Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 22: Elemen Kegelapan


__ADS_3

Ah …  kenapa tubuhku bergerak sendiri saat melihat bocah itu dalam bahaya. Tapi … entah kenapa aku tidak merasa menyesal.


Archiven perlahan jatuh ke tanah. Dom yang masih tidak bisa menggerakan tubuhnya memaksakan diri untuk mendatangi Archiven meskipun dengan merangkak.


“Paman naga!!!” Dom berusaha menggunakan perutnya untuk merangkak meskipun tulang rusuknya patah.


Dengan wajah yang penuh air mata beserta tanah yang mengotori bajunya, Dom terus merangkak untuk mendekati Archiven agar bisa menyelamatkannya.


Sedih, sakit, dan emosi yang meluap. Itulah yang saat ini dialami oleh Dom. Meskipun jarak antara mereka cukup dekat, tapi bagi Dom terasa seperti sangat lama. Dia terus menahan sakit akibat luka di tulang rusuknya sehingga membuat tubuhnya sangat sulit digerakan.


“Bocah, kau tidak perlu memaksakan diri.” Archiven membuka matanya dan melihat Dom merangkak mendekatinya dengan penuh rasa sakit.


Dulu ayah dan ibuku selalu menolongku, dan sekarang … apa hidupku hanyalah sebuah beban bagi orang lain??


“Kenapa kau terus melindungiku?! Aku ini hanya seorang anak kecil yang bahkan tidak bisa menguasai sihir. Aku hanya bocah yang tidak berguna, tapi ... kenapa selalu saja banyak orang yang menolongku! Bahkan sekarang ….”


Archiven hanya tersenyum melihat Dom yang masih menyalahkan diri sendiri.


Padahal, potensi anak ini sungguh luar biasa. Mungkin, ketika besar, ia akan menjadi sepertimu ... Flower.


“Namaku Archiven, aku adalah seekor mystical beast dengan elemen kegelapan.”

__ADS_1


Apa?! Seekor monster memiliki sebuah elemen tingkat unique??


“Elemen kegelapan adalah salah satu yang terkuat. Akibatnya … banyak manusia berusaha untuk membunuhku dan mengambil inti kehidupanku. Sebab itu, aku lebih memilih untuk tinggal disini. Tapi ... mungkin ini akan menjadi saat terakhir aku berada di tempat ini.”


“Apa yang kau bicarakan! tenang saja, aku akan mengobatimu, paman hanya harus bertahan … aku akan sampai sebentar lagi.” Sambil merangkak, Dom berusaha untuk tetap tersenyum meski senyumannya itu hanya sebuah kebohongan.


Dom tidak bisa menghentikan air matanya, apalagi setelah Archiven berkata seperti itu. Dom sendiri sudah tahu bahwa luka seperti itu tidak mungkin disembuhkan dengan cara biasa. Hanya saja, dia berharap ada sebuah keajaiban.


Setelah merangkak cukup lama, tangan Dom berhasil menyentuh tubuh Archiven. Setelahnya ia mencoba untuk mengobati luka di tubuh Archiven, meskipun rasanya sudah tidak mungkin karena lukanya terlalu parah.


Sambil berusaha menutup luka, Dom berusaha untuk tersenyum meskipun ekspresi wajahnya menggambarkan kesedihan yang mendalam.


“Kau tidak perlu membohongi dirimu sendiri nak, lukaku ini sudah tidak mungkin untuk diobati.” ujar Archiven yang kasihan melihat Dom berusaha untuk tetap ceria.


Archiven lalu memegang kepala Dom sambil memasang senyum yang sama seperti Dom. Namun … itu juga sebagai tanda bahwa dirinya akan segera pergi.


“Kau tidak perlu melakukan apapun ... karena, tubuhku sebentar lagi akan menghilang. Tapi sebelum itu, aku akan memberikan sesuatu kepadamu.”


Lengan Archiven tiba-tiba mengeluarkan aura yang sangat kuat dengan warna hitam gelap.


Aku rasa anak ini adalah orang yang dimaksud Flower ....

__ADS_1


“Paman??” tanya Dom yang tidak mengerti kenapa dia mengeluarkan energi sebesar itu.


"Manusia memiliki inti mana agar dapat menggunakan sihir, sedangkan pada monster yang mempunyai unsur elemen. Manusia menyebutnya dengan inti kehidupan.


“Banyak yang mengincarku karena hal ini. Sekarang ... aku akan mempercayakan ini padamu. Jadilah lebih kuat dan lindungilah orang di sekitarmu." Archiven terus mengalirkan energinya ke satu titik.


“Aku tidak akan menerimanya!!! Aku hanya ingin paman bisa kembali seperti semula!!!”


Tanpa mendengarkan perkataan Dom, Archiven mulai menyalurkan energinya kepada tubuh Dom. Karena menyerap sebuah energi yang sangat besar, Dom harus merasakan sakit yang luar biasa.


Mungkin ini akan sangat sakit, tapi percayalah kekuatan ini dapat membawamu menjadi lebih kuat.


“UWAAAAAAA!!!” teriakan Dom akibat mendapatkan inti mana dari Archiven. Setelahnya … Dom kembali tidak sadarkan diri.


Sakit sekali ... rasanya tubuhku bisa meledak kapan saja.


Setelah berhasil menyalurkan energinya kepada  Dom. Tubuh Archiven perlahan mulai menjadi gumpalan cahaya, juga ... hawa keberadaannya mulai menghilang.


“Sring …,” tubuh Archiven mulai menjadi partikel kecil.


Maaf aku tidak bisa menepati janjiku ....

__ADS_1


“Hmm mati seperti ini … tidak buruk juga.”


Bersambung ....


__ADS_2