
Sudah cukup lama Dom mencoba membujuk Helen. Namun … tetap saja Elf tersebut tidak menghiraukan rayuan dari seorang anak kecil.
“Hey paman, bukankah hari ini Nona Helen terlihat sangat cantik?” sindir Dom.
“Hahaha benar sekali muridku, wajahnya sangat menyilaukan seperti seorang bidadari.”
“Apalagi kalo tersenyum, bahkan aku merasa ingin selalu ada di sampingnya,” ujar Dom.
Meskipun wajah Helen kerap kali memerah dengan hal itu, namun ia tetap berpegang pada pendiriannya.
Bisa-bisanya mereka menggodaku ketika dalam kondisi seperti ini ….
“Apapun yang kalian katakan tidak akan berpengaruh padaku!” jawab Helen dengan tegas.
Tapi … apa benar senyumku ini manis?
20 menit telah berlalu dan mereka belum mendapatkan jawaban dari Helen. Sebaliknya, kondisi Helen semakin memburuk akibat luka yang dideritanya.
“Hey paman, sebaiknya kita menyelamatkannya terlebih dahulu,” ujar Dom.
“Aku tidak butuh belas kasihan, lagipula jika kalian mengobatiku. Aku hanya akan menyerang kalian kembali.”
“Sudahlah Dom, sia-sia kita berbicara. Lebih baik bertanya langsung kepada yang memberi perintah.”
“Perintah? Maksudmu Peri Lyfa?”
Oh iya, kenapa aku tidak terpikirkan sama sekali.
“Lagipula jika terlalu lama disini, kita akan mati kelaparan.”
Selama disini, mereka hanya makan seadanya sehingga masuk akal jika Richard berkata seperti itu.
Mendengar saran dari Richard, membuat Dom memutuskan untuk meninggalkan Gunung Greenfield. Namun sebelum itu, ia berpamitan kepada musuhnya.
“Jika itu maumu, maka aku tidak akan melarangnya. Semoga kau mati dengan tenang.” Dom perlahan pergi meninggalkan Helen.
Ketika mereka mulai menggerakan kakinya, wajah Helen menjadi semakin pucat dan berpikir tentang banyak hal. Salah satunya ketika dia mendengar nama Lyfa.
Jadi apa yang dikatakan oleh anak ini sebelumnya tentang Hutan Teraria benar?! Kenapa mereka bisa tau nama nona peri?
“Tunggu!” Dengan sisa nafasnya, Helen mencoba berteriak sekerasnya agar mereka menengok ke belakang.
Suara itu berhasil didengar oleh Dom kemudian menengok ke belakang yang ternyata berasal dari musuhnya.
Setibanya di tempat.
“Hey Dom, kenapa kita kembali lagi? Bukankah dia memang berniat untuk mati?” tanya Richard yang melihat muridnya berjalan ke arah musuhnya.
Dengan wajah yang malu-malu. Helen bertanya kepada Dom.
“Tadi kau menyebut nama Peri Lyfa. Apa kalian mengenalnya?” tanya Helen dengan wajah gugup.
Ada apa dengan Elf ini?
“Tentu saja, karena dia yang memberi saran kepadaku untuk mendapatkan Imperial Stone di Gunung Greenfield.”
Seketika tubuh Helen dingin membeku karena shock dengan apa yang terjadi hari ini. Ditambah lagi karena cederanya, membuat nyawanya semakin kritis.
Kalau begitu, mereka?! Ah kenapa di saat seperti ini ….
Ketika Helen ingin melanjutkan obrolannya, ia kehilangan kesadarannya.
“Hey paman, kita harus menolongya! Aku yakin dia ingin mengatakan sesuatu yang penting,” seru Dom.
“Mungkin dia hanya berpura-pura.”
Bapak kau berpura-pura, sudah jelas wajahnya sudah mulai membiru.
__ADS_1
“Apa paman masih memiliki potion penyembuh?”
“Tinggal tersisa satu, memangnya untuk apa?” tanya Richard.
Dengan cepat, Dom mengambil benda itu dari tangan Richard. Setelahnya ia mulai memberikan potion tersebut kepada Helen. Hanya saja ….
Sial, karena pingsan obatnya tidak bisa ia minum. Kalau begitu tidak ada pilihan lain.
“Hey cebol! Apa kau tau harga obat itu begitu mahal. Kenapa kau malah menggunakannya untuk musuhmu-”
Seketika ucapan Richard terhenti ketika Dom memberikan potion itu dari mulut ke mulut seperti layaknya pernafasan buatan.
Wajah Richard menjadi emosi sekaligus dipenuhi rasa iri.
“Anak setan! Kenapa kau malah memberinya dengan cara seperti itu!” teriak Richard.
Tapi, cara ini menarik juga hehehe.
Setelah melihat kejadian langka tersebut, Richard mulai berfantasi yang tidak-tidak.
"Sepertinya sudah cukup. Aku sudah memberikan pertolongan pertama."
Ketika Dom sudah selesai, Richard terpancing dengan melakukan cara yang sama seperti Dom.
“Hey apa yang kau lakukan paman?” tanya Dom.
“Kau tau, dia ini masih belum sadar. Kita harus memberinya lebih banyak lagi,” seru Richard yang sebenarnya memiliki maksud tertentu.
Ketika mulut Richard sudah hampir mendekatinya. Helen terbangun dan langsung sadar ada orang mesum yang menghampirinya. Secara spontan ia menendang Richard tepat di arah bagian masa depan kaum lelaki.
“Uaarghhhttt!” teriakan lantang layaknya selesai mengerjakan skripsi dikeluarkan oleh Richard.
“Kenapa kau menendang ke arah situ ….” Richard meringis kesakitan dengan air mata kepedihannya. Sementara Dom hanya melihat sambil memegangi kunci inggris miliknya sendiri.
Hih! pasti sakit sekali ….
“Maafkan aku! Aku hanya berusaha untuk menolongmu dan tidak ada maksud seperti itu,” ujarnya sambil menundukan kepala disertai wajah panik.
“Hahaha jangan khawatir, aku tidak akan marah. Sebaliknya, aku ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang telah kau lakukan.”
Dom bernafas lega karena hal itu, sementara Richard kehilangan setengah nyawanya sambil tersungkur di bawah tanah.
“Pertama aku minta maaf karena telah menyerang kalian. Lalu, Nona Lyfa adalah temanku sekaligus orang yang memberikan perintah untuk menjaga tempat ini.”
“Eh … EH??!!”
“Aku benar-benar minta maaf, tolong jangan laporkan ini pada Nona Lyfa.”
Melihat ada sebuah peluang, Dom langsung memanfaatkan situasi tersebut untuk membujuknya.
Hehe ini yang kutunggu.
“Yah itu tergantung dari bagaimana usahamu meyakinkanku wehehe,” seru Dom dengan senyum jahatnya.
“Aku akan melakukan apapun. Tapi, tolong jangan laporkan ini pada Nona Lyfa. Bahkan jika itu harus …,”
Mendengar hal itu, Richard kembali berfantasi dengan skala yang lebih besar dan mulai membayangkan Lyfa sedang bersamanya.
Apa saja? Bukannya berarti aku bisa melakukan??!! Mpssh ah ... hehehe membayangkannya saja sudah membuatku bahagia.
Karena tau gurunya sedang memikirkan hal yang tidak-tidak. Dom langsung meninjunya dengan sekuat tenaga.
“APA YANG KAU PIKIRKAN PAK TUA??!! Kita berada di sini untuk membangkitkan kekuatanku!” teriak Dom.
“Ahahaha maaf-maaf.”
Cih, kenapa anak ini tidak tergoda dengan hal semacam itu.
__ADS_1
Mendengar tentang kebangkitan kekuatan, membuat Helen seakan tau maksud dari perkataan Dom.
“Hey, maksud dari permintaan tadi adalah untuk membangkitkan kekuatanmu?” tanya Helen.
“Yah begitulah … hahaha,” balas Dom.
“Karena ini perintah Nona Lyfa, maka aku tidak bisa menolaknya. Pertama biarkan aku istirahat sejenak, setelahnya kita akan mulai menggunakan Imperial Stone.”
“Benarkah??!! Terima kasih nona cantik,” ujar Dom sambil tersenyum sehingga membuat wajah Helen memerah.
“Aku hanya menjalankan perintah, tidak perlu terus memujiku seperti itu ...,” ucapnya sambil membalas senyum.
Kenapa aku tersipu malu hanya karena dipuji oleh seorang bocah … jangan-jangan?! Ah itu tidak mungkin.
Beberapa jam setelahnya. Kondisi Helen mulai membaik dan bisa berjalan meski terbata-bata. Sementara Richard dan Dom memilih untuk tidur karena lamanya menunggu.
Waktu mulai menunjukan sore hari.
“Ikuti aku,” ucap Helen.
Mereka berjalan menuju ke pusat danau tersebut. Selanjutnya.
“Hey pak tua, bisa berikan batu itu padaku?”
“Hahaha ini hanya trikmu kan agar bisa mengambil batu ini kembali?” sindir Richard.
Karena jengkel, Helen kembali menendang masa depan Richard sehingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
“Uarrrrrrrghh!!!” teriakan mantap dari Richard.
Dasar monster! Akan kubunuh kau nanti ....
Helen mengambil batu itu setelah terjatuh dari genggaman Richard.
“Emm Nona Helen, bisakah kau tidak menendang itunya lagi. Aku merasa kasihan,” bujuk Dom.
Elf ini sungguh kejam ….
“Baiklah adik kecil,” balasnya sambil tersenyum.
Richard hanya menunjukan ekspresi kesakitan sambil menahan amarahnya.
Dasar elf sialan, kenapa dia bisa begitu ramah pada Dom!!!
Sesudah sampai di tengah danau. Helen mulai menjelaskan tata cara agar bisa membangkitkan potensi dari elemen tanah. Tentunya intruksi yang diberikan berbeda jauh dengan apa yang disampaikan oleh Richard sebelumnya.
“Oh iya, kenapa kau bisa tau cara mengaktifkan batu ini?” tanya Dom.
“Nona Lyfa yang mengajariku. Terlebih sebagai pelindung tempat ini, aku harus memiliki keterampilan tersebut. Jadi hanya beberapa orang saja yang bisa melakukannya.”
Ketika sudah sampai, Helen tiba-tiba terdiam sehingga membuat suasana di tempat tersebut sedikit menegangkan.
Ada apa dengannya?
“Emm Nona Helen?” panggil Dom.
“Sebaiknya aku akhiri sandiwara ini,” seru Helen.
“Apa maksudmu?” tanya Dom yang bingung.
Tidak mungkin kan dia??!!
“Sepertinya kalian mudah sekali dibodohi,” jawabnya sambil tersenyum jahat karena sudah memegang Imperial Stone kembali.
"Sudah kubilang untuk tidak mempercayai musuhmu!" teriaknya sambil mulai mengeluarkan Eden Sword.
“APA??!!”
__ADS_1
Bersambung ....