
“Sraat.” Dom menebas kepala monster yang memiliki cahaya biru di area dadanya.
Ini tidak ada habisnya ....
“Mau sampai kapan aku harus seperti ini!!!” teriak Dom yang sudah mulai pasrah.
Meski begitu, sudah tidak ada jalan kembali bagi Dom karena dia sudah melangkah lebih dari setengah perjalanan.
Di saat rasa hampa mulai menghantuinya karena seperti terjebak dalam ruangan yang dipenuhi oleh monster aneh. Pandangan Dom tiba-tiba terfokus pada sesuatu yang ada di depannya.
“Woosh!” Sebuah hawa yang baru pertama kali dirasakan oleh Dom ketika memasuki Hutan Terraria sehingga membuat batinnya sedikit tertekan.
Apa sebenarnya yang ada di tempat itu? Kenapa seperti ada sesuatu yang menariku?!
Dom melihat sebuah hutan dengan pepohonan yang berbeda dari biasanya. Tempat tersebut layaknya sebuah hutan mati yang sudah tidak ada daunnya. Meskipun keadaan cuaca sangat cerah, namun yang Dom rasakan sangat berbeda.
Hawanya sangat gelap. Itu bukan tempat yang seharusnya aku datangi, tapi ….
“Aku tidak akan mundur. Terlebih aku sudah siap untuk menerima konsekuensi apapun ketika ingin masuk ke dalam area ini.”
“Hmmmph huh ….” Dom menarik nafasnya dalam-dalam dengan harapan dapat mengurangi pikiran negatifnya.
Ia lalu membuka matanya dan mulai menggerakan kakinya untuk masuk ke dalam tempat tersebut.
Setelah beberapa menit.
“Hih … siang hari saja rasanya sudah sangat tidak nyaman. Bagaimana saat malam?! UAA! Aku tidak memikirkannya sama sekali!”
“Kresek kresek kresek,” suara yang berasal dari semak-semak kembali terdengar.
Karena merasa terganggu, dengan cepat Dom melemparkan pedangnya tanpa ragu.
“Cep!” Pedang tersebut menancap.
Ketika dia melihat ke arah semak tersebut.
Tidak ada apa-apa?!
“Aneh … sejak pertama kali masuk hutan, aku selalu merasa sedang diikuti oleh seseorang. Tapi, ya sudahlah.” Ia kembali mengambil pedangnya.
Tanpa berpikir lebih jauh, Dom terus melangkah ke depan.
Sementara itu di tempat sebelumnya.
“Hah … hah … untung saja aku tidak ketahuan,” ujarnya diiringi rasa panik.
“Bocah sialan! Apa dia benar-benar ingin membunuhku dengan pedangnya!” teriaknya yang tadi sedang bersembunyi.
Kembali ke Dom.
“Hmmph sepertinya tidak ada apa-apa di tempat ini. Apa sebaiknya aku kembali saja?” tanya Dom.
Ketika dia berkata seperti itu, terdengar suara yang tidak jauh dari lokasi Dom.
“Kroaaa!”
“Eh, suara apa itu?” Dom mendekati sumber suara.
Ia terkejut ketika mendapati seorang bayi monster yang sedang sendirian di tempat angker.
“Uaaa kenapa ada anak monster disini! Dan lagi, dia lucu sekali ….”
Karena baru melihat yang seperti itu membuat Dom langsung memegangnya tanpa ada perasaan ragu sedikit pun.
“Biarpun ketika besar kalian sangat menyebalkan, tapi tidak kusangka kalian akan selucu ini saat masih kecil,” ujar Dom yang menyukai hal-hal seperti ini bahkan saat berada di bumi.
Selagi Dom memeluknya.
Bayi ini?! Kenapa aku merasakan kekuatan yang sangat gelap?!
Setelahnya … kesenangan sesaat berakhir setelah kemunculan monster lainnya.
__ADS_1
“Grrrr! Sudah kubilang untuk tidak menampakan wujud anehmu.”
Mata Dom tiba-tiba terbuka sangat lebar karena sangat terkejut. Sebuah langkah kaki serta suara yang sama sekali tidak ia rasakan sebelumnya tiba-tiba muncul.
Setelah ia melirik suara tersebut.
Sejak kapan dia berada disini?! Aku tidak bisa merasakan hawa kehadirannya.
Bayi monster yang semula di genggam oleh Dom kemudian memberontak dan berlari kepada monster yang memanggilnya.
“Ah, itulah kenapa aku tidak suka berpapasan denganmu. Kau terlalu serius … Leisure.”
“Aku hanya mendengarkan perkataan tuanku untuk melindungi hutan ini, lalu mencari makanna sebanyak mungkin. Selain itu, tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Bayi monster yang semula di pegang oleh Dom perlahan berubah wujud layaknya seekor monster. Namun, bentuknya sedikit berbeda, yaitu menyerupai bentuk layaknya seorang manusia.
Kakinya berbentuk layaknya seorang reptil dengan tiga jari, dengan tangan yang dipenuhi oleh cakar serta tanduk di area kepala.
Setelah melihat perubahan bentuk musuh, mood Dom menjadi hilang seketika.
Ja-jadi, dia hanya berkamuflase menjadi seorang bayi?!
“Uaaa kenapa kau berubah menjadi monster jelek sialan! Padahal aku masih ingin memelukmu …,” ujar Dom dengan nada mengejek.
Tentunya ucapan tersebut membuat musuh jengkel dengan urat kepala yang mulai naik. Bahkan teman disebelahnya tidak sengaja tertawa sedikit.
“Hihih …,” tawa kecut dari Leisure.
“Hah?! Apa kau menertawaiku?!” teriak Reli.
Leisure hanya diam dan tidak menjawab layaknya seorang prajurit perang yang sudah terlatih.
“Sudah lama kita tidak kedatangan tamu. Tapi sayangnya, hanya seorang anak kecil,” ujar Leisure sambil menyeringai.
Tingkat kekuatannya mungkin setara dengan level A. lalu … kenapa dia memiliki dua cahaya di area dadanya?!
“Yah kurasa dengan mengirim anak kecil untuk mengalahkan kalian mungkin sudah lebih dari cukup,” balas Dom dengan tersenyum jahat.
“Hoo ternyata hanya seorang pembual. Ini tidak menarik sama sekali ….”
“Grrrr! Kalau begitu buktikan kepadaku-”
“Sraaat!” Sebuah tebasan cepat dari Dom berhasil menebas kepala Reli dengan begitu mudah.
“Sudah kubilang, anak kecil saja sudah cukup.”
Leisure yang semula bersikap tenang mendadak berubah menjadi menatap Dom dengan tajam.
Pantas saja dia bisa melewati area bagian dalam hingga sampai sini.
“Aku yakin beberapa tahun lagi kau akan menjadi seorang Swordsman terbaik.”
“Terima kasih atas pujiannya. Tapi, itu tidak merubah pikiranku untuk tetap membunuhmu,” balas Dom sambil menodongkan pedangnya.
“Kuat, cepat, cerdas, namun ceroboh,” seru Leisure.
“Apa maksudmu?!” tanya Dom.
“Apa kau berpikir makhluk itu akan kalah karena hal seperti ini?”
Begitu Dom melihat kebelakang, pandangannya menunjukan ekspresi panik ketika Reli melakukan proses regerenasi yang lebih cepat dari monster-monster sebelumnya.
“Glebeb glebeb glebeb,” efek suaranya gitu bukan berarti monsternya tipe slime ya.
“Hahaha tidak buruk nak. Tapi, mungkin itu akan menjadi yang terakhir kalinya!” teriak Reli.
“Apa?! Bagaimana kau?!” teriak Dom yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kami adalah monster yang diciptakan oleh tuan dengan memiliki kemampuan khusus. Serangan biasa tidak bisa membunuh kami. Lalu, cahaya biru ini adalah bukti kesetiaan kami terhadapnya,” balas Leisure.
Tunggu! Jika dia bilang begitu, bukankah itu berarti monster yang sebelumnya kulawan?! Tidak tidak, semoga saja itu tidak terjadi.
__ADS_1
“Rasanya kau seperti membocorkan sedikit rahasiamu, bukankah begitu?” gertak Dom.
“Jangan salah paham bocah, aku hanya mengatakan itu agar kau tidak mati penasaran.”
“Sreng!” Leisure dan Reli mengeluarkan cakarnya.
“Sudah cukup bicaranya! Terimalah ini!” keduanya maju secara bersamaan.
Mereka cepat!
“Breeet!” Impact cakaran dari mereka merusak banyak sekali pohon di sekitarnya.
Untungnya kecepatanku masih diatas mereka. Tapi … apa-apaan serangannya itu?!
Belum selesai disitu, serangan lanjutan datang.
“Srang!”
Kuat sekali!
Dom berhasil menahan dengan pedang dari Leisure. Namun ….
“Jangan lupakan diriku bocah!” Reli tiba-tiba datang dari arah yang berlawanan.
Gawat!
“Elemen tanah … Soil Control!!!” Dom mengucapkannya dengan wajah panik.
Sihir milik Dom berhasil menghentikan pergerakan Reli yang sudah tinggal beberapa langkah lagi akan menembus perut Dom. Setelahnya ia mundur agar dapat menciptakan serangan balasan.
“Hah … untung saja masih sempat,” seru Dom sambil mengelap kepalanya dari keringat.
Tentunya sihir milik Dom membuat musuh kaget dan tidak bisa tenang seperti biasa.
Tanah?!
“Tidak kusangka kau bisa menguasainya di usia yang masih muda,” ujar Leisure.
“Hahaha ini sangat menarik. Sudah lama aku tidak bertarung dengan serius!” teriak Reli.
Dom hanya mengamati.
Meskipun kedua monster itu memiliki serangan yang sangat kuat, tapi mereka tidak lebih cepat dariku. Masalahnya, dimana letak kelemahannya ….
“Cih! Ini menyebalkan!” teriak Dom.
“Ada apa bocah, apa kau sudah kehilangan akalmu?” tanya Reli.
“Hahaha tentu saja tidak dasar bodoh.”
Kalau begitu, aku hanya harus mengalahkan mereka hingga menjadi butiran debu!
“Bersiaplah! Aku akan mengalahkan kalian dalam waktu 5 menit!” teriak Dom sambil menodongkan pedangnya.
“Hey hey hey, apa kau yakin dengan ucapanmu?”
Sebuah getaran dari langkah kaki tiba-tiba terdengar di area pertarungan. Sebuah pemandangan yang sama sekali tidak ingin disaksikan oleh Dom di saat dia sedang dalam kondisi tertekan.
Ini … bercanda kan?!
Tubuh yang semula berdiri tegak mendadak lemas dan terjatuh ke bawah setelah melihat ratusan monster yang sebelumnya sudah Dom kalahkan muncul dihadapannya.
“Kenapa bisa seperti ini?! Padahal aku sudah menebas kepala mereka semua! Kenapa kalian masih hidup!” teriak Dom.
“Kau mau tau kenapa kami tidak bisa mati? Tentu saja … karena kami ini abadi,” ujar Reli sambil membentangkan tangannya layaknya seseorang yang memiliki kekuatan absolut.
"Ah sialan," ucap Dom.
Seratus monster melawan satu anak kecil. Hahaha rasanya aku seperti tokoh utama dalam cerita dongeng. Hanya saja, aku tidak mungkin selamat.
“Sekarang, bagaimana kau akan melawan mereka anak kecil?”
__ADS_1
Aku tidak sanggup lagi … ini diluar kapasitasku. Apakah sudah saatnya aku minta tolong?
Bersambung ....