
“Hei anak kecil, aku melupakan sesuatu,” seru Silver.
“Ada apa kakek?” tanya Dom.
“Ingatlah bahwa monster yang sebelumnya kau lawan bukanlah pemimpin dari kawanan tersebut.”
Apa yang dia maksud Leisure?
“Alasannya?”
“Berdasarkan pengetahuanku. Dia pernah menciptakan monster mutasi dengan tiga cahaya biru di dadanya. Tentunya aku belum melawannya karena kupikir dia berada di level yang berbeda. Jadi berhati-hatilah nak.”
Tiga cahaya biru ya? Menghadapi dua cahaya saja sudah cukup menyusahkan.
“Jika lawanmu terlalu kuat. Aku menyarankan kau untuk berlari secepat mungkin.”
“Terima kasih, aku akan mengingat itu.” Setelahnya Dom melangkah keluar.
Berbeda dengan cucunya yang ditahan sebentar oleh kakeknya.
“Bram, sebelum kau pergi, aku ingin memberimu sesuatu.”
“Apa itu?”
Silver mengambil sebuah item dari tempat penyimpanannya.
“Bukankah ini?!”
“Gunakanlah hanya di saat terdesak saja. Aku percaya kau bisa menjaga bocah ini.”
“Kakek ….”
Silver menepuk Bram layaknya seorang keluarga pada umumnya.
“Sudah jangan banyak berpikir, adikmu sudah menunggu di luar.”
Terima kasih untuk segalanya ... kakek.
“Aku berangkat!” teriak Bram.
“Kau tidak akan kumaafkan jika tidak kembali dengan selamat.”
“Hahaha tentu saja.”
Semoga kalian selamat, bocah-bocah nekat.
Area dalam Hutan Terraria.
Selagi melanjutkan perjalanan, Bram menyaksikan begitu banyak tempat yang terkena dampak serangan dari Dom selama dia bertarung menghadapi monster
Kalau dipikir lagi, Ini benar-benar bukan hal yang normal, apalagi dilakukan oleh seorang bocah. Sebenarnya, dari mana sumber kekuatannya ini?!
“Hei Dom, apa kau memiliki seorang guru?” tanya Bram.
“Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?” seru Dom.
“Kekuatanmu di luar kemampuan anak 10 tahun pada umumnya. Aku hanya ingin tau siapa yang bisa membuatmu hingga menjadi sekuat itu.”
“Apa benar begitu? Aku merasa bahwa kekuatanku ini masih jauh dari kata kuat.”
Teruslah merendah untuk meroket sialan!
“Jadi seperti apa sosok yang selalu kau banggakan itu?” tanya Bram.
“Hmm, dia itu tidak begitu pintar. Namun ... aku rasa dia merupakan orang terkuat yang pernah kutemui,” balas Dom.
Terkuat ya? Melihat dari kekuatan anak ini, sepertinya ucapan tersebut bukan bualan belaka.
“Begitu rupanya.”
“Memangnya kau tidak memiliki seorang guru wahai kakakku?” tanya Dom.
“Orang yang merawatmu itu adalah guruku.”
“EH?! Kukira dia hanya seorang petugas medis.”
“Itu tidak sepenuhnya salah. Tapi, sebelum menjadi dokter, latar belakangnya merupakan seorang penyihir tingkat atas dan memiliki kuasa sebagai komandan pasukan perang kerajaan.
"Apa?!" teriak Dom.
"Dia adalah salah satu pahlawan di Hutan Terraria ini. Selain itu, dia juga yang berjuang digaris depan melawan monster 100 tahun lalu. Hanya saja, semua rekannya mati dalam insiden itu.”
“Lalu apa yang terjadi setelahnya?" tanya Dom.
Tidak kusangka kakek itu mempunyai masa lalu yang kelam.
“Kakek Silver berpikir bahwa kematian rekannya merupakan salahnya. Sejak saat itu, dia tidak ingin lagi menjadi seorang penyihir dan mengasingkan diri di area ini.”
“Lalu bagaimana denganmu?”
Bram seketika menghentikan langkahnya dan menundukan kepalanya dengan wajah sedih.
“Aku hanyalah anak tersesat.”
__ADS_1
“Tersesat?”
“Karena kau berkata seperti itu, biar kuceritakan sebuah kisah menarik.”
Apa maksudnya itu ….
Bram mulai bercerita.
“Dahulu, terdapat sepasang petualang mencoba menerobos untuk masuk ke dalam area ini demi mendapatkan akar spiritual yang berfungsi untuk menahan rasa sakit. Di saat bersamaan, wanita yang pergi ke tempat itu tengah dalam kondisi hamil besar.
“Naas, ketika mereka hampir mendapatkannya, sekelompok monster menghadang dan menghabisi salah satunya yaitu tokoh pria. Sang wanita hanya bisa berlari secepat yang ia bisa. Tapi … ketika di jalan, tiba-tiba perut wanita itu merasakan sakit yang luar biasa.”
“....” Dom hanya menyimak karena belum mengetahui inti dari cerita Bram.
“Karena tidak kuat menahan rasa sakit, wanita itu berteriak sekeras mungkin dengan harapan ada yang menolongnya. Beberapa saat kemudian, seorang penghuni hutan tersebut mendengar teriakan dan mencoba mendatangi sumber suara.
“Hanya saja … ketika sang penyelamat tiba, kesadaran wanita itu dalam kondisi memprihatinkan karena baru saja melahirkan tanpa ada yang mendampinginya.
Meskipun hanya sebuah cerita, tapi ini benar-benar gelap.
“Emm penyelamat itu?”
“Yah, itu adalah Kakek Silver. Ketika ia sampai di tempat wanita itu. Kondisinya sudah tidak mungkin untuk diberikan pertolongan. Tapi, sebelum kematiannya, ia berpesan kepada Kakek Silver untuk melindungi anaknya dan selalu menjaganya.”
“Jangan-jangan?!”
“Kau benar. Anak tersebut adalah aku, dan wanita dalam cerita itu merupakan ibuku. Namun, kini dia sudah tenang disana.”
Dom tidak tahu harus bersikap apa karena sepertinya dia sudah bertanya tentang hal yang menyinggung Bram.
Ah, seharusnya aku tidak bertanya tentangnya. Kenapa aku malah membuatnya menjadi sedih.
“Maaf, aku tidak bermaksud-”
“Ahaha sepertinya aku bercerita terlalu banyak. Sudahlah, lebih baik kita melanjutkan perjalanan.”
Setelahnya, suasana di sekitar menjadi sedikit canggung.
Masa lalu mereka ternyata lebih gelap ketimbang diriku. Kenapa aku tiba-tiba teringat dengan orangtuaku. Mereka sedang apa ya kira-kira?
“Klek.” Langkah Bram terhenti ketika Dom sedang berada dalam lamunannya.
“Ada apa-” Ekspresi Dom berubah saat melihat ke depan.
“Rupanya kau masih hidup anak kecil?”
Aku pikir butuh waktu lama untuk mencarinya. Ternyata dia yang datang sendiri.
“LEISURE!” teriak Dom.
“Menarik sekali. Rupanya masih ada manusia lain yang hinggap di hutan ini.”
Bram mengeluarkan pisaunya dari saku.
“Jadi kau yang sudah mengalahkan adikku ini? Apa kau ingin merasakan pembalasan dari Kakak Bram ini hah?!” teriak Bram.
“Tunggu, tolong biarkan aku yang menghabisinya,” seru Dom dengan tatapan tajam.
Melihat raut wajah Dom yang bersungguh-sungguh membuat Bram hanya bisa mengalah.
Bisa-bisanya kau memberi perintah kepada yang lebih tua. Hah … dasar anak kecil.
“Baiklah, tapi kau tidak boleh kalah lagi.”
“Tenang saja, karena kali ini. Aku cukup mengalahkannya dengan satu gerakan.”
Percaya diri sekali anak ini ….
“Kalau begitu, aku akan menghadapi yang lainnya. Berhati-hatilah,” seru Bram yang pergi ke arah berbeda.
Tapi itu lebih baik dibanding menghadapinya dengan keraguan.
"Kemarilah jelek!" Bram memancing sekawanan monster agar memisahkan diri dari pemimpinnya untuk memberi ruang kepada Dom untuk bertarung.
Setelah terpancing.
“Sekarang ….” Bram melihat ke arah puluhan monster lemah yang sudah siap memangsanya.
“Groaaa!”
“Hey apakah itu salam yang sopan?” tanya Bram.
“Groaaa!”
“Ah ternyata mereka tidak bisa berbicara. Ini tidak menarik sama sekali.”
“Groaaa!”
“Hentikan teriakan kalian! Hyaat!”
Di sisi lain.
"Bagaimana kau bisa sembuh dengan begitu cepat manusia?" tanya Leisure.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu," serunya dengan nada dingin.
“Srang!” Dom mengeluarkan pedangnya yang sudah retak namun memancarkan sebuah sinyal bahaya.
“Deg!” Leisure menyadari bahwa tekanan yang diberikan oleh Dom berbeda dari saat pertama kali melawannya.
Aku … ketakutan?!
“Yah itu bukan urusanku, tapi rupanya kau sudah menjadi lebih kuat nak.”
Sementara itu, Dom baru menyadari sesuatu ketika ia mulai memompa aura pada tubuhnya.
Ada apa ini? Entah kenapa badanku menjadi lebih ringan. Apa jangan-jangan karena paman naga?
“Jika begini, aku bisa bergerak dengan lebih cepat!”
“Swosh!” Dom mulai menggerakan pedangnya untuk memastikan tubuhnya.
Ternyata benar, pedang ini terasa lebih ringan dari sebelumnya
“Hey, bisakah kita mulai?” tanya Leisure.
“Maaf sudah menunggu. Tapi, pertarungan ini akan berjalan tidak seimbang,” seru Dom dengan nada meledek.
“Dari mana rasa percaya dirimu itu manusia?” ungkap Leisure.
“Kau akan tau setelah melihatnya.”
Dom menutup matanya dan mencoba setenang mungkin untuk bisa mendapatkan energi di sekitarnya. Setelahnya tubuh Dom mulai mengeluarkan aura serta tekanan yang kuat.
“Wussh!” suara angin yang membentuk pola melintas di sekitar Dom.
Sementara itu, kepanikan Leisure semakin terlihat setelah melihat sebuah bayangan naga dalam teknik pedang Dom.
Tenang, Ini akan baik-baik saja selama dia tidak menemukan kelemahanku.
“Aku terkejut kau bisa menjadi sangat kuat dalam waktu sesingkat ini. Tapi … itu saja belum cukup untuk melukaiku!”
Energi ini … aku akan menggunakannya sebaik mungkin.
“Stab the Dragon’s Growth.”
Hawa dengan nuansa gelap menyelimuti pedang Dom. Setelahnya, kekuatan dengan jumlah besar meluap begitu cepat.
“Sudah kubilang, pertarungan ini tidak berjalan seimbang," seru Dom dengan aura naganya.
Sejak kapan anak ini menekanku sampai seperti ini.
“Grrrrr! Jangan meremehkanku manusia!” Leisure berlari ke arah Dom sambil mengeluarkan cakar tajamnya.
“Kalau begitu, maaf.”
“Groaaaa-”
“Sraaaat!” Dom melewati Leisure dengan menebas cahaya biru tersebut dengan begitu mudah.
Hah?! Kenapa dia bisa mengetahui kelemahanku!
“Stab the Dragon’s Growth … Judgment!”
“Cring!” Sebuah percikan listrik menambah efek dari teknik pedang Dom.
“HUAAAA!”
Sementara itu.
“Sraat!” Satu per satu monster dihabisi oleh Bram.
“Ah ini tidak ada habisnya.”
Tiba-tiba.
“Booom!” Suara ledakan dari tempat pertarungan Dom.
“Hah? Apa yang terjadi?” tanya Bram.
Jangan-jangan!
Karena khawatir, Bram berlari ke tempat Dom berada.
Begitu melihat lokasi pertarungan.
Sepertinya aku terlalu mencemaskannya. Tapi … apa-apaan serangannya ini!!!
“Huh … meskipun sudah banyak berlatih, ternyata teknik ini menghabiskan banyak sekali energi.”
“Sreng!” Pedang Dom diletakan kembali di punggungnya.
Sebuah hutan yang awalnya terlihat begitu gelap kini menjadi sedikit cerah karena tebasan pedang milik Dom. Meskipun Bram sudah pernah melihatnya, tapi ia tidak menyangka akan terjadi untuk kedua kalinya.
Mata Dom masih memancarkan aura yang bisa menekan siapa saja di sekitarnya.
Untung saja cebol ini bukan musuhku, kalau tidak mungkin seisi hutan ini bisa dibabat habis olehnya. Dia seperti … raksasa kecil dari dunia lain.
__ADS_1
Bersambung ....