
Terdengar isak tangis penuh penyesalan yang keluar dari lisan papa Kiana membuat Kiana luluh lantah. Rasa iba yang selama ini ia sembunyikan akhirnya kembali kepermukaan, air mata yang selama ini Kiana sembunyikan jatuh bercucuran membasahi pipinya, hati yang mengeras karena sebuah kebencian akhirnya mencair seperti es yang mencair di kutup utara.
"Kiana, Papa minta maaf, Papa salah dan melakukan dosa besar kepada kamu dan Mama."
Dengan wajah penyesalan, mata memerah dan air mata yang terus mengalir membasahi pipi, papa Tania menengadah menatap putri kesayangannya dengan sejuta harap kalau putrinya itu akan memaafkannya.
"Kiana, bagaimanapun orang tuamu, tetap merekalah surgamu, Nak."
Ucapa bi Iyem yang tidak lain adalah ibu angkat Kiana kini tergiang-ngiang di telinganya. Kiana dan papanya telah bermusuhan cukup lama dan sampai bertahun-tahun, jadi sudah sewajarnya ayah dan anak itu berbaikan dan melupakan semua kejadian masa lalu yang menyakitkan itu.
"Papa, bangunlah!"
Kiana membantu papanya berdiri dan setelah sekian purnama Kiana akhirnya bisa memanggil nama papanya lagi. Ya, walaupun terlihat canggung, tapi Kiana langsung memeluk papanya, melepaskan semua kerinduan di hatinya dalam pelukan hangat itu.
Kiana dan papanya menangis dengan menumpahkan semua kerinduan yang sama-sama mereka tahan.
Kiana akhirnya luluh lantah dan memaafkan kesalahan yang telah dilakukan oleh papanya karena jauh dari hati terdalam Kiana sangat mencintai dan menyayangi papanya dengan segenap hati.
"Papa, kenapa Papa terlihat kurus dan tua seperti ini?"
Itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari lisan Kiana. Rasa perhatian yang selama ini ia simpan akhirnya ia lepaskan, ia tidak kuasa melihat papanya yang kini terlihat kurus seperti tidak ada yang mengurus. Rambut papa Tania juga memutih dipenuhi dengan uban yang membuat penampilan beliau terlihat tua.
Dulu, mama Kiana adalah orang yang sangat memperhatikan penampilan suaminya. Ia tidak akan membiarkan ada cela di wajah suaminya karena menurutnya penampilan yang menarik adalah nilai plus pertama yang akan dilihat oleh orang lain.
Kiana awalnya mengira hidup papanya akan bahagia dan sangat makmur bersama selingkuhannya, namun ternyata anggapan Kiana salah, papanya terlihat sangat menderita sekali dan sangat jauh sekali dari kata bahagia.
"Nak, Papa sangat bahagia melihatmu."
Papa Kiana mengungkapkan semua yang ia rasakan di hatinya, betapa ia sangat merindukan putrinya dan betapa ia sangat bahagia bisa melihat bahkan memeluk putrinya lagi.
Papa Kiana mengungkapkan ketakutannya karena tidak bisa lagi memeluk putrinya, tapi darah memang lebih kental dari pada air, ikatan batin antara orang tua dan anak tidak akan hilang begitu saja bahkan jika telah membeku selama bertahun-tahun.
"Papa sudah makan?"
__ADS_1
Kiana ingat telah memasak banyak spagetti yang akan diberikannya kepada Reyhan, namun Kiana juga tahu kalau papanya juga sangat menyukai spagetti.
"Tidak penting makan sekarang, yang terenting itu bagaimana Papa bisa melihat wajah anak kesayangan Papa," ungkap papa Kiana yang tidak henti-hentinya menatap wajah putri kesayangannya.
Kiana membawa papanya masuk ke dalam rumah, mempersilahkan papanya duduk di meja makan dan menghidangkan spagetti kesukaan papanya di meja makan.
"Pa, ini adalah masalah Kiana, jadi Papa harus memakannya."
Kiana membanggakan dirinya dihadapan papanya, selain mandiri Kiana sekarang juga bisa melakukan banyak hal sendiri salah satunya memasak.
Seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putrinya, papa Kiana terus menatap ke arah putri kesayangannya itu.
"Papa, ini beneran masakan Kiana kok."
Kiana mengambil garpu, kemudian menyuapi papanya dengan cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus hingga jatuhlah air mata papanya.
"Pa, kenapa Papa menangis? Apakah masakan Kiana tidak enak?"
Kiana tahu kalau masakannya tidak seenak masakan mamanya, tapi Kiana yakin kalau masakannya tidak memiliki citra rasa yang terlalu buruk.
Kiana tidak tahu apakah benar masakannya seenak masakan mamanya, tapi yang Kiana tahu kalau masakan mamanya jauh lebih enak dari pada masakannya. Mungkin kerinduan papa kepada mamanya sangat memuncak sehingga ia merasa kalau masakan putrinya seenak masakan mamanya.
"Assalamualaikum, Sayang."
Ting ..., tong ....
Terdengar oleh Kiana suara Reyhan tengah memanggil-manggil namanya, itu artinya Reyhan datang untuk menjemputnya.
"Papa, tunggu sebentar ada Reyhan diluar."
Kiana bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menghampiri Reyhan dengan rona wajah yang teramat sangat bahagia karena Kiana ingin pamer kepada Reyhan kalau ia dan papanya telah berbaikan.
"Waalaikumsalam, Sayang," ucap Kiana dengan senyum semeringah yang tergambar jelas di wajahnya.
__ADS_1
Kiana langsung menjatuhkan tubuhnya memeluk Reyhan, kemudian langsung menarik tangan Reyhan masuk kedalam rumahnya dengan wajah yang sangat merona.
"Kiana, Sayang, ada apa? Kenapa kita lari-lari? Bukankah kita akan pergi?"
Reyhan merasa heran dengan sikap kekasih hati yang sangat dicintainya itu.
Kemudian Reyhan tercengang melihat papa Kiana tengah duduk di kursi sembari menikmati makanan yang sangat disukainya.
"Om," sapa Reyhan sembari berjalan mendekati papa Kiana.
"Rey, yuk makan!"
Dengan senyum semeringah dan menawan, papa Kiana meminta Reyhan untuk makan bersama dengannya. Sementara Reyhan masih kikuk, ia memili berjalan mendekati papa Kiana untuk menyalami dan mencium punggung tangan lelaki separuh baya itu, sekalian memastikan kalau apa yang ia lihat dan dengar bukanlah ilusi atau mimpi.
"Sayang, kamu makan gih!"
Kiana mempersilahkan Reyhan duduk, kemudian menghidangkan makanan nntuk Reyhan. Ya, Kiana bersyukur karena pagi ini ia memasak sehingga ia memiliki hidangan makanan untuk mereka nikmati bersama.
"Rey, makan yang banyak ya!"
Papa Kiana terlihat benar-benar sangat perhatian dengan calon menantunya itu, memperlakukannya dengan baik seperti anak sendiri.
Reyhan juga terlihat sama, ia memperlakukan papa Kiana dengan baik dan sangat hormat layaknya ayah kandungnya sendiri. Sungguh, Kiana sangat bersyukur untuk nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya.
"Om, Reyhan dan Kiana akan berangkat sekolah, ari ini kami ujian, Om ikut ya sama kita."
Tanpa basa-basi, Reyhan mengajak calon mertuanya untuk ikut dengannya dan tentu saja hal itu membuat Kiana merasa sangat senang dan bahagia karena Kiana sudah lama sekali tidak ke sekolah dengan papanya.
"Tidak usah, Nak, kalian pergi berdua saja Om masih ada kerjaan."
Penolakan papa Kiana tidak dihiraukan oleh Reyhan karena ia sangat ingin sekali mengajak calon meruanya itu jalan-jalan dengan mereka.
"Papa ikut saja, karena kami akan singgah di makam Mama."
__ADS_1
Kiana membujuk papanya dan tidak ada yang bisa menolak keinginan Kiana jika gadis cantik itu meminta ke papanya dengan nada merengek. Apalagi Kiana mengatakan kalau ia akan mengunjungi makan mamanya, tentu saja papanya tidak bisa menolak sama sekali.
"Apa kalian yakin Papa ikut bersama kalian ke sekolah?"