
Malam ini begitu cepat bagi Senja untuk berubah menjadi hari esok! Ah rasanya ingin membuat rembulan tetap berada di dalam peraduan nya dan tak berganti dengan mentari pagi.
Uncle Iko benar-benar pergi dari rumah itu, untuk sementara waktu! tinggal di rumah yang telah di sediakan oleh Bunda Nur.
Senja? Ia tetap diam di rumah tak ada hal yang harus dia kerjakan. Semua urusan sekolah sudah selesai, tinggal menunggu bagaimana hasil yang ia dapatkan saat mengikuti ujian masuk ke Universitas Negeri jurusan kedokteran sesuai dengan cita-citanya.
πΆ
Waktu berjalan begitu lama dan kian melambat bagi Senja. Ia hanya bisa bertukar pesan pada kekasihnya, rindunya begitu menggebu ingin bertemu sang kekasih.
Yah? tapi menembus pertahanan ibu negara untuk keluar sangat susah, bahkan jika Senja ingin berpergian, maka harus diantar oleh supir yang di siapkan Bunda Nur kemanapun ia pergi.
"Sayang!" Ucap Ayah Fandy pada istrinya saat keduanya berada di taman untuk bercengkrama.
"Ya? Apa kau masih berjuang agar aku merestui hubungan Senja dan Iko?" Ucap Bunda Nur sinis.
Yeah, memang sudah hampir seminggu Ayah Fandy ingin mengutarakan alasan nya kenapa ia setuju, Namun Bunda Nur masih enggan untuk mendengarnya dan pasti berakhir pergi.
"Dengarkan lah untuk kali ini saja!" Ucap Ayah Fandy dengan tatapan memohon, setidaknya beri Ayah Fandy ruang untuk menuntaskan semua isi hati perkara alasan setuju nya.
Setelah itu, Bunda Nur ingin berpihak padanya atau tidak? Biarkan itu menjadi pilihan pribadinya sendiri.
"Apa?" Tanya Bunda Nur dengan ketus.
"Cinta tak pernah salah dalam memilih tempat kemana dia berlabuh, putri kecilmu sekarang sudah dewasa, ia sudah berumur 18 tahun, ia pasti sudah mempertimbangkan segalanya sebelum berpacaran dengan Iko. Dan memilih nya sebagai kekasihnya bukan?" Ucap Ayah Fandy menjelaskan.
"Tapi! Senja terlalu muda untuk Iko mas." Ucap Bunda Nur dengan kekeh.
"Apa Cinta memiliki kesempatan untuk memilih kepada siapa dia akan melabuhkan hatinya?" Ucap Ayah Fandy bertanya.
"Tidak kan? Restui mereka. Mungkin kebahagiaan putrimu ada pada Iko, Dia laki-laki yang baik bukan?" Ucap Ayah Fandy.
"Akan ku fikirkan! Aku ingin istirahat." Ucap Bunda Nur berlalu pergi.
"Hem, keras kepala." Gumam Ayah Fandy menatap punggung istrinya.
πΆ
"Senja gak turun bi?" Tanya Bunda Nur pada Bibi.
"Tidak bu, Sudah sejak tadi sore nona Senja tidak turun." Ucap Bibi.
Keduanya kini tengah menyiapkan makan malam, memasak dan menghidangkan beberapa menu di atas meja makan.
__ADS_1
Ayah Fandy sudah turun seorang diri, mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan tersebut.
"Senja kemana Bunda?" Tanya Ayah Fandy.
"Senja masih belum turun Ayah, Bunda akan panggil dia sekarang." Ucap Bunda Nur yang telah selesai meletakkan menu makanan terakhir di meja tersebut, dan berlalu pergi memanggil Senja
Tok
Tok
Tok
"Senja... "
Hening.
"Senja.... "
Hening
"Senja..."
Tak ada lagi sahutan untuk kesekian kalinya saat Bunda Nur mengetuk pintu dan memanggil putri kesayangan nya.
Clek!
Dilihatnya Senja yang tidur di atas tempat tidur dengan damainya.
"Senja, bangun dulu! Makan." Ucap Bunda Nur dengan lembut.
Nihil! tak ada sahutan apapun dari Senja, kakinya perlahan melangkah mendekati putri nya, di usapnya dengan lembut pipi senja.
"Astaga Senja." Ucap Bunda Nur saat mengetahui suhu badan putrinya begitu panas.
"Ayah." Teriak Bunda Nur dari lantai atas, tak selang beberapa lama Ayah Fandy sudah berada di dalam kamar tersebut.
"Ada apa Bunda? Kenapa teriak-teriak." Ucap Ayah Fandy bingung dan melayangkan protes pada istrinya.
"Ayah, angkat Senja. Bawa dia ke rumah sakit sekarang. Senja dendam tinggi Ayah." Ucap Bunda Nur merasa panik.
Ditaruhnya tangan Ayah Fandy untuk mengecek suhu badan Senja, ternyata memang benar, Demam Senja begitu tinggi malam ini.
πΆ
__ADS_1
Mobil yang di kendarai Ayah Fandy sudah sampai di rumah sakit tersebut, dan Senja sedang di tangani oleh dokter yang berjaga.
"Bagaimana Dok?" Tanya keduanya secara bersama-sama saat dokter yang memeriksa Senja sudah keluar.
"Keadaan pasien cukup memprihatinkan, saya sudah menyuntikkan cairan untuk menurunkan demamnya, suhu tubuhnya mencapai 39 derajat, Kita tunggu 30 menit, biar kan obatnya bereaksi terlebih dahulu." Ucap Sang dokter.
"Ayah." Ucap Bunda Nur serasa lemas mengingat putrinya.
"Oh ya, siapa disini yang bernama Uncle IKO? Tanya sang dokter pada kedua orang dewasa tersebut.
"Memang kenapa dokter?" Tanya Ayah Fandy.
"Pasien menyebut nama itu terus menerus saat saya periksa tadi." Ucap sang dokter.
"Baik dok, saya akan segera hubungi paman nya kesini." Ucap Ayah Fandy tersenyum.
"Saya permisi dulu." Ucap dokter berlalu pergi.
"Ayah... " Ucap Bunda Nur dengan terbata.
"Bunda, biarkan Iko menemui Senja, putrimu sangat merindukan Iko. Dia begitu mencintainya Bunda." Ucap Ayah Fandy begitu lembut kepada istrinya.
"Baik Ayah!" Ucap Bunda Nur lirih mengangguk lemah.
Derrtt
Derttt
Dertt
π± "Iko dimana?"
π± "Perjalanan pulang ke rumah kak, habis dari toko."
π± "Bisa ke rumah sakit sekarang? Senja sakit."
π± "Baik kak. Aku segera ke sana." Ucap Uncle Iko.
πΆπΆπΆ
Happy Reading ya guys.
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Untuk yang udah Voter terimakasih banyak. β€β€β€
Bener gak sih demam 39 derajat udah tinggi kan?Hehehe gak tau soalnyaπππ