Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Apakah Ini Cemburu


__ADS_3

Kiana selalu mendengarkan kata-kata itu keluar dari mulut mamanya ketika ia berkunjung. Namun, ia berusaha untuk tetap sabar dan sabar karena saat ini mamanya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Kiana paham kalau mamanya yang sesungguhnya adalah orang tua yang paling baik dan paling hangat.


Kiana kemudian menatap Reyhan yang berdiri di sampingnya, ia ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Akan tetapi Reyhan tidak bisa menjawab pertanyaan Kiana karena ia juga tidak tahu apa yang membuat Windari bersikap sangat baik kepadanya dan mengabaikan Kiana yang tidak lain adalah anak kandungnya sendiri.


Kring ... Kring ... Kring ...


Suara ponsel Reyhan bergetar, hingga wajah Reyhan terlihat berubah dan berbeda, seolah ada beban berat yang mengganggu pikirannya.


Kiana langsung melepaskan dirinya dari pelukan Reyhan. Kedua insan itu terlihat salah tingkah. Reyhan terlihat dilema ketika menatap Kiana.


My Love, begitulah nama yang tertulis di layar ponsel Reyhan. Namun, Reyhan terlihat mengabaikan panggilan itu.


"Kok nggak diangkat?" tanya Kiana dengan raut wajah penasaran.


"Siapakah yang menelpon Reyhan? Apakah cewek centil itu lagi?" ucap Kiana di dalam hati dengan menahan kekesalannya.


"Kia, aku keluar sebentar ya."


Dengan gerakan sigap dan wajah yang terlihat khawatir, Reyhan bergegas keluar dari ruang inap Windari.


"Mama, Kian ingin bercerita. Mama tahu nggak kenapa Reyhan selalu pergi menjauh ketika menerima telepon dari cewek itu?"


Kiana mengajak mamanya berbicara walaupun mungkin mamanya tidak paham apa yang dibicarakan oleh anaknya saat ini. Ya, setidaknya dengan bercerita sedikit beban yang dirasakan Reyhan sedikit berkurang.


Kiana selalu melakukan hal yang sama setiap berkunjung, ia menceritakan apa saja kepada mamanya tentang semua hal yang dialaminya bahkan sampai beruraikan air mata. Namun, mamanya tidak pernah merespon apapun kecuali diam tanpa menatap Kiana.


S A K I T !


T E R L U K A !


K E C E W A !


Mungkin semua hal itulah yang membuat Windari depresi dan mengalami gangguan mental. Sering kali beliau melukai dan menyakiti diri sendiri ketika mengingat sesuatu.


"Mama, apa yang harus Kiana lakukan sekarang? Kia butuh Mama!"


Kiana berbicara dengan volume lebih tinggi beberapa oktaf dari sebelumnya dengan isak tangis dan air mata yang jatuh membasahi pipinya yang tirus.


Windari membalikkan badannya, beliau bangkit dari pembaringannya kemudian beliau memeluk Kiana tanpa berkata apa-apa. Windari sepertinya turut merasakan kesedihan dan air mata yang dirasakan oleh putri cantiknya.


"Mama, ini pertama kalinya Kia merasakan kembali pelukan Mama setelah 5 tahun."


Dengan isak tangisan Kiana memeluk erat mamanya yang teramat sangat dicintainya itu.


Windari membelai lembut rambut putrinya yang terurai panjang, kemudian menepuk-nepuk lembut punggung gadis cantik itu dengan penuh cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


H A N G A T !


Kiana kembali merasakan kehangatan dan ketenangan dari pelukan itu. Pelukan dan kasih sayang dari seorang ibu yang sangat ia rindukan.


"Kia, ki ...."


Reyhan tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika melihat Kiana dan mamanya sedang berpelukan layaknya seorang ibu dan anak. Untuk sesaat, Reyhan tidak ingin mengganggu kehangatan dua orang insan yang saling merindukan itu, terlihat sangat romantis dan manis sekali.


"Reyhan, kamu datang, Nak?"


Windari langsung melepaskan pelukannya dari Tania dan menyapa Reyhan dengan wajah cerianya.


"Mama," hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Reyhan. Ia tersenyum dan mendekati Windari dan Kiana.


"Nak Reyhan, tolong jaga Kiana!"


Setelah mengatakan hal itu, Windari kembali membaringkan wajahnya di ranjang dan beliau memejamkan matanya. Ya, sepertinya beliau terlalu lelah dan menghabiskan banyak energi ketika melukai dirinya.


"Mama, istirahatlah dan cepatlah sembuh! Kiana harap ketika Kiana datang lagi Mama sudah mau berbicara," ucap Kiana sembari menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


Gadis cantik itu menyelimuti mamanya, kemudian mencium kening mamanya dengan hangat.


Kiana merasa bersyukur, walaupun saat ini mamanya tidak mengenalinya, setidaknya ia masih punya ibu tempat mengadu, berbagi dan berkeluh kesah. Setidaknya, Kiana masih bisa melihat ibunya ketika rasa rindu menggelora di hatinya.


"Baiklah, Rey."


Tanpa pikir panjang, Tania mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan mamanya walaupun dengan perasaan berat hati.


"Mama, Kia pamit, cepat sembuh ya!" ucap Kiana di dalam hati sembari mencium kening mamanya.


"Kia, kita harus cepat sampai di kantor!"


Reyhan berjalan sangat cepat seolah ada hal penting dan mendesak yang akan diurusnya.


Sebagai seorang sekretaris atau lebih tepatnya Upik Abu, Kiana harus bisa mengimbangi Reyhan.


Lelaki tampan itu melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal tanpa berbicara apapun dengan Kiana.


F O K U S !


Hanya itu yang terlihat dari wajah tampan lelaki itu.


"Akhirnya sampai! Kiana, aku duluan, kamu tolong parkir-kan mobilnya!"


Reyhan segera berlari ke luar dari mobil dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Rey, kamu mau kemana? Kenapa buru-buru?" teriak Kiana namun lelaki itu tetap tidak mempedulikannya. Ia tetap berlari meninggalkan Kiana tanpa membalikkan badan sedikitpun.


"Kenapa sih tuh cowok?"


Heran, tentu saja Kiana merasa sikap Reyhan sangat berbeda. Tidak biasanya Reyhan bersikap seperti itu, bahkan untuk urusan pekerjaan Reyhan selalu mendiskusikannya dengan Kiana.


"Apa ada hal yang sangat mendesak ya?" Berkali-kali Reyhan menebak tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Reyhan.


Setelah memarkirkan mobil, Kiana bergegas berjalan menyusul Reyhan dan kembali ke ruang kerjanya. Namun, Kiana merasa aneh dan risih ketika semua mata memandang heran dan hina ketika menatapnya.


"Apa yang terjadi? Adakah yang salah denganku?" batin Kiana.


"Ah, sudahlah!"


Kiana akhirnya  memilih untuk mengabaikan dan terus berjalan kembali ke ruang kerjanya.


Alangkah terkejutnya Kiana ketika ia melihat di pintu ruang kerjanya tulisan yang menurutnya sangat aneh.


KIANA DIPECAT!


"Apa-apaan ini!"


Kiana berang, ia segera mencabut kertas yang terpajang di pintu itu dengan emosi yang memuncak.


"Rey, apa maksud l ...,"


Kiana menghentikan ucapannya ketika melihat Wilona sedang memeluk Reyhan dengan erat.


Hati Kiana mendidih dengan wajah memerah.


"Maaf mengganggu!"


Kiana memalingkan wajahnya, ia kemudian membalikkan badannya, berlari keluar dari ruangan itu.


"Apa-apaan ini, jadi lelaki kurang ajar itu ingin cepat-cepat sampai di kantor karena ingin berpelukan dengan tunangannya," oceh Kiana.


K E S A L !


Kiana merasa tidak suka melihat sikap Reyhan yang sangat tidak sopan di kantor. Ya, walaupun Reyhan adalah pimpinan perusahaan, tetap saja sikapnya tidak profesional.


"Tidak berperikemanusiaan, tidak punya sopan santun!" Kiana terus mengoceh dan menjelek-jelekkan Reyhan.


Bagi Kiana, Reyhan adalah lelaki buaya darat yang munafik, mulutnya berkata kalau ia tidak mencintai Wilona, hubungan mereka hanya sebatas perjodohan keluarga, tapi berpelukan seperti itu bukankah hal yang dilakukan oleh dua insan yang tengah jatuh cinta.


"IH, MUNAFIK!" ucap Tania kesal.

__ADS_1


__ADS_2