
“Groaa!!!” Sebuah teriakan yang menandakan kemenangan bagi Red Tyrant.
Dom mendadak terdiam kaku, wajahnya menunjukan ekspresi yang beragam, juga … Dom terus melihat cemas ke arah Archiven.
Mystical Beast tersebut melindunginya dari serangan musuh. Namun … hal tersebut membuat sayap dan juga tubuh Archiven terluka parah.
Dia ....
“Kenapa … KENAPA KAU MELINDUNGIKU??!!” teriak Dom sambil menjerit dengan air mata yang mulai mengalir.
Banyak darah yang keluar dari mulut ataupun tubuh Archiven, sehingga membuatnya tidak bisa bergerak. Dom masih terpaku lesu karena tidak menyangka akan jadi seperti ini.
“Jangan bodoh … aku tidak melindungimu, aku hanya tidak senang seorang bocah mati di depanku.”
Aku tau dia berbohong, karena aku melihatnya sendiri dia melebarkan sayapnya untuk melindungiku dari ledakan itu tapi ....
“Kau baru mengenalku, tapi kenapa kau sampai harus mengorbankan nyawa!!! Padahal kau tidak akan terluka jika menghindarinya tadi ….”
Karena kejadian tadi, Dom menyalahkan diri sendiri karena sudah membuat Archiven berada di ambang kematian.
“Maaf … maafkan aku ….”
Melihat Dom begitu merasa bersalah, membuat Archiven tidak tega membentaknya. Sebenarnya Archiven bermaksud untuk mengulur waktu bagi Dom agar bisa kabur, namun yang terjadi anak tersebut hanya diam terpaku melihat serangan yang begitu dahsyat menghampirinya.
Ah bocah ini, kenapa dia tidak kabur saja … menyusahkan.
__ADS_1
“Groaaaa!!!” teriakan dari Red Tyrant membuat suasana di tempat tersebut kembali mencekam.
Red Tyrant kembali membuka mulutnya untuk menyerang mereka berdua. Hal tersebut tidak baik, terlebih Archiven sudah terluka parah.
“Larilah nak, kau hanya menyusahkanku disini.” Black Tyrant berkata seperti itu agar Dom segera pergi meninggalkannya.
Dengan langkah yang bergetar juga emosi yang masih tidak stabil, Dom berjalan ke depan sambil menggenggam pedangnya untuk melindungi Archiven dari serangan musuh.
Bocah ini ....
“Pergilah bodoh!Kau tidak akan bisa mengalahkannya!!!” Archiven berteriak menggunakan sisa tenaganya.
“Maaf, tapi karenaku ... kau jadi seperti ini. Izinkan aku membalas budi. Karena dengan begini, meskipun harus mati ... aku tidak akan menyesal.” Dom menggenggam erat pedangnya sambil berjalan di depan Archiven.
Seseorang yang mirip denganmu … aku kira hal ini tidak akan pernah kualami lagi.
Sambil memasang kuda-kudanya, Dom menarik nafas sedalam mungkin agar bisa fokus dengan musuh di depannya. Setelah memantapkan niatnya, Dom berlari secara memutar untuk mengelabui Red Tyrant.
Aku tidak bisa mengalahkannya dengan cara biasa … untuk itu ….
“Aku disini monster jelek, lawanmu adalah aku!!!” teriak Dom sambil memberi gestur tangan ke atas.
Red Tryant terpancing oleh suara milik Dom sehingga arah serangan apinya berubah mengikuti Dom. Meskipun gerakan Dom sangat cepat, namun Red Tryant bisa mengimbanginya.
Serangan api mulai diarahkan kepada Dom. Namun karena refleks yang cukup cepat, Dom berhasil menghindari beberapa serangannya.
__ADS_1
Bertarung atau tidak sama sekali!
"Hyaaa!!!” Dom melompat dengan sangat tinggi ke arah wajah dari Red Tyrant.
Archiven menatap dengan wajah idiot karena dia tidak mengerti tujuan Dom melompat.
“AAAAAA ….” mulut Archiven terbuka dengan sangat lebar karena tidak percaya dengan yang dilakukan Dom.
“Dasar bodoh kenapa kau melompat!!!” ujar Archiven yang mulai menunjukan ekspresi seperti Richard karena hal ceroboh yang dilakukan Dom.
“Anak kecil sepertimu mana bisa melukai monster sebesar itu!” teriak Archiven.
Dom sendiri sadar bahwa dia tidak bisa mengalahkannya, meski begitu … Dom tetap percaya bahwa dia dapat melakukan hal yang tidak terduga.
Selagi Dom memutari Red Tyrant, hal pertama yang dia incar adalah matanya. Jika dia berhasil menyerang matanya, mungkin Archiven masih dapat mengalahkannya. Meskipun taruhannya adalah nyawa … tapi Dom tetap memilih untuk melakukannya.
Aku tau jika salah langkah, maka nyawaku bisa lenyap. Tapi … itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
“Hyaaaa!!!!”
“Jangan panggil aku anak kecil paman!!!” Pedang Dom mulai menyambar Red Tyrant.
“Srang ….”
Bersambung ....
__ADS_1