Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 38: Rahasia


__ADS_3

“Mungkin bukan waktunya untuk berkelahi saat ini, aku hanya ingin membantu bocah itu sama seperti dirimu, jadi kuharap kita bisa berteman baik, okey?” Lyfa menunjukan ekspresi yang berbeda kepada Richard.


Mereka berdua menghilangkan auranya masing-masing.


Makhluk ini berbahaya, aku harus menjauhkannya dari Dom.


Karena Dom merasakan ada tekanan yang kuat di tempat Richard dan Lyfa, dia kembali dengan wajah panik.


“Apakah kalian baik-baik saja??!!” Dom keluar dari semak hutan dengan wajah tidak tenang tapi ….


Loh, kenapa aura tadi menghilang? Apa hanya perasaanku saja.


Kepala Dom ditumbuk oleh tangan Richard karena telah membuatnya terkejut dengan muncul secara tiba-tiba.


“Jangan tiba-tiba muncul seperti hama sialan!!!” teriak Richard dengan wajah idiotnya.


“HAA?! Kenapa kau jadi marah?!” Dom tidak terima karena ditumbuk kepalanya oleh Richard.


Baru saja Dom tiba, sudah terjadi sebuah pertikaian.


“Apa kau membawa tanamannya? Kemarilah Dom.” Lyfa memanggil Dom.


Setelah Dom memberikan bahan untuk membuat racun, Lyfa mulai mengekstrak semua bahan tersebut ke dalam sebuah cairan yang dikemas dalam sebuah botol yang menarik.


“Sihir tumbuhan … Merges.” Semua bahan tersebut mulai menyatu hingga menjadi cairan.


Mereka membawa masing-masing satu botol dari penawar racun untuk digunakan nanti ketika tiba di Gunung Greenfield.


“Ngomong-ngomong paman, dimana letak tempat tersebut?” tanya Dom kepada Richard.


“Aku sudah lama sekali tidak pergi ke sana sehingga aku tidak begitu ingat yahaha,” jawab Richard dengan menggunakan wajah sedikit berkeringat.

__ADS_1


Sebenarnya ... dia pernah pergi kesana atau tidak?


Lyfa melanjutkan penjelasannya.


“Gunung Greenfield terletak di daerah selatan, aku akan menggambarkan sebuah peta agar kalian bisa menuju kesana tanpa ada kesulitan. Namun ... aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian.”


Karena sedang asik berdebat, Richard dan Dom menghiraukan peringatan yang disampaikan oleh Lyfa, ditambah lagi mereka tidak tahu sama sekali tentang kondisi dari tempat tersebut beserta bahaya yang ada di dalamnya.


Mereka ini ….


“Ini adalah peta yang kubuat, aku harap kalian dapat menyimpannya baik-baik.”


Ketika melihat peta tersebut, Richard dan Dom untuk pertama kalinya memikirkan hal yang sama.


Apa ini sebuah peta? Aku bahkan tidak bisa membedakan sebuah gunung dengan laut.


Peta yang digambar oleh Lyfa sangat sulit untuk dimengerti. Tentunya itu bukan pertanda baik, karena jika tidak bisa membaca peta, terpaksa mereka harus mengandalkan insting untuk bisa sampai di Gunung Greenfield.


Karena petanya terlihat berantakan, Dom langsung menghadap ke arah Richard dengan harapan dapat menuntunnya ke jalan yang benar.


Anak setan!


“Baiklah kalau begitu Nona Lyfa, kami pergi dulu.”


Ketika Dom hendak pergi, tiba-tiba Lyfa memeluknya dari belakang sambil membisikan sesuatu ke arah Dom.


“Baumu sangat enak ... kalau bisa aku ingin kau berada di sini selama mungkin,” Lyfa mencium pipi Dom.


Richard hanya bisa melihat dengan tatapan penuh amarah karena dia juga sebenarnya ingin diperlakukan seperti itu.


“Maaf tapi aku harus pergi.”

__ADS_1


Kalau aku terus berada disini, bisa-bisa nafsuku menjadi liar.


“Aku tau kau memiliki elemen lain selain tanah, dan lagi ... kau masih belum bisa mengendalikannya bukan begitu?”


Langkah Dom terhenti setelah mendengar sesuatu yang berkaitan dengan elemen kegelapan miliknya.


“Bagaimana kau tau?” Dom melirik ke belakang.


“Saat ini kau masih belum cukup kuat. Datanglah lagi kesini ketika kau berumur 10 tahun. Disaat itulah aku akan memberitahumu sesuatu yang bagus.” Lyfa melepaskan pelukannya dari Dom.


Setelah itu, Lyfa berjalan pergi meninggalkan mereka.


“Baiklah berhati-hatilah dan sampaikan salamku padanya nanti.” Lyfa melambaikan tangan.


Padanya? Siapa yang dia maksud?


“Ah sudahlah, memikirkannya hanya membuatku pusing, ayo pergi Dom.”


Dom tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Richard karena saat ini dia hanya fokus memikirkan kata-kata dari Lyfa tadi.


Aku belum cukup kuat? Meskipun aku kesal mendengarnya, tapi apa yang dikatakan Nona Lyfa memang benar, aku harus menjadi lebih kuat lagi.


“DOM!!!” teriak Richard dengan sangat kencang karena dari tadi Dom mengabaikannya.


“Ah maaf aku melamun,” ujar Dom dengan wajah panik.


“Apa yang Lyfa katakan tadi? Jika itu sesuatu yang buruk maka aku akan mengahabisinya.”


“Ah, hanya salam perpisahan ... waktu sudah semakin siang, ayo kita pergi paman.” Dom berjalan mendahului Richard.


Hmm Lyfa bilang apa ya kepada anak ini.

__ADS_1


“Hey tunggu aku Dom!”


Bersambung ....


__ADS_2