
Ini tidak baik!
“Apa kau ingin kami masuk ke sebuah tempat yang bahkan ditakuti oleh seorang peri?” tanya Richard dengan raut wajah marah.
“Opss, sepertinya kau salah mengira.”
“Jadi begitu ya-” Lyfa memotong ucapan Richard.
“Maksudku quest ini hanya akan dilakukan oleh Dom seorang.”
Sejenak suasana menjadi hening.
“APA??!!” teriak Richard.
“Se-sendiri?”
Seketika Dom langsung melirik ke arah hutan bagian dalam dengan wajah panik.
Ah tidak … kenapa rasanya hutan itu terlihat jadi lebih menakutkan.
Hutan bagian dalam merupakan area yang paling banyak ditumbuhi oleh pohon besar. Terlebih sudah tidak ada penguhuni ataupun petualang sehingga membaut suasana di tempat tersebut sedikit berbeda.
Richard langsung menarik baju milik Lyfa karena dia benar-benar kesal.
“Hey, apa kau sedang bercanda pada kami?” geram Richard.
“Apa-apaan sikapmu ini? Apa kau ingin melawan keputusan seorang Dryad?!” tegas Lyfa karena merasa harga dirinya direndahkan.
“Jika itu diperlukan untuk melindungi muridku, maka apapun akan ku lakukan.”
“Biarpun aku memberitahu semua rahasiamu padanya?” tanya Lyfa dengan wajah mengancam.
Richard semakin menarik baju yang digunakan oleh Lyfa. Auranya lebih berbahaya dari semua penghuni yang ada di hutan ini, dan itu ditujukan untuk seorang peri.
“Aku sudah tidak peduli lagi. Bahkan jika itu harus membunuhmu, maka akan kulakukan,” ujar Richard yang dipenuhi dengan tatapan kebencian.
“Tenanglah Paman Richard,” bujuk Dom.
Ekspresi tadi benar-benar membuat Lyfa mati kutu seperti sedang berhadapan dengan seorang monster.
Ini benar-benar berbeda dari kemarahan sebelumnya.
“Baiklah, pertama kau turunkan tanganmu dariku.”
Richard menurunkan tangannya dan menghilangkan auranya.
“Jika kau tidak memberikan alasan yang jelas, maka kami akan kembali ke rumah.”
“Huh … seharusnya kau sudah tau kenapa aku ingin Dom menjalani quest ini seorang diri.”
“Emm jujur, aku tidak terlalu mengerti. Bukankah lebih aman jika pergi bersama dengan orang kuat?” tanya Dom.
“Memang benar, tapi kau juga harus melihat dari aspek lainnya. Keberadaan Richard mungkin yang terkuat di hutan ini, jadi aku khawatir gurumu akan selalu menjadi incaran monster kuat.”
“Lalu apa masalahnya? Aku tinggal membasmi mereka semua!” teriak Richard.
__ADS_1
“Sepertinya kau terlalu menganggap remeh hal ini. Monster mutasi akan selalu mengawasi makhluk yang memiliki aura serta inti mana yang kuat. Terlebih aku tidak mencemaskan dirimu, melainkan Dom.”
“Aku?” tunjuk Dom ke arah tubuhnya.
“Benar. Karena aura serta kekuatannya yang sangat meluap membuat keberadaannya sangat mudah diketahui oleh musuh. Tentunya karena hal itu kau juga bisa terlibat dalam bahaya. Jika itu terjadi, aku khawatir gurumu tidak bisa melindungi dirimu terus-menerus.”
“HA?! Apa kau meremehkanku? Sudah jelas aku bisa melindungi Dom-” Lyfa langsung menyela.
“Apa kau tidak ingat ketika menjelajah ke Gunung Greenfield, dimana kau tidak bisa melindungi Dom dan malah terhisap ke dalam sebuah cermin?” tegas Lyfa.
“Tapi jika kau memberitahu kami dari awal. Maka kejadian tersebut tidak akan pernah terjadi!” teriak Richard.
“Terlepas dari itu, apa kau bisa melindunginya saat ini?! Aku tidak berniat untuk memisahkanmu, tapi mengertilah.”
Terjadi sedikit perdebatan, meskipun akhirnya ucapan Lyfa membuat Richard tertunduk lesu dan kehilangan semangatnya.
“Aku hanya tidak ingin Dom bernasib sama seperti anakku sebelumnya. Karena ... dia adalah keluargaku yang berharga,” ujarnya dengan wajah sedih.
Dom tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya terharu dengan sikap Richard berusaha melindunginya hingga seperti itu.
Ah … padahal aku bukan anaknya. Tapi sikapnya sebagai seorang paman terlalu baik.
“Dom memiliki keberadaan yang tipis, karena pengguna elemen tanah tidak terlalu menunjukan auranya. Terlebih saat ini, dia belum bisa menggunakan elemen kegelapan. Jadi, hanya dia yang bisa melakukannya.
“Aku juga tidak akan memaksa kalian. Tapi, tolong cepatlah buat keputusan karena waktu kita terbatas.”
“Terbatas?” tanya Dom.
“Aku akan menjelaskan itu nanti. Namun ada yang lebih penting dari itu.”
“Mungkin ini permintaan yang sangat egois dariku. Tapi, percayalah aku tidak akan memaksamu melakukan ini.”
Dom hanya mendengarkan dan belum mengerti maksud dari ucapan Lyfa.
“Jika bisa, tolong selamatkanlah hutan ini dari para monster itu. Sebagai seorang Dyrad, aku memang gagal. Tapi … aku juga tidak ingin wilayahku terus dikuasai oleh orang lain, terlebih dijadikan sarang monster.”
Lyfa masih terus menundukan kepalanya. Karena memohon secara tulus, membuat Richard hanya terdiam dan menyerahkan semua keputusannya kepada Dom.
“Tolong bangunlah peri, tidak perlu sampai seperti itu bukan? Ahahaha,” ujar Dom sambil memegangi kepalanya karena malu.
Lyfa mengangkat kepalanya dengan wajah sedih.
“Maaf, tapi aku tidak memiliki siapapun disini. Jadi aku hanya bisa bergantung pada kalian saat ini,” serunya sambil tersenyum.
Ah … tanggung jawabku jadi semakin berat. Tapi, Nona Lyfa sudah sangat membantuku, aku harus melakukannya!
Setelah mematangkan niatnya, Dom mendekati Richard dan membuat sebuah keputusan.
“Paman …,” sapa Dom dengan tersenyum.
Richard hanya melirik.
“Aku tau kau sangat mengkhawatirkanku. Tapi, aku juga ingin menjadi lebih kuat, bukankah paman sendiri mengatakan itu?” tanya Dom.
“Yah kau benar … tapi-”
__ADS_1
“Selama tiga tahun ini aku sudah menjadi lebih kuat. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk mundur saat ini. Aku harap paman mengerti.” Dom memberi jawaban dengan yakin agar Richard bisa melepasnya.
Ah … bocah ini. Entah kenapa dia selalu bisa melewati situasi apapun dengan mengandalkan otaknya. Semoga saja kali ini juga akan seperti itu.
Richard bangkit dari kemurungannya dan menjadi ceria seperti sedia kala.
“Wahaha itu baru muridku. Baiklah jika memang itu maumu, aku tidak akan melarangmu. Lagipula kau bebas untuk menentukan pilihan selagi berada di jalan yang benar,” seru Richard sambil memberinya jempol.
“Terima kasih … paman.”
Lyfa hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Maafkan aku … Dom. Tapi menurut ramalanku, hanya kau yang bisa melakukannya dan menghabisinya. Semoga itu benar.
Setelah itu, Dom mulai membawa perlengkapan serta peta yang diberikan oleh Lyfa.
Beberapa saat kemudian di perbatasan antara area tengah dan dalam.
“Baiklah nak, kau harus bisa melakukannya dan kembalilah dengan selamat.”
“Hahaha rasanya tidak seperti dirimu saja paman.”
“Aku mendoakan agar kau selamat … Dom.”
Dom melambaikan tangannya dan mulai masuk ke bagian dalam Hutan Teraria.
“Maafkan aku sebelumnya karena telah bersikap kasar,” seru Richard.
“Aku mengerti, lagipula aku bersikap seperti itu agar Dom mau menjalani misi ini. Ditambah lagi, firasatku tentangnya sangat baik.”
“Benarkah begitu?”
“Ah tidak juga. Itu hanya kebiasaanku ahaha.”
“Itu tidak lucu sialan!”
Berpindah ke area bagian dalam.
“Nguk nguk nguk.” Mulai terdengar suara burung hantu dari kejauhan.
“Mulai saat ini, aku sudah tidak bisa mengandalkan siapapun. Aku tidak akan ceroboh lagi, dan juga, targetku saat ini yaitu menemukan monster kuat yang sedang terluka. Setelah itu, aku mengambil inti mananya dan jreng jreng selesai!”
Itulah kalimat pertama yang Dom ucapkan ketika menginjakan kaki di area dalam Hutan Teraria. Kata-katanya penuh keyakinan dan seperti menganggap semuanya akan berjalan dengan mudah. Namun yang terjadi sebenarnya.
“UWAAAAAAAAA KENAPA TEMPAT INI SANGAT MENYERAMKAN! DAN LAGI, KENAPA BANYAK SEKALI MONSTER YANG MENGEJARKU!!!”
Padahal peri bilang keberadaanku tidak terlalu besar. Apa jangan-jangan dia berbohong?
“Groaaa!” teriakan monster yang begitu banyak.
“UAA TIDAK!”
Beberapa menit setelah dia berkata seperti itu. Dom banyak sekali melakukan kesalahan, diantaranya adalah tidak sengaja mengganggu monster yang sedang tidur, dan tersesat di kerumunan pepohonan yang begitu lebat.
Kenapa jadi seperti ini sialan!
__ADS_1
Bersambung ....