Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 16: Tragedi


__ADS_3

Serangan Dom berhasil membelah tubuh Goblin King menjadi dua.


“Fyuh … ternyata gerakan ini lebih sulit dari yang kuduga.” Dom berhasil mengalahkan Goblin King dengan cukup mudah.


Richard yang sebelumnya hanya menunjukan ekspresinya konyolnya berubah menjadi terpana. Richard tidak percaya bahwa Dom dapat mempelajari teknik berpedang bahkan pada tingkat yang cukup sulit.


Apa-apaan bocah ini? Sebenarnya apa yang sudah diajarkan oleh Octo.


Karena Dom menyembunyikan hal besar kepada gurunya, membuatnya dalam masalah besar.


Richard mendekat ke arah Dom dengan tatapan yang tajam dan aura ingin membunuh. Dom yang menyadari hal tersebut berusaha untuk lari, namun tangan Richard sudah ada di kepala Dom sehingga membuatnya tidak bisa kemana-mana.


“Hey cebol, sepertinya ketika aku tidak ada kau diam-diam berlatih pedang ya.” Richard meremas kepala Dom dengan semakin keras disertai dengan senyum jahat.


“Uaaa kepalaku remuk … kepalaku! Tidak!!!” teriak Dom yang berusaha melepaskan tangan Richard namun tidak bisa.


“Sebaiknya kau punya alasan untuk ini. Jika tidak, mungkin kepalamu akan kubakar bersama dengan monster itu.” Richard semakin meremas kepala Dom disertai dengan nada bicara yang mengancam.


“Uaaaa tua bangka lepaskan aku!!! Kepalaku akan menjadi jelek sepertimu.” Meskipun kepala Dom masih diremas oleh Richard, tapi tetap saja Dom masih mengejeknya.


Amarah Richard semakin menjadi setelah Dom mengejeknya.


Bocah ini … aku benar-benar akan meledakannya nanti.


Meskipun Richard masih kesal apalagi saat Dom mengejeknya. Tapi dia tidak tega melihat muridnya kesakitan sehingga melepaskan genggaman tangannya dari Dom.


Setelahnya, Dom menceritakan alasan dia berlatih teknik pedang dan juga siap dengan konsekuensi yang diterima jika dia tidak bisa mengontrolnya.

__ADS_1


Richard hanya bisa menyalahkan Octo karena dia tidak bisa melarang Dom untuk berlatih teknik pedang. Meskipun begitu, Richard sedikit mengerti kenapa Octo bisa luluh.


Hmm … dia pasti menggunakan trik untuk meyakinkan Octo, aku lupa memberitahunya kalau bocah ini sangat licik.


“Huft … baiklah Dom, aku tidak akan melarangmu untuk berlatih menggunakan pedang, tapi kau harus janji satu hal padaku.”


“Apa itu?” Dom masih memegangi kepalanya yang benjol.


“Kau harus menerima kenyataan jika suatu hari tubuhmu tidak bisa mengeluarkan elemen karena ini. Aku bukan menakut-nakuti, tapi menggunakan keahlian lain akan mempengaruhi struktur yang ada pada tubuhmu. Jadi jika kemungkinan terburuknya seperti itu, maka aku tidak bisa membantumu lagi.”


Mendengar ucapan Richard, membuat Dom terdiam sesaat. Ditambah lagi, Dom memang sudah tahu bahwa konsekuensi mempelajari beberapa keahlian memang berat.


Namun, dia tidak bisa menunggu hal yang tidak pasti seperti pada kekuatan sihirnya saat ini. Dom lebih memilih untuk bertaruh dibandingkan hanya menunggu orang menyuapinya.


“Tenang saja paman, lagipula aku sudah tau batas kekuatanku saat ini, yang berarti aku akan menerima apapun konsekuensinya,” jawab Dom dengan wajah yakin.


“Yah kalau sudah begitu aku tidak bisa melarangmu, lagipula yang menentukan pilihan adalah dirimu sendiri. Dan satu lagi … buatlah gurumu ini terkejut ketika kau sudah menjadi seorang Magic Swordsman.”


“Magic Swordsman?” tanya Dom.


“Itu adalah sebutan untuk orang yang menguasai sihir juga teknik berpedang.”


Wow sebutan itu terdengar keren, hehehe ini semakin membuatku termotivasi untuk berlatih lebih keras lagi. Mungkin setelah ini aku akan menambah porsi latihan.


Saat mereka berpikir bahwa Dungeon ini akan berakhir, suara monster kembali terdengar dari ujung gua tersebut, namun kali ini berbeda.


“Deg deg,” tubuh Richard merasakan sesuatu yang berbahaya datang dari ujung Dungeon.

__ADS_1


Dom yang melihat wajah gurunya terlihat panik berlari ke belakang untuk berlindung.


“Gerrrr … beraninya kalian mengganggu tidurku.” Seekor monster mulai berjalan dari lorong gua.


“Dom tetaplah dibelakangku.” Richard tau bahwa monster ini sedikit berbahaya sehingga dia tidak ingin Dom terluka.


“Gerr …,” monster tersebut akhirnya menampakan wujudnya.


Wajah Richard sedikit terkejut karena yang akan dilawannya adalah monster dengan kekuatan setara Rank A.


“Bukankah itu Sphinx?? Sepertinya ini cukup gawat.” Melihat monster tersebut cukup kuat, Richard mencoba mencari cara agar bisa kabur.


Sebenarnya Richard dapat melawannya dengan mudah. Namun ... saat ini dirinya sedang membawa Dom dan enggan mengambil risiko. Apalagi dia tidak ingin mengalami hal yang sama seperti yang terjadi pada anaknya yang mati di Dungeon.


“Baiklah Dom, dengarkan ... begitu aku melancarkan serangan, kita akan lari keluar dari Dungeon ini.” Richard mulai mengeluarkan sihir apinya sebagai tanda bahwa persiapan sudah siap.


Setelahnya ....


“Elemen api ... Burst Fire! Sekarang Dom.” Mereka berlari menjauhi area tersebut, namun tanpa mereka duga, Sphinx mengeluarkan sebuah serangan dengan daya hancur yang cukup luas.


“Lion Roar!” Monster tersebut membalas serangan milik Richard hingga membuat kerusakan pada atap Dungeon.


Pecahan dari atap yang rusak menghantam keras ke arah tanah sehingga membuat Dungeon tersebut terbelah. Dom yang jaraknya cukup jauh dari Richard terjatuh ke dasar dungeon sehingga membuat mereka terpisah.


“Uaaaa!” Dom terjatuh akibat reruntuhan.


“DOM!!!”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2