Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 54: Harapan


__ADS_3

“Swosh,” Bentrokan antar pedang dimulai kembali diiringi dengan angin pagi yang berhembus kencang.


“HELEN!!!” Dom berlari maju dengan kecepatan penuh disertai teriakan yang begitu membara.


“Srang!”


“Apa hanya segini kemampuan yang bisa kau berikan padaku?!” ejek Helen yang dengan mudah menahan pedang milik Dom.


Ah perbedaan kekuatan kita cukup jauh.


“Jangan sombong dulu sialan! Hyaaa!” Dom mencoba mengerahkan sisa kekuatannya dan menekan Helen … meski hanya sedikit.


“Srang srang srang srang!” Dom terus menggerakan pedangnya agar tidak memberikan kesempatan bagi Helen untuk menyerang balik.


“Srang!” Mereka bertatap muka dari dekat dengan pedang di tangan masing-masing.


“Bukankah kau ingin membunuhku?! Kenapa seranganmu lemah sekali?!” seru Helen sambil menyeringai.


Cih, wanita ini ….


“Sword Dice!” Dom menyerang Helen secara vertikal dan horizontal semampu yang ia bisa.


“Sreng srang srang srang!”


Seluruh serangan Dom mampu diantisipasi oleh musuh dengan mudah.


Kenapa Elf ini pandai sekali menggunakan pedangnya!


“Hyaaa!!!”


“Srang!” Tebasan terakhir Dom berhasil ditahan dan dikunci oleh Helen sehingga membuatnya tidak bisa menyerang balik.


“Apa?! Bagaimana bisa?!” Dom terlihat panik.


“Hanya karena memiliki tekad yang kuat bukan berarti kau bisa mengalahkanku.”


Ketika serangan Dom berhasil diantisipasi oleh Helen, sebuah tinju dari jarak dekat menghantam perut Dom hingga terpental jauh.


“Urrrghhh!”


Belum selesai disitu, Helen mengeluarkan serangan jarak jauh sesaat ketika Dom terhempas akibat pukulan sebelumnya.


“Eden Sword … Typhoon!”


“Wushh!” Gelombang angin dari pedang milik Helen datang dengan sangat cepat dan berbahaya.


Padahal kami berinteraksi waktu malam, bisa-bisanya dia ingin membunuhku seperti ini!


“Aku bahkan masih melayang di udara ... ini berbahaya,” seru Dom.


Karena berada dalam situasi yang tidak baik setelah Helen mengeluarkan serangan lanjutan. Dom mencoba untuk menancapkan pedangnya ke tanah dengan tujuan agar bisa mengurangi benturan akibat masih melayang di atas tanah.


Setelahnya Dom menggunakan pijakannya untuk melompat sehingga berhasil lolos dari Tpyhoon milik Helen.


Namun ….


“Tyhpoon … Ultimate!”


Tanpa ampun, Helen terus melancarkan serangan jarak jauhnya sebanyak yang ia bisa.


Oh my god! Setidaknya berilah aku untuk rehat sejenak Elf sialan!


Dengan tenaga yang tersisa, Dom berusaha menahan semua serangan tersebut menggunakan pedangnya.


“Hyaaa!” Dom terus menangkis serangan demi serangan yang datang menghampirinya, meskipun akhirnya kelelahan.


“Hah … hah … hah, kalau saja aku tidak istirahat tadi malam, mungkin aku sudah mati. Elf sialan itu!” seru Dom sambil menatap Helen dari kejauhan.


Tapi … sepertinya dia tidak menyadarinya.


Helen hanya memerhatikan Dom dari kejauhan tanpa memprovokasinya seperti sebelumnya.


Tidak kusangka dia mampu menahan semua seranganku. Tapi ada yang aneh ….


“Kenapa kau menatapku seperti itu Nona Helen? Apa kau menyukaiku?” sindir Dom dari kejauhan.


“Jangan bertingkah anak kecil! Ini baru permulaan!” teriaknya.


Tanpa memperdulikan balasan dari musuhnya, Dom kembali berlari untuk mendekati Helen.


“Hyaaa!”


Apa yang dilakukan anak ini?


“Hmpph apa kau masih tidak mengerti perbedaan diantara kita hah?!” teriak Helen yang terpancing dengan langkah kaki Dom.


“Srang!” Mereka kembali beradu pedang hingga seperti layaknya adegan Zoro bertarung melawan Mihawk dalam serial One Piece.


“Butuh 100 tahun lagi bagimu untuk mengalahkanku bocah!” teriaknya.


“100 tahun ya?” Dom menyeringai.


Tekanan dari Eden Sword lebih dominan sehingga membuat Dom terseret mundur secara perlahan.

__ADS_1


Namun … berkat itu, rencana seorang anak kecil berhasil dijalankan.


Selagi mereka bertatap muka, Dom terus mengeluarkan senyum jahatnya.


Rasanya dia seperti melakukan sesuatu? Tapi apa ....


“Kenapa kau tersenyum hah?!” tegas Helen.


“Yah kau bilang butuh 100 tahun lagi untuk mengalahkanmu, tapi apa kau yakin?”


“Hah?! Berhenti memprovokasiku. Matilah manusia-” Ketika Helen hendak menyambar Dom, ia baru menyadari sesuatu yang terjadi.


Tidak bisa bergerak? Jangan-jangan?!!


“Seperti yang kau pikirkan nona. Elemen tanah, Soil Control!”


Tanpa disadari, kaki Helen sudah tertutup oleh gumpalan tanah sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.


“Sraaat!”


Ketika sedang dalam kondisi lengah setelah terkejut kakinya tidak bisa digerakan, Dom menancapkan pedangnya ke arah perut Helen.


“Akhirnya aku bisa menyerangmu ... pembunuh,” seru Dom yang kata terakhirnya diarahkan untuk Richard.


“Urrrghht” Helen mengeluarkan darah yang cukup banyak setelah Dom menarik kembali pedangnya.


Ini ….


“Sejak kapan?!” Helen memegangi perutnya yang berlubang.


“Ternyata Guardian tidak sepandai yang aku kira.”


“Uhuk uhuk, apa maksudmu?”


“Ketika pertama kali beradu pedang denganmu, aku sudah mengatur jarak serta prediksi yang tepat untuk menggunakan Soil Control. Ditambah lagi, karena ini satu-satunya harapan untuk bisa mengalahkanmu, aku harus menunggu momen yang sempurna.


“Akhirnya momen itu bisa terwujud setelah kau mengunci pergerakanku sebelumnya.”


Sebelumnya?


Helen mengingat kembali kejadian tersebut dan berkata. “Tapi, aku bahkan tidak melihat serpihan tanah di kaki sebelumnya.”


“Yah itu karena sihir milikku hanya bisa aktif pada skala tertentu. Jadi, ketika kau mengeluarkan pukulan, aku sengaja membiarkan tubuh ini terhempas sejauh mungkin agar tidak membuat musuhku curiga.


“Lalu tanpa sadar kau terpancing untuk mendekatiku. Di saat itulah aku mengaktifkan sihir ini. Bukankah ini sempurna ... Nona Helen?” Dom menyeringai.


Ini … bagaimana bisa aku lengah?!


“Aku terkejut bisa tertekan hingga seperti ini. Namun …,” Helen tersenyum.


“Srang!”


Dom terkejut ketika Helen masih bisa menahan serangannya meskipun sudah tertusuk oleh pedang sebelumnya.


“APA?! Kenapa kau masih bisa bergerak?!” kaget Dom.


“Jangan meremehkan fisik seorang Elf anak kecil.”


Wajah Dom kembali panik setelah melihat kekuatan Helen perlahan meningkat.


“Tidak kusangka aku akan menggunakannya disini. Hyaaa!”


Bukankah seharusnya dia sekarat?! Kenapa dia malah menjadi kuat seperti sebelumnya?


Helen menancapkan pedangnya ke tanah sambil melafalkan sebuah mantra. Setelahnya, pedang tersebut berubah menjadi bercahaya diiringi dengan aura yang sangat kuat.


“Kau tidak akan bisa menyentuhku lagi bocah ….”


“Bagaimana bisa?!” Dom terpana setelah melihat benda yang dipegang oleh Helen berubah bentuk.


“Eden Sword bentuk ke dua! Gigantres!”


“Cranggg,” bentuk baru pedang Helen mengeluarkan cahaya yang terang.


Sejak kapan pedang dapat berevolusi?!


“Ah kukira bisa mengalahkannya dengan Soil Control. Ternyata masih ada yang seperti ini,” ungkap Dom.


Sambil menutup matanya, Helen menyentuh pedangnya dari kanan ke kiri secara perlahan diiringi dengan aura yang semakin menyala.


Karena saat ini Dom masih menggunakan Soil Control untuk menekan pergerakan Helen, membuatnya masuk situasi yang sangat berbahaya.


Setelahnya Helen mulai membuka matanya dan mengarahkan Gigantres ke arah Dom.


Apa dia serius menyerangnya dari jarak sedekat ini?!


“Tunggu …," bujuk Dom yang sudah semakin panik.


“Gigantres … Explosion!”


“Booom!”


“Uurrgght.” Mata Dom berubah menjadi putih seperti ketika pihak yang diserang terkena serangan berat dari lawannya dalam sebuah anime.

__ADS_1


Serangan tersebut mengenai tubuh Dom dengan telak bahkan sempat membuatnya tidak sadarkan diri beberapa saat dengan mulut yang terbuka.


“Apa-apaan tingkat kekuatannya ini. Aku tidak bisa melawannya …,” gumam Dom sambil melayang di udara.


Impact dari Explosion milik Helen membuat Dom terpental cukup jauh hingga menabrak permukaan tanah yang tidak dihinggapi oleh air.


“Uhaak,” Dom mengeluarkan darah yang cukup banyak.


Ketika hendak berdiri, secara cepat Helen sudah berada di depan wajahnya. Hal itu membuat Dom sedikit gemetar.


Sudah kuduga, fisiknya bahkan kembali seperti semula!


“Gigantres-”


“Elemen tanah, Rock Creation!” Untuk menghindari serangan selanjutnya, Dom menggunakan gumpalan tanah dengan mengarah ke mata Helen agar bisa mengelabuhinya sementara waktu.


Aku harus mencari cara untuk mengalahkannya.


Dengan cepat Dom berusaha menjauhi Helen, namun ….


“Kau pikir trik seperti ini dapat menghambatku manusia?!”


Serangan jarak jauh dikeluarkan oleh Helen dengan cakupan yang lebih besar dari sebelumnya.


"Gigantres ... Burst!"


Dia monster!


“Boom!”


Gumpalan asap menyelimuti tempat tersebut sehingga membuat pandangan mereka terganggu.


Setelah pedang milik Helen berevolusi, pertarungan menjadi sangat berat sebelah. Namun, Dom mencoba mengikuti langkah Helen dengan menyerang melalui titik buta musuh.


Sekarang!


“Hyaa!”


Dom memberikan surprise kepada musuhnya dengan tinju supernya.


Hanya saja, hal itu sudah diantisipasi oleh Helen sehingga bisa ditahan dengan mudah.


Dengan wajah yang sudah mulai babak belur, Dom mencoba mengeluarkan serangan terakhirnya kepada musuh.


“Apa kau pikir tinju bodohmu ini bisa melukaiku seperti yang dilakukan oleh gurumu itu?” ejek Helen.


Helen membalas tinju milik Dom dengan damage yang lebih kuat.


“Urgghh!” Dom merasakan sakit yang luar biasa. Hanya saja ….


Seharusnya pukulanku ini cukup keras? Kenapa anak ini tidak terhempas?


Helen terus memukuli Dom menggunakan tangannya, meski begitu ia tetap tidak mau menjauhi dirinya.


Padahal aku sedang unggul. Tapi, kenapa aku seperti ditekan olehnya!


“Haha kenapa kau terlihat panik nona elf?” ejek Dom yang mukanya sudah bonyok.


“Jangan bertingkah bocah! Gigantres … Star-”


“Sraaat!” Ketika mengeluarkan skill pedang, organ vital dari Helen tiba-tiba tertusuk dengan cepat.


“Urrrgh,” mata Helen berubah menjadi putih seperti adegan action pada umumnya.


Kenapa bisa ada pedang?!


“Uhuk uhuk, sepertinya kau tidak bisa menghindari setiap rencanaku. Soil Control … berhasil," gertak Dom dengan nafas yang sudah terengah-engah.


Ketika serangan Explosion milik Helen meledak sehingga menjadi gumpalan asap. Dom melemparkan pedangnya ke atas setinggi mungkin kemudian mengontrolnya dengan sihir agar tidak menimbulkan suara saat terjatuh.


Setelahnya, ia memberikan surprise untuk membuat musuh tidak menyadari keberadaan pedang tersebut. Ketika posisi sudah sangat sempurna, barulah ia menggerakan pedang itu dan menusuk Helen untuk kedua kalinya.


Jadi alasan dia menggunakan tinjunya untuk menyerangku? Tapi ….


“Ini masih belum cukup bocah!”


Helen mencoba mengeluarkan serangan terkuatnya.Namun, hal itu bisa membuatnya kehilangan nyawa karena tubuhnya sudah tidak bisa menahan luka yang semakin terbuka. Meskipun begitu …


Jika aku mati, setidaknya aku berhasil melindungi batu itu dari musuh!


“Gigantres … Final Destiny!” Pedang milik Helen semakin bercahaya dan terus bercahaya hingga pada tahap yang mematikan.


Dom hanya terdiam dengan tatapan pasrah karena dia berada tepat di depan serangan tersebut.


Kenapa dia masih memiliki energi sebanyak itu? Ah aku sudah tidak bisa bergerak lagi ….


“Matilah!!!”


Ketika Helen hendak mengeluarkan jurus pamungkasnya. Sebuah counter datang dari arah yang cukup jauh.


“Burst Firee!!!”


“Boomm!”

__ADS_1


“Hey sudah kubilang untuk tidak menyerang bocah itu …,” ujarnya sambil menyeringai.


Bersambung ....


__ADS_2