Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 62: Kemauan


__ADS_3

Meskipun Frederick sudah dikalahkan. Namun tidak membuat keadaan membaik setelah datang sebuah bola api dari jarak yang cukup jauh.


Rienna dan Liese adalah orang yang paling mencemaskan situasi ini, terlebih mereka sudah berhutang nyawa kepada sang penyelamat tersebut.


Sihirku benar-benar sudah habis, aku harus bagaimana?! Tidak, sebagai seorang bangsawan aku harus melindungi warga biasa.


“Liese, cepatlah pergi bersama orang ini. Aku akan mengulur waktu!” tegas Rienna.


“Apa yang kau pikirkan nona?! Jika raja tau hal ini, aku tidak bisa menjelaskannya!”


“Biarpun begitu, orang ini sudah menyelamatkan kita. Setidaknya aku tidak ingin berhutang budi.”


“Nona …,” Liese hanya terkagum mendengar ucapan dari Rienna.”


Sementara itu sang penyelamat hanya tertunduk lesu sambil menahan rasa sakitnya setelah terkena ledakan api. Dari jauh, nampak seseorang yang memanggil nama penyelamat tersebut dengan sangat lantang.


“DOM!!!” teriaknya dari jauh.


Mendengar orang itu berteriak sangat aneh membuat Rienna serta Liese semakin ketakutan, termasuk sang penyelamat.


“Ah ini gawat!” seru sang penyelamat.


Dom? Siapa itu?! Apa dia memanggil rekannya?!


Pria itu semakin mendekat menghampiri sang penyelamat sambil mengeluarkan tinju apinya yang begitu membara.


“Hey … aku kan sudah bilang untuk menungguku. Kenapa kau malah menghilang murid kesayanganku?” ucapnya dengan lembut namun sudah mengeluarkan elemen api di tangannya.


“Saat menunggu, aku mendengar teriakan minta tolong yang tidak jauh dari sini. Maka dari itu aku bergegas menuju kesini. Bukankah Paman Richard selalu bilang kepadaku untuk membantu orang lain?” bujuknya.


“Oh kau sudah pintar mencari alasan ya … DOM!!!” Richard tidak menerima alasan dari muridnya.


“Hey kenapa kau masih marah pak tua?!” seru Dom.


“Taukah kau nak, gara-gara dirimu. Aku berulang kali tersesat di tempat ini …,” ujar Richard masih dengan nada lembut namun menyimpan amarah yang begitu besar.


Sepertinya pak tua ini sudah kehabisan kesabarannya ….


Sebelumnya ….


“Ah rasanya sudah lama sekali aku tidak berpetualang seperti ini” seru Dom.


“Hahaha bukankah kau selalu melakukan petualangan ke Desa Pyro?” ejek Richard.


”Apa kau menghinaku? Terlebih, kenapa kau tidak pernah mengajakku setiap kau pergi sialan?!” teriak Dom.


“Sudah kubilang itu diluar kemampuanmu saat ini. Tapi … tidak terasa sudah 5 tahun aku bersamamu. Waktu terus berjalan rupanya hahaha,” ungkap Richard dengan wajah yang sedikit sedih.


“Kenapa wajahmu seperti tidak senang paman?” tanya Dom.


“Ah tidak-tidak aku hanya melamun. Tapi Dom, apa kau yakin ingin menemui peri itu? Terlebih, dia tidak menjelaskan alasannya dengan jelas.


“Sebetulnya aku juga masih tidak terlalu yakin. Namun … Peri Lyfa pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa tidak menyampaikannya waktu itu.”


Terlebih, masih banyak yang ingin kutanyakan padanya. Terutama bagaimana dia bisa mengetahui elemen kegelapanku ….


Yang ada dipikiran Richard saat ini.


Sebenarnya aku lebih takut peri itu membongkar rahasia tentangku ….


“Asal kau tau, dia itu hanya ingin menggodamu. Apakah kau lupa kejadian waktu itu?”


Dom mengingat kembali dimana Lyfa menciumnya serta menggodanya dengan sangat liar. Setelahnya, langkahnya berhenti sesaat.


Tunggu … ucapan paman sangat masuk akal. Bagaimana jika memang begitu?! Uaaa jika itu terjadi maka perjalananku akan sia-sia ….


“Hey kenapa kau diam nak?” tanya. Richard yang sudah berada di depan.


“Ah tidak apa-apa paman.”


“Jangan-jangan kau terpikirkan oleh ucapanku tadi ya hehehe,” ejek Richard.


“Mana mungkin aku terpengaruh oleh itu ahahaha,” jawab Dom dengan penuh kecurigaan.


Sudah jelas kau memikirkan yang tadi pembohong ….


Setibanya di depan pintu masuk Hutan Teraria.


“Aku heran, kenapa hutan yang indah ini bisa dihuni oleh monster?” tanya Dom.


“Hmm aku juga tidak tau. Tapi yang lebih penting … aku sudah tidak kuat lagi.”


“Kau kenapa-” ucapan Dom terhenti setelah melihat wajah Richard yang tidak menunjukan hal positif.


Richard mulai bertingkah aneh ketika perjalanan hampir menemui titik akhir. Ia terus berjalan sambil memegangi bagian bawahnya.


Ah, aku pernah melihat ekspresi ini sebelumnya ….

__ADS_1


“Cepatlah, jangan terlalu lama.”


“Dengar nak, tunggulah disini dan jangan kemana-mana. Ikuti nasihat dari gurumu ini, karena itu penting. Aku pasti akan kembali secepatnya,” ujarnya dengan kaki yang sudah bergetar diiringi ekspresi menahan buang air besar.


Kenapa dia malah mempersulit diri sendiri di saat seperti ini ….


“Sudahlah cepat sialan!” teriak Dom yang melihat Richard terus berkicau.


Setelah Richard pergi untuk sementara waktu, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang letaknya tidak jauh dari lokasi Dom saat itu.


“Boom!” suara ledakan pertarungan antara Rienna melawan Frederick.


“Apakah sedang terjadi sesuatu?! Sebaiknya aku memastikannya.”


Ketika hendak melangkah, ia teringat dengan amanat dari Richard.


Tunggu, jika aku pergi, pak tua itu pasti akan marah.


“Ah ini menyebalkan.”


Ketika niat Dom sudah terhenti, suara ledakan terus terdengar sehingga membuat Dom tergoda untuk menuju ke lokasi.


“Ehehehe sepertinya tidak apa-apa jika berjalan sedikit.”


Selagi di perjalanan, Dom mendengar teriakan minta tolong dari Rienna dan kisah selanjutnya ada di chapter sebelumnya.


Di area lain.


“Ah mantap sekali rasanya,” ujarnya sambil melihat ke arah Dom dan belum tau kalo orangnya sudah hilang.


Loh? Tidak ada ....


“Dasar bodoh! Sudah kubilang untuk tetap berada disini! DOM!” Richard bergegas mencari muridnya.


10 menit berlalu.


“Ah ini yang kutakutkan ketika mencoba mencari anak itu …,” Karena kurang mengerti jalan membuat Richard tersesat hingga terdengar suara ledakan.


“Ledakan? Hoo aku tau kemana perginya bocah itu,” seru Richard dengan wajah yang begitu penuh kemarahan.


Kembali ke saat ini.


“Hey sialan, apa kau memiliki kata-kata terakhir?” ungkap Richard yang sudah siap ingin meledakan Dom kembali.


“UAA tidak!”


Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah orang ini musuh?


“Tenanglah tuan, dia telah menyelamatkanku dari penjahat. Bisakah kau memaafkannya?” bujuk Rienna.


Seketika Richard terkejut karena baru menyadari ada keberadaan lain di sekitarnya.


Lambang itu? Sepertinya dia keluarga bangsawan.


“Hey kau dengar itu pak tua?! Sejak kapan aku pandai berbohong!” teriak Dom dari belakang yang membuat urat kepala Richard menjadi naik.


“HA?!” Richard hanya menatapnya dengan tajam sehingga membuat Dom kembali ciut.


Ah sepertinya aku sedikit berlebihan.


Richard memadamkan apinya.


“Jadi, apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini?” tanya Richard.


“Ah kami hanya disuruh untuk mengikuti perjamuan di Kerajaan Vermilion. Ketika sampai sini, serikat gelap sudah menghadang kami. Untungnya ada orang kuat seperti kalian.”


“Ahaha jangan khawatir, itu bukan apa-apa,” balas Richard dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi lembut, padahal tidak ada andilnya dalam pertarungan sebelumnya.


“Hey pak tua, kau tidak membantu sama sekali!” teriak Dom.


“Aku membawa sedikit obat, sembuhkan prajuritmu terlebih dahulu,” ujar Richard yang mengabaikan Dom.


Karena tidak dianggap, Dom melemparkan sebuah batu ke arah kepala Richard dari belakang.


“Cetok,” suara lemparan batu.


“Hey kau sudah mulai kurang ajar ya anak kecil-” Domnya sudah pergi membantu prajurit.


Aku benar-benar akan meledakannya nanti.


Mereka mengobati prajurit yang terluka akibat pertarungan sebelumnya. Ketika keadaan sudah mulai membaik, Dom dan Richard mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut.


“Tunggu!” teriak Rienna.


“Ada apa?” tanya Dom


“Aku belum mengucapkan terima kasih.”

__ADS_1


“Hahaha tidak perlu repot-repot.”


“Namaku Rienna, salah satu bangsawan di Kerajaan Lotus. Boleh kutahu nama dan asalmu?”


“Aku Dom Silvestre, sedangkan paman ini bernama Richard. Tidak perlu formal begitu, lagipula aku hanya penduduk biasa ahaha,” balas Dom.


Richard? Bukankah nama itu … tidak, dia tidak mungkin berada di sini. Tapi, rasanya aku pernah mendengar kata Silvestre ….


“Begitu ya? Sangat disayangkan orang kuat sepertimu merupakan orang biasa. Apakah kau ingin bergabung dengan Kerajaan Lotus sebagai seorang bangsawan?” bujuk Rienna.


Tawaran menjadi seorang bangsawan? Bocah ini sangat beruntung.


“Apakah kau ingin menerimanya-” ucapan Richard dipotong oleh Dom.


“Terima kasih, tapi sayang sekali aku tidak tertarik dengan hal seperti itu,” balas Dom dengan tersenyum.


“Pilihan yang bagus, kalau begitu-” Rienna tersadar bahwa Dom telah menolak ajakannya.


Seketika keadaan menjadi hening.


“Eh … EH?!” semuanya berteriak.


“A-apa kau yakin dengan jawabanmu?” tanya Rienna.


Ini tidak mungkin! Bahkan sebelumnya tidak ada yang pernah menolaknya.


“Yap, terlebih aku yakin akan bermasalah jika anak kecil sepertiku direkomendasikan untuk menjadi bagian dari sebuah kerajaan besar. Terlebih yang melakukannya adalah orang sepertimu,” sindir Dom karena tau Rienna jauh lebih lemah.


“Hey apa kau sedang menghinaku?”


“Yap.”


Tiga huruf dari Dom mampu membangkitkan amarah dari seorang putri bangsawan.


Anak ini ….


“Kalau begitu kita buktikan sekarang.”


“Baiklah, jika kau bisa menahan seranganku. Maka aku akan ikut denganmu. Kita mulai!” seru Dom.


“Datanglah-” Tiba-tiba Dom sudah berada di depannya dengan pisau yang sudah hampir menggores lehernya.


"Wush!" suara kecepatan angin dari pergerakan Dom.


“Sudah kubilang, kau masih lemah,” seru Dom dengan tatapan yang berbahaya.


Kenapa lebih cepat dari sebelumnya?!


Ketika Rienna terdiam sesaat, lawannya sudah tidak ada di lokasi pertarungan.


“Kalau begitu, kami pergi dulu. Teruslah berlatih dan jangan sampai gemetar jika bertemu dengan musuh kuat lainnya hahaha,” ejek Dom yang tiba-tiba sudah berjalan jauh.


Ucapan terakhir Dom sedikit membuat Rienna kesal.


Beraninya dia menghina seorang bangsawan?!


“Hey tunggu dulu! Aku belum selesai!” teriak Rienna dari kejauhan.


Dom hanya melambaikan tangannya dan tidak menanggapi teriakan dari Rienna.


“Apa kau yakin ingin memberinya perpisahan seperti itu nak?” tanya Richard.


“Yah setidaknya dengan begitu, dia akan mempunyai tujuan dan akan menjadi semakin kuat. Terlebih ketika bertemu denganku nanti.”


“Hahaha itulah Dom yang kukenal.”


“Ngomong-ngomong paman, kenapa aku masih mencium bau tidak enak?”


“Ah iya, tadi aku lupa cebok.”


“APA?!”


Beberapa saat kemudian setelah kondisi sudah membaik.


“Nona, kereta kudanya sudah bisa digunakan kembali.”


Rasanya aku harus berlatih lebih keras lagi.


“Dom Silvestre ya? Benar-benar anak yang menarik.”


“Apa yang nona pikirkan tentangnya?” tanya Liese.


“Yah mungkin aku jatuh cinta padanya, terlebih dia sudah menyelamatkan nyawa kita. Tentunya hal tersebut akan kuingat seumur hidupku. Namun sebelum itu, aku ingin mengalahkannya dan membungkam mulut sombonya itu!”


Ekspresi Rienna yang tersenyum jahat menunjukan kesungguhannya untuk mengalahkan Dom di masa depan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2