
Prajurit yang bertugas untuk mengawal Rienna telah dikalahkan oleh petualang gelap. Meski begitu ….
“Nona, tidak perlu memaksakan untuk bertarung!” teriak Liese.
“Jika tidak kulakukan, maka akan semakin banyak korban!” tegas Rienna.
Musuh mulai mengeluarkan serangan.
“Jangan banyak bicara! Elemen api, Fireball!”
“Boom!” serangan musuh mengarah langsung ke arah mereka berdua.
Gumpalan asap menyelimuti tempat tersebut. Tapi, musuh terkejut setelah melihat Rienna tidak terluka.
“Tidak kusangka putri kerajaan memiliki sihir seperti itu …,” ujar musuh.
“Elemen kristal … Wall Crystal!” serangan musuh berhasil dibendung oleh pertahanan milik Rienna.
Elemen Kristal merupakan elemen yang dikategorikan ke dalam tingkat spesial. Hanya sedikit orang yang dapat memiliki elemen tersebut. Ditambah lagi, elemen kristal hanya ada dalam keluarga bangsawan, sehingga membuatnya begitu diminati.
“Ini akan menjadi kabar baik bagi tuanku hahaha!” teriak musuh.
“Jangan terlalu senang dasar penjahat. Elemen kristal, Needle Crystal!”
“UAAA!” serangan Rienna berhasil meratakan sebagian pasukannya.
Ini sedikit berbahaya ….
“Tidak kusangka kau dapat menguasainya dengan mudah. Tapi aku masih memiliki banyak pasukan.”
“Sebelum itu, lihatlah ke sekitarmu penjahat bodoh,” seru Liese.
Tanpa sadar, pengikut di belakang ketua musuh tersebut sudah dibantai habis oleh Liese menggunakan pedangnya. Dengan itu, keadaan menjadi berbalik.
Diratakan? Cih, tidak kusangka pelayannya cukup kuat. Tapi ….
“Jangan senang dulu bocah! Elemen api … Eternal Flame Shot!” Sebuah pusaran api dengan kecepatan yang berbahaya mendatangi Rienna.
“Nona awas!”
“Boom!!!” Terjadi ledakan yang cukup besar.
“Uhuk uhuk uhuk. Liese kau tidak apa-apa?” tanya Rienna.
“Maaf aku tidak bisa melakukan apapun nona.”
“Jangan berkata begitu, berkatmu keadaan kita sedikit membaik.”
Untungnya disaat terakhir, Rienna berhasil membuat sebuah dinding besar dengan kristalnya. Namun, penggunaan elemen kristal dalam radius besar dapat dengan cepat menghabiskan mana si pengguna.
Tidak kusangka, akan menggunakan sihir sebanyak ini. Aku harus menghabisi musuh dalam satu kali serangan!
“Liese, kau alihkan perhatiannya, sementara aku akan merapalkan sebuah sihir.”
“Kau bisa mempercayaiku nona,” balas Liese.
“Apakah sudah selesai berbincangnya?” ujar musuh sambil menyeringai.
Ketika Rienna mencoba membuat rencana, tanpa diduga sebuah sihir sudah diciptakan oleh musuh.
Ini gawat!
“Liese, begitu musuh menyerang. Lakukanlah seperti yang aku perintahkan sebelumnya!” teriak Rienna.
Serangan selanjutnya datang.
“Kalian terlalu banyak bicara! Elemen api … Fireball!”
“Elemen kristal … Wall Crystal!”
“Boom!” serangan musuh masih bisa ditahan oleh Rienna.
Manaku semakin menipis. Aku harus lebih berhati-hati dalam menggunakannya.
“Sekarang Liese!”
Setelah mendengar aba-aba dari Rienna. Liese mulai bergerak cepat menuju musuh dengan menggunakan pedangnya.
“Swosh,” Liese mengeluarkan pedangnya.
__ADS_1
“Elemen api-”
“Kau lambat!” Liese bergerak sangat cepat sehingga membuat musuh tidak sempat mengeluarkan sihirnya.
Cepat sekali? Tidak mungkin!
"Matilah penjahat!" Liese menghunuskan pedangnya.
“Srang!”
“Apa?!” teriak Liese yang terkejut karena serangannya berhasil ditahan oleh musuh.
“Bukankah hanya tersisa satu orang lagi. Lalu, siapa orang itu?” tanya Rienna yang melihat keberadaan asing.
“Ah … bahkan misi mudah seperti ini sampai membuatku harus turun tangan,” ujarnya.
“Hey Deli, mau sampai lama kau membuatku menunggu?!” tanya penyelamat pihak musuh.
“Ma-maafkan aku tuan, mereka cukup kuat dan berhasil mengalahkan anak buahku,” balas Deli.
“Cukup kuat? Apa maksudmu?”
“Ternyata putri itu pengguna elemen kristal. Selain itu, dia dapat menggunakannya dengan baik. Sementara yang satunya lagi adalah seorang pengguna pedang,” balas Deli.
Hoo elemen kristal? Sepertinya ini informasi yang tidak terduga ....
“Siapa kau?! Kenapa kau melindungi penjahat itu!” teriak Liese.
Dia bisa menahan serangan pedangku dengan mudahnya. Sepertinya orang ini cukup berbahaya.
“Hmm sepertinya aku belum memperkenalkan diri. Namaku Frederick, ketua dari salah satu serikat kegelapan terkuat. Skeleton,” ujarnya sambil menyeringai.
“Skeleton? Kau bilang berada di atas, tapi kenapa aku baru mendengarnya …,” ejek Rienna.
Seketika urat kepala milik Frederick mendadak naik ke atas.
“Cih!”
Jadi dia hanya berbohong -.-
“Ah aku tidak tau alasan kau menculikku. Tapi hal itu tidak akan menguntungkanmu,” seru Rienna.
“Siapa yang memberimu perintah! Hyaa!” Liese kembali melancarkan serangan ke arah Frederick dengan cepat.
“Srang!” Frederick menangkisnya dengan mudah.
Sudah kuduga, dia bukan orang biasa.
“Hey, apa kau masih tidak mengetahui perbedaan kekuatan kita?” gertak Frederick.
“Srang sreng srang!” Liese terus melancarkan serangan meskipun Frederick bisa membacanya.
“Apa hanya segini saja?” ejek Frederick.
“Kau memang kuat, tapi aku hanya bertugas untuk mengalihkan fokusmu saja. Sebaiknya kau lebih mengkhawatirkan dirimu,” ancam Liese.
Setelahnya, Liese mundur dengan cukup jauh. Dari situ, Frederick mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil.
“Bos! Putri itu mulai mengeluarkan sihir!” teriak Deli.
“Sudah terlambat untuk menghindar. Serangan Nona Rienna sangat cepat, jadi berdoalah,” ancam Liese.
Rupanya dia berniat menghabisiku dalam satu serangan ya?
“Hmm pantas saja aku merasa seperti diawasi … pelayan sialan!”
“Jangan meremehkanku hanya karena aku seorang putri! Matilah kalian berdua!” teriak Rienna.
Sihir milik Rienna semakin membesar. Sebelumnya, Liese sudah menyadari hal tersebut sehingga dengan cepat pergi menjauh dari cakupan serangan Rienna.
Ini serangan terakhirku, aku tidak boleh sampai gagal!
“Elemen kristal … Giant Needle Crystal!"
"Clangggg!" suara dari sihir Rienna.
Sesaat sebelum tembakan.
“Kemarilah Deli!”
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan boss?!”
Hujan kristal raksasa mulai ditembakan secara beruntun ke arah Frederick.
“Dudududrurututut!” suara serangan kristal yang membuat gumpalan asap di sekitarnya.
Setelahnya.
“Hah … hah … ini benar-benar menguras manaku. Tapi sepertinya berhasil!” seru Rienna.
“Sudah kubilang, serangan milik nona benar-benar mengerikan.”
Sekitar area di tempat mulai menjadi gundul setelah kristal milik Rienna menebas beberapa pohon di sekitarnya. Asap tebal masih menyelimuti tempat tersebut.
Baru pertama kali aku menghadapi musuh yang cukup kuat.
“Dunia luar benar-benar berbahaya,” seru Rienna.
“Kalau memang berbahaya, sebaiknya kalian tidak pergi terlalu jauh.”
Dari arah ledakan, terdengar suara yang membuat Rienna serta Liese mendadak menjadi pucat disertai dengan rasa ketakutan.
“Apa yang terjadi? Kenapa orang itu masih?!” seru Rienna yang masih belum bisa melihat karena asap.
“Tidak … orang itu! Dia menggunakan anak buahnya sebagai tameng!” teriak Liese.
“Yah terima kasih atas perlindunganmu Deli. Setelah ini aku akan memberimu penghormatan hahaha.”
“Kau tidak punya hati! Teganya kau membunuh anak buahmu sendiri!” hentak Rienna dengan wajah marah.
“Jangan salah paham, mereka hanya mengikuti. Jadi apapun yang terjadi, itu bukan urusanku!” balas Frederick sambil menyeringai.
“Dasar Iblis! HYAA!” Liese mulai menyerang dengan gegabah menggunakan pedangnya.
“Jangan … LIESE!”
“Sratt!” Sebuah pedang tanpa ampun menembus perut Liese. Setelahnya, Frederick menendangnya hingga menabrak ke arah pohon di Hutan Teraria.
“Uarrghht!” Liese terhempas serta mengeluarkan banyak darah.
“LIESE!!!” teriak Rienna.
“Larilah … nona,” mata Liese mulai kehilangan cahaya pada matanya.
“PENJAHAT SIALAN!”
Dengan perasaan yang campur aduk, Rienna memaksakan diri untuk menyerang Frederick tanpa persiapan sedikitpun.
“Menyerang secara gegabah? Bodoh sekali!” Dengan cepat, Frederick bergerak dan menendang perut dari Rienna dengan sekuat tenaga sehingga menghancurkan sebuah pohon.
“Uarghhht!” Rienna mengeluarkan darah.
Aku tidak bisa melawannya! Dia terlalu kuat.
“Apa ada kata-kata terakhir, Nona Rienna?” ancam Frederick yang terus berjalan sambil menghunuskan pedang.
Rienna mulai menangis ketakutan. Seluruh tubuhnya menjadi bergetar.
Gara-gara aku, Liese terluka. Tapi … aku benar-benar belum ingin mati!
“Seseorang! Tolong aku!” teriak Rienna sekencang mungkin.
“Ah, apa kau pikir dengan berteriak seperti itu seseorang akan datang menolongmu? Hahaha jangan terlalu naif putri!”
“Swosh!” Frederick mengeluarkan pedangnya.
“Dengan ini, tugasku selesai. MATILAH!!!”
Apa tidak ada yang mendengarku? Siapa saja tolong aku ... aku janji akan melakukan apapun setelahnya.
“Srang!”
Loh? Aku belum mati?!
Ketika Rienna membuka matanya. Seseorang berusaha menangkis serangan milik Frederick.
“Hey, kenapa kau membuat seorang wanita menangis?” ujarnya sambil tersenyum.
“Siapa orang ini?” tanya Rienna dengan air mata yang sudah bergelinang.
__ADS_1
Bersambung ....