
“Srang!” Serangan dari Reli ditangkis oleh Dom meskipun butuh tenaga yang lebih untuk melakukannya.
Karena tau keadaan sedang tidak seimbang, Dom menggunakan kecepatannya untuk mundur ke belakang sambil memikirkan cara untuk mengalahkan musuhnya.
“Hah … hah … hah. Tidak ada jalan keluar ya?”
Monster mutasi mulai dari yang lemah hingga cukup kuat mengurung Dom sehingga membuatnya tidak bisa keluar dari area tersebut.
“Hey hey, apa kau sudah tidak punya hal menarik yang ingin ditampilkan kepada kami?” tanya Reli dengan nada mengejek.
“Hahaha.”
“Kenapa kau tertawa?!” seru Reli dengan nada sedikit kesal.
“Yah lucu saja. Bahkan untuk mengalahkan seorang anak kecil, kalian harus mengerahkan ratusan monster untuk membunuhku? Hahaha pengecut!” teriak Dom dengan nada memprovokasi.
“Apa kau bilang!” Karena terpancing, Reli tiba-tiba bergerak cepat menghampiri Dom dan melayangkan sebuah tinju.
“Urrgght!”
Kuat sekali!
“Boom!” Meskipun masih bisa ditangkis, tetap saja Dom terhempas hingga menabrak sebuah pohon.
Ini benar-benar tidak baik. Jika terus seperti ini, aku benar-benar akan kehilangan nyawaku!
Apa aku harus menggunakan elemen kegelapan?
“Tidak! Aku yakin mereka bukanlah penguasa hutan ini. Jadi, sebaiknya aku menyimpan itu untuk nanti!” Dengan tubuh yang terasa berat, Dom mencoba untuk berdiri kembali.
“Heh masih bisa berdiri rupanya? Tapi ini akan semakin menyenangkan!” ujar Reli sambil menyeringai.
Sementara itu, Leisure yang mulai bosan bergerak lambat ke arah Dom tanpa ada aura membunuh.
“Hey nak, aku yakin kau tersiksa dengan kondisimu saat ini. Bagaimana jika aku melakukan penawaran?” tanya Leisure.
Ada apa dengan monster ini? Apa dia berada mencoba menolongku?
“Memangnya apa yang bisa kau tawarkan kepada seorang manusia?” tanya Dom.
“Hey apa yang kau pikirkan Leisure?” tanya Reli.
“Untuk anak muda sepertimu, kau cukup berbakat. Bagaimana jika kami melahapmu, sebagai gantinya kami tidak akan membuatmu merasakan sakit.”
Sebuah tawaran yang sama sekali tidak menguntungkan bagi Dom, malah lebih terlihat menyuruhnya untuk menyerah.
Apanya yang tawaran … padahal aku sudah berharap lebih padanya. Lupakan, saat ini aku harus mengistirahatkan tubuh ini terlebih dahulu.
“Hahaha, aku setuju dengan itu. Bagaimana manusia, apa kau mau melakukan itu? Tenang saja, ini tidak akan menyakitkan!” menyeringai.
“Heh sepertinya aku akan menolak tawaran itu. Lagipula, aku masih belum ingin memberikan tubuhku ini pada kalian,” jawab Dom dengan tegas.
“Aku akan memberimu kesempatan terakhir, apa kau benar-benar ingin menolak itu?” tanya Leisure.
Dom tiba-tiba memberikan wajah mengejek sambil berkata.
“Tentu saja dasar bodoh. Aku berkata seperti itu karena kalianlah yang akan kuhabisi!” teriak Dom.
“Hahaha dasar bocah. Sudah kubilang kami ini abadi!!” Reli kembali menyerang.
Hey ayolah! Apa segala sesuatu selalu diselesaikan dengan bertarung!
“Srang sreng srang!”
Pertarungan berjalan dengan normal. Padahal sebelumnya, Dom terlihat lebih mendominasi dalam pertarungan dengan menggunakan alat bantu.
“Ada apa denganmu?! Apa kau sudah semakin lemah!” teriak Reli.
“Cih!” Dom mundur perlahan.
Energiku belum pulih sepenuhnya. Aku harus mengulur waktu selama mungkin!
“Tenang saja, aku masih kuat seperti biasanya!” balas Dom sambil menyeringai.
“Hoo kau hanya menggertak!” sindir Reli.
“Apa benar begitu?”
Dom terus memancing Reli hingga pada tahap dimana ia malah tidak jadi bertarung.
Tentunya ketika sedang berdebat, Leisure menyadari ada hal yang janggal dalam sikap Dom.
Ini aneh. Dia terus bertarung, tapi entah kenapa tubuhnya malah semakin membaik. Jangan-jangan?!
“Reli, dia mencoba untuk memulihkan diri! Jangan sampai terpancing lagi!” teriak Leisure.
“Cih, monster sialan!” seru Dom yang kemudian mundur.
“Jadi begitu ya? Apa kau meremehkanku bocah!” teriak Reli.
Ah kenapa monster ini mudah sekali marah ….
“Habisi dia!” Reli memerintahkan seluruh monster untuk menyerang Dom.
“Groaaaa!”
__ADS_1
“Sial!”
Dom mencoba untuk tidak panik dan mengambil langkah untuk bisa menyerang balik. Namun sebelum itu.
Jika kuingat baik-baik. Sepertinya tebasan terakhirku berhasil mengalahkan satu monster tanpa melakukan regen. Tapi … dimana letak kelemahannya?!
“Groaaa!”
Ah tidak ada waktu memikirkan itu sekarang!
“Elemen tanah. Buttress!”
Sebuah penghalang mulai terbentuk di depan Dom dan menghambat laju dari monster.
Ayo berpikir!
“Cih! Tidak kusangka dia masih memiliki kekuatan. Tapi ….”
Belum sampai beberapa menit, dinding pembatas milik Dom roboh karena tidak bisa menahan gempuran serangan dari monster.
“Hahaha kau pikir dinding seperti itu sudah cukup-” ucapan Reli terhenti ketika ia melihat Dom menciptakan sesuatu yang berbahaya.
“Hehehe terima kasih telah memberiku waktu! Elemen tanah. Gigant Earth Ultra!”
“Apa itu?!” teriak Reli.
Sebuah bongkahan tanah raksasa terangkat dan menimpa banyak sekali monster yang ada. Bahkan lebih dari setengahnya.
Setidaknya ini sangat efektif untuk menghambat mereka semua.
Setelahnya, Dom menebas kepala monster yang tersisa agar tidak menganggunya selama beberapa menit.
“Srang!” Dom menodongkan pedangnya.
“Sudah kubilang, kau tidak akan bisa mengalahkanku dengan hal seperti ini. Dasar lemah!” ejek Dom.
Sama sepertinya, perkataan tersebut memancing Reli untuk bertarung hingga melebihi batas kekuatannya.
Aku lemah? Jangan bercanda!
“Apa kau memandang rendah diriku?! Aku adalah monster tingkat atas dengan kekuatan tanpa batas!”
“Hyaaa!” Reli terus meningkatkan kekuatannya.
“Spirit Over!”
Dengan mengorbankan setengah dari kehidupannya, ia menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
“Hah … meskipun harus mengorbankan jiwaku. Aku tidak pernah menyesal, selama ini bisa membunuhmu!”
“Wossh!” Kecepatan Reli tiba-tiba berada pada tingkatan yang sama dengan Dom dalam kondisi primanya.
APA?!
Sebuah pukulan menghujam perut Dom dengan sangat keras sehingga membuat matanya berubah menjadi putih dalam tempo sesaat.
“Urrrghht!” Dom terpental beberapa puluh meter.
“Uhuk uhuk uhuk! Aku tidak bisa melawannya!”
Tidak habis sampai situ, Reli kembali memegangi kepala Dom dan melemparnya hingga menabrak Gigant Earth yang sebelumnya sudah diciptakan untuk menghambat pergerakan monster.
Sakit sekali! Sepertinya dia ingin menyiksaku sebelum akhirnya membunuhku!
Masih dalam keadaan terbaring, sebuah pukulan yang kali ini ditambah oleh cakaran sudah siap dilayangkan kepada Dom.
Ini bahaya! Ayolah bergerak tubuhku!
“Sraaat! Boom!”
Dengan memanfaatkan sisa tenaga, Dom berhasil bergerak dan menjaga jarak dengan musuh. Meskipun lengannya tergores oleh cakarnya.
Ketika dia melihat Reli, tubuhnya menjadi bergetar karena melihat sebuah aura membunuh yang sangat kuat.
“Hah … hah … hah!” Dom memegangi lengannya.
Aku tidak mengira dia akan berubah menjadi seperti ini! Jika aku mengeluarkan elemen kegelapan dalam kondisi seperti ini, sama saja bunuh diri Aku mencari cara untuk lari!
“Grrrr! Menyerahlah bocah!”
“Aku tidak akan pernah menyerah selama aku masih sanggup untuk bertarung!” teriak Dom yang sebenarnya sudah benar-benar kelelahan.
Dipenuhi oleh rasa sakit di sekujur tubuh. Dom mencoba mengeluarkan sisa sihir serta tenaganya untuk bisa menekan dan menahan serangan musuh.
“Jangan meremehkanku!”
“Elemen tanah … Soil Control.”
“Elemen tanah … Rock Bottom.”
“Elemen tanah … Gigant Earth.”
Sebuah lingkup area dari Soil Control berhasil menahan gerakan Reli serta kumpulan monster lainnya yang siap menyerang Dom. Setelahnya ia kembali menciptakan sebuah gumpalan batu dengan lingkup yang lebih besar dari sebelumnya.
“Hryaaaa!” Dom lompat setinggi mungkin sambil melayangkan jurusnya.
__ADS_1
Batu tersebut terjatuh dan kembali menimpa semua monster yang ada di area tersebut termasuk Reli. Namun ….
“Kretek kretek!” Batu tersebut perlahan retak dan akhirnya pecah karena kekuatan absoulut dari Reli.
“Hahaha ini sangat menarik! Tapi, jangan pikir dengan sihir lemah seperti ini bisa menghambatku manusia!” Reli melesat ke udara menghampiri Dom dengan melayangkan sebuah cakaran.
“Srang!” Cakar tersebut berhasil ditahan dengan pedangnya. Hanya saja, Dom terjatuh dengan sangat keras ke arah tanah karena menerima impact kuat dari serangan Reli.
“Uhukkk!”
Bahkan batu besar itu tidak bisa menahannya. Sial! Badanku sudah tidak bisa digerakan lagi ....
Leisure yang dari tadi hanya memantau menutup matanya seakan memberi pertanda bahwa pertarungan telah selesai.
Aku mengakuimu … manusia kecil.
“Dengan begini, matilah anak kecil!”
“Lampauilah nak.” Dari dalam pikiran Dom, terdengar suara Richard yang seakan memberinya semangat secara batin.
Aku … aku!
“Aku belum ingin mati! HUAAA!” Dom berusaha bergerak dengan melebihi batasannya sendiri.
Leisure kembali membuka matanya seaakan terkejut karena musuhnya bangkit kembali.
Dia memaksakan kehendaknya pada tubuhnya sendiri?!
“Akan kukerahkan semuanya!” teriak Dom.
Tangan Dom membuat sesuatu yang dapat menekan dan membuat merinding bagi siapa saja yang melihatnya.
"Celaka," seru Leisure.
Apa dia benar-benar ingin mengeluarkan itu disini?!
“Biarpun harus mati, setidaknya aku mati dengan bangga! Elemen tanah … LAND EXPLOSION!”
“Hey itu berbahaya! Pergilah dari situ!” teriak Leisure karena melihat sihir Dom.
"Sihir ini! Tidak bisa kutahan ...." seru Reli.
“JEBOOOM!!!”
Sebuah sihir yang setara tingkat atas membakar 20 persen dari area hutan bagian dalam hingga menciptakan sebuah tempat yang beralaskan tanah saja
Ledakan tersebut mengguncang sangat keras ke atas hingga terasa sampai ke kerajaan terdekat di dekatnya.
Gumpalan asap yang sangat tebal menyelimuti area tersebut.
“Huh … huh uhuk uhuk! Untung saja aku masih sempat menggunakan Wall Earth tadi. Tapi … aku masih tidak mengira sihir tersebut bisa menghancurkan tempat ini.
Beberapa tulangku juga patah. Akan berbahaya jika bertemu monster lainnya lagi.
Dengan pandangan yang semakin rabun karena kelelahan, Dom memperhatikan keadaan sekitar dan tidak melihat satu pun monster yang hidup.
“Akhirnya sudah selesai. Sebaiknya aku mencari tempat untuk berlindung terlebih dahulu.”
Dom mulai meninggalkan tempat tersebut dengan langkah yang pincang dan memegangi lengan kirinya yang patah akibat mengeluarkan sihir dengan skala besar.
Namun ….
“Sraat!” Sebuah cakar yang sangat tajam tiba-tiba menusuk perut Dom dari belakang.
“Uhaaaak! Ba-bagaimana bisa?!” Dom langsung menoleh ke belakang.
Bukankah ini?!
“Hah … hah … " Dengan nafas yang terengah-engah, salah satu monster masih memiliki kehidupan.
"Kau?! Uhaaak!" Darah terus mengalir dari mulut Dom.
"Tidak kusangka kau sekuat ini. Adalah sebuah kesalahan bagiku melepaskanmu begitu saja.”
Dengan tubuh yang masih belum sempurna karena terkena ledakan musuh, Leisure berhasil menancapkan cakarnya ke arah perut Dom.
Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya?! Sial!
“Tidak kusangka kau berhasil menghabisi Reli dan juga yang lainnya. Ini terjadi karena aku ceroboh!” Leisure menarik cakarnya dengan cepat.
“UAAA!” Dom berteriak sangat keras karena kesakitan dan akhirnya terjatuh.
Ah … penglihatanku semakin gelap. Ini sama seperti ketika aku mau menuju ajalku saat di bumi. Hanya saja … ini lebih menyakitkan.
Dengan tubuh yang sudah tergeletak, Leisure bersiap untuk menggunakan cakarnya kembali.
“Karena bakatmu yang luar biasa, aku menghargaimu sebagai seorang manusia. Untuk itu, aku akan memberikanmu kematian tanpa harus menyiksamu.”
Aku bahkan sudah tidak bisa mendengarkan ucapan musuh dengan jelas. Kira-kira dia berkata apa ya?
“Selamat tinggal … adik kecil.”
“Sraaat!”
Bersambung ....
__ADS_1