
Sudah beberapa menit sejak mereka mulai melanjutkan perjalanan. Namun, ada suatu masalah disini ….
“Hey bisakah kita melanjutkannya pada pagi hari? Aku menguantuk syekali huah …,” ujar Richard yang berjalan dengan mata tertutup.
“Benar sekali paman, aku belum istirahat duari tuadi hoaaaam …,” balas Dom yang sama-sama belum tidur sehingga pelafalannya tidak jelas.
Zeed hanya tertunduk sambil memasang wajah kesal dan penuh asap di kepalanya.
Dua orang laknat ini ....
Karena langkah keduanya semakin lambat, Zeed akhirnya menyetujui permintaan mereka untuk istirahat sambil menunggu matahari terbit.
Pada Pagi hari.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan Zeed di posisi depan sebagai pemandu, diikuti oleh Dom serta Richard yang masih menyimpan rasa curiga.
Selama di perjalanan, beberapa kali Monster Rank D hingga Rank B menyerang mereka, baik itu sendiri maupun berkelompok. Namun, bukan hal yang sulit bagi mereka untuk mengatasinya. Tidak jarang juga Dom mengalahkan monster tersebut dengan kemampuan pedangnya.
Selain itu, selama berada di area hutan Pinewood, Dom sama sekali belum menggunakan elemen tanah.
Selagi di jalan.
“Hey bocah, apa kau hanya bisa bertarung menggunakan pedang?” Zeed bertanya.
“Tentu saja aku juga dapat menggunakan elemen sihir, hanya saja …,” Dom terdiam.
Benar juga … sepertinya selama disini, aku sama sekali tidak menggunakan elemen tanah.
“Hanya saja?” Zeed menunggu jawaban.
“Emm bagaimana aku mengatakannya ya …,” jawab Dom yang masih ragu.
Aku memang tidak berniat untuk menyembunyikannya, tapi entah kenapa berat rasanya untuk memberitahukannya kepada orang asing. Terlebih elemenku ini ....
“Jika kau memang tidak ingin memberitahuku, maka tidak masalah,” seru Zeed.
“Sebenarnya aku-” ucapan Dom terhenti.
“Sudahlah orang tua, kau tidak perlu banyak tanya, cepat tunjukan saja kami jalan ke tempat batu itu,” Richard menyela obrolan mereka sambil memberi gestur kepada Dom untuk tidak memikirkan hal yang tadi.
Karena tau maksud gurunya, Dom membalasnya dengan senyuman. Sementara Zeed kembali berjalan sambil melirik Richard.
Bukankah kau juga sudah tua kepala api.
Setelah keluar dari area hutan Pinewood. Perjalanan selanjutnya untuk mencapai puncak adalah tanjakan dengan medan yang miring.
Mulai dari sini rank monster berubah dan menjadi lebih kuat. Monster yang berada di area ini adalah Rank B hingga A. Tidak menutup kemungkinan juga terdapat monster Rank S.
Semakin lama, tingkat kemiringan medan jalan di Gunung Greenfield semakin tidak wajar.
__ADS_1
Apa gunung di dunia ini semuanya memiliki medan seperti ini?? Bahkan berjalan saja seperti sedang merangkak! Tapi rasanya seperti berada di film 5 cm ... ah sial, aku tidak kuat lagi ….
“Paman listrik, apa kita sudah berada di jalan yang benar??” tanya Dom.
“Beberapa jam lagi kita akan sampai ke puncak.”
“Apa?! Bukankah puncaknya sudah dekat?” tanya Dom yang bisa melihat puncaknya.
“Meski sudah terlihat, bukan berarti tempat itu dekat dengan kita,” balas Zeed.
Sepertinya bocah ini baru pertama kali naik gunung.
“Hey pemandu, kau ingin menyiksa kami?? Kenapa jalan ini sangat tidak normal!” seru Richard dengan wajah kelelahan.
“Sudahlah tidak perlu mengeluh,” jawab Zeed.
Ah ... kenapa aku bisa terlibat dengan mereka. Jika aku tidak bertemu dua orang bodoh ini, mungkin saat ini aku sudah berada di serikat.
Semakin tinggi melangkah, jalan yang dilalui oleh mereka semakin curam. Selain itu, muncul angin kencang yang berhembus dengan sangat kuat.
Hal tersebut membuat Dom dan Richard kesulitan dalam mengontrol langkahnya. Apalagi Dom yang masih belum bisa mengontrol elemennya sendiri.
Berbeda dengan dua laknat itu. Zeed memiliki trik sendiri agar bisa menjaga keseimbangan. Ia menggunakan elemen listriknya dan menyalurkannya ke area kaki agar dapat menyesuaikan langkahnya.
“Cepatlah …,” Zeed berjalan di antara mereka berdua dengan santai.
Kenapa dia bisa berjalan dengan begitu santai ….
Berbeda dengan gurunya, Dom menyadari bahwa Zeed menggunakan sihir pada kakinya.
“Wow kau hebat sekali paman, bagaimana caranya?” tanya Dom.
Setelah itu, barulah Richard menyadari bahwa Zeed memasukan sihir ke dalam kakinya, dan kemudian mengikuti cara tersebut.
“Hahaha kau tidak perlu belajar darinya nak, lihatlah gurumu ini,” ujar Richard yang berhasil mengontrol kakinya meskipun terbantu dengan tutorial dari Zeed.
Heh … bukankah pak tua ini tadi ikut menirunya.
Belum sempat untuk istirahat karena miringnya jalan, tiba-tiba monster Rank B muncul di hadapan mereka.
“Hey ayolah jangan disaat seperti ini …,” ujar Dom yang pasrah.
“Groaaa!” teriak Monster.
“Tunggu, bukankah itu?? Cyclone Wolf,” ungkap Richard
Cyclone Wolf adalah monster tipe serigala yang tinggal di dataran tinggi. Meskipun dari spesies serigala, Cylone Wolf tidak berburu secara berkelompok dan lebih suka bergerak secara individu.
“UAA! Dia datang kemari!” teriak Dom.
__ADS_1
Huh ... merepotkan saja.
“Sihir petir … Thunder Clash!” Zeed langsung menyerang monster tersebut menggunakan sihirnya.
Kenapa pengendali petir itu selalu terlihat keren.
“Rasakan ini! Sihir api … Burst Fire!!"
“Wussh!” Karena medan yang penuh dengan angin, membuat sihir mereka tidak terarah dengan benar.
“Sihirku berbelok? Ini tidak baik …,”ujar Zeed.
Mereka kembali mencoba untuk menyerang Cylone Wolf. Hanya saja, karena tekanan angin yang sangat kuat membuat mereka kesulitan untuk mengontrol tubuh dengan sihir serta menyerang secara bersamaan.
Sehingga, monster yang normalnya bisa dikalahkan dengan mudah, membuatnya sulit untuk ditaklukan. Selain itu, area ini merupakan medan dari monster tersebut sehingga membuatnya bisa bergerak bebas.
“Cih meskipun aku sudah menyalurkan sihirku, tetap saja jika ada monster, tetap saja menjadi tidak berguna,” ujar Richard.
“Penggunaan sihir api dan listrik tidak terlalu efektif untuk menjaga keseimbangan tubuh dalam waktu lama. Selain itu, jika ingin bergerak bebas, diperlukan komponen yang sesuai dengan medan di tempat ini,” balas Zeed.
“Aku tidak ingin mendengar arahanmu!” teriak Richard.
Selagi para orang tua bertarung, Dom masih sibuk untuk bisa mengontrol tubuhnya.
Hah … kenapa rasanya susah sekali … mungkin aku hanya beban di atas tanah ini … tanah ya … eh?? Kenapa aku baru sadar akan hal ini!
Dom akhirnya berhasil menemukan solusi di saat yang dibutuhkan.
Pusatkan sihirmu pada kaki kemudian ....
Di pertarungan.
“Hey, arahkan sihirmu dengan benar pak tua …,” ujar Zeed.
“Haa?! Bukankah kau sama saja!” balas Richard sambil berteriak.
“Setidaknya sihirku lebih akurat dari bola api milikmu …,” balas Zeed.
Electro sialan ....
Disaat mereka mulai kehabisan akal, sebuah harapan muncul.
“Hey apa yang kalian ributkan?” tanya Dom sambil menyeringai.
Sejak kapan anak ini ….
“Kenapa dia bisa melakukannya?”
Bersambung ....
__ADS_1