Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 69: 1 VS 100


__ADS_3

Perasaan gelisah, tertekan, juga rasa takut mati menghantui kepala Dom. Dia tidak mengira bahwa monster yang dikalahkan sebelumnya belum mati. Terlebih, Dom tidak berhasil membunuh Reli dengan serangan cepatnya.


Apa-apaan ini!!! Aku tidak mengira akan jadi seperti ini ….


“Hey, nampaknya kau terlihat gelisah. Kemana semangatmu yang berapi-api tadi hah!!!” teriak Reli.


Kelapa Dom dipenuhi oleh banyak pikiran saat ini, apalagi dia sudah berjanji kepada Lyfa dan Richard untuk bisa kembali dengan selamat.


Apa aku bisa mengalahkan mereka?


Apa seorang anak kecil sepertiku bisa melalui semua ini?


Itulah kata-kata yang biasa diucapkan ketika seorang manusia sedang dalam keadaan terdesak ataupun kehilangan semangat dan tujuannya.


“Hah?! Apa kau sudah menyerah manusia?! Kenapa kau hanya diam membatu?!” teriak Reli yang ucapannya dari tadi tidak ditanggapi oleh Dom.


Menyerah? Mungkin itu pilihan terbaik saat ini ….


Dengan wajah yang penuh tekanan, Dom terus bergumam dalam pikirannya sendiri tanpa berpikir musuh akan melakukan serangan kejutan.


“Hey apa kau mendengarkanku sialan!” teriak Reli.


“Tahan sebentar,” tegas Leisure.


“Hah?! Apa yang kau lakukan?”


“Aku hanya merasa orang itu akan menjadi lebih baik lagi setelah ini. Tentunya hal itu akan semakin menarik.”


Sementara itu, dalam lamunan seorang bocah berumur 10 tahun.


Tapi, apa dengan begitu, semuanya akan selesai?


Apa Paman Richard senang dengan hal ini?


“Plak!” Seketika ia menampar wajahnya sendiri.


Tidak! Menyerah bukan pilihan sama sekali. Bahkan biarpun aku harus mati, setidaknya aku akan melakukan semua yang kubisa.


Dom membuka matanya dengan tatapan okus disertai oleh aura yang sudah mulai stabil.


“Hah … hal seperti ini tidak akan terjadi lagi di kemudian hari,” ujar Dom sambil memegangi pedangnya.


Leisure yang menyadari perubahan pada musuhnya mulai menunjukan sedikit kepanikan.


Sudah kuduga, sepertinya bocah itu tidak sesimple yang kukira.


“Sebaiknya kau hati-hati dengannya. Karena dia yang sekarang lebih berbahaya.”


“Hah?! Sudah kubilang jangan pernah mengguruiku sialan! Lebih baik kau bantu aku menghabisi bocah ini!” teriak Reli.


“Aku tidak terlalu suka pertarungan yang berat sebelah. Terlebih, amunisimu sudah cukup untuk menghabisinya.”


Semoga saja begitu.


“Cih! Terserah kau.”


Reli melompat ke arah ratusan monster yang tanpa diduga hidup kembali, ia ingin mengintimidasi Dom lebih dalam lagi untuk membuatnya menyerah.


“Groaaa!” teriakan ratusan monster yang ada di belakang Reli.


“Hahaha apa kau pikir satu orang anak kecil bisa mengalahkan ratusan monster yang ada di sini?! Jangan bercanda anak kecil!” teriak Reli dengan nada memprovokasi.


“Kau berisik sekali.”


“Wussh!” Sebuah aura yang sangat kuat.


Ketika Reli melihat musuh, sebuah aura membunuh menekan batinnya dan seperti diintimidasi balik oleh Dom.


Apa ini?! Sejak kapan bocah ini bisa bersikap seperti itu?!


“Srang!” Sebuah pedang digenggam oleh Dom.

__ADS_1


Aku belum pernah menggunakan ini dalam sebuah pertarungan. Tapi … tidak ada pilihan lain.


Sambil memejamkan matanya, Dom merubah bentuk kuda-kudanya. Setelah itu.


“Ten Circular Sword Movement!”


“Groaaa!” Kumpulan monster mulai bergerak mendatangi Dom.


“Jangan sombong dulu anak kecil!” Reli mengeluarkan cakarnya dan bersiap menyerang. Namun ….


“Tebasan Pertama!”


“Wusssh!”


“Sraaaat!!!” Monster yang ada di belakangnya tiba-tiba kehilangan kepalanya tanpa ada peringatan sedikitpun.


Leisure yang mengamati dari jauh menjadi sangat terkejut disertai dengan mulut yang terbuka.


Aku tidak bisa melihat langkah kakinya?! Sebenarnya anak ini berlatih apa hingga bisa bererak seperti itu?!


Sementara itu, ekspresi Reli berubah menjadi panik karena tidak bisa melihat keberadaan musuhnya.


Sepertinya aku terlalu meremehkannya. Apa yang terjadi sebenarnya?!


“Dimana kau sialan!” teriak Reli.


Dari arah yang tidak diprediksi sama sekali oleh musuh, Dom tiba-tiba muncul.


“Tebasan Kedua!”


“Sraaaat!” Hanya dua kali serangan, kepala dari puluhan monster tersebut lenyap begitu saja.


Wajah Reli semakin dipenuhi rasa cemas.


Celaka, jika begini, aku khawatir dia akan mengetahui kelemahan kami!


“Matilah manusia!” Reli bergerak cepat menggunakan cakarnya ke arah Dom. Hanya saja.


“Sraaat!” Tubuh Reli terbelah menjadi dua karena mencoba menantang Dom.


“Uhaaak!” Meskipun memiliki tubuh yang bisa beregenerasi, ia merasakan sakit dan mengeluarkan darah meskipun tidak separah yang dialami oleh manusia.


Aku tidak bisa mendekatinya!


Belum sempat melakukan regenerasi, Dom kembali melancarkan serangannya.


“Tebasan Keempat!”


Ini tidak normal untuk seorang anak kecil!


“Tebasan Kelimat!”


“Uhaak!”


“Srang swosh srang srang!”


Dom bergerak layaknya seorang penari pedang. Hanya saja, tarian pedang ini bisa menghancurkan semua area yang ada di sekitarnya.


Belum sampai ke serangan terakhir. Kondisi hutan mulai menjadi gundul, setengah dari jumlah monster yang berusaha membunuh Dom sudah kehilangan kepalanya, dan itu masih terus berlanjut.


“Tebasan Keenam!”


“Tebasan Ketujuh”


“Tebasan Kedelapan!”


“Tebasan Kesembilan!”


Dengan ini, selesai sudah!


“Tebasan Kesepuluh! Destiny of Circle Sword!”

__ADS_1


“BOOM!”


Sebuah ledakan besar timbul setelah sepuluh gerakan dari tarian pedang milik Dom berhasil diselesaikan


Seluruh monster berhasil dilukai oleh Dom termasuk Leisure yang sejatinya hanya menonton, ikut terkena impactnya.


Efek getarannya cukup besar sehingga bisa dirasakan oleh Richard dan Lyfa.


“Apa itu?!” teriak Richard.


“Hmm mungkin saja Dom sedang membabi-buta disana hohoho,” balas Lyfa.


Meski begitu, Richard tetap mencemaskan keadaan murid satu-satunya.


Dom ….


Medan pertarungan dipenuhi oleh asap tebal. Seluruh monster lemah yang ada di tempat tersebut kehilangan kepalanya dengan begitu cepat.


Yang tersisa hanyalah Leisure dengan hanya menyisakan tubuh bagian atas, juga Reli yang masih berusaha melakukan regen setelah tubuhnya tercabik-cabik oleh pedang musuh. Namun ….


“Uhaaak!” Dom mengeluarkan darah.


Sepertinya aku memang belum bisa menguasainya dengan baik.


Penggunaan Ten Circular Sword Movement harus menggunakan energi yang banyak serta keakuratan yang tepat. Selain itu, Dom harus mengatur pola pernapasannya sebaik mungkin untuk menghindari terjadinya penekanan berlebih pada tubuhnya.


Semakin buruk pola pernafasan yang digunakan, maka akan semakin cepat Dom mengalami kerusakan pada tubuhnya. Itulah yang saat ini dialami Dom karena ia belum menguasai teknik tersebut dengan sempurna.


“Hah … hah … hah.”


Jika saja pernafasanku berantakan, mungkin aku sudah mati. Makanya aku tidak ingin menggunakan skill ini jika tidak diperlukan.


“Tapi … apa dengan begini sudah berakhir?”


Ketika Dom sudah dalam keadaan duduk di atas tanah sambil menghela nafasnya. Ia mengeluarkan senyumnya, hanya saja, itu ditujukan untuk pihak musuh yang masih bisa kembali setelah menerima tarian pedang.


“Glebeb glebeb glebeb!”


Sebuah suara yang tidak ingin didengar oleh Dom kembali mencuat beberapa menit setelahnya.


Aku sudah menduga hal ini kembali terjadi. Tapi ….


“Hey … ini tidak mungkin kan?! Kenapa semuanya tidak ada satu pun yang mati!”


Apa benar mereka itu makhluk abadi?!


“Glebeb glebeb glebeb!” Kumpulan monster terus kembali ke wujud semula, termasuk Reli serta Leisure.


Bakatnya luar biasa, aku tidak mengira seorang anak kecil memiliki kekuatan layaknya seorang ranker tingkat atas.


“Tapi, sayang sekali. Kau harus mati disini,” seru Leisure.


“Yah jika tidak memiliki kemampuan ini. Mungkin kami sudah pergi ke neraka sejak tadi!” teriak Reli.


Meskipun berusaha untuk tetap kuat. Tetap saja, kondisi tubuh tidak memungkinkannya untuk melakukan itu. Dengan kaki yang sudah mulai bergetar karena kehabisan energi, Dom tetap memaksakan untuk berdiri dan melawan.


“Tenang saja, karena tadi baru permulaan,” ujar Dom yang sebenarnya hanya menggertak.


“Hahaha menarik sekali! Kau adalah manusia pertama yang kuakui sebagai lawanku!” teriak Reli yang bersemangat.


“Hah … hah … hah.”


Ah bagaimana cara mengalahkan mereka! Ini buruk, pandanganku mulai tidak jelas.


“Jangan terlalu banyak berpikir nak!” teriak Reli yang sudah mulai menyerang.


Setidaknya beri waktu kepada anak kecil untuk istirahat dasar monster sialan!


“Hrrryaaaa!”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2