
“Deg deg.” Bunyi detak jantung.
Loh? Perasaan ini? Kenapa hatiku terasa sakit.
“Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanya Lyfa.
Aku? Menangis? Tapi … kenapa tiba-tiba?
“Siapa bilang aku menangis. Mataku hanya kemasukan serangga,” seru Richard.
“Tenanglah, muridmu akan baik-baik saja.”
“Aku mengerti. Lagipula kau sudah berkata seperti itu berkali-kali.”
“Oh begitu ya? Hahaha maaf.”
Entah kenapa aku juga merasakan firasat buruk tentangnya. Semoga saja apa yang aku rasakan benar-benar tidak terjadi.
Sebuah area gersang akibat pertarungan hebat.
"Semoga kita bertemu lagi bocah." Ketika Leisure kembali menyerang Dom untuk kedua kalinya.
“Dia sudah tidak ada harapan untuk hidup. Terlebih, tuan memanggil kita, kembalilah sekarang!” sebuah suara datang melalui pikiran Leisure.
“Sraaat!” Cakarnya menancap ke tanah.
“Cih! Kenapa di saat seperti ini ….”
Ah sudahlah, lagipula dia tidak akan bertahan lama. Aku hanya ingin mempercepat kematiannya saja.
Ia hanya melihat Dom yang terbaring lemah dengan luka di sekujur tubuhnya.
“Kau sangat kuat bocah. Hanya saja … keberuntunganmu tidak sebagus kekuatanmu.”
Setelah berkata seperti itu, Leisure pergi meninggalkan Dom yang sudah dalam kondisi kritis.
Dom terdiam sambil meratapi perjalanannya yang sudah tidak lama lagi.
Aku sudah tidak bisa merasakan apapun … pandanganku semakin kabur. Rasanya sering sekali aku mengalami hal seperti ini hahaha.
Yah, mau bagaimana lagi. Sudah tidak ada jalan kembali ….
Dom hanya berbaring di saat terakhir sambil melihat ke arah matahari yang semakin terik. Cahaya matanya semakin meredup karena darah di tubuhnya tidak berhenti mengalir.
Jika aku mati, kira-kira aku akan dibawa kemana lagi ya?
Paman Richard, Peri Lyfa … maaf, sepertinya aku hanya sampai sini saja.
“Deg deg … deg … deg ….” bunyi detak jantung Dom yang semakin melemah.
Ah … aku sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi ….
Sebuah pengulangan waktu beserta pengalaman ketika Dom hidup mulai masuk ke dalam pikirannya. Ia hanya menangis dengan senyum palsunya.
Ini … ingatanku?
Dom melihat memorinya bersama orangtuanya di bumi serta kenangannya dengan Richard dan penduduk yang ada di Desa Pyro.
Entah kenapa … ini terasa hangat.
__ADS_1
Setelah beberapa saat.
“Click … Click!” suara tetesan air terdengar oleh Dom.
Ia membuka matanya secara perlahan dan mendapati telah masuk ke sebuah ruangan yang kosong berlatar cahaya putih terang.
Apa yang terjadi? Dimana ini?
Dom melihat ke area sekitar dan tidak mendapati apapun. Bahkan ingatannya juga menjadi terbatas.
“Ah kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian sebelumnya?”
Setelah itu, terdapat percikan cahaya lain yang dilihat oleh Dom seperti layaknya perpindahan distorsi ruang dan waktu.
“Ting!” Ruangan tersebut berubah menjadi sebuah hamparan tanah luas yang diselimuti oleh berbagai pepohonan serta tumbuhan.
Sebuah tempat yang masih asli dengan ketenangan yang tiada tara dilihat oleh Dom.
“Sebenarnya aku sedang ada dimana?” tanya Dom dengan wajah penasaran.
Apa aku dipindahkan kembali ke dunia yang berbeda?
Ia terus menelusuri tempat tersebut dan tidak menemukan satu pun keberadaan makhluk hidup disana. Namun … setelah ia melihat lebih jauh.
“Apa itu?” Dom mengejarnya.
“Wussh!” Sebuah sayap ditembangkan dengan sangat lebar.
Ini … jangan-jangan?!
“Paman naga!” teriak Dom.
Suara ini?
Sayap yang membentang layaknya seorang naga ternyata adalah Archiven yang sudah mati ketika memberikan Dom sebuah elemen kegelapan.
“Hah … hah … hah, paman! Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Dom dengan nafas yang terengah-engah.
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu … kenapa kau bisa masuk ke sini nak?”
Ketika Dom mencoba mengingat kejadian sebelumnya, pikirannya tidak bisa menyalurkannya sehingga membuat ingatan Dom sedikit terhapus.
Emm iya juga, kenapa aku bisa ada disini?!
“Aku tidak terlalu mengingatnya. Tapi … sebelumnya aku sempat bertarung dengan monster kuat. Setelah itu, aku tidak tau lagi hahaha,” jawab Dom dengan polos.
“Bertarung?! Jadi begitu. Hey nak, apa kau tidak merasakan apapun ketika tiba disini?”
“Bagaimana aku menjelaskannya ya. Aku benar-benar tidak terlalu mengingatnya. Sebelum itu aku hinggap dalam sebuah ruangan putih, setelahnya aku berada di sini. Tapi … bukankah paman sudah mati?!” teriak Dom.
“Hah?! Apa kau benar-benar tidak ingat sama sekali?”
Aku memang sudah mati dasar bodoh. Sepertinya bocah ini tidak tau bahwa dirinya sudah mati ….
“Emm aku hanya mengingat apa yang sudah kualami sebelumnya,” ujar Dom sambil tersenyum.
Tidak kusangka seorang jenius muda bisa jadi sebodoh ini ….
“Ah lupakan.”
__ADS_1
Karena tidak ingin Dom mengingat kenangan pahitnya, Archiven lebih memilih untuk diam dan tidak bertanya lebih jauh tentang alasan Dom masuk ke tempatnya.
“Hey, apakah kau sudah berhasil menguasai kekuatanku??” tanya Archiven.
“Kekuatanmu itu benar-benar menyusahkan. Setiap kali aku mencoba menguasainya, kesadaranku selalu diambil alih. Begitu aku bangun, sekitar tempatku sudah berantakan seperti dilanda badai,” ungkap Dom.
“Hahaha ya wajar saja, kau masih sangat muda. Kekuatan seperti itu seharusnya bukan untuk dimiliki oleh anak kecil. Maaf sudah memberimu sesuatu yang tidak bisa kau kuasai,” balas Archiven.
“Heh, sepertinya kau terlalu meremehkanku. Tenang saja, aku akan menguasai elemen itu ketika umur 12 tahun. Lalu paman akan terkejut saat aku sudah bisa mengeluarkan sihir sekuat dirimu.”
“Baiklah aku menantikan itu. Jadi nak, apa diluar sana terasa menyenangkan?” tanya Archiven.
“Tentu saja!!! Aku bisa belajar banyak tentang sihir, ditambah lagi terdapat seorang guru yang sangat baik terhadapku.”
“Begitu ya ….” Archiven tersenyum.
“Maaf aku tidak bisa melindungimu waktu itu. Kau juga bahkan memberikanku sesuatu yang berharga,” seru Dom dengan wajah sedihnya.
Archiven hanya bisa tersenyum mendengar perkataan dari Dom. Karena dia merasa bahwa Dom mirip seperti temannya yang bernama Flower Silvana.
“Jika aku tidak melindungimu, mungkin saja kau yang mati dasar bodoh,” ujarnya sambil mengetuk kepala Dom.”
“Sakit!!! Bisakah kau memperlakukan anak kecil dengan lebih baik??” tegur Dom.
“Ahaha maaf-maaf.”
“Meskipun saat ini tubuhku sudah menghilang, aku merasa senang karena aku bisa melihat perjalananmu hingga saat ini,” ungkap Archiven.
Dom mengeluarkan air matanya karena bersyukur pernah bertemu dengan Archiven sewaktu menjelajahi Dungeon.
“Terima kasih paman.”
“Cring.”
Ketika sedang asik berbincang, tubuh Dom tiba-tiba mengeluarkan percikan cahaya.
“Loh? Kenapa tubuhku mengeluarkan cahaya?” tanya Dom yang mulai panik tubuhnya menghilang perlahan.
Archiven hanya bisa tersenyum sedih, karena sepertinya ini belum waktunya Dom untuk bertemu dengannya.
Setelahnya, ingatan Dom perlahan kembali seperti semula. Ia mengingat semua kejadian yang pernah dialami sebelumnya.
Jadi begitu ya ….
“Hiks … hiks … hiks. Maaf.” Dom mengeluarkan air matanya karena sadar dia hanya bertemu dengan jiwa dari Archiven.
“Sepertinya belum waktumu kau ada disini nak. Sebelum itu ada sesuatu yang ingin aku lakukan.”
Archiven lalu mengelus kepala Dom sambil memberikan sesuatu kepadanya sebelum dia pergi.
“Gunakanlah kekuatan ini dengan baik. Ingatlah Dom, aku akan selalu mengawasi perjalananmu. Sampai bertemu lagi …,” ucapnya sambil tersenyum.
Perlahan tubuh Dom mulai hilang bersama dengan cahaya itu. Dom hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air mata.
"Terima kasih atas segalanya ... paman." Cahaya tersebut akhirnya menghilang secara menyeluruh dari mata Archiven.
Beberapa saat, matanya kembali terbuka secara perlahan di sebuah tempat asing.
“Kakek … dia mulai sadar!!! Kemarilah.”
__ADS_1
“Apa??”
Bersambung ....