
S A K I T !
Tentu saja perasaan Wilona terasa sangat sakit ketika ditolak secara terang-terangan oleh Reyhan.
"Apa salahnya jika ini kantor? Aap salahnya jika ini sekolah? Bukankah kantor dan sekolah ini milikmu? Atau kamu tidak ingin gadis tidak tahu diri itu melihatmu?" protes Wilona dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, bukan seperti itu. I love you!"
Reyhan memeluk tubuh seksi Wilona, berharap kekasihnya itu tidak lagi marah kepadanya. Sungguh, Reyhan melakukan itu hanya untuk menyenangkan Wilona, agar sang kekasihnya itu tidak mengadu ke mana-mana.
Wilona berontak dengan memukul-mukul lembut punggung Reyhan dengan manjanya, namun Reyhan mengeratkan pelukannya, hingga gadis itu terdiam dan tidak lagi marah kepada Reyhan.
"Sayang ..., aku sangat rindu kepadamu, sudah sebulan kamu tidak mengajakku berkencan, kamu juga sangat jarang sekali menelpon," rengek Wilona dengan nada suara yang sangat manja.
"Maafkan aku, Sayang, aku benar-benar sangat sibuk. Bagaimana mungkin aku tidak merindukan gadis cantik seperti dirimu, aku juga sangat rindu kepadamu. Bahkan, hatiku telah menjadi milikmu seutuhnya, lantas kenapa kamu masih meragukannya?" Berbagai macam kata-kata gombalan keluar dari mulut Reyhan. Kata-kata yang membuat semua wanita pasti serasa diambung ke udara, namun itu hanya kata-kata yang keluar bukan dari hati Reyhan.
"Lantas kenapa kamu tidak pernah datang menemuiku?" tanya Wilona sembari mengangkat wajahnya, berharap Reyhan akan memberikan apa yang menjadi keinginan hatinya.
"Bukankah sudah aku katakan, aku sibuk dan kamu sangat tahu sekali kalau kesibukanku demi masa depan kita," ujar Reyhan tanpa menatap Wilona.
Saat ini mata Reyhan tertuju pada Kiana yang memandangnya dengan tatapan kebencian.
Kiana terlihat memalingkan wajahnya dan merasa sangat jijik ketika Reyhan dan Wilona berpelukan di depan matanya.
"Dasar buaya!" ucap Kiana sembari berlari meninggalkan Reyhan dan Wilona yang saat ini masih berpelukan mesra. Ya, Kiana hanya upik abu yang sama sekali tidak berhak ikut campur dengan urusan Reyhan.
Kiana kemudian berlari sekencang yang ia bisa, ia ingin pergi jauh dan tidak ingin lagi melihat wajah Reyhan dan Wilona, namun lagi-lagi ia tersungkur ke tanah.
"Kiana!" teriak Rendi yang berlari mengejar Kiana.
"Kia, lo nggak apa-apa?" tanya Rendi sembari menatap Kiana dengan wajah penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu tidak menatapku?" tanya Wilona yang merasa tidak suka dengan sikap Reyhan yang sepertinya tidak tulus kepadanya.
Ya, sebagai seorang wanita tentu saja ia akan merasakan ketidaktulusan dari sikap lelaki yang terpaksa bersikap baik kepadanya. Apalagi, perjodohan mereka adalah perjodohan karena bisnis dua keluarga.
"Maaf, Sayang, aku hanya kesakitan!" Reyhan berdalih.
"Iya, Sayang, sebenarnya dari tadi aku sangat ingin menanyakan tentang luka dan memar di wajahmu ini, namun aku terlalu merindukanmu, makanya aku ingin sekali memberikan obat untukmu. Sudah sebulan, Sayang!" ucap Wilona mengutarakan isi hatinya. Ya, Wilona adalah gadis nekat yang sama sekali tidak akan malu menyampaikan apa yang terasa di dadanya.
"Sayang, pipiku masih sakit, tolong mengertilah!" Penolakan halus Reyhan membuat hati Wilona terasa tercabik-cabik.
"Sayang, kamu sebenarnya cinta nggak sih sama aku?" tanya Wilona dengan wajah yang penuh dengan amarah.
"Kiana," ucap Reyhan di dalam hati ketika melihat gadis itu diikuti oleh Rendi di belakangnya tengah menatap Reyhan dan Wilona yang sedang berpelukan.
Reyhan langaung mengeratkan pelukannya dengan mendekatkan pinggang Wilona dengan tubuhnya, kemudian sebuah pesawat mendarat di pelabuhan Wilona dengan lembut. Mata Wilona yang tadinya terbelakak langsung tertutup ketika menikmati sentuhan lembut dari Reyhan yang sudah sebulan tidak dirasakannya. Sementara Reyhan, matanya tetap membelalak menatap Kiana yang wajahnya terlihat masam.
"Dasar buaya!" teriak Kiana kepada Rendi yang membantunya bangkit dan berdiri.
Kiana malah membayangkan lelaki yang saat ini ada di depannya adalah Reyhan, lelaki yang tengah bermesraan dengan kekasihnya tanpa tahu malu.
Kiana memukul-mukul tubuh Rendi yang disangkanya Reyhan.
"Tania, Nia, sadar!"
Suara lantang Rendi membuat Kiana tersadar, kalau lelaki yang saat ini ada di depannya bukan Reyhan tapi Rendi.
Kiana menangis mengingat kembali kemesraan Reyhan yang terus terbayang-bayang di dalam benaknya.
Perlahan air mata Kiana mengalir membasahi pipinya, Kiana akhirnya mencurahkan semua air mata itu sejadi-jadinya.
"Kia, kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri seperti ini? Reyhan sudah punya kekasih dan ia tidak menyukaimu. Sadar, Kia, sadar!" teriak Rendi sembari menggenggam bahu Kiana dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku juga tidak menyukainya, kami hanya sababat!" Hati Kiana berdalih dan mulutnya berbohong.
"Jika kamu tidak menyukainya kenapa kamu cemburu melihat Reyhan bermesraan dengan pacarnya?" bentak Rendi yang berniat menyadarkan Kiana.
Kiana terdiam, ia tidak ingin berbicara atau menjelaskan apapun kepada Rendi, karena semua yang terjadi pada hidupnya adalah urusannya, tidak ada hubungan apapun dengan Rendi.
"Kia, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kamu suka pantai bukan? Kamu harus menenangkan diri!"
Tanpa mendapatkan persetujuan Kiana, Rendi memapah tubuh Kiana menuju parkiran dimana motornya di parkirkan.
"Lepaskan aku, Rendi!" bentak Kiana, ia protes dan tidak terima perlakuan Rendi yang menggendongnya tanpa izin darinya.
"Jangan banyak bergerak, Kia, kita harus ke klinik, sepertinya kakimu terkilir," ujar Rendi.
Kiana terdiam, pasrah, karena ia memang tidak bisa berdiri dan bangkit ketika terjatuh tadi.
"Kia, dari dulu sampai sekarang keras kepalanya tidak pernah berubah ya, kamu juga gengsi mengakui perasaanmu," ucap Rendi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki tampan yang tidak lain adalah mantan kekasih Kiana itu saat ini tengah tersenyum geli melihat tingkah Kiana yang dianggapnya lucu.
"Iih, kenapa kamu ketawa? Kamu tetap nyebelin ya nggak berubah?" balas Kiana dengan memasang wajah cemberut dan mulut yang dimanyunkannya.
"Kia, maafkan aku untuk semua yang telah terjadi."
Rendi menatap wajah Kiana dan mengungkapkan maaf yang sangat serius kepada Kiana dalam berjalannya. Ya, selama ini Rendi tidak pernah diberi kesempatan meminta maaf secara tulus kepada Kiana. Pertemuan mereka selalu dihiasi dengan pertengkaran.
"Ren, sudahlah! Tidak usah mengungkit semua yang telah terjadi di masa lalu. Aku sudah memaafkanmu sejak lama bahkan sebelum kamu meminta maaf. Tapi, aku memang tidak ingin lagi berteman denganmu," ucap Kiana mengungkapkan isi hatinya.
"Kia, apakah sampai saat ini kami masih tidak ingin berteman denganku? Aku bisa menjadi tempatmu bercerita dan berkeluh kesah," ujar Rendi.
Lelaki tampan itu terus menatap Kiana, ia tidak memalingkan wajahnya sedikitpun dari menatap Kiana. Berharap gadis cantik itu mau menerimanya menjadi teman dekatnya kembali.
"Baiklah, Ren, karena kamu sangat baik sekali kepadaku maka aku mau menjadikanmu temanku lagi," ucap Kiana lembut dengan senyuman.
__ADS_1
Kiana tahu, kalau saat ini Rendi telah berubah dan ia juga terlihat sangat tulus membantu Kiana, hingga ia memberikan kesempatan kepada Rendi untuk menjadi sahabatnya kembali.
"Serius kamu mau menjadi temanku lagi, Kia?"