
"Rey, jadi kita mau makan di sini 'kan?" tanya Kiana dengan sorot mata berbinar dan bahagia karena bisa kembali bernostalgia dengan kenangan masa remajanya.
Reyhan tersenyum dan mengangguk sembari mengacak-acak rambut Kiana hingga berantakan.
"Ihh, hobi banget ngerusak rambut orang!" protes Kiana sembari memanyunkan mulutnya beberapa centimeter.
"Ngambek? Nggak jadi makan nih?" goda Reyhan.
"Jadi dong, aku rindu dengan suasana cafe ini, suatu hari nanti kita berdua pasti akan rindu kembali ke masa muda ini, masa di mana hanya tugas sekolah yang menjadi beban pikiran bukan segala macam persoalan hidup," ungkap Kiana yang terdengar dewasa di mata Reyhan.
"Ok, Kia, hari ini kamu boleh memesan semua makanan yang kamu suka. Aku tidak akan melarangnya dan aku akan melayani mu."
Dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, Reyhan tersenyum kepada Kiana, ia berpikiran untuk membahagiakan Kiana, seolah ingin membalas sikap kasar dan semena-menanya kepada Kiana ketika di kantor.
"Terima kasih banyak, Pak bos."
Kiana tersenyum kemudian memeluk Reyhan tanpa disadarinya.
"Kia, aku senang akhirnya kamu bisa kembali tersenyum sebahagia ini."
Reyhan tersenyum bahagia, kemudian kristal-kristal bening jatuh membasahi pipinya. Ia merasa senang bercampur haru karena Kiana bisa tersenyum seindah itu hanya dengan hal-hal sederhana.
"Rey, maaf, maaf!"
Kiana tersadar dan langsung melepaskan pelukannya dari Reyhan. Namun, ia melihat Reyhan menangis.
"Rey, ada yang salah? Kenapa kamu menangis?"
Kiana tidak pernah melihat seorang Reyhan meneteskan air mata, namun kali ini ia secara tidak sengaja melihat air mata itu.
"Rey, jangan menangis, Rey! Aku tidak suka ada air mata yang mengalir membasahi pipimu seperti ini."
Kiana menghapus air mata yang mengalir di pipi Reyhan dengan lembut. Ia adalah gadis yang tidak suka melihat orang tersayang atau orang terdekatnya bersedih atau mengalami masalah.
"Rey, aku sayang banget sama kamu sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang sekretaris kepada atasannya, jadi kamu jangan sedih lagi ya!" ucap Kiana yang berusaha menenangkan hati Reyhan.
"Iya, Kia, siapa juga yang menangis? Aku hanya kelilipan," ujar Reyhan dengan lembut dan suara yang masih terdengar lemah. Lelaki itu tetap tidak mengakui kepada Kiana kalau ia tengah menangis.
"Kia, terima kasih banyak, karena kamu sudah teramat sangat baik kepadaku, menjadi penyemangatku dan selalu mendukungku untuk maju di perusahaan," jelas Reyhan.
Kiana merasa heran dengan sikap Reyhan karena baru kali ini lelaki itu bersikap tulus kepada Kiana.
"Sama-sama, Rey, kamu juga telah banyak membantumu, bahkan disaat tersulit ku," ucap Kiana.
__ADS_1
Memang benar bahwa Tuhan telah mencatat seluruh takdir makhluk, sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Jadi apapun yang terjadi antara Tania dan Reyhan memang sudah menjadi ketetapan dari Tuhan seluruh alam.
"Kia, kita turun yuk!"
Reyhan memarkirkan mobilnya di sebuah cafe sederhana yang sering didatangi oleh anak-anak muda untuk melepaskan penat dan bercengkrama. Cafe yang memang sering mereka kunjungi saat lelah dan bosan menyapa.
Tanpa aba-aba atau berkata apa-apa, Kiana ingin langsung berlari keluar dari mobil menuju cafe itu. Ia lupa kalau kakinya tengah sakit dan terluka.
Reyhan seperti anak kecil yang baru saja memasuki wahana permainan yang sangat ia sukai.
"Kia, sabar! hati-hati!"
Reyhan juga bergegas ke luar dari mobil, untuk membantu Kiana.
"Aku gendong!"
Tanpa meminta persetujuan Kiana, Reyhan segera menggendong wanita cantik itu untuk dibawa ke cafe.
"Turunkan aku!" protes Kiana.
Reyhan tidak mempedulikan omelan Kiana, ia tetap melangkah maju menuju sebuah meja di pojok cafe dengan menyajikan pemandangan kota Jakarta di malam hari. Tempat yang selalu menjadi favorit mereka ketika menghabiskan waktu bersama.
"Rey, kenapa berhenti?"
Tanpa bicara Kiana paham ketika ia menatap ke pojok cafe, tempat yang biasanya sering diduduki, saat ini tengah ditempati oleh dua orang sejoli yang terlihat mesra. Ya, mereka terlihat seperti Kiana dan Reyhan ketika sedang akur.
"Kia, kamu mau duduk di situ 'kan?"
Kiana menggeleng, namun ia masih saja memperhatikan dua sejoli yang terlihat so sweet dan lucu itu.
"Kia, kita duduk di tempat lain saja ya!"
Reyhan membantu Kiana untuk duduk di salah satu meja yang juga tidak kalah indah pemandangannya.
"Rey, apa boleh aku makan banyak hari ini?"
Kiana menatap Reyhan, tatapan yang penuh harap agar Reyhan mengabulkan keinginannya.
"Tentu boleh, Upik Abu Jelek!"
Reyhan mengacak-acak rambut Kiana lagi. Sungguh, kebiasaan yang membuat Kiana kesal kepadanya.
"Iih, kenapa sih, suka sekali mengacak-acak rambut orang!"
__ADS_1
"Jangan marah, Tuan Putri, hari ini saya akan melayani anda," ujar Reyhan sembari berlutut di depan Kiana.
"Serius, aku boleh memesan apa saja?"
Kiana memcoba memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"Tentu boleh, Tuan Putri!"
Reyhan berdiri, kemudian membelai lembut rambut Kiana dan tersenyum manis kepada anak gadis kesayangannya itu.
"Terima kasih, Rey."
Kiana tersenyum dengan mata berbinar. Kiana benar-benar terlihat sangat bahagia dengan pancaran wajah yang teramat sangat merona.
"Baiklah, kalau begitu saya pesan dulu makanannya ya, Tuan Putri."
Reyhan bergegas memesan makanan yang menjadi kesukaan dan favorit Kiana. Tentu saja Kiana sangat tahu dan masih mengingat semuanya. Pizza, spagetti, coktat panas, ice cream, roti bakar coklat keju, berbagai olahan seafood, semuanya dipesan khusus untuk Kiana.
Setelah makanan terhidangkan, Kiana menyantap semua makanan yang ia suka dengan lahap. Kiana benar-benar seperti gadis yang baru saja mencoba semua makanan yang ada di depannya. Kiana seperti anak kecil yang baru saja mencoba berbagai jenis makanan.
"Kia, pelan-pelan makannya!"
"Iya, Rey, aku lapar banget dan semua makanan disini adalah makanan kesukaanku, benar-benar sangat enak."
Kiana masih terus mencicipi semua hidangan makanan yang ada di depannya.
"Karena kamu baik, aku nggak jadi mengundurkan diri, besok aku akan kembali bekerja untukmu, apa boleh?"
Pertayaan Kiana membuat Reyhan tersenyum dan kembali bersemangat, karena semangat yang Kiana tularkan adalah penyemangat Reyhan. Tentu saja hati Reyhan merasa sangat senang sekarang.
"Kia, apa kata Dokter kondisi kamu sudah membaik? Apa kamu boleh sekolah? Apa nggak mau cuti dan istirahat dulu?"
Reyhan menatap Kiana, ia sangat ingin Kiana beristirahat dan cepat pulih sebelum kembali ke sekolah.
"Boleh, Rey, kata Dokter aku boleh sekolah asalkan jangan terlalu capek dan lelah, karena aku tetap harus dalam pengawasan Dokter," jawab Kiana dengan senyum merekah.
"Bagaimana kalau aku jadi supir pribadi kamu selama kamu sakit?"
Reyhan menawarkan diri untuk menjadi supir pribadi Kiana. Entah apalah motifnya, mungkin saja Reyhan ingin membahagiakan hati Kiana saat gadis cantik itu sakit.
Kring ..., Kring ...., Kring ....
Ponsel Kiana berbunyi, dan ia tidak tahu siapakah yang menghubunginya.
__ADS_1
"Siapa, Kia?" tanya Reyhan heran.