Truth Seeker

Truth Seeker
Chapter 76: Teknik Pedang Kuno


__ADS_3

Di Desa Pyro.


“Hah … hah … hah bisakah kau tidak melatihku sekejam ini?” tanya Dom.


“Bakatmu akan sangat disayangkan jika aku melatihmu dengan lembut. Berdirilah!” seru Octo.


“Aku tidak sanggup lagi. Teknik pedangmu ini terlalu sulit untuk dilakukan.”


“Hah?! Apakah kau ingin menolak apa yang sudah aku ajarkan bocah?!” teriak Octo.


“Ti-tidak, maksudku bukan begitu,” ungkap Dom yang terlihat panik.


“Huh … dengar, bakatmu ini terbilang sangat hebat, bahkan bisa dibilang yang terbaik dari kalangan biasa. Bahkan, kau bisa menguasai semua ilmu yang sudah kuberikan.”


“Apa benar begitu?”


“Tentu saja, untuk itu, aku akan mengajarimu sebuah teknik kuno yang hanya diketahui oleh para leluhur pedang saja. Teknik ini sendiri aku dapatkan dari guruku.”


“Wow! Kalau begitu ayo coba-" ucapannya dipotong.


“Tunggu! Teknik ini tidak bisa dikuasai sembarangan. Karena jika kau tidak memiliki tekad yang kuat, maka tubuhmu akan meledak.”


“Glek,” Dom langsung menelan ludah dan menjadi ragu.


“Tapi … aku ragu teknik ini akan gagal jika digunakan oleh muridku,” ujar Octo sambil tersenyum.


Senyuman itu membuat keraguan Dom menjadi hilang seketika karena gurunya memberikan kepercayaan lebih padanya.


“Untuk itu, kau harus terus berlatih bocah kecil! Jangan manja dan teruslah menjadi kuat!” teriak Octo.


Sial, aku tidak bisa berhenti tersenyum setelah mendengar kata-katanya. Kau memang yang terbaik.


“Terima kasih guru!” teriak Dom.


Mereka berlatih hingga berbulan-bulan untuk dapat menyempurnakan teknik itu. Dom sendiri akhirnya berhasil menyempurnakan tekad pedang miliknya sendiri sehingga dia bisa menggunakan jurus itu.


---------------------------------


Saat ini di kawasan Hutan Terraria bagian dalam.


“Wussshh!” Tekanan angin dirasakan oleh ketiga monster itu.


Sebuah teknik spesial yang akan mengguncang dunia pedang mulai dipraktekan oleh Dom.


“Kenapa tekanan angin ini terasa menyeramkan?” tanya Nana.


Zero hanya memperhatikan dengan wajah datarnya.


“Sudah berakhir! Thunder God’s Slash! Hryaaaaa!”


“Cling!” Sebuah kilatan menyebar di area pertarungan.


“Silau sekali! Groaaa!” teriak Lion


“Wushh!” Angin mulai menghilang perlahan beserta kilatan cahaya barusan.


Loh, apa yang terjadi?


“Grrrr, apa kau berniat untuk main kembang api dengan kami manusia?!” teriak Lion yang terlihat tidak terluka.


Wajah Dom terlihat sangat panik karena teknik miliknya tidak bekerja sama sekali.


Uaaaaaa! Kenapa bisa begini! Apa jangan-jangan waktu itu hanya kebetulan saja?! Ah itu satu-satunya jalan keluar agar aku bisa mengalahkan mereka!


“Ternyata hanya sampah,” seru Zero yang tiba-tiba bereaksi.


“Hohoho kukira bocah itu benar-benar akan melenyapkan kita.”


“Cih, kenapa bisa gagal?!” seru Dom.


Dom berpikir dengan keras untuk mengingat masa lalu, setelah itu baru dia mengingat sesuatu.


Ah … aku lupa, teknik ini tidak sesimple itu, diperlukan waktu serta ruang yang tenang agar bisa digunakan.


Sementara situasi saat ini, Dom sedang dikepung oleh 3 monster kuat.


Uaaa bagaimana aku akan menggunakannya jika seperti ini!


“Kau pikir kami akan membiarkanmu melakukan hal gila lagi!” teriak Lion yang mengganggu teknik dari Dom.


“Ah sial!”


“Srang!” Dom menarik kembali pedangnya dan menahan cakar dari Lion.


Akibatnya, pedangnya menjadi semakin retak karena jenis serangan yang diterimanya melebihi kapasitas yang bisa ditahan oleh senjatanya.


“Hah … aku harus mengulur waktu agar bisa memaksimalkan skill ini!”


“Kenapa diam? Sudah mulai putus asa?” tanya Lion.


Si brengsk ini, aku harus memancingnya terlebih dahulu.*

__ADS_1


“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu monster jelek?” ejek Dom.


“Hah?!”


“Jika aku sudah menyerah, tentunya tubuhku akan gemetar. Tapi, lihat sekarang, aku bahkan terlihat tenang seperti biasa. Kau tau kenapa? Karena kalian lebih lemah dariku!” gertak Dom.


“Sialan! Jangan meremehkanku manusia!” Ejekan Dom membuat Lion terpancing sehingga membuka sebuah celah untuk bisa keluar dari lingkaran musuh.


“Lion jangan!” teriak Nana.


Ah monster ini ….


Haha ini yang kutunggu, akhirnya ada juga yang menangkap umpanku.


“Sekarang!” Dom dengan mudah menghindari serangan Lion dan bergerak cepat untuk lari dari geratan musuh.


Begitu kaki Lion jatuh ke tanah, Dom mencoba menahannya.


“Elemen tanah … Land Trap!” Kaki Lion tertutup oleh sebuah tanah yang sangat keras layaknya besi.


Sihir tersebut membuat Lion tidak bisa menggerakan kakinya, bahkan jika dia berusaha.


Sepertinya itu cukup untuk sementara waktu.


“Terima kasih monster pemarah,” ejek Dom ke arah Lion.


“Grrrr jangan lari pengecut! Lepaskan ini!” teriak Lion.


“Bisa-bisanya kau tertipu oleh seorang manusia rendahan.” Ketika Dom berhasil melewati Lion, Nana sudah menyergap di depannya.


“Kau tau, baru pertama kali aku menemukan manusia unik sepertimu. Tapi sayang, kau akan mati disini.”


“Oh iya? Bagaimana jika sebaliknya?” gertak Dom.


“Itu tidak akan pernah terjadi. Cakar Iblis!” Nana menggerakan tangannya dengan cepat ke arah Dom. Namun ….


“Deg.”


Apa yang terjadi?


“Soil Control!” Langkah Nana berhenti setelah Dom mengaktifkan sihir miliknya.


“Sekarang kau sudah mengerti kan? Nona?” sindir Dom yang kemudian melayangkan pedangnya hingga menebas lengan kirinya.


“Sraaat!”


“Arggghhht!” teriak Nana yang kesakitan.


Lenganku?!


“Seumur hidup, aku belum pernah terluka hingga seperti ini! Awas saja kau manusia, aku akan membalas ini sepuluh kali lipat!” Nana menggunakan seluruh tenaganya untuk memberontak dari sihir Dom.


Argghtt monster ini keras kepala sekali! Kalau begini, bisa-bisa dia benar-benar membunuhku. Ditambah lagi, mungkin sebentar lagi tangannya akan tumbuh kembali.


“Tapi … ini sudah cukup untuk mengulur waktu. Yang tersisa tinggal si pemanah itu …,” ujarnya sambil melirik ke arah Zero.


Begitu Dom melihatnya, dia tidak merasakan ada aura membunuh ataupun rasa ingin balas dendam terhadapnya. Tentunya itu membuat Dom bingung, apakah dia harus menyerangnya atau membiarkannya saja.


Ada apa dengan monster itu?


Karena penasaran, Dom sedikit melihat ke sorot matanya dan hanya melihat Dom dengan tatapan sedih dan bukan kebencian.


Matanya … dia seperti sedang berada di alam yang berbeda. Meskipun mengarah padaku, tapi rasanya dia tidak benar-benar melihatku. Sebenarnya apa yang terjadi?


Rasanya dia tidak memiliki emosi sama sekali … apa tidak apa-apa membiarkannya?


“Ah lupakan, lagipula ini akan menguntungkanku.” Dom bergerak untuk menjauh sesaat.


Setelah menjaga jarak, Dom mulai menancapkan pedangnya kembali setelah sebelumnya tidak mencapai kesempurnaan dalam skillnya.


“Wusshh!” Tekanan angin yang begitu kuat melingkari pedang milik Dom.


Sebelum itu.


Dom mengeluarkan mananya dalam cakupan yang sangat besar sehingga menghabiskan setengah dari kekuatannya.


“Elemen tanah … Absolute Ground Shield!”


“Bush!” Sebuah perisai mutlak dari tanah menutupi seluruh permukaan yang sedang ditempati oleh Dom.


“Hah … hah, tidak kusangka ini benar-benar menghabiskan setengah manaku. Tapi, dengan ini, tidak ada yang bisa menyerangku untuk sementara waktu.”


Baiklah, sekarang saatnya.


“Hyaaaaa!” Dom menutup matanya untuk memfokuskan kekuatannya sehingga kesadarannya sedikit menghilang.


Sementara itu.


“Groaaaa!” Lion memotong kakinya sendiri agar bisa meloloskan diri dari jebakan milik Dom.


Setelah beberapa menit, bagian yang terpotong tumbuh kembali dengan sempurna.

__ADS_1


“Grrrr aku benar-benar akan menyiksanya setelah ini!”


Di sisi lain, lengan milik Nana juga sudah tumbuh seperti semula. Selain itu, karena jarak antara Dom dengannya cukup jauh, membuat efek sihir dari Dom semakin berkurang sehingga membuat Nana bisa lepas dari Soil Control.


“Grrrrr! Aku tidak akan pernah melupakan hal ini! Dimana kau manusia!” teriak Nana yang sudah berubah menjadi Nanang karena sifatnya menjadi kelaki-lakian.


Mengandalkan indera penciuman, mereka dengan mudah menemukan lokasi Dom yang terlihat ditutupi oleh pelindung.


“Disana rupanya!” Nana bergerak dengan cepat diikuti Lion dari belakang.


Zero hanya menatap mereka dan mengikutinya tanpa berniat melakukan tindakan apapun. Meskipun ditunjuk oleh penciptanya sebagai pemimpin dari semua penjaga. Tidak ada yang pernah tau pola pikir dari Zero.


Zero hanya bergerak melalui instingnya sebagai sebuah monster yang bertugas untuk melindungi gua milik tuannya.


Dom ya?


“Cletak … cletak,” langkah kaki dari Zero yang mengikuti rekannya.


Ketika sampai di depan barrier milik Dom, sebuah tekanan yang begitu kuat muncul seperti pertama kali mencoba mengeluarkan Thunder God’s Slash.


“Deg!” Aura dari dalam barrier begitu cerah serta kuat.


Apa yang sebenarnya sedang anak ini lakukan?! Kenapa aku merasa gugup? Ini tidak bisa dibiarkan!


“Terimalah ini! Cakar Iblis!” Karena merasakan bahaya, Lion mengambil inisiatif untuk menyerang Dom selagi dia menutup matanya.


“Hyaaa!”


“Srang!”


Apa ini?


“Kenapa bocah ini bisa membuat sebuah penghalang sekuat ini?!” teriak Lion yang baru menyadari ada sebuah dinding.


Dia benar-benar harus dihabisi sekarang!


Lion kembali melancarkan serangan secara bertubi-tubi, namun penghalang yang dikeluarkan oleh Dom sangat tebal dan begitu keras.


Apa-apaan perisai ini!


“Keluarlah bocah!” teriak Lion sambil meninju-ninju perisai Dom.


“Sepertinya kau ingin bermain petak umpet manusia rendahan. Tapi, bisakah kau menahan serangan ini?” seru Nana.


Nana merupakan monster terkuat setelah Zero, sifatnya yang tenang serta memiliki kepribadian yang unik membuatnya menjadi sosok penting dalam kelompoknya. Namun … ketika sifatnya mulai berubah, disitulah masalah muncul.


Kekuatan serta daya jelajahnya semakin meningkat tanpa adanya efek samping sama sekali.


“Huaaaaa!” Nana mengangkat sebuah pohon beringin yang sudah berumur ratusan tahun hingga ke akarnya. Begitu luar biasa wanita ini.


Lion pun yang merupakan lelaki tulen ikut terkejut karena kekuatan seorang wanita lebih kuat darinya.


Sejak kapan ia memiliki kekuatan layaknya monster sesungguhnya?!


“TEEEERIMA INI!!!” Nana menggerakan pohon raksasa tersebut dari atas ke bawah dengan kecepatan yang begitu tinggi sehingga menimbulkan getaran layaknya meriam.


“Booom!” Sebuah pohon diluncurkan hanya untuk menghancurkan sebuah perisai.


“Urgghtt!” Lion terkena dampak anginnya


Kalau tau begini, aku tidak akan mencari masalah dengannya lagi ….


Serangan tersebut terbilang efektif karena berhasil menghancurkan perisai dan bahkan melukai kepala Dom hingga berdarah. Hanya saja ….


“Hah … hah … rasakanlah kekuatanku manusia rendahan!”


Sebuah kekuatan besar dari alam berkumpul tepat pada satu titik, yaitu Dom.


APA?!


“KENAPA KAU BELUM MATI!” teriak Nana.


“SIALAN! SIALAN! Aku benar-benar marah sekarang!” Nana berpikir bahwa Dom sedang terluka sehingga berinisiatif untuk menyerang kembali.


Lion yang menyadari musuh seperti sedang sekarat mengikuti langkah Nana dengan begitu bodohnya.


“Ting!” Dom mulai membuka mata.


Mata yang semula berwarna hitam berubah menjadi putih layaknya menyatu dengan unsur alam. Bahkan dia tidak merasakan sakit apapun setelah menerima luka di bagian kepalanya karena saat ini Dom sangat fokus untuk mengeluarkan sebuah teknik pedang.


“Ting!” Percikan cahaya perlahan muncul dengan getaran tanah dari berbagai sudut.


“Matilah! Hyaaaa!” Nana dan Lion seperti mendatangi kuburannya sendiri.


“Teknik Pedang Kuno … Thunder God’s Slash!” Dengan mata yang masih putih Dom melepaskan tekniknya tepat ke arah musuhnya.


“TUING!” Tebasan vertikal dengan kilatan cahaya menghujam seluruh area hutan.


“KABOOOM!!!”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2