyaaaaaa!!!”
“Boom!!!” ledakan kilat terpancar di area tersebut.
Lightning Fortex adalah salah satu jurus terkuat yang dimiliki oleh Zeed. Namun ... alih-alih terluka, kekuatan monster tersebut malah semakin meningkat.
“Cih kenapa tubuhnya malah semakin keras!” seru Zeed.
Zackal mulai mengeluarkan sihirnya dengan cakupan yang sangat besar. Namun … sihir tersebut tidak mengarah menuju mereka bertiga melainkan ke atas langit dan membuat sebuah lingkaran besar.
Zackal terus menyalurkan energi miliknya dalam jumlah yang sangat besar.
“Apa yang dia lakukan?” Richard melihat ke arah Zackal.
“Jangan-jangan dia sedang memanggil rekannya?” Dom.
Lingkaran yang semula dibuat oleh Zackal kemudian membentuk sebuah kristal-kristal es padat dan lancip. Semakin lama, kristal tersebut semakin besar hingga pada bentuk yang bisa membunuh manusia dalam sekali serang.
“Sepertinya ini berbahaya,” ujar Zeed.
“Oh tidak … itu?! Semuanya menghindar!” teriak Richard sebagai pertanda bahaya.
Karena reaksi yang cukup terlambat, gumpalan es tersebut menghantam mereka seperti layaknya hujan es.
“Dududududut deem,” suara hujan es yang jatuh ke bawah.
Karena terlambat mengantisipasi serangan beruntun dari Zackal membuat mereka bertiga terluka. Beberapa Kristal mengenai badan dari Richard serta Zeed, sementara Dom tidak terkena serangan karena Richard melindunginya.
“Hey nak kau tidak apa-apa?” tanya Richard.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa … tapi paman, tubuhmu!” teriak Dom.
Beberapa kristal tertancap di punggung Richard.
“Hahaha tenang saja, ini hanya luka ringan, lagipula kristal ini tidak mengenai organ vitalku.” Richard berusaha menghibur Dom.
Ah untung saja aku sempat mengeluarkan sihir pelindung tadi. Kalau tidak mungkin bocah ini sudah terkena kristal itu.
“Uhuk uhuk.”
Berbeda dengan Richard, Zeed terkena serangan yang mengenai punggung serta bagian dada.
“Hey pemandu apa kau baik-baik saja?”
“Urus saja lukamu sendiri,” jawab Zeed yang memegangi dadanya.
“Bagaimana kita akan mengalahkan monster itu?!” tanya Dom yang mulai cemas.
Karena muridnya khawatir, Richard memegangi kepala Dom sebagai isyarat bahwa ia hanya harus tenang dan serahkan saja pada gurunya.
“Hey kepala api, apakah kau mencoba untuk menjadi pahlawan?” tanya Zeed.
“Itu bukan urusanmu. Tapi … sepertinya jika kita tidak serius, kita akan mati disini.”
“Untuk kali ini aku setuju. Terlebih, sepertinya kau masih belum menggunakan elemenmu yang satu lagi,” jawab Zeed.
“Elemen satu lagi?” tanya Dom.
Oh iya, waktu itu paman pernah bilang tentang 2 elemen. Hmm … ini membuatku penasaran.
“Hoo jadi kau sudah mengamatinya, bisakah kita mulai?” seru Richard yang mulai mengalirkan energinya.
“Apa maksudmu?” tanya Zeed yang ikut mengeluarkan petirnya.
“Jangan pura-pura bodoh, bukankah kita akan bekerja sama?”
“Hey hey siapa yang ingin bertarung bersamamu pak tua, aku hanya ingin menguji sihiku saja,” balas Zeed.
“Hahaha terserah.”
Setelah dipenuhi dengan kebencian dan rasa dendam. Untuk pertama kalinya, mereka mau bekerja sama untuk melawan Zackal.
Selanjutnya, mereka mulai mengeluarkan sihir terkuat masing-masing.
Selain itu, ini kali pertama Richard akan menunjukan kekuatan lainnya kepada Dom juga kepada para pembaca yang sudah setia menyaksikan novel ini.
“Dom, kau tunggulah disini dan biarkan orang dewasa yang menanganinya,” jawab Richard dengan wajah mantap.
Baru pertama kali Dom merasa kagum dengan sikap dari gurunya.
Tidak biasanya pak tua ini terlihat begitu memukau.
__ADS_1
“Ayo mulai!”
Bersambung ....