
Serangan kejutan dari jauh berhasil menggagalkan Helen untuk mengeluarkan Final Destiny. Tapi, karena berdekatan ... Burst Fire ikut meledakan Dom seperti biasa.
“Uhaaa!” Dom terpental beberapa meter.
Ini??!!
“Urghhht.” Helen yang terkena serangan secara telak ikut terhempas lebih jauh.
Namun, ketika terkena serangan dari jarak jauh, Helen menyadari sesuatu yang membuatnya tercengang dan terheran-heran.
Sihir ini?! Tidak mungkin ....
“Bagaimana kau masih?!” teriak Helen.
“Yah mungkin karena memang aku belum ditakdirkan untuk mati,” ujarnya sambil tersenyum.
Dari kejauhan nampak sosok yang selama ini sudah menemani kita dalam 50 chapter lebih. Auranya berwarna merah nyala disertai dengan wajah sombongnya dan kebodohannya yang merupakan ciri khasnya.
Dom yang melihat hal tersebut dari kejauhan hanya bisa meneteskan air mata. Seseorang yang selalu menjaganya selama bertahun-tahun muncul kembali.
“Hiks … hiks … hiks,” suara tangisan bahagia dari seorang murid yang ditinggalkan gurunya selama beberapa jam.
“Aku kembali … Dom.”
“PAMAN RICHARD!!!”
Richard Helware telah kembali dalam pertarungan.
Helen sangat terkejut karena tidak menyangka Richard tidak mati. Ditambah lagi, ia sudah terluka parah setelah bertarung dengan Dom.
“Kenapa … Kenapa kau tidak mati??!!” teriak Helen menggunakan sisa tenaganya.
“Hahaha wajahmu terlihat berantakan nona cantik. Apa kau merindukan kehadiran pria tampan ini?” ejek Richard.
“Berhenti bercanda!!! Uhuk uhuk.” Karena terlalu banyak bicara, membuat lukanya menjadi semakin terbuka. Namun Helen masih tetap berteriak. “Padahal aku sudah menggunakan Mirror Phantom, kenapa kau masih?!”
“Hah … sepertinya kau tidak tau kegunaan sebenarnya dari cermin itu ya?” ejek Richard.
Lagi-lagi pertanyaan seperti ini ....
“Apa maksudmu?!”
“Mirror Phantom adalah sebuah artefak yang memiliki fungsi untuk menyerap benda atau sihir apapun di sekitarnya. Namun … semua hal yang kau serap bukan berarti akan lenyap begitu saja.
“Mereka yang terserap ke dalam Mirror Phantom akan berada dalam sebuah ruang dimensi tanpa jalan keluar. Tapi entah kenapa, aku berhasil menemukan sebuah celah pada ruang tersebut sehingga berhasil keluar.
“Biar kutebak, pasti artefak itu mengalami kerusakan, bukankah begitu nona cantik?”
Helen mengingat kejadian dimana artefaknya tidak berfungsi ketika menahan serangan Dom saat dalam mode darknya.
Jadi karena itu?! Kenapa hari ini aku bisa melakukan kesalahan banyak sekali.
“Sial, aku sudah benar-benar pada batasku …,”
Helen terjatuh dan berbaring di bawah tanah sebagai tanda bahwa dirinya sudah kalah.
“Menyebalkan sekali ... meskipun luka dari anak itu tidak mengenai jantungku, tapi aku bisa mati dalam beberapa jam karena kehabisan darah. Apalagi mendengar orang tua itu masih hidup. Ah, Ini kekalahan telak bagiku,” Helen berucap sendiri sambil menatap ke langit.
Richard memberikan Dom sebuah potion agar bisa mempercepat proses penyembuhan lukanya.
Beberapa saat kemudian.
“Apakah paman sudah berada di sini sejak tadi?” tanya Dom.
“Yah cukup lama-”
__ADS_1
“Kenapa kau tidak langsung menolongku sialan!” teriak Dom yang langsung memotong ucapan Richard.
“Mana aku tau anak kecil! Lagipula saat keluar dari cermin, aku berada di area lain di puncak ini.”
Sebenernya aku tersesat untuk mencari jalan keluar. Tapi kalau aku bilang begitu, anak ini pasti tidak akan memafkanku ….
Ketika lukanya mulai membaik. Dom mencoba berjalan ke suatu tempat.
“Hey kau mau kemana Dom?” tanya Richard setelah melihat muridnya memaksakan diri untuk bergerak.
Dom bergerak mendatangi musuhnya.
“Karena pamanku masih hidup, aku sudah tidak memiliki dendam padamu. Jadi, Nona Helen, bisakah kau memberitahu kami letak dari Imperial Stone?” tanya Dom.
Meskipun Helen sudah dalam kondisi sekarat dan tidak berdaya. Ia tetap bersikeras untuk tidak memberitahu letak batu itu.
“Hmmph lebih baik aku mati daripada memberikan Imperial Stone kepada manusia jahat,” ujarnya.
“Ah kenapa kau keras kepala. Sudah kubilang kami ini orang baik,” balas Dom.
“Sudahlah Dom, Guardian tetap akan selalu memegang janjinya.”
“Sepertinya pamanmu itu cukup pintar-” ucapan Helen dipotong oleh Richard dengan lantang.
“Tapi!!! Lihatlah apa yang aku pegang.” Richard mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Wajah Helen berubah menjadi sangat pucat seperti seorang mayat hidup.
Apa? Padahal kan batu itu sudah aku ….
“Hahaha tidak kusangka aku bisa mendapatkan ini saat terjebak di Mirror Phantom,” seru Richard diiringi dengan tawa mantapnya.
“WOW! Kau memang dapat diandalkan paman! Wahahaha,” mereka berdua tertawa ria sambil merangkul seperti sudah lepas dari semua masalah.
Dua orang laknat ini ….
Setelahnya.
“Baiklah Dom, kita akan menggunakan batu ini untuk membangkitkan kekuatan tanah milikmu.”
“Apakah kau tau cara memakai batu ini?” tanya Dom.
“Tenang saja, aku sangat ahli dalam hal seperti ini.”
Yah meskipun belum pernah mencobanya, paling caranya sama seperti membangkitkan elemen biasa.
Meskipun kesal karena harta tempat ini berhasil direbut, namun Helen tidak bisa berbuat apa-apa.
“Maaf peri, aku gagal untuk melindungi harta tempat ini,” gumam Helen sambil menatap musuh mulai menggunakan Imperial Stone.
Dom mulai mengikuti instruksi dari Richard untuk duduk dengan tenang dan santai.
“Sekarang, cobalah pusatkan kembali elemen tanah pada pikiranmu. Aku akan meletakan batu ini di depanmu, lalu seraplah kekuatan sebanyak yang kau bisa. Mengerti?”
Bukankah cara tersebut terlalu aneh? Ah sudahlah, sebaiknya aku mempercayainya.
“Siap bos!” jelas Dom.
Setelah mendengar perintah dari gurunya, Dom mulai memfokuskan pikirannya dan berusaha menstabilkan inti mana dalam tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, batu tersebut mulai mengeluarkan cahayanya.
Sudah kuduga, ini bekerja.
“Teruslah seperti itu dan seraplah sebanyak mungkin nak!”
__ADS_1
Karena arahannya berhasil, jiwa pemandu sorak milik Richard bangkit kembali dan terus berteriak ke arah Dom.
“Ayo DOM! Sedikit lagi! TERUSKAN!” teriak Richard yang semakin keras.
Pak tua ini berisik sekali ... tapi, apa iya batu ini bekerja? Kenapa rasanya aku tidak mengalami apapun ….
Sementara itu dari kejauhan, Helen mengeluarkan wajah anehnya setelah tau bahwa musuh mereka hanyalah orang bodoh.
Ada apa dengan mereka? Rasanya malu sekali ketika aku kalah dari orang idiot ….
30 menit sudah berlalu.
Richard masih terus menyoraki Dom meskipun suaranya sudah mulai melemah. Hanya saja, warna batu tersebut tidak berubah dan bertambah terang.
“Ayo … Dom, semuangat hoaam …,” teriak Richard yang mulai lelah dan mengantuk.
Sial, aku belum tidur sejak kemarin ….
Begitu melihat ke depan, ia terkejut melihat muridnya mengikuti gurunya dan ikut tertidur.
Anak setan ini ….
“KENAPA KAU MALAH TIDUR BRENGSEK!” Richard meledakkan Dom menggunakan sihir apinya.
“UAAA!” Dom terhempas beberapa meter hingga mendekati Helen.
“Kenapa kau menyerangku pak tua?!” teriak Dom.
“HAH?! Harusnya kau mulai menyerap kekuatan dari batu ini! ”
“Imperial Stone ini tidak menghasilkan apapun pak tua. Lagipula, aku sudah mengetahui sejak awal bahwa paman tidak bisa mengaktifkan batu ini!” teriak Dom.
Oh jadi dia sudah tau …. Tapi!
“Jika begitu, kenapa kau tidak bilang dari awal bocah?!”
Melihat pertengkaran yang tidak jelas membuat Helen tersenyum tanpa sadar.
Orang tua itu sangat kuat tapi begitu bodoh. Sedangkan yang satu lagi, tidak terlalu kuat namun sangat pintar. Kombinasi yang bagus.
“Ah kenapa aku malah senang!” Helen kembali ke sifat biasanya.
Mereka terus menggunakan metode yang sama meskipun sudah tahu tidak berguna, hal itu membuat Helen lega karena sepertinya Richard tidak tau cara mengaktifkannya.
“Dasar bodoh, bukan begitu cara mengaktifkan batu tersebut …,” seru Helen dengan pelan kemudian menutup matanya ke arah langit.
Karena jarak antara Dom dan Helen cukup dekat, membuatnya bisa mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh musuhnya.
Tanpa disadari oleh Helen, Dom mendekatinya dan meneruskan apa yang sudah diucapkannya tadi.
Hehe kurasa Guardian ini tau sesuatu tentang batu ini.
“Lalu bagaimana cara mengaktifkan Imperial Stone nona cantik?” tanya Dom yang memancing Helen. Sementara Richard mulai menyimak.
“Tentu saja dengan melepaskan segelnya. Tanpa hal itu, Imperial Stone hanyalah sampah-” Helen baru tersadar bahwa dia sedang berbicara dengan musuhnya.
Ia lalu menutup mulutnya sebagai gestur tidak sengaja karena mengucapkan hal tersebut.
Oh tidak!
“Oh jadi begitu … wehehehe,” wajah mereka berubah menjadi tersenyum dan menatap Helen dengan maksud tertentu.
Ah! Kenapa hari ini aku ceroboh sekali!!!
Bersambung ....
__ADS_1