Uncle, Love Me Please!!!

Uncle, Love Me Please!!!
BAB 31


__ADS_3

NB: Hari ini author sidang Pra skripsi ya, Do'ain semoga lancar semuanya. Nah author gak janji besok bisa UP atau ga! Kalaupun bisa pasti malem.


Ini aja, udah nyempetin waktu buat nulis.


Harap Maklum ya๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Kembali ke cerita๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


"Uncle." Lirih Senja. Di usap nya dengan lembut kepala Uncle Iko.


"Senja kau sudah sadar!" Ucap Uncle Iko dengan mata berbinar.


"Uncle air." Ucap Senja lirih.


"Ah baiklah. Silahkan di minum." Ucap Uncle Iko membantu Senja untuk meminumnya..


Setelah itu, digenggam nya tangan Senja.


"Ada apa Uncle!" Tanya Senja tak mengerti dengan gerakan tiba-tiba Uncle Iko yang menggenggam tangan nya.


"Jangan sakit seperti ini." Ucap Uncle Iko begitu lirih.


"Maaf Uncle! Ini semua salah Senja." Ucap Senja sedih.


"Jangan menyalahkan dirimu! Ini salah Uncle yang tak bisa menjagamu!"


Hap


Hap


Hap


Di peluknya tubuh Senja dengan begitu lembut. Bahu Uncle Iko bergetar hebat ada gumcangan dalam dirinya.


"Apa Uncle menangis?" Tanya senja begitu lirih.


Hanya suara tangisan tertahan yang senja dapat dengar dari situ, perlahan bahunya basah. "Uncle! Sudahlah! Senja tak apa, jangan menangis dan menyalahkan dirimu." Ucap Senja supaya Uncle Iko memberhentikan tangisan nya.


"Uncle mencintaimu!" Ucap Uncle Iko begitu lirih hingga suara nya samar.


"Apa Uncle?" Tanya Senja lagi.


"Uncle mencintaimu! aku mencintaimu Senja, bukan sebagai keponakan! melainkan wanita dewasa Senja!" Ucap Uncle Iko dengan jelas dan masih memeluk Senja.


Hiks...


Hiks...


Hiks...


Tangis Senja seketika pecah mendengar pengakuan cinta Uncle Iko. ia tak menyangka perjuangan nya akan berubah manis hari ini. Apa tadi? Uncle Iko mencintainya. Cinta sebagai wanita! Bukan keponakan nya lagi. Ah rasanya bahagia, sangat bahagia.


"Kenapa menangis?" Tanya Uncle Iko melepaskan pelukan nya.


"Hey! Apa kau tak suka jika Uncle mencintaimu." Ucap Uncle Iko bertanya. Namun Senja menggelengkan kepalanya.


"Uncle Senja bahagia!" Ucap Senja menyeka air matanya.

__ADS_1


"Uncle Peluk!" Ucap Senja dengan nada manja.


"Dasar manja!" Ucap Uncle Iko menggoda.


"Uncle! Kenapa kau menjengkelkan!" Ucap Senja mengerucut bibirnya.


"Hahaha Baiklah! Sini Uncle peluk." Ucap Uncle Iko.


Keduanya pun tersenyum bahagia, tawa riang menghiasi bibir Senja meskipun ia baru saja sadar pasca operasinya.


Selang pernafasan yang ada di hidungnya pun sudah di ambil oleh dokter yang baru selesai memeriksanya. Dokter mengecek ulang seluruh badan Senja. Semua sudah membaik tinggal masa pemulihan nya saja.


Tak selang berapa lama, Kedua orang tua Senja pun masuk untuk menjenguk putri kesayangan mereka. Bunda Nur langsung menangis saat melihat keadaan Senja, namun Senja berusaha menenangkan nya. Ia menjawab Bahwa Uncle Iko sudah sangat baik merawatnya saat ini.


Bunda Nur juga berterimakasih kepada Uncle Iko yang sudah merawat putrinya, keempat orang tersebut pun makan bersama.


Dengan Bunda Nur yang menyuapi Senja.


Untuk Uncle Iko, dia duduk bersama Ayah Senja setelah berganti pakaian dan membersihkan dirinya di kamar mandi rumah sakit itu.


Pukul 12 siang Bunda Nur kembali ke rumah bersama Sang Ayah, Keduanya akan kembali mengunjungi Senja esok harinya. Dan untuk sementara Uncle Iko akan tetap merawat Senja, semua urusan toko di serahkan pada Ayah Fandy terlebih dahulu.


"Uncle!" Panggil Senja.


"Ya sayang." Jawab Uncle Iko dengan begitu manis.


"Uncle! Jangan menggoda ku seperti itu." Ucap Senja tersipu malu, pipinya merah bakal tomat.


"Ih malu ya" Ucap Uncle Iko menggoda lagi.


"Hahahaha baiklah. Uncle Minta maaf. Ada apa pacar?" Ucap Uncle Iko duduk di kursi sebelah Senja.


"Pacar?" Celetuk Senja.


"Ya! Kita sepasang kekasih bukan? ah seperti anak muda zaman sekarang." Ucap Uncle Iko.


"Hahahaha, Tapi Senja belum menerima Uncle sebagai kekasih Senja." Ucap Senja menggoda.


"Tapi Uncle yakin kau tak akan menolak Uncle!" Ucap Uncle Iko dengan nada sombong nya.


"Hahaha Uncle pede sekali ya ternyata." Ucap Senja.


Cup


Cup


Cup


Uncle Iko mengecup beberapa bagian wajah milik Senja. Dahi, pipi, bibir semua tak lepas dari pandangan Uncle Iko.


"Uncle Stop!" Ucap Senja.


"Bagaimana? apa kita sudah menjadi pacar?" Ucap Uncle Iko.


"Iya sayang," Ucap Senja tersenyum manis.


"Terimakasih." Ucap Uncle Iko mengecup sekilas bibir Senja.

__ADS_1


"Uncle!" Ucap Senja.


"Kenapa?" Tanya Uncle Iko.


"Senja ingin tidur, tapi memeluk Uncle di sini." Ucap Senja dengan telunjuk dan jari saling bertautan.


"Hahahaha, baiklah! Uncle akan menemani mu tidur." Ucap Uncle Iko naik keatas ranjang pasien rumah sakit itu. Untung saja, ranjang tersebut berukuran cukup besar jadi muat untuk keduanya tidur di atas.


Setelah Uncle Iko berada di atas kasur merebahkan dirinya dengan nyaman.


Senja pun melingkarkan satu tangan nya di atas pinggang Uncle Iko dan mendusel di dada bidang milik Uncle Iko. Mencari posisi nyaman yang Senja inginkan.


"Uncle?" Ucap Senja.


"Apalagi sayang?" Jawab Uncle Iko.


"Pinjam tangan boleh?" Ucap Senja dengan tatapan memohon nya.


"Tentu." Ucap Uncle Iko menyerahkan sebelah tangan nya pada Senja tanpa menaruh rasa curiga.


Senja pun dengan mata berbinar segera meraih tangan tersebut mendekatkan pada wajahnya.


Cup! Senja memasukkan ibu jari tangan milik Uncle Iko kedalam mulutnya.


"Senja!" Ucap Uncle Iko dengan nada serak.


"Ya." Ucap Senja mendongakkan kepalanya dengan mulut masih ada ibu jari Uncle Iko didalam nya.


"Apa kau selalu tidur dengan begini?" Ucap Uncle Iko menunjuk jarinya yang saat ini dalam mulut Senja.


"Uncle terganggu dan jijik pada Senja?" Tanya Senja dengan nada sedihnya.


"Ah tidak! Bagi Uncle Kau menggemaskan. Yasudah segera tidur." Ucap Uncle Iko. dan Senja menganggukkan kepalanya.


Beberapa menit, nafas Senja perlahan teratur sudah menyelami alam mimpinya dengan begitu tenang!


Berbeda dengan Uncle Iko, Ia sangat frustasi dengan keadaan nya saat ini.


Dilain sisi, Seorang pemuda tampak begitu sedih dan bahagia, sedih karena cintanya tak terbalaskan, bahagia karena orang yang di cintai nya akhirnya sudah bahagia dengan pilihan hatinya.


Ya! Saat kedua orang tua Senja keluar, Angga sudah berdiri didepan ruang rawat inap Senja ingin menjenguknya, namun di urungkan saat melihat adegan romantis didalam kamar tersebut. Angga lebih memilih tak masuk dan kembali keruang rawat inap miliknya.


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


Happy Reading ya guys.


Gak boleh ya tidur seranjang di tengah siang hari bolong yang bukan muhrim di rumah sakit wkwkwkwk.


Untuk Uncle Iko sabar ya tahan.


Dan part selanjutnya kita beranjak ke posesif an Uncle Iko dan bucin nya Uncle-Uncle nih๐Ÿค—๐Ÿ˜‚


abang Angga sama Author aja ya, gakpapa nerima dengan keikhlasan ini.


Kalian setuju ga? kalau ini jadi Angga๐Ÿ˜‚ temen Senja, umurnya 18 tahun dengan pembawaan santai, mudah bergaul, ramah.


__ADS_1


__ADS_2