
[Makanya tidur gih!]
[Iya, Sayang.]
Reyhan seperti lelaki munafik, ia tidak menyukai Wilona dan mengatakan kalau ia mencintai Kiana. Namun, ia masih berusaha membohongi hatinya, ia juga tengah mempermainkan hati Wilona hanya gara-gara hubungan bisnis orang tuanya.
'Tuhan, aku tahu aku adalah lelaki munafik yang tidak punya pendirian. Lelaki munafik yang tidak bisa memperjuangkan cintanya, aku lelaki munafik yang berpura-pura mencintai Wilona. Namun, aku berdoa kepadamu Tuhan, tolong berilah kesehatan dan kebahagian untuk Kiana, wanita yang sangat kucintai," batin Reyhan.
Reyhan kembali berjalan menyusuri lorong rumah sakit, perasaannya semakin tidak karuan. Ia merindukan Kiana, wanita yang tak bisa diperjuangkan dan dimilikinya itu karena takdir tidak berpihak kepadanya.
Reyhan berdiri tepat di lorong kamar rawat Kiana, perlahan ia melihat ke arah jendela kaca, berharap ada celah gorden yang terbuka agar ia bisa melihat Kiana. Namun, tidak ada celah apapun, ia tidak bisa melihat Kiana sama sekali. Ia perlahan memberanikan diri membuka pintu untuk sekedar memastikan keadaan Kiana dalam keadaan baik-baik saja. Ia melihat Kiana tengah tertidur pulas hingga hatinya merasa sangat lega.
"Tuan Reyhan," bi Iyem tiba-tiba terbangun karena terkejut mendengar suara pintu kamar inap Kiana tertutup kembali. Sekilas, bi Iyem melihat batang punggung Reyhan dan beliau segera keluar untuk menyusul Reyhan, lelaki yang mempertemukannya kembali dengan Kiana.
"Tuan Reyhan, tunggu!" Langkah kaki bi Iyem berjalan cepat menyusul Reyhan yang berjalan di lorong rumah sakit.
"Bibi!" Reyhan terkejut melihat bi Iyem menyusulnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Bisa ngomong sebentar, Tuan?" Pinta bi Iyem.
"Boleh, Bi, bagaimana kalau kita duduk di kursi tunggu di depan kamar Kiana aja, Bi? Agar kita tidak meninggalkan Kiana sendirian, jadi kalau Kiana terbangun kita bisa segera kesana. Bibi tahu 'kan kalau Kiana trauma dengan kesendirian," ujar Reyhan ramah.
"Baik, Tuan."
Bibi tersenyum tipis, namun, terlihat sekali hatinya sedang di rundung pilu. Belum lama ini beliau kehilangan mama Windari, majikan yang sangat dicintainya, sekarang beliau harus menghadapi kenyataan kalau seseorang yang ia anggap putri, saat ini tengah terbaring lemah di rumah sakit dalam keadaan terluka dan kecewa, bukan hanya tubuhnya tapi juga hati dan pikirannya.
__ADS_1
"Tuan, apa boleh Bibi bertanya?"
"Boleh, Bibi mau nanya apa, Bi?"
"Tapi, maaf sebelumnya, tapi pertanyaan Bibi sedikit pribadi."
"Iya, Bi, silahkan!"
"Sebenarnya Tuan Reyhan ini siapanya Nak Kiana? Kenapa sangat peduli dan sayang sekali sam Nak Kiana, bahkan sampai mempertemukan Bibi dan Nak Kiana trus sampai jam segini masih ada di sini, bukankah ini sudah larut malam? Setahu Bibi Tuan Reyhan adalah teman SMA Nak Kiana saja bukan?" ujar bi Iyem penuh rasa penasaran.
"Bi, saya 'kan teman sekaligus sahabat Kiana, Bi," jelas Reyhan yang masih saja tidak mengakui tentang perasaannya yang sesungguhnya.
"Bibi cuma heran saja kenapa wajah Tuan terlihat sangat sedih melihat keadaan Nak Kiana? Seolah-olah Tuan telah melakukan kesalahan dan sekarang ini terlihat sangat menyesal. Apakah Tuan menyimpan perasaan pada Nak Kiana?" Bi Iyem semakin melontarkan pertanyaan yang membuat Reyhan semakin kikuk.
"Maafkan saya, Bi." Reyhan bersujud di kaki bi Iyem.
"Maafkan saya, Bi, saya mengaku salah. Kiana kecelakaan karena saya, Bi." Suara Reyhan terdengar parau dan air matanya jatuh bercucuran di pipinya.
"Maksudnya apa? Tolong jelaskan!" Nada suara bi Iyem sedikit meninggi karena kata-kata yang keluar dari lisan Reyhan.
"Maaf karena saya tidak bisa menjaga Kiana seutuhnya karena saya pengecut," ujar Reyhan dengan nada suara sedih yang membuat bi Iyem semakin tidak mengerti.
"Tuan menyukai Nak Kiana?" tanya bi Iyem memastikan.
Reyhan mengangguk dan menjelaskan kalau ia tidak bisa memperjuangkan cintanya untuk Kiana karena ia akan bertunangan dan suatu hari nanti akan menikah dengan wanita pilihan kedua orang tuanya karena hubungan dan pernikahan mereka adalah pernikahan bisnis.
__ADS_1
"Ya sudahlah, kalau memang itu yang terjadi, artinya Tuan dan Nak Kiana mungkin tidak berjodoh. Semoga Tuan bahagia dengan pilihan Tuan dan semoga Nak Kiana nanti bisa menemukan lelaki yang lebih baik yang menyayanginya dan memperjuangkannya dengan tulus, karena sekarang Nak Kiana harus berjuang dulu untuk sukses agar kelak ia dilamar oleh lelaki baik yang benar-benar pantas untuknya, " jawab bi Iyem dengan wajah kecewa, tapi masih tetap terlihat tegar demi gadis cantik yang sudah seperti putri sendiri.
"Saya juga selalu berdoa untuk kebahagiaan Kiana, Bi. Saya juga berharap Kiana menemukan lelaki yang jauh lebih baik dari pada saya, yang menjaga dan melindungi Kiana dengan segenap jiwanya."
Sesaat Reyhan terdiam dengan raut wajah yang terlihat sangat mengkhawatirkan Kiana.
"Sejujurnya saya sangat ingin sekali Kiana bahagia, karena saya sangat tahu sekali kalau Kiana sangat membutuhkan seseorang yang bisa menjaga dan melindunginya dengan sangat tulus," ujar Reyhan.
"Aamiin..., sekarang Tuan lebih baik pergi dan jangan pernah menampakkan wajah Tuan lagi dihadapan Nak Kiana karena keberadaan Tuan akan sangat melukai hati dan perasaan Nak Kiana."
Bi Iyem bersikap layaknya seorang ibu yang sangat membela anaknya, karena bi Iyem sangat tahu kalau Kiana adalah gadis dengan hati yang teramat sangat rapuh sekali. Namun, bagaimana mungkin Kiana dan Reyhan tidak bertemi, mereka terikat hubungan pekerjaan.
"Beri saya kesempatan sampai Kiana keluar dari rumah sakit, Bi. Saya hanya ingin memastikan Kiana baik-baik saja. Saya mohon, Bi," Reyhan yang notabane-nya adalah seorang anak konglomerat yang memiliki harga diri yang sangat tinggi, kini kembali bersujud di hadapan bi Iyem dengan wajah penyesalan dan penuh harap.
"Baiklah, tapi Tuan hanya boleh melihat Nak Kiana dari kejauahan. Jangan pernah sesekali menampakkan diri dan mendekati Nak Kiana," pinta bi Iyem tegas tanpa menoleh sedikit pun ke arah Reyhan.
"Baik, Bi, terima Kasih banyak, Bi."
Reyhan merasa bersyukur dengan menyalami tangan bi Iyem dan menghormati beliau layaknya orang tua Kiana dengan wajah yang masih berlumuran air mata.
"Sudahlah, sekarang Bibi mau ke dalam, Tuan sebaiknya pergi." Bi Iyem berlalu pergi meninggalkan Reyhan.
"Baik, Bi. Sekali lagi terima kasih banyak, Bi."
Kini, hati Reyhan semakin tercabik. Dengan wajah sedih ia berusaha menghapus air matanya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju musala yang selama ini jarang dikunjunginya. Hati kecilnya berkata ia ingin sekali mengadukan semuanya kepada Sang Pencipta dan ia ingin mendoakan kebahagiaan Kiana, wanita yang ada di hatinya, wanita yang sangat dicintainya ddan wanita yang sangat disayanginya, namun takdir mereka bukanlah sebagai pasangan kekasih, tapi hanya sepasang sahabat dan rekan kerja yang saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain.
__ADS_1
"Apakah aku bisa tanpa Kiana?"
'Apakah aku harus membatalkan pertunanganan dengan Wilona dan memperjuangkan cintaku kepada Kiana?' ucap Rendra dalam hati.