Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 44: Kesepakatan


__ADS_3

Richard menumbuk Dom dengan tangannya karena kesal.


“Aww! Kenapa kau memukulku?!” teriak Dom.


“Kenapa kau dengan santainya menjawab pertanyaan orang yang tidak dikenal!” balas Richard


Dom langsung menutup mulutnya sebagai gestur tidak sengaja membalas perkataan Zeed.


Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Dom, Zeed teringat akan sesuatu.


Hmmp Imperial stone? Bukankah itu hanya batu sampah?


“Untuk apa kalian mencari batu itu?”


“Karena kami-” Richard menyela perkataan Dom.


“Tentu saja itu rahasia bodoh, untuk apa kami menjawab pertanyaan orang jahat sepertimu hehehe”


“Apa maksudmu dia orang jahat Paman?”


Setelah Dom bertanya, Richard menarik Dom beberapa langkah kebelakang dan membisikan ke telinga Dom mengenai siapa sebenarnya Zeed ini dan tentang serikat kegelapan.


“Heeee …  Jadi dia orang jahat?” tanya Dom dengan suara kecil.


Tapi kenapa tidak ada aura mengerikan dalam dirinya? Dan aku rasa orang ini tau sesuatu tentang batu itu.


“Mulai sekarang ketika bertemu dia lagi, kau berhati-hatilah,” ujar Richard yang menasehati Dom.


“Baik bos,” Dom memberikan gestur jempol.


Meskipun yang satunya kuat, tapi dia terlihat bodoh. Sedangkan bocah itu ….


“Ahem … sepertinya urusanku disini sudah selesai,” Zeed perlahan pergi meninggalkan lokasi.


“Tunggu!!!” Dom berlari mengejar Zeed yang sudah semakin menjauh.

__ADS_1


“Paman listrik … Apa kau tau dimana Imperial Stone tersebut berada?” tanya Dom dengan wajah tersenyum.


“Namaku Zeed … ah sudahlah lagipula kau pasti akan memanggilku paman listrik.”


“Hehehe.”


“Ya aku memang mengetahuinya, tapi untuk apa aku memberikan informasi tersebut kepada musuh?” Zeed membalas ucapan Richard sebelumnya sambil tersenyum.


Manusia listrik ini, dia membalikan kata-kataku.


“Hei Dom, sebaiknya kau jangan terlalu percaya padanya. Bisa jadi dia hanya seorang penipu seperti sebelumnya lalu mencoba untuk menghabisi kita di saat lengah,” seru Richard yang masih curiga.


“Hoam ... lagipula batu itu tidak berguna bagiku, untuk apa aku sampai membunuh kalian hanya karena sampah,” ujar Zeed sambil memberikan gestur merendahkan.


“Apa kau bilang?” teriak Richard.


“Batu itu berada di puncak gunung ini. Tapi … meskipun item tersebut tidak berguna, disana terdapat Guardian yang sangat kuat.”


Puncak gunung? Apa aku bisa mempercayainya? Tapi … setelah aku menelusuri area hutan ini, sepertinya penjelasan pria itu cukup logis.


Richard menyadari Dom sedang menghinanya, tapi ia tidak mampu berkata apa-apa karena memang faktanya seperti itu. Ia hanya bisa bergumam dalam hatinya dengan wajah anehnya.


Awas saja kau cebol ….


Zeed hanya memandang Dom dengan wajah datar dan seperti tidak tertarik..


Kenapa perasaanku tidak enak ....


“Untuk apa kau memintaku mengantarmu kesana bocah? Bukankah kau sudah mendengar dari Pamanmu itu, bahwa aku orang jahat?”


“Itu kan menurut Pamanku, bukan menurutku. Sebagai gantinya kami akan membantumu menangkap monster yang kau cari, bagaimana?”


“Aku tidak butuh bantuanmu,” jawab Zeed dengan ketus kemudian berjalan kembali.


Meskipun sudah menjauh, tapi dari belakang Dom terus mengikutinya dengan harapan Zeed mau mengantarnya menuju lokasi batu Imperial Stone.

__ADS_1


Setelah terus memohon, membuat Zeed mulai terganggu dan akhirnya menyetujui permintaan Dom.


Kenapa hidupku selalu dipenuhi dengan hal seperti ini? Kalau saja tidak ada Pria itu, aku mungkin sudah membunuhnya.


“Baiklah bocah, tapi menjauhlah dariku. Jika kau mendekat lagi … mungkin petir ini akan melubangi kepalamu,” seru Zeed sambil mengeluarkan elemen petirnya.


“Wow! Benarkah paman listrik??” Dom malah semakin dekat dan tidak menghiraukan ancaman dari Zeed.


“Menjauhlah dariku anak kecil …,” balas Zeed.


Richard mendatangi Dom sambil membisikan sesuatu ke arahnya.


“Hey Dom apa kau serius mau percaya pada Pria bernama Zeed itu??” tanya Richard dengan sambil berbisik.


“Hemm begitulah, mungkin itu lebih baik dibanding percaya pada Paman ahahaha.”


“Uuughhh,” Richard menerima serangan telak ke dalam jiwanya.


Mendengar kalimat terakhir dari Dom, membuat Richard langsung kehilangan semangat karena dirinya merasa tidak berguna.


“Jangan menghabiskan waktuku … cepatlah,” ujar Zeed yang mulai kembali berjalan.


“Cepatlah paman!” teriak Dom yang mulai mengikuti Zeed.


“Hey tunggu aku Dom!” Richard berlari mengejar mereka.


Selagi berjalan, tanpa sepengetahuan Dom, Richard mendekati Zeed sambil membisikan sesuatu.


“Hey jika kau berani melakukan sesuatu pada bocah ini, maka akan kupastikan hidupmu akan berakhir,” ungkap Richard sambil mengeluarkan aura membunuh.


“....” Zeed hanya bisa terdiam dan pasrah dengan keadaan yang menghampirinya.


Ah… disaat seperti ini, aku merasa bahwa menjadi pekerja bangunan lebih baik ketimbang menjadi seorang penyihir. Semoga saja kalian terjatuh kedalam jurang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2