
Zeed dan Richard mulai mengeluarkan aura masing-masing yang menandakan mereka mulai serius.
“Hoo tidak kusangka kau memiliki kekuatan yang cukup besar,” ujar Richard.
“Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu kepala api?” seru Zeed
“Hahaha terima kasih pujiannya petugas listrik,” balas Richard.
Sambil memunculkan aura, Zeed mencoba mencari tahu letak kelemahan dari monster. Selagi rekannya memantau, Richard mulai membuka serangan.
“Aku datang!!! Elemen Api … Magma Venom!” Kumpulan lahar panas mulai ditembakan oleh Richard.
“Boom!!!” Ledakan magma memicu asap menyelimuti tempat tersebut.
“Groaaa!!!” teriak Zackal.
Tapi, meskipun sudah cukup kuat, serangan Richard tidak menggores tubuh dari Zackal. Sebaliknya, Zackal membalas serangan Richard menggunakan kristal esnya.
“Hey paman, monster itu akan menurunkan hujan lagi!” teriak Dom.
“Ah lagi-lagi kristal ini … Dom perhatikan langit!” seru Richard.
“Groaaaa!” Kumpulan hujan es mulai berjatuhan seperti sebelumnya.
“Dududududut demm!” Gumpalan asap kembali menyelimuti tempat tersebut.
Setelahnya ….
“Kalau saja aku telat menghindar, mungkin kristal itu akan melubangi tubuhku,” ujar Dom.
“Kau pikir serangan selanjutnya akan berpengaruh pada kami monster jelek?!” teriak Richard.
Pada serangan kedua ini, mereka bertiga berhasil menghindar dengan baik karena sudah mengantisipasi pola dari hujan es dari Zackal. Namun .... Richard dan Zeed masih kesulitan untuk melukai monster itu karena serangan mereka sama sekali tidak berpengaruh
Ini aneh … padahal sihir kami cukup kuat, tapi kenapa monster itu tidak terluka?
“Hey pak tua, apa kau punya solusi?” tanya Zeed.
“Hmm mungkin penyebabnya karena sihirmu terlalu lemah ahli petir,” jawab Richard yang tidak memberi solusi.
“Ah lupakan,” balas Zeed.
Memang betul sihirku memang tidak cukup kuat, tapi bukan itu yang kumaksud kepala api!
“Groaaa!” Zackal kembali merubah iklim cuaca menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Bahkan disekitarnya sudah muncul kristal es.
“Wuishh,” suara angin yang semakin kuat.
“Hachuu! Kalau tau begini, akan kubawa mantel kesayanganku,” seru Richard yang sudah menggigil.
“Sial, kalau begini terus, kita akan mati kedinginan,” ujar Zeed.
“Jiii-ji-jika tidak bisa menyerang tubuhnya, ke … kenapa kalian tidak me-men-mencoba menyerang bagian lain,” jawab Dom yang sudah kedinginan dan mulai membeku.
Hemm Bagian lain ya?
Zeed kembali melihat tubuh monster tersebut dan memperhatikan lebih jeli.
Jadi begitu ya, sepertinya anak ini lebih cerdas ketimbang kepala api itu.
Setelah mendapatkan saran dari Dom, Zeed akhirnya berhasil mendapatkan solusi.
__ADS_1
“Hey Pak tua, apa kau pikir batu delima di kepalanya itu hanya sebuah pajangan?” tanya Zeed.
Batu delima?
Richard melihat ke atas kepala monster dan baru menyadarinya.
Jadi dari tadi memang ada hiasan di kepalanya?
“Hmm, apa kau berniat menyerangnya?” Richard bertanya kembali.
Melihat dari reaksinya, aku yakin orang ini baru menyadarinya ….
“Jika ada kemungkinan itu adalah kelemahannya, kenapa tidak!” seru Zeed yang kemudian bergerak.
Dengan cepat, Zeed terbang ke arah monster tersebut dengan sebuah sihir di tangan kanannya.
“Groaaa!” Zackal menyadari keberadaan Zeed.
“Jika memang benar, maka aku hanya harus menghancurkan kristal itu. Elemen petir … Thunderbolt!”
“Bzzzt … bzztt … bomm!”
Seperti yang diprediksi oleh Zeed. Monster tersebut merasa kesakitan setelah menerima Thunderbolt.
Namun … karena merasa kelemahannya telah diketahui, monster tersebut membuat perisai pada bagian kepalanya sehingga membuatnya semakin keras.
“Hey hey apa yang seperti itu diperbolehkan?!” seru Zeed
“Sepertinya seranganmu tadi berhasil melukainya, meskipun hanya sedikit hahaha,” ujar Richard.
“Daripada terus berbicara, sebaiknya kau mulai menggunakan kekuatan barumu pak tua,” balas Zeed.
“Hah rupanya kau sangat penasaran dengan kekuatanku, lihat ini baik-baik.”
Seperti apa ya kekuatan lain dari pak tua itu?
“Wussh,” aura Richard mulai berubah.
Hoo rupanya dia memilikinya.
“Lepaskan kekuatan! Elemen Summon … Stardust Bird!”
Bukankah itu? Wow aku tidak percaya ini!
Dom begitu gemetar melihat kekuatan lain dari gurunya, sementara Zeed hanya memperhatikan apa yang baru saja dikeluarkan oleh Richard.
Bukankah burung itu?
Stardust Bird merupakan sihir yang memanggil monster dengan bentuk menyerupai burung dengan warna bulu seperti gelapnya langit malam. Di coraknya terdapat bintik-bintik seperti bintang yang tersebar di bulunya.
Burung tersebut berhasil didapatkan Richard ketika menjelajahi sebuah dungeon di sebuah tempat yang cukup asing.
Serangan terkuatnya adalah tusukan tajam dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa dimana menciptakan efek lintasan seperti ekor komet di belakangnya, yang bisa menembus benda apapun bahkan baja sekalipun.
Kekuatan elemen summon atau pemanggil tergantung dari bagaimana pemilik mendapatkan kontrak dari makhluk yang telah ditangkap atau sudah mati. Kontrak bisa tercipta jika mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak.
Jika sudah menjadi penyihir tingkat tinggi, seorang ahli summon dapat mengontrol makhluk yang dipanggilnya dalam radius beberapa kilometer.
“Oaaak!” suara dari Stardust Bird.
“Tidak salah lagi, makhluk itu adalah salah satu Spirit Beast. Bagaimana orang ini bisa mendapatkannya?” seru Zeed.
__ADS_1
“Baiklah, kurasa aku harus mengeluarkan sihir lainnya,” Richard menyeringai.
“Sihir lainnya?” tanya Dom
Setelah mengeluarkan Stardust Bird. Richard kembali mengeluarkan elemen api, namun dengan bentuk yang berbeda.”
“Elemen Api … Amaterasu.” Sebuah api hitam pun tercipta dengan sekali yang cukup luas.
“Groaaa!” Zackal merasakan tanda bahaya.
Api hitam? Aku baru pertama kali melihatnya.
Tidak mau kalah, Zeed mengeluarkan sihir terkuatnya.
“Kurasa ini bisa mengalahkannya. Elemen Petir … Desert Storm!” Sebuah badai listrik mulai tercipta bersamaan dengan api hitam milik Richard.
“Bzzzt … zzt … wushhh.” Gabungan dari sihir mereka berhasil mengunci pergerakan Zackal.
Apa ini sihir kekuatan dari orang dewasa?
“Kuat sekali!!!” teriak Dom.
Aku tidak menyangka guruku akan sekuat ini. Sebenernya siapa identitas asli dari pak tua ini?
“Groaaa!” Zackal terlihat kesulitan untuk keluar.
Karena berhasil terperangkap dalam zona sihir, mereka berdua kembali menyerang dengan sihir diikuti oleh Stardust Bird milik Richard.
“Elemen petir, Lighning Vortex!” teriak Zeed.
“Majulah Stardust!” Burungnya terbang dengan cepat sambil menusuk seperti sebuah tombak api.
Karena merasa terancam, Zackal terus meningkatkan pertahanannya sambil mencoba untuk menyerang dengan kekuatan penuh.
“Groaaaaaa!!!” Sebuah sinar gama tercipta dari mulut monster tersebut.
Serangan mereka beradu satu sama lain. Namun … semakin lama, sinar gama milik Zackal menjadi mengecil karena terserap oleh api hitam milik Richard.
Tentunya hal tersebut menjadi keuntungan bagi mereka. Sihir Zeed dan serangan Stardust Bird milik Richard mengarah langsung ke arah kepala Zackal.
“Selamat tinggal monster,” seru Richard.
“Jeboom!!!” Ledakan berskala besar dan kuat terjadi.
“Kuat sekali! Tapi kalau begini … UAA!” Dom terhempas akibat serangan gurunya sendiri.
Seluruh area menjadi gundul tanpa ada kehidupan sama sekali. Medan tersebut kini hanyalah tempat kosong dengan tersisa Dom yang juga ikut terkena ledakan dari sihir mereka. Setelahnya, Monster tersebut lenyap dan batu delimanya jatuh ke bawah.
“Api hitam ya? Mengerikan sekali …,” ujar Zeed yang sedikit merinding.
“Hey jika kalian ingin menggunakan sihir semacam itu, tolong bawa aku ke tempat yang aman dulu sialan!!!” Dom yang terpental sangat jauh.
“Hah sudah lama aku tidak menggunakan api hitam,” ungkap Richard sambil menatap telapak tangannya yang terasa kaku sehabis menggunakan sihir api hitam.
Setelahnya Zeed mendekati batu delima untuk memastikan apakah itu barang yang dicari olehnya selama ini.
“Hmm apakah ini inti kehidupan?” tanya Zeed.
Karena jarang sekali mendapat misi merepotkan, Zeed tidak begitu mengetahui tentang hal-hal penting.
“Hey kau sedang apa pemandu??” Richard menghampirinya.
__ADS_1
“Itu kan??”
Bersambung ....