
“Hih! Panah ini benar-benar bisa membuat kepalaku berlubang!” Nampak serangan dari Zero sedikit meleset di samping pohon yang sedang dihinggapi Dom sehabis terpental oleh serangan sebelumnya.
Ini kurang baik, meskipun aku tau kelemahan mereka, tapi bagaimana aku bisa menembus pelindungnya?!
“Ah jangan terlalu banyak berpikir, sebaiknya aku menghindari mereka terlebih dahulu.”
Untuk menghemat tenaga, Dom menggunakan kecepatannya agar bisa bersembunyi sambil memikirkan cara yang ampuh guna mengalahkan musuh. Hanya saja ….
“Bocah itu hendak melarikan diri!” teriak Blow yang memantau menggunakan skillnya dari jauh.
“Tenang saja, apa kau bisa mengurusnya … Zero?” tanya Nana.
“Grrrrr!”
Dalam pelarian.
“Sebenarnya ada berapa banyak monster kuat yang berkeliaran di hutan ini? Kalau tau begini, lebih baik aku tidak menyetujui perintah Peri Lyfa.”
Satu monster tidak masalah, tapi jika 5….
Ketika Dom mencoba mencari sebuah tempat yang cocok untuk digunakan sebagai persembunyian. Sebuah serangan tiba-tiba melesat begitu cepat.
“Black Arrow.”
Dari jarak yang begitu jauh, Dom kembali didatangi serangan kuat melalui panah milik Zero.
“Swung!” suara panah melesat.
“Apa-apaan itu?!”
“Slash!” Panah tersebut memberikan tekanan angin yang sangat kuat dan berhasil menggores lengan Dom.
“Tidak mungkin?!” ujar Dom sambil terkejut.
Padahal aku menggunakan kecepatan maksimal, kenapa panah ini masih bisa menggoresku?!
Sambil memegangi lengannya yang terluka, Dom menghentikan langkahnya.
Seharusnya aku sudah menduganya, tapi aku malah berharap bisa kabur dari mereka.
“Mungkin pertarungan ini akan sedikit sulit.”
Sementara itu.
“Hoo, tidak kusangka dia bisa menghindari Black Arrow milikmu,” seru Blow.
“Apa?! Bagaimana bisa? Bukankah akurasi dari Zero adalah 100%?” tanya Fourth.
“Tidak, akurasi Zero memang sudah tepat. Tapi aku sendiri tidak tau bagaimana manusia rendahan bisa menghindari panah dari sang penghancur,” ungkap Lion.
“Apa kita akan mengejarnya?”
“Tidak perlu, lagipula dengan sinyal seperti itu, sudah pasti dia tidak punya pilihan selain bertarung. Terlebih, tugas kita hanya menjaga tempat ini dari musuh.”
“Tenang saja. Tujuannya memasuki area ini tentunya hanya untuk itu. Dia pasti akan kembali.”
“Hihihi, nampaknya ini akan menyenangkan, bukankah begitu … Zero?” tanya Nana.
Zero hanya diam dan tidak menanggapi ucapan rekan-rekannya.
“Ah seperti biasa, kau selalu tidak pernah tertarik dengan kami,” seru Nana.
Di tempat lain.
Dom mencoba memulihkan diri secepatnya agar bisa kembali bertarung dengan musuh.
“Untungnya, Kakek Silver memberiku beberapa potion penyembuh. Ini benar-benar sangat berguna di saat seperti ini.”
Dalam beberapa menit luka Dom sudah pulih dengan cepat.
Aneh, padahal aku sudah berhati-hati, tapi kenapa tidak ada serangan yang datang?
Dom berpikir sejenak agar tidak ceroboh dalam bertindak.
“Begitu ya, rupanya mereka sudah tau bahwa aku akan mencoba melawan balik. Benar-benar monster yang memiliki kecerdasan.”
Tubuh Dom mulai prima kembali setelah meminum beberapa ramuan yang diberikan oleh Kakek Silver. Namun, dia masih ragu untuk kembali ke area musuh karena belum memiliki rencana.
“Ngomong-ngomong, sudah berapa hari aku berada di tempat ini? Bagaimana kabar Paman Richard ya?” gumam Dom sambil menatap ke atas meskipun hanya terlihat pohon rindang.
Meskipun telah berulang kali memikirkan strategi, tapi Dom tetap tidak bisa menemukan jalan keluar atas masalahnya.
Ah, aku benar-benar tidak tau cara mengalahkan mereka!!!
__ADS_1
“Lupakan! Lagipula sejak awal aku tidak merencanakan apapun ketika datang kesini.”
Setelah cukup lama berdiam di sana, akhirnya dengan modal nekad juga semangat, Dom berjalan kembali ke arah musuh.
“Eh tunggu!” Langkah Dom kembali terhenti dan bergumam dalam pikirannya.
Apa sebaiknya aku menyusun strategi?
Dom kembali dalam kebimbangan.
Ah … apa yang harus aku lakukan?!
Ketika pikirannya sedang dalam kebimbangan, matanya melihat ke sebuah hal yang bisa membantu memecahkan permasalahannya saat ini.
Hmm aku rasa aku pernah melihatnya sewaktu di bumi.
“Oh ini kan?!” Dom berjalan mendekat.
"Bagaimana bisa benda seperti ini bisa sampai ke sini?!" seru Dom.
Namun, karena melihat benda itu, Dom bisa menyusun strategi.
Hehehe sepertinya aku sudah tau cara mengalahkan mereka.
Setelah selesai bergumam dan memacu dirinya sendiri, Dom berlari dengan sangat yakin ke arah musuhnya.
Kehadirannya mulai dirasakan oleh musuh setelah sebelumnya hanya bisa dirasakan oleh Blow sang bayangan.
“Dia datang,” seru Lion.
“Swosh!” Dom mengeluarkan pedangnya dengan tangan kiri yang sudah siap melepaskan sihir.
“Elemen tanah … Rock Bottom!” Sebuah gumpalan tanah yang berbentuk lancip mulai diarahkan ke pihak musuh.
“Sampah!” seru Blow.
“Kukira kau akan datang mengejutkan kami, ternyata ekspetasiku salah.”
Mereka berlima dengan mudah mengindari serangan tersebut tanpa terluka sedikit pun.
“Heh jangan senang dulu sialan!”
Rock Bottom hanya pancingan agar Dom bisa bergerak lebih dekat menghampiri musuh.
“Divine Sword Eternity!”
“Wush!” Tebasan pedang Dom membentuk sebuah angin kencang yang mengarah pada kelima musuh tersebut.
“Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?” seru Fourth.
Musuh yang melihat serangan tersebut tentu saja akan langsung berpencar tanpa tau apa yang ingin dilakukan oleh musuh kedepannya.
“Asap? Rupanya kita telah dibodoho,” seru Nana.
Selagi mengeluarkan skill, Dom melemparkan bom asap bekas pertempuran yang dia dapat secara tidak sengaja di hutan.
“Bosssh!” Kabut mulai terbentuk dengan cukup tebal.
“Hehehe ini berjalan sesuai dengan yang kumau, untungnya aku bisa mengetahui letak posisi mereka dengan Soil Control.”
Dari pertarunganku sebelumnya, kelima monster itu memiliki kelebihannya masing-masing. Tapi, sebaiknya aku tidak menghadapi si pemanah (Zero) terlebih dahulu.
"Oh, kenapa energi orang itu terlihat samar?"
Selagi mereka menyebar karena menghindari Divine Sword Eternity, Dom mulai melihat peluang besar.
Hehe … aku rasa, monster itu tidak terlalu pandai dalam bertarung.
Dengan penuh keyakinan, Dom mendekati monster tersebut menggunakan pedangnya.
Di lain sisi.
“Cih, tidak kusangka kami akan dipermainkan oleh seorang bocah!” seru Blow.
"Ting!" Insting Blow mengatakan ada sesuatu yang mendekat.
Ho ... tidak kusangka dia menghincarku terlebih dahulu.
Karena Blow memiliki insting yang lebih tajam dari semua monster, dia bisa merasakan kehadiran Dom yang mulai mendekatinya.
Jadi begitu, dia sengaja datang kemari karena tau energiku lebih lemah dari semuanya.
“Heh! Biarpun aku lemah, setidaknya kekuatanku ini dua kali lebih kuat dari Leisure kau tau,” seru Blow.
__ADS_1
Begitu Blow hendak menyerang, keberadaan Dom malah menjadi samar.
"Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya dia datang ke sini?" tanya Blow.
“Wushh!” suara pergerakan Dom dalam kabut sambil berlari menjauh.
Disana rupanya! Sepertinya kau ketakutan manusia!
“Srang!” Blow bergerak menggunakan cakarnya dan mengejar Dom.
“Kemana kau akan pergi hah?!’ teriak Blow.
Setelah cukup jauh, langkah Dom terhenti. Tentunya tanpa berpikir panjang, Blow langsung menggunakan cakarnya untuk menusuk Dom.
“Sepertinya kau sudah kehabisan energi! Rasakan ini!”
“Sraaat!” Sebuah cakar yang entah kenapa menembus tepat di bagian kelemahan mereka sendiri.
“Click … click.” Darah mulai berjatuhan ke bawah. Tapi ….
“Apa yang terjadi?! Aku sudah melihat energimu, bagaimana mungkin?!” tanya Blow dengan ekspresi yang sangat panik.
“Uhuk … uhuk! Apa yang kau lakukan … Blow,” ujarnya yang kemudian terjatuh ke bawah.
“FOURTH!” teriak Blow yang kemudian disadari oleh rekan-rekannya. Namun, sebelum itu.
Monster tersebut jatuh oleh kebodohan rekannya sendiri. Belum selesai sampai situ.
“Sraaat!” Dari belakang, serangan kejutan kembali datang, tapi kali ini oleh musuh sebenarnya.
“Jadi begitu, ternyata kelemahan lain dari kalian adalah sisi belakang,” seru Dom dengan pedangnya yang menancap menusuk titik lemah Blow.
Blow mengeluarkan darah layaknya dia menusuk rekannya sendiri.
“Sialan! Apa yang kau lakukan sebenarnya?!”
“Mudah saja. Karena aku tau kau bukan tipe yang suka bertarung, jadi aku bertaruh kau memiliki kelebihan dalam hal penglihatan atau insting. Ternyata benar.”
“Setelahnya aku membuat sebuah bayangan menggunakan elemen milikku dengan energi yang sama. Tentunya kau akan terpancing mengingat kau tidak begitu pintar.”
“Karena sebenarnya jarak terdekatku adalah dengan temanmu itu, aku menggunakan Soil Control agar membuatnya tidak bergerak sementara waktu, tentunya aku menukar bayanganku dengan temanmu sehingga kau mengira itu adalah aku hehehe.”
“Tunggu! Bayangan, apa kau?” tanya Blow.
“Elemen kegelapan … Silhouette.”
“Dua elemen?! Cih, memalukan rasanya jika kalah oleh seorang bocah. Berhati-hatilah dengan musuh. Mereka sangat kuat ….” Blow pun terjatuh dengan tubuh yang mulai terurai perlahan.
Kabut di tempat tersebut menghilang secara perlahan sekaligus menjadi akhir dari kesenangan yang baru di rasakan oleh Dom.
“Hey berani-beraninya kau menghabisi teman kami manusia rendahan!” teriak Lion.
“Hoo, ternyata kau memiliki kemampuan?” seru Nana.
Bersama dengan Zero, monster yang tersisa mengepung Dom tanpa memberikan ruang sedekitpun kepadanya.
“Apa ini adil jika kalian mengeroyok seorang anak kecil?” tanya Dom.
“Adil atau tidaknya itu bukanlah urusanmu,” seru Zero dengan tatapan membunuh.
Tekanan ini … sudah lama aku tidak merasakannya!
“Swosh!” Dom menancapkan pedangnya ke arah tanah.
Kalau begitu, tidak ada pilihan selain menggunakan skill ini.
"Wusssh!" Tekanan angin menyelimuti tubuh Dom.
"Bocah ini?!"
"Mau tiga, ataupun seratus sekalipun. Kalian tidak akan selamat setelah menerima serangan ini."
Bersambung ....
*Note
Punten baru update, authornya keenakan makan daging kurban sampe lupa buat nulis huehehehe.
Selanjutnya udah update seperti biasa dengan cerita yang masih gitu-gitu aja hehe.
Mungkin setelah jadi gede baru jadi rame novelnya wkwk gatau juga sih, tapi moga moga aja, ya segitu dulu. Gambarnya nyusul ya kalo authornya uda punya dana buat bikin karakter :)
Lopeyou All
__ADS_1