
Huhuhu Maafin Author yang telat UP ah.
Mau curhat dikit ya!
Badan udah gak enak, batuk ga sembuh sembuh huhuhuhu, dan beberapa hari yang lalu author ada pesan jaket, tapi sizenya kekecilan banget๐ฉ
Dan mau tak balikin, respon penjual sangat tidak , ya begitulah.
jadi mood buat nulis ga ada, maafin ya.
๐ถ
Entahlah! perempuan memang mahluk yang paling menyusahkan, bukan! rumit! ah bukan itu! Tapi sulit untuk di mengerti bukan? Itu kata sebagain laki-laki terhadap kita.
Seperti Senja yang saat ini tampak gelisah, oh ayolah! Dia yang berucap kepada Uncle Iko untuk tak mengganggu nya lagi, harusnya senja bahagia bukan? karena uncle Iko tak mengganggunya lagi.
Ya! Sudah 3 hari semenjak kejadian dimana secara tak langsung Senja membentak Uncle Iko menyuruhnya untuk pergi, karena dia menurut Senja, Uncle Iko hanya masa lalunya.
"Kau kenapa sayang?" Ucap Angga yang saat ini memandang Senja dengan penuh selidik.
Hening.
Hening.
Hening.
"Sayang! Senja!" Panggil Angga sedikit mengeraskan suaranya.
"Ah ya?" Tanya Senja langsung kaget.
"Kau memikirkan siapa hem?" Tanya Angga lagi.
"Ah bukan siapa-siapa, kau sudah lama disini?" Tanya Senja.
"Aku bahkan sudah 10 menit yang lalu duduk di sana, dan aku terus mengajak mu bicara tapi agaknya ada sesuatu yang kau fikirkan yang membuatmu diam?" Ucap Angga, oh ayolah Senja! Angga sudah berada di ruangan mu sejak tadi, mengetuk dan terus mengajak mu berkomunikasi tapi kau hanya diam saja.
"Ah maaf! Aku hanya tak enak badan." Dalih Senja.
"Apa? Kau sakit apa? Sini aku periksa." Ucap Angga khawatir tangan nya sudah memeriksa bagian dahi Senja dengan tanya.
"Ah tak apa! Aku hanya butuh istirahat saja! mungkin aku lelah."
"Kau yakin sayang?"
"Ya tentu." Ucap Senja tersenyum.
"Ya sudah! Istirahat lah! Aku keluar!" Ucap Angga mencium puncak kepala Senja dan berlalu pergi.
๐ถ
Rumah Sakit 17.00 WIB
Langkahnya begitu gontai, pikiran nya menelisik liar untuk mencari? "Kenapa Uncle Iko tak lagi datang menemuinya? Apa dirinya menyerah?" Monolog Senja dengan perasaan kian campur aduk! Semua hanya berporos pada pikiran negatif kepada Uncle Iko.
Hingga langkahnya terhenti kala salah seorang suster memanggilnya.
"Dokter Senja! ada pesan untuk Anda!"
"Apa Sus?"
"Ada seorang anak yang ingin bertemu dengan dokter! Namanya Gara."
"Gara? Di ruang apa Sus?" Tanya Senja.
__ADS_1
"Ruang VVIP melati nomor 24"
"Baik sus, saya akan ke sana."
๐ถ
Tok
Tok
Tok
"Gara!" Ucap Senja sedikit memasukkan kepalanya masuk kedalam, melihat apa benar pasien yang tengah berbaring itu Gara? Putra Uncle Iko?
"Masuk tante!" Ucap Gara sedikit berteriak.
"Kau kenapa? kenapa bisa seperti ini?" Tanya Senja mendudukkan dirinya di kasur sebelah ranjang rumah sakit itu.
"Biasa tante! Aku kan laki-laki sejati!" Ucap Gara tersenyum sombong.
"Cih! Kau pede sekali Gara!" Dengus Senja.
"Dan tentunya aku tampan tante, melebihi papaku." Ucap Gara menyombongkan diri ya.
"Sudah! Tante bertanya serius padamu Gara! Jangan bercanda."
"Hehehe, Gara terjatuh. Dan Kaki Gara terkilir saja, tenanglah tante! ini akan cepat sembuh kok." Ucap Gara menjelaskan.
"Lain kali, kau harus berhati-hati ya!" Ucap Senja khawatir.
"Oke dokter Senja, pesan anda akan selalu saya ingat." Ucap Gara tersenyum.
Setelah itu, suasana hening kian memenuhi kedua orang tersenyum, otak senja seakan menjadi tolol untuk perkara ini, Gara sakit? Kenapa Uncle Iko kenapa tak menemani putranya? Dan kenapa tak menemui ku juga. Apa ada? Ah! Wanita!!! tidak! Monolog Senja menggelengkan kepalanya.
"Ah tante? Tak apa." Gugup Senja>
"Lalu? Kenapa tante menggelengkan kepala?" Ucap Gara penuh menelisik.
"Tante... itu.."
"Mencari tau papaku bukan?" Ucap Gara menebak.
"Ah itu, bukan." Ucap Senja gugup berusaha menyangkal tebakan dari Gara.
"Tante! kau wanita baik! Dan aku berharap kau bisa menjadi sumber kebahagiaan papaku! Dengan menjadi istrinya."
"Gara! tapi... " Ucap Senja terjeda.
"Aku tau, tante sudah bertunangan dengan dokter Angga, tapi kita tak akan tau takdir ke depan nya bukan?" Tanya Gara.
"Kau terlalu pandai menebak semua nya Gara! Ingat kau masih kecil." Ledek Senja menjulurkan lidahnya.
"Tante! Selama Mama dan Papaku menikah, papa cukup tersiksa dengan pernikahan itu, papa yang selalu ada untukku! Dan mama yang selalu sibuk dengan urusan nya sampai tak pernah memperdulikan kita. Papa adalah sosok yang sangat bertanggung jawab! Dan yang paling aku sayangi."
"Jika tante adalah kebahagiaan Papaku! Aku merestui itu." Ucap Gara panjang lebar.
"Gara! Maafkan tante jika perkataan mu itu hanya akan menjadi angan-angan mu saja! bagaimana pun takdir ke depannya, tante sekarang adalah tunangan dokter Angga! Dan kelak tante Senja akan menikah dengan dokter Angga bukan papa mu!" Ucap Senja menyangkal.
"Apa tante mencintai dokter Angga?"
"Tante mencintainya!" Bohong Senja.
"Kau yakin tante? dan kau tak penasaran? Sekarang papaku ada dimana?" Tanya Gara
__ADS_1
"Ya.. " Ucap Senja tergugup dan terbata.
"Jangan bohongi dirimu tante! Cinta tak kan pernah salah bukan memilih seseorang?"
"Tapi takdir begitu kejam mengajarkan kata lepas dan ikhlas terhadap orang yang kita sayang."
"Lalu? Apa gunanya kata perjuangan dan pengorbanan?"
"Gara, sudah! Jangan bahas ini lagi." Ucap Senja mengakhiri percakapan itu. Jika diteruskan akan cukup merepotkan menjawab anak usia 14 tahun yang bernama Gara, apalagi saat ini bocah satu itu tampak sangat membela papanya dan memperjuangkan kebahagiaan sang Papa.
"Tante sedih bukan? Karena 3 hari ini papaku tak menemui mu? Membawa makanan untuk tante kan?"
"Kau tau darimana? Jika papa mu sering mengirimkan makanan untuk tante?" Tanya Senja.
"Ah ayolah tante! Kau selalu saja menyangkal pembicaraan ku! Bahkan di rumah saat ini aku tempati sudah ada 2 lusin persediaan kotak bekal dengan berbagai warna dan bentuk!" Ucap Gara.
"Hah? Untuk apa? "
"Tante! Kau sama seperti papa! Kenapa kau menjadi bodoh?"
"Kau... mengatai tante bodoh Gara?" Tanya Senja dengan tatapan menajam.
"Ya! Jika berhubungan dengan papa kau tampak seperti orang bodoh tante!" Ucap Gara tersenyum evil.
"Oh begitu, rasakan.... " Ucap Senja dengan penuh semangat, kedua tanyanya mengelitik area tubuh Gara, dan itu membuat Gara menggeliat kegelian.
"Hahaha...."
"Hahahaha... "
"Oke tante! Lepaskan Gara geli! Maafkan gara!" Ucap Gara disisa tenanganya.
"Hahaha, makanya kau tak boleh mengejek orang dewasa! Itu tak baik kau mengerti anak tampan?"
"Ya aku mengerti tante."
"Oke tante maafkan, lalu? kenapa kau sendiri an disini gara?" Tanya senja.
"Secara tak langsung kau ingin menanyakan keberadaan papa ku bukan tante?' Ucap Gara. tersenyum menggoda.
"Ah tak begitu, kan tak baik jika kah disini sendiri an." Ucap Senja.
"Papa harus bekerja tante, dia sudah 2 hari menemaniku! Makanya dia tak keruangan mu membawakan mu bekal."
"Oh begitu!"
"Dan hari ini papa harus terpaksa ke kantor untuk menemui calon investor nya, awalnya papa tak mau dan ingin menjagaku, tapi aku memaksanya dan menyakinkan aku baik-baik saja."
"Ah ya."
"Papa... Bawa apa?" Tanya Gara melihat kearah pintu masuk.
"Uncle!" Lirih Senja melihat kearah Uncle Iko, tatapannya memancarkan kerinduan.
"Gara? Papa pulang....... Papa bawakan
.
.
.
Baksoooooooo seger ih๐๐๐ maaf kalau ada yang typo ya
__ADS_1