
Ketika menginjakan kaki pertama kali di tempat Octo, Zero hanya terdiam karena selain Octo, penghuni di kawasan tersebut terlihat begitu kurus seperti kekurangan gizi.
“Ada apa?” tanya Octo yang melihat Zero kebingungan.
“Ah tidak ada.”
“Mereka sama sepertiku, tanpa atribut sihir dan juga para tahanan yang berhasil melarikan diri. Tapi meski kondisi kami seperti ini, kami tetap saling menguatkan,” ungkap Octo dengan wajah sedih.
“Begitu ya ….”
“Ah maaf aku malah jadi bercerita. Kemarilah, aku memiliki cukup makanan untuk saat ini.”
“Saat ini? Berarti para bangsawan itu akan datang menyerang lagi?”
“Seharusnya begitu, tapi entah kenapa beberapa bulan ini mereka tidak datang untuk merampas makanan kami.”
Sepertinya mereka sedang sibuk berperang.
“Tapi bukankah itu bagus? Kenapa tidak kau habiskan saja semua makanan itu, bukankah mereka semua perlu gizi yang baik?”
“Tidak bisa begitu! Jika para bedebah itu kemari dan kami tidak memiliki stock makanan. Pasti mereka akan kembali membawa kami ke dalam sel. Terlebih aku sudah membuat perjanjian dengan mereka sebelumnya.”
“Tenang saja, saat ini para bangsawan sedang berperang.”
“Bagaimana kau tau?”
“Aku hidup di luar lebih lama dari kalian, sudah pasti aku mengetahui hal kecil seperti ini. Makanlah sepuas kalian dan jangan khawatirkan tentang bangsawan.”
“Tapi ….”
“Bukankah kau percaya bahwa suatu saat aku akan mengubah dunia ini?” ucap Zero sambil tersenyum.
“Ya aku percaya, hanya saja-”
“Kalau begitu, kenapa tidak mulai dengan hal kecil seperti ini? Tenanglah setidaknya kita akan aman beberapa tahun kedepan.”
Ucapan Zero seakan menenangkan hati Octo. sebelumnya pikirannya selalu dipenuhi dengan ketakutan mengingat Octo harus melindungi teman-temannya sebagai seorang pemimpin.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Zero, para bangsawan tersebut tidak muncul selama beberapa tahun. Sebaliknya, dengan adanya Zero, setidaknya hampir seluruh penghuni mau berlatih untuk meningkatkan tubuh mereka.
Zero terus meyakinkan mereka bahwa tanpa sihir pun kita tetap bisa menjadi yang terkuat. Tentunya dengan bantuan Octo, membuat semua menjadi terpacu untuk berlatih lebih keras.
Peningkatan para korban perang mulai terlihat 4 tahun kemudian. Bahkan Octo berhasil menguasai teknik pedang yang dia ciptakan sendiri setelah mempelajari dasarnya dari Zero.
Hanya saja, sekeras apapun mereka berlatih, tetap saja akan ada yang namanya lelah. Harusnya seperti itu, tapi kata tersebut sepertinya tidak berlaku bagi Zero. Apalagi saat usianya mulai menginjak 24 tahun.
Kepribadiannya sedikit berubah, Zero jadi jarang berbicara kepada rekan sekitarnya termasuk Octo. Bahkan senyum manisnya sudah tidak lagi terlihat beberapa bulan terakhir.
Kepalanya tidak memikirkan hal lain kecuali berlatih, bahkan ketika makan pun, pikirannya seperti tidak berada di situ.
Rasanya seperti jiwanya mulai menjauh dari tubuhnya. Tentunya hal itu membuat Octo serta lainnya khawatir sekaligus cemas. Terlebih mereka takut Zero akan berubah menjadi sosok yang berbahaya karena tingkahnya.
“Hey bukankah sebaiknya kau berhenti berlatih selagi makan?” tanya Brown.
Zero tidak menanggapi karena pikirannya penuh dengan lamunan dan selalu seperti itu ketika makan.
“Lagi-lagi tidak dijawab,” ujar Jack.
“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya orang ini pikirkan ketika makan?” tanya Lucy.
Karena geram ucapannya tidak pernah ditanggapi, untuk pertama kalinya Brown memukul perut Zero dengan sekuat tenaga.
“Hyaaa!”
“Bug!” Pukulan tersebut berhasil menyadarkan lamunan Zero.
Berbeda dengan Brown, rekan lain menjadi panik karena takut Zero membalas dengan lebih kuat dan memicu perkelahian. Itu sebabnya tidak ada yang berani melakukan hal itu selain Brown.
Zero menatap seluruh penghuni yang sedang makan dengan begitu tajam sehingga membuat semuanya berkeringat dingin termasuk Octo.
Ah kenapa anak ini malah membangunkan singa itu ….
“Bisakah kau tidak bersikap seperti ini kepada kami!” teriak Brown.
Kenapa dia marah padaku? Apa aku melakukan kesalahan?
“Apa ada yang salah denganku?” tanya Zero.
__ADS_1
“Beberapa bulan terakhir kau terlihat berbeda bahkan menjauh dari kami. Apa yang sebenarnya ada di kepalamu?”
Zero yang semula penuh dengan tatapan kosong mendadak kembali mendapatkan cahayanya.
“Maafkan aku, tapi saat ini aku tidak bisa membicarakannya kepada kalian.”
“Apa kau tidak percaya dengan kami?”
“Bukan seperti itu ….”
“Lalu apa? Kita ini teman, apa kau tidak paham arti kata itu hah?!” teriak Brown.
Zero terdiam tanpa bisa mengucapakan apa-apa.
Arti dari teman?
“Teman itu layaknya sebuah keluarga, baik susah ataupun senang kita akan selalu bersamamu. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kau selalu berjuang sendiri!”
“Kau benar, bukankah kau sebaiknya mencoba untuk lebih bersantai?” tanya Octo.
“Ya cobalah untuk bersenang-senang bersama kami teman,” seru para penghuni.
Zero hanya terdiam sambil melihat mereka semua.
Tanpa sadar, selama beberapa bulan ini, dia tidak pernah berbaur ataupun bercanda dengan rekannya. Dalam kepalanya hanyalah berusaha menjadi lebih kuat hingga lupa akan sesuatu yang sangat penting.
Sebuah ikatan yang sebelumnya hilang, perlahan tersambung kembali setelah belasan tahun lamanya.
Perasaan ini … kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali? Sejak kapan aku terakhir kali merasa kehangatan seperti ini ....
“Aku tau, jadi ini rasanya mendapatkan sebuah keluarga ya?” ucap Zero dengan tersenyum.
“Akhirnya kau tersenyum juga teman hahaha,” seru Octo sambil merangkul Zero.
Sekuat apapun manusia, tetap saja akan membutuh bantuan dari manusia lain disekitarnya, dalam konteks apapun. Itulah yang dilupakan oleh Zero selama ini. Dia tidak menyadari ambisinya malah bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
“Menjadi yang terkuat bukan berarti harus meninggalkan segalanya, bukankah begitu … sahabat baikku?” ujar Octo.
“Yah … kurasa kau benar.”
“Aku minta maaf! Selama ini aku tidak membalas kebaikan kalian! Tapi aku tetap tidak bisa membicarakan masalahku. Aku benar-benar minta maaf!” teriak Zero sambil menundukan kepalanya.
Mereka yang mendengar hanya tertawa lepas mengingat Zero belum pernah melakukan itu.
“Hahaha tenanglah, aku tau kau butuh waktu. Jadi kami akan menunggu hingga kau bisa lebih terbuka kepada kami,” seru Octo.
“Dan lagi kenapa kau harus menundukan kepala? Itu tidak seperti dirimu saja.”
“Teman-teman ….”
“Sudahlah lebih baik kita bersulang untuk kembalinya Zero.”
“Banzai!”
Setelah kejadian tersebut, suasana kembali menjadi begitu ceria. Sebuah keluarga kembali terbentuk dengan penuh keceriaan serta kebersamaan.
Meskipun … hal tersebut hanya berlangsung sebentar.
Sebulan kemudian, para bangsawan mulai tiba setelah 4 tahun lamanya.
“Keluarlah sialan!” teriak salah satu prajurit.
“Gawat! Anggota kerajaan tiba!” teriak Endo yang bertugas menjaga keamanan.
“Apa? Kenapa lebih cepat dari prediksiku?” ujar Zero.
“Ini tidak baik, persediaan kita sudah benar-benar habis.”
“Tenanglah, biar aku mencoba bernego dengan mereka,” seru Octo.
Sial, ini merepotkan.
“Keluarlah sialan! Serahkan semua persediaan yang ada!” teriak bangsawan.
“Maaf tapi persediaan yang kami miliki hanya sedikit.”
“Hah?! Aku tidak peduli itu, apa kalian ingin kuhancurkan?!” seru bangsawan.
__ADS_1
“Apakah begini sikap anggota kerajaan kepada rakyatnya? Ternyata begitu menjijikan,” seru Brown.
“Apa?! Siapa yang bicara?!” bangsawan tersebut melihat ke arah sumber suara.
Octo hanya terdiam dengan wajah panik.
Ah … apa yang kau lakukan Brown?! Kenapa dia malah menantangnya ….
Seorang bangsawan kelas atas mendatangi Brown dengan tatapan merendahkan.
“Hey, apa kau tau akibatnya jika melawan seorang anggota kerajaan?” tanya Hendrick yang merupakan salah satu pilar terkuat dalam kerajaan.
“Dulunya begitu, tapi entah kenapa setelah melihat tingkah kalian membuatku sadar bahwa, tidak ada apapun yang bisa kuberikan kepada kalian selain rasa hina,” seru Brown.
“Apa kau bilang?!” Hendrick mengepalkan tangannya dan berniat ingin memukul Brown.
“Set!” Tangannya ditangkis oleh Zero.
“Apa yang dikatakannya sudah benar, kenapa kau jadi marah?"
“Deg!” Tubuh Hendrick mendadak gemetar ketika tangannya disentuh oleh Zero.
Siapa orang ini?! Kenapa tekanannya sangat kuat!
“Beraninya kau menyentuh tanganku yang suci ini!” teriak Hendrick.
“Ikat tubuhnya dan bawa dia ke dalam tahanan. Biar aku yang menyiksanya sendiri,” menyeringai.
Ketika Zero diikat dan hendak dibawa pergi, semua penghuni di tempat tersebut terlihat merasa bersalah terutama Brown.
Namun … apalah daya, meskipun sudah berlatih seperti yang dikatakan oleh Zero, mereka tetap tidak memiliki keberanian untuk melawan balik, alasannya karena dibalik para bangsawan tersebut masih banyak orang kuat yang bersemayam.
Mereka takut jika mengambil tindakan untuk melawan malah akan membawa petaka bagi seluruh budak serta korban tahanan perang.
“Kenapa kalian bersedih? Tenanglah, lagipula ini tidak akan lama,” seru Zero dengan tersenyum.
Mereka tau bahwa apa yang dikatakan oleh Zero hanyalah kebohongan. Tidak ada yang pernah kembali setelah dibawa oleh para bangsawan tersebut. Tapi, semua hal itu memang sudah direncanakan oleh Zero sebelumnya.
Selama 4 tahun ini, Zero melatih seluruh rekannya agar bisa bertahan hidup dan menjadi lebih kuat setidaknya untuk melindungi diri sendiri jika ada sesuatu yang mengancam.
Hanya saja, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
“Apa kalian pikir manusia seperti kami bisa dipermainkan seenak kalian sialan!” teriak Brown.
"Bagaimana jika kalian ada di posisi kami hah?! Kalian itu hanya manusia! Jadi jangan pernah mengatur hidup kami sesuka kalian!"
Langkah para bangsawan terhenti setelah mendengar hal itu. Hendrick yang saat sedang tidak mood berbalik dan melakukan serangan.
Zero yang menyadari itu berteriak ke arah anggota keluarganya.
Gawat!
“Brown larilah!!!”
“Elemen api … Fire Explosion!”
“Boom!!!”
Ledakan tersebut cukup besar dengan asap yang menyelimuti. Namun, ketika asap tersebut menghilang, Brown sudah tidak ada di sana.
Pandangan mereka kosong selama beberapa saat disertai air mata yang mengalir. Sebuah ikatan yang sudah terbentuk cukup lama kembali terlepas.
"Deg deg ... deg deg." Detak jantung dari Zero lebih keras dari biasanya.
Aura kemarahan menyelimuti tubuh Zero sehingga membuat para bangsawan terlihat tidak tenang saat sedang mengikatnya.
Pemicunya adalah ... kematian salah satu rekan sekaligus keluarga satu-satunya.
“Brown!!!” teriak Zero.
Bersambung .....
*Note
Sementara ini update seminggu sekali sampai waktu yang tidak ditentukan.
Chapter selanjutnya masih nyeritain ini sampe perang besar umat manusia. Kalau mau di skip arc ini silahkan tapi lebih baik di baca sih karena terhubung dengan takdir Dom.
__ADS_1