
"Siapa itu Senja." Ucap Uncle Iko bertanya, saat Senja ingin beranjak pergi ke kamar.
Shit! Kenapa Uncle muncul di saat yang tidak tepat seperti ini. Gumam Senja memijat pelipisnya.
"Eh Uncle udah bangun aja nih, hehehehe..." Ucap Senja tersenyum.
"Honey cepatlah." Ucap Angga setengah berteriak tak tau diri.
Oh shit! Demi langit dan Bumi kau sangat menjengkelkan hari ini detik ini! Diamlah brengsek! Umpat Senja dalam hatinya.
"Senja siapa itu!" Ucap Uncle Iko dengan mode dingin.
****** ini wah kalau Uncle udah mode dingin! siaga satu ini! Gumam Senja dalam hatinya.
"Iko, Senja kalian ngapain di situ! Iko segera turun sarapan! Senja segera bersiap udah di tunggu teman mu di bawah." Ucap Bunda Nur menasehati mereka yang masih dalam saling mode tatap satu sama lain di tengah tangan rumah itu.
"Ah Iya Bunda." Ucap Senja tersenyum.
Tanpa ingin menjawab apapun pertanyaan dari Uncle Iko, Senja bergegas melarikan diri menuju ke dalam kamar miliknya, segera bersiap agar manusia sialan itu bisa keluar dari rumah nya.
"Ayo!" Ucap Senja menghampiri Angga yang tengah terduduk.
"Tentu." Ucap Angga tersenyum.
"Kalian mau kemana? Ayo sarapan dulu." Ucap Bunda Nur saat melihat keduanya yang akan melangkah keluar rumah.
"Ah Bunda kita.... " Ucapan Senja tertahan, saat Angga tak tau dirinya berucap. "Tentu tante, kebetulan saya belum makan." Ucap Angga tersenyum.
Bug.
Injakan kaki keras menghampiri salah satu kaki Angga tampak raut wajah nya meringis kesakitan akibat injakan Senja.
"Senja gak boleh seperti itu! Gak baik! Ayo minta maaf." Ucap Bunda Nur yang tak sengaja melihat perbuatan anaknya.
"Mungkin Senja tak sengaja tante." Ucap Angga.
"Ah iya Bunda, Senja tak sengaja. Tadi Senja kira kecoa yang lewat." Ucap Senja tersenyum campah.
Angga! Demi Tuhan aku mengutuk mu hari ini dengan mulut mu! Gumam Senja dengan sorot mata tajam, membuat alisnya hampir menyatu dengan sempurna.
Di ruang makan tampak hening semua menikmati makan pagi kali itu dengan nyaman nya.
Ah bukan nyaman! Tatapan Uncle Iko kepada Senja seakan menuntut penjelasan siapa gerangan bocah yang ada disebelahnya.
__ADS_1
Glek!
Tatapan Uncle Iko kepada Angga seakan menyelidik, ada rasa tak suka dalam hatinya melihat ada laki-laki yang mendekati keponakan nya itu.
Sedangkan Angga yang mendapat tatapan tajam itu seolah menganggapnya tak ada, ia masih tersenyum menikmati setiap suap makanan yang akan masuk ke mulutnya.
"Kamu siapa!" Tanya Ayah Fandy pada Angga di sela makan pagi yang hampir selesai.
"Angga Om." Ucap Angga tersenyum.
"Teman sekolah Senja?" Tanya Ayah Fandy.
"Bukan Om, saya pacarnya! Senja maksa saya untuk datang kesini. Katanya mau di kenal kan sama Om, Biar bisa akrab." Ucap Angga dengan tersenyum tak tau diri.
Uhuk
Uhuk
Uncle Iko dan Senja bersamaan tersedak makanan setelah mendengar pernyataan yang di keluarkan oleh Angga.
Angga dengan sigap nya memberikan air minum untuk Senja.
"Pelan-pelan." Ucap Angga menepuk pelan leher belakang Senja dengan lembut.
"Ah iya Uncle!" Ucap Angga menekan kan kata Uncle.
Dasar bocah! kenapa harus memperjelas kata Uncle! Apa kau mau menunjukkan kalau aku sudah tua dan berumur! atau bagaimana di hadapan Senja! Gumam Uncle Iko menatap ke arah Angga.
"Benarkah? kau pacar Senja! Ah Bunda kira Senja tak laku karena dia galak." Ucap Bunda Nur tersenyum menggoda.
"Benar Tante, justru putri tante sangat banyak yang menyukai! tapi dia lebih memilih saya." Ucap Angga dengan Bangga.
Bug
Injakan keras langsung menghantam kaki Angga saat kalimat kedua nya yang tak tau diri lolos begitu saja dari mulutnya.
"Ah kalau begitu jangan panggil Tante, panggil Bunda saja sama seperti Senja ya." Ucap Bunda Nur dengan tersenyum.
"Ah baik tan- Bundaaa." Ucap Angga kamu.
Ayah Fandy tak mengomentari apapun interaksi antara kedua orang tersebut. Ia hanya tersenyum tipis.
Senja sudah dewasa bukan? pasti dia bisa membedakan yang baik dan buruk untuk dirinya. Bukan kah kita sebagai orang tua harus memberikan kepercayaan pada anak?
__ADS_1
Jangan melarang apapun selagi mereka tahu batasan nya. Percuma jika kaum muda masa remaja di larang berpacaran justru mereka akan berpacaran diam-diam di belakang kita, bisa saja mereka melakukan hal tak baik diluar sana dengan misalnya pacaran tak jelas di pinggir jalan di tempat gelap dan sepi.
Ah itu akan lebih memalukan jika ada tetangga ya melihatnya. Lebih baik beri kepercayaan selama hubungan itu menjurus pada keseriusan dan bisa memotivasi nya untuk belajar lebih giat.
Berikan pandangan tentang baik dan buruk tentang pacaran, biar anak mampu memikirkan dan mampu memutuskan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Setelah usai makan pagi itu Senja dan Angga bergegas keluar rumah, mereka berhenti di salah satu taman.
"Maksud lo apa an sih bilang kayak gitu ke Ayah gue." Ucap Senja tak terima dengan sorot mata sinis.
"Apa yang gue lakuin? kita kan memang pacaran." Ucap Angga santai.
"Astaga! Senja apa kau terlalu bahagia sehingga ekspresi mu seperti itu! aku sudah duga kau pasti bangga memiliki pacar setampan aku bukan?" Ucap Angga memperhatikan mimik wajah Senja.
"Angga! lo tuh beli dimana sih paket PD segede gajah! Gue heran sama lu." Ucap Senja dengan nyolot.
Tolong! saat ibu Angga mengandungnya apa sih ngidam yang di inginkan! kenapa memiliki anak dengan tingkat tak tertolong lagi. Bisa di balikin ke rahim ga sih lo. Gumam Senja dalam hatinya menatap heran Angga.
"Ye, gue kan emang ganteng keturunan Rizky Aditya." Ucap Angga berbangga diri.
"Iya, tapi lu lebih cocoknya bukan Rizky Aditya. Tapi Rongsokan. Puas." Ucap Senja berjalan lebih dulu.
"Hahahaha... "
πΆπΆπΆ
Happy Reading ya guys.
Jangan lupa like dan komen.
Yang udah Vote makasih ya.
Atuh Senja jangan gitu sama abang Angga! nanti jatuh cinta loh Senja.
Lalu? Uncle Iko gimana nih? π
Ekspresi Uncle Iko yang gak suka sama Angga nih! Siap mau gelut. Udah buka baju! Ayo maju!
Ini Senja yaπ€ Anggap aja bajunya cocok lah buat jalan-jalan Hahahahaa
__ADS_1