Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 72: Jalan Keluar


__ADS_3

Semuanya sudah jelas … bagaimana aku bisa lupa?


Dom kembali mendapatkan ingatannya kembali termasuk ketika dirinya tertusuk oleh Leisure.


Paman … sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi … sepertinya perjalananku masih berlanjut.


“Ah … entah kenapa ini terlihat menyedihkan, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa," seru Leisure.


“Cling.” Percikan cahaya semakin menyebar ke arah Dom.


“Dimana pun kau berada. Aku akan selalu memantaumu. Teruslah menjadi kuat … Dom.”


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Arcvhien tidak bisa dibalas oleh Dom karena tubuhnya perlahan menghilang. Ia hanya bisa membalasnya dengan senyuman manis layaknya seorang anak kecil.


Selamat tinggal.


Setelahnya, mata Dom mulai terbuka secara perlahan di sebuah tempat yang terasa asing.


“Dimana ini??” tanya Dom.


“Kakek! Kakek! Lihatlah dia mulai siuman … cepat kemari!!!”


“Apa??”


Ini benar-benar keajaiban!


Kakek tersebut melihat kondisi Dom dan memeriksa luka-lukanya. Sementara itu, Dom hanya terdiam dengan tatapan yang masih lemas.


“Tubuhnya benar-benar sangat kuat. Aku tidak mengira dia bisa selamat dari masa kritisnya.”


“Sudah kubilang anak ini berbeda dari yang lainnya, untung saja aku masih sempat menyelamatkannya.”


Emm ingatanku masih tidak begitu jelas.


“Kalian siapa?” tanya Dom yang masih lemas.


“Oh maaf sepertinya kami belum memperkenalkan diri. Aku Bram, dan orang tua disampingmu adalah Silver. Dia adalah kakekku,” balas Bram.


“Namaku Dom, Apa yang terjadi denganku??”


“Kau tertusuk oleh monster dan hampir tewas, untungnya aku masih bisa menyelamatkanmu,” seru Bram sambil tersenyum.


Dom mencoba mengingat segalanya meski kepalanya terasa begitu sakit.


Tidak kusangka aku masih selamat setelah menerima serangan seperti itu ….


“Jadi begitu, terima kasih sudah menyelamatkanku. Kalau boleh tau aku berada di mana?


“Kau sedang berada di rumahku, berbaringlah kembali selagi aku menyembuhkan luka-lukamu,” ungkap Silver.


Dom melihat lubang di perutnya yang sudah tertutupi oleh perban. Tapi Dom masih merasakan sakit, meskipun sudah mulai membaik.


“Untung saja kakekku seorang dokter, kalau tidak mungkin kau sudah mati hahaha,” sindir Bram.


“Benarkah?" tanya Dom.


“Tidak-tidak. Aku hanya penghuni di hutan ini yang kebetulan mengerti tentang medis. Ketika melihat kondisimu, aku sempat berfikir bahwa kau tidak dapat diselamatkan. Ditambah lagi, detak jantungmu sempat berhenti. Itu membuatku tidak bisa tenang.


“Yah, untungnya kau memiliki semangat hidup yang tinggi sehingga bisa melewati masa kritis. Aku juga kagum dengan penyembuhan pada tubuhmu. Aku baru pertama kali melihat yang seperti ini selama hidupku hahaha.”


“Ahaha aku juga tidak tau kenapa bisa begitu.”


“Bisa dibilang ini merupakan sebuah keajaiban. Aku sangat senang ketika kau membuka matamu,” ungkap Silver.


Ketika sedang asik berinteraksi, Dom menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil terutama saat dia berada di sini.


Tunggu! Sebelumnya aku berada di sebuah tempat terbuka.


“Tadi namamu Bram ya? Bagaimana kau tahu kalau aku sedang bertarung dengan monster?”


“Hey aku lebih tua darimu!!! Sebenarnya aku adalah pengawas hutan bagian dalam. Setiap hari aku mengawasi manusia yang masuk ke dalam tempat ini, aku menggantikan tugas kakek yang sudah semakin tua,” balas Bram.


“Jadi kau sudah mengikutiku sejak aku mulai menginjakan kaki di tempat ini?”


“Yapp, aku selalu mengawasimu dari jauh. Awalnya aku mengira kau akan cepat dikalahkan oleh monster lemah. Tapi aku tidak mengira bahwa kau sangat kuat.”


“Begitu ya?”


Ah aku tau. Sepertinya orang ini yang selalu bersembunyi di dalam semak. Pantas saja, aku merasa seperti ada orang yang selalu mengikutiku.

__ADS_1


“Keahlianmu mungkin melebihiku. Hanya saja, kau tidak beruntung karena bertemu dengan mereka.”


“Mereka?” tanya Dom yang penasaran.


“Yapp, yang kumaksud adalah monster dengan cahaya berwarna biru di dadanya.”


“Apa kau mengetahui mereka??”


“Yah aku sedikit mengetahui tentang mereka. Tapi selama ini, aku baru melihat monster dengan 2 cahaya biru di dadanya.”


“Dua cahaya?” tanya Silver yang langsung terkejut.


“Ada apa kakek?”


“Sudah lama aku tidak melihatnya sejak 100 tahun yang lalu. Hey nak, jangan-jangan kau mengincar itu?” tanya Silver.


“Mengincar itu?” Dom tidak mengerti.


“Apa jenis elemenmu?”


“Aku memiliki elemen tanah dan kegelapan.”


“Apa?? Dua elemen?!” teriak Bram.


“Kegelapan ya, tidak salah lagi. Apalagi setelah melihat kau berusaha keras hingga seperti ini, sepertinya yang kau cari adalah sebuah ini mana. Apa aku benar?”


Dom secara spontan terbangun dari tidurnya meskipun masih terasa sakit. Melihat dari perkataannya, Dom yakin bahwa kakek ini bukan orang biasa, sementara Bram hanya mendengarkan karena baru tahu tentang ini.


“Bagaimana kau tahu?? Apa itu memang ada?? Bentuknya seperti apa?? Beritahu aku kek?” Dom mulai mengoceh ketika ada momen seperti ini.


“Tenanglah anak muda, kalau kau ingin cepat sembuh, jangan banyak bergerak dulu.”


Dom kembali berbaring dan mendengarkan cerita dari Silver.


“Sepertinya kau mengetahui ini dari Lyfa.”


“Apa kau mengenalnya?” tanya Dom.


“Yah dulu kami saling kenal, sampai monster mulai menyerang tempat ini. Aku mencoba melawan tapi tidak sanggup karena mereka cukup kuat. Jadi aku hanya bisa bersembunyi disini sampai ada yang bisa melawannya.


“Tapi setelah aku menunggu puluhan tahun. Banyak petualang yang mati bahkan sebelum bertemu dengan monster yang kuat. Mungkin dari jauhnya perjalanan, kaulah yang paling jauh.”


Dom tidak berkata apapun karena begitu tertarik dengan kisah Silver.


“Jangan-jangan?!”


“Benar … kelemahan dari monster tersebut.”


Dom kembali refleks untuk bangun dari tidurnya. Meskipun ada beberapa jahitan yang kembali terbuka pada lukanya, tapi rasa ingin tau Dom seakan menghilangkan rasa sakit dari lukanya


“APA ITU BENAR KAKEK? APA MONSTER ITU MEMILIKI KELEMAHAN?”


“Sudah kubilang untuk tetap tidur sialan!!! Apa kau ingin membuat orang tua ini bekerja dua kali hah?!” teriak Silver yang marah karena Dom terus membuka jahitannya.


Amarah Silver membuat Dom cukup merasa ketakutan dan tidak bisa melawan dengan perkataan apapun layaknya menghadapi Richard.


Hih! Dia menyeramkan ….


“Ehehe maafkan aku.”


“Ketika dalam keadaan hidup dan mati. Aku tidak sengaja melemparkan sebuah pisau ke arah dada monster tersebut. Setelahnya, monster tersebut terjatuh dan cahayanya pergi entah kemana.”


“Jadi maksudmu kelemahannya tepat pada dadanya?” tanya Dom.


“Mungkin bukan dadanya, tapi cahaya biru yang ada pada monster itu. Jika kau tidak bisa menusuknya, kau bisa meledakannya,” jawab Silver.


Benar juga, waktu aku meledakan monster itu, mereka tidak kembali regenerasi. Eh tunggu!


“Waktu itu aku pernah meledakannya. Tapi, salah satu monster yang menyerangku tidak mengalami luka yang serius.”


“Hmm ini aneh, setauku jika diledakan mereka akan hancur berkeping-keping. Yah mungkin saja mereka dapat menghindari seranganmu di saat-saat terakhir,” balas Silver.


Hmm itu masuk akal sih, sepertinya aku harus memikirkan cara lain untuk mengalahkan mereka.


“Oh iya Kakek, sudah berapa lama aku pingsan??”


“Kau sudah pingsan selama 4 hari,” jawab Bram yang terabaikan.


Dom kembali bangun dari tidurnya lalu berteriak.

__ADS_1


“APAAA??? 4 HARI?!"


Silver memukul kepala Dom karena membuka lagi jahitan pada luka yang sudah dia obati sebelumnya.


“UAA SAKIT!”


“Sekali lagi kau bergerak, aku akan membunuhmu,” seru Silver yang semakin geram.


“Tenanglah kek,” ungkap Bram yang dari tadi terabaikan.


“Hah dasar anak kecil …,” ucap Silver yang kemudian berucap “Tapi sepertinya kau tidak beruntung, karena keberadaan monster tersebut mulai samar-samar.”


“Hah?! Apa maksudmu?”


“Bukankah Lyfa sebelumnya sudah menjelaskan bahwa monster ini hanya akan muncul ketika tuannya tiba.”


Iya juga.


“Jadi maksudmu, orang itu akan segera pergi dari sini?!” teriak Dom.


“Yah aku juga tidak tau, karena aku tidak pernah bertemu dengannya.”


“Kalau begitu aku harus cepat!” Dom kembali mengangkat tubuhnya tanpa merasa bersalah.


“HOY SIALAN!”


Karena kesal, Silver mengikat tubuh Dom menggunakan tali untuk mencegahnya agar tidak berdiri lagi.


“Jika kau keluar saat ini, kau hanya akan mati. Istirahatlah beberapa hari selagi aku mengobatimu.”


“Tapi ….”


"Tenanglah, aku yakin tuan mereka masih ada di sekitar sini untuk beberapa waktu."


“Apa kau ingin jahitan pada lukamu aku buka lagi hah??!!” teriak Silver.


Dom terdiam dengan wajah yang sedikit takut. Tapi beberapa menit setelahnya Dom masih saja menanyakan sesuatu.


“Hey kakek, inti mana itu seperti apa?”


“Apa?? Kau ingin mendapatkannya tapi kau tidak tau bentuknya?” teriak Bram yang sebenarnya juga tidak tahu.


“Sayangnya, Peri Lyfa tidak memberitahuku tentang itu.”


“Seperti biasa peri itu masih saja ceroboh. Inti mana yang kau inginkan itu adalah cahaya biru yang ada pada tubuh monster,” balas Silver.


Dom ingin kembali bangun dari tidurnya, tapi karena dia sedang diikat maka niatnya tertahan.


“APAAA? JADI SELAMA INI AKU SUDAH MENEMUKANNYA?!" teriak Dom dengan menggebu-gebu.


“Yahh kau memang sudah menemukannya, tapi inti mana pada monster yang kau lawan sebelumnya hanyalah tingkatan bawah, aku yakin itu tidak akan bekerja padamu.”


“Apa yang kau maksud?” Dom bertanya.


Setelahnya Silver mulai menceritakan hal yang sebelumnya pernah diceritakan oleh Lyfa kepada Richard di chapter 60-an. Setelah Dom mulai mengerti barulah Silver memberikan kesempatan Dom untuk bertanya lagi.


“Hmm jadi begitu.”


Mungkin jika aku mengalahkan monster yang menyerangku waktu itu. Ada kemungkinan inti mananya dapat menyatu dengan tubuhku.


“Satu hal lagi, ketika kau pergi nanti, Bram akan menemani perjalananmu.”


“APAAA??” Bram terkejut dengan permintaan Silver.


“Bocah ini masih belum sembuh total, akan lebih baik jika ada yang menemani. Aku percaya padamu Bram.” Silver tersenyum sambil memberi jempol mantap.


“Hmm.”


“Kak Bram, mulai sekarang tolong bantuannya ya.” Dom mulai memperlihatkan ekspresi khasnya untuk memohon.


Untuk pertama kalinya ada seseorang yang memanggil Bram dengan sebutan kakak. Itu membuatnya tersentuh dan hingga sifatnya berubah menjadi 180 derajat.


“Kau memanggilku kakak?” Wajah Bram yang terharu.


Hiks ... sudah lama sekali tidak ada yang memanggilku seperti itu ....


“Hahaha serahkan semuanya pada Kakak Bram, aku pasti akan melindungimu dimanapun dan kapanpun,” teriak Bram sambil memberi jempol.


Beberapa hari kemudian.

__ADS_1


"Bersiaplah ... Leisure!"


Bersambung ....


__ADS_2