
"Papa... Bawa apa?" Tanya Gara melihat kearah pintu masuk.
"Uncle!" Lirih Senja melihat kearah Uncle Iko, tatapannya memancarkan kerinduan.
"Gara? Papa pulang, Papa bawakan makanan kesukaan mu." Ucap Papa Iko melangkah masuk mendekati putranya dengan kantong kresek yang dia bawa, senyum cerah terus menghiasi wajah dewasanya.
Bola mata Senja, terus mengunci tatapan kagum dan penuh cinta, saat bibir Uncle Iko tersenyum. Secercah memori masa lalu melintas indah dalam benaknya, bagaimana dengan beraninya seorang gadis yang baru saja lulus sekolah menengah akhir mencium Uncle nya sendiri dan selalu tidur memeluk Uncle nya. Gila bukan?
"Eh ada dokter Senja, Maaf ya dokter setahu saya anda bukan dokter yang merawat putra saya? Betul bukan?" Ucap Uncle Iko membuyarkan lamunan Senja.
"Ah ya! Maaf tuan Iko! Saya hanya menemani putra anda." Ucap Senja dengan gugup dan menunduk kebawah.
"Kalau begitu terimakasih banyak dokter Senja, anda adalah dokter yang sangat perhatian dengan semua pasien di rumah sakit ini."
"Papa! Ayolah, Gara yang memanggil tante Senja kemari." Ucap Gara menengahi.
"Untuk apa Gara memanggil dokter Senja? Harusnya jika Gara butuh sesuatu memanggil Dokter Karina saja, kan yang menangani Gara dokter Karina." Ucap Papa Iko menatap putranya.
"Papa. Tapi.... "
"Sudah Gara! Apa yang dikatakan papa mu memang benar! Berhubung saat ini sudah ada papa mu, Tante Senja pamit pulang dulu ya." Ucap Senja sudah berdiri dan berpamitan.
"Pa! Antar kan dokter Senja keluar sana." Ucap Gara.
"Dokter Senja, anda bisa keluar sendiri tanpa saya temani bukan? Saya tak tega meninggalkan putra saya sendiri disini." Ucap Uncle Iko dengan formalnya. Pandangan nya tak sedikit pun mengarah pada Senja.
"Ah ya! Baik tuan Iko. Maaf jika kehadiran saya menganggu! Saya permisi." Ucap Senja cepat, kakinya melangkah pergi keluar dari rumah sakit itu.
Hah
Hah
Hah
"Kenapa begitu sakit rasanya di abaikan oleh Uncle Iko. seakan dadaku sesak mengingat semua kata-katanya yang tidak peduli dengan diriku lagi." Lirih Senja terduduk didalam mobilnya dengan air mata yang tumpah, seakan sudah tak mampu menampung bahkan menyembunyikan kesedihan nya.
🎶
__ADS_1
"Pa?" Panggil gara saat keduanya berada di ruangan rawat inap itu, setelah beberapa menit yang lalu Senja pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ya."
"Ish kau ni pa!"
"Papa mengerti arah pembicaraan mu son! Ada apa?" Ucap Papa Iko dengan datar.
"Kau kenapa mengabaikan tante Senja, bahkan mengantarkan nya pulang ke depan pintu saja kau tak mau! Apa Papa sudah tak menginginkan tante senja lagi?" Ucap Gara penuh selidik.
"Hem." Ucap Papa Iko cuek dengan putranya.
"Papa! Aku tak mau ya wanita lain yang menjadi ibu sambung ku selain tante Senja."
"Ish mau ini! Kau masih kecil Gara! Tak mengerti permasalahan orang dewasa!"
"Begitu eh? Tapi ingat pa! Selain tante Senja aku tak mau ada wanita lain yang menjadi ibuku!" Ucap Gara galak.
"Apa kau baru saja mengancam papamu son? Memang apa yang di berikan tante Senja sehingga kau memihak nya?" Tanya Papa Iko penuh selidik.
"Ntahlah aku suka dengan tante Senja. Dia begitu cantik dan baik hati papa." Ucap Gara tersenyum.
"Jangan coba-coba menjadi saingan papa son! Awas!" Ucap Uncle Iko memperingati lagi.
"Hahahaha.... "
🎶
Tak seperti biasanya, Uncle Iko yang selalu perhatian dengan Senja, kini sudah tak lagi mengirimkan makanan, sudah seminggu lebih dan itu membuat Senja tak bersemangat lagi. Wajahnya selalu murung di rundung gelisah. Ada sebagian dalam dirinya yang kurang akibat hal itu.
"Kau merindukan Uncle Iko!" Tanya Angga yang sudah seminggu ini bolak balik mengantarkan makanan untuk tunangan nya itu, namun yang di dapat hanya sosok Senja yang diam memandang lurus.
"Hah.. " Tanya Senja terbata.
"Apa tak ada tempat kecil di hatimu untukku?" Tanya Angga dengan ekspresi serius.
Diam
__ADS_1
Hening
Hening
"Senja... " Panggil Angga membuyarkan kebisuan Senja.
"Ya." Ucap Senja lirih dan "Maaf." Ucapnya lagi.
"Aku tanya sekali lagi! Dan kau harus menjawab jujur padaku!"
"Ya, aku akan jujur padamu!"
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Angga.
Gelengan kepala lemah Senja layangkan dan ia berucap "Aku menyayangi mu sebagai kakak ku." Ucap Senja begitu lirih.
"Apa kau masih mencintai Uncle Iko?" Tanya Angga memastikan untuk yang terakhir kalinya.
"Ya! Aku masih mencintainya! Maaf." Ucap Senja sedih.
"Baiklah kalau begitu, nanti malam aku akan ke rumah menjelaskan pada Bunda dan Ayah untuk mengakhiri semua ini. Kau berhak bahagia dengan pilihanmu! Sekarang kau perjuangkan cintamu ya." Ucap Angga begitu pelan.
"Hiks.... hiks.... hiks... Maaf aku terlalu jahat padamu!" Ucap Senja tertunduk sedih.
"Hey jangan menangis! kebahagian mu adalah hal yang paling utama untukku!" Ucap Angga memeluk Senja, menenangkan wanita yang di cintai nya. Dan mungkin ini adalah pelukan terakhir yang ia dapatkan dari wanita itu.
"Senja.... " Lirih Uncle Iko yang melihat keduanya tengah berpelukan dengan begitu mesra, Angga yang begitu erat mendekap Senja dalam tubuh nya dan begitu sebaliknya.
Brak!
Pyar!
Kedua manusia yang tengah berpelukan itu langsung melihat ke arah sumber suara akibat ada benda yang terjatuh.
"Uncle!" Lirih Senja dengan pandangan yang tak terbaca.
"Maafkan saya dokter Senja dan Angga saya tak tau jika kalian... Saya permisi." Ucap Uncle Iko sopan dan berlalu pergi! Cukup sakit dan sesak jika ternyata wanita yang di cintai nya memilih Angga daripada dirinya. Terbukti dengan pelukan penuh cinta yang di lihat olehnya.
__ADS_1
🎶
Happy Reading.