
"Nggak tahu!"
Kiana mengangkat kedua bahunya karena ia tidak tahu panggilan itu dari siapa.
"Angkat, Kia! Mungkin penting," ujar Reyhan.
Dengan segera, Kiana langsung mengangkat panggilan itu.
"Sayang ...!"
Terdengar oleh Kiana suara seseorang yang tidak asing di telinganya, suara yang sangat Kiana rindukan, suara yang sudah lama sekali tidak didengarnya. Hingga butiran-butiran kristal bening mengalir membasahi pipinya.
"Ma-ma!"
Dengan nada suara bergetar, ketika Kiana menjawab panggilan mamanya.
Kiana mendengar mamanya yang mengatakan kalau beliau merindukannya sehingga Kiana merasa ingin segera menemui mamanya.
"Ma, tunggu! Kia akan segera ke sana," ujar Kiana.
"Rey, tolong antarkan aku ke rumah sakit! Aku ingin bertemu Mama."
Walaupun belum menghabiskan makanan mereka, Reyhan paham kalau terjadi sesuatu dengan mama Kiana.
"Rey, ayo!"
Kiana mencoba bangkit dari tempat duduknya, tapi ia hampir saja terjatuh karena kakinya masih sakit dan terluka.
"Aw, sakit!"
Kiana mengaduh karena merasa kesakitan.
"Kia, kamu tidak apa-apa 'kan?"
Reyhan menatap Kiana dan melihat wajah gadis itu penuh dengan air mata. Tanpa bertanya lagi, Reyhna langsung menggendong Kiana dan membawa gadis cantik itu menuju parkiran.
"Rey, kita harus segera bertemu dengan Mama," ujar Kiana dalam isak tangisnya.
"Iya, Kia, sabar!"
Dengan kecepatan tinggi, Reyhan segera membawa Kiana menuju rumah sakit jiwa dimana mama Windari dirawat. Dan dalam beberapa menit mereka sampai di rumah sakit.
__ADS_1
"Rey, tolong bantu aku! Aku ingin segera bertemu Mama!"
Kiana terus merengek dan menangis, rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan mamanya.
Wajah Reyhan juga terlihat panik, ia adalah lelaki yang tidak akan membiarkan Kiana bersedih dan menangis.
Tanpa banyak bicara, Reyhan segera membawa Kiana menuju kamar mama Windari.
"Mama, Kia datang!"
Kiana yang duduk di kursi roda, datang mendekati mama Windari yang saat ini terbaring lemah di tampat tidurnya.
"Kia, kamu sudah datang, Nak?"
Dengan nada suara lemah, mama Windari mencoba bangkit dari pembaringannya. Beliau terlihat lemah dengan wajah yang teramat sangat pucat, tapi ia terlihat seperti mama Windari yang dulu, ia mengenal dan mengingat Kiana, putri kesayangannya.
"Ma, biar Reyhan bantuin!"
Reyhan berlari mengejar mama Windara dan bergegas membantu mama Windari bangun.
"Terima kasih, Nak Reyhan," ujar mama Windari yang terlihat seperti orang tua normal.
Mama Windari membuka kedua tangannya, terlihat sekali kalau beliau ingin memeluk putri kesayangan yang sangat ia rindukan, karena telah berbulan-bulan lamanya ibu dan anak itu tidak berpelukan.
Kiana merasa sangat senang melihat mamanya, dan dengan sisa-sisa tenaganya, ia mencoba bangkit dan berdiri untuk menghampiri mamanya.
'Bismillah, aku harus bisa berdiri!' ucap Kiana di dalam hati.
Dengan kekuarannya, akhirnya Kiana memaksakan diri untuk bisa berdiri dan menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan mama Windara, wanita yang tidak lain adalah belahan jiwanya, wanita yang sangat ia sayangi dan ia rindukan.
"Mama ...!"
"Kiana ...!
Untuk beberapa saat dua insan yang tidak lain adalah ibu dan anak itu saling melepaskan rindu dan mengungkapkan rasa kasih dan sayangnya.
Mama Windari membelai lembut rambut putri kesayangannya, putri yang sudah hampir setahun tidak dibelainya.
Kiana merasa sangat senang karena mamanya kembali sadar dan mengingat dirinya.
“Nak, usia Mama udah tidak muda lagi dan sekarang Mama udah sakit-sakitan,” suara mama Windari terdengar lemah karena tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit.
__ADS_1
“Mama ..., Mama, jangan bicara seperti itu, Icha yakin Mama pasti akan sehat dan berumur panjang.” Kiana menenangkan mama dan berusaha terlihat tegar untuk menyemangati beliau, padahal dari relung hati terdalam hatinya ia menangis dan teriris.
“Mama ingin melihat kamu sukses dan nanti bisa menikah dengan lelaki yang baik, Nak!” Mata sayu mama terlihat sendu ketika menatap mataku. Mata itu seolah mengisyaratkan sebuah kata penuh pengharapan.
“Iya, Ma, Kian pasti akan sukses dan akan menikah serta memberikan cucu untuk Mama. Makanya, Mama harus segera sehat, biar Mama bisa melihat Kia sukses, menikah dan hidup bahagia bersama keluarga Kia kelak,” jawab Kiana dengan senyum merekah, tapi penuh pengharaoan karena aku tidak mau mamanya semakin sedih.
Kiana langsung memeluk mama untuk menutupi air matanya yang hampir saja menetes membasahi pipi bulatnya.
“Mama takut nggak punya banyak waktu lagi, Nak. Mama khawatir tidak bisa melihatmu sukses dan menikah nanti, Nak.” Suara mama terdengar bergetar, sepertinya mama Windari juga menahan air matanya.
“Mama jangan mikir yang aneh-aneh dulu, yang terpenting sekarang Mama itu sehat ya. Kia yakin kok, Mama pasti bisa melihat pernikahan Kia.” Kiana berusaha tetap terlihat tenang agar mama Windari juga tidak merasa semakin terbebani.
"Nak Reyhan, apakah kamu sudah punya calon istri?"
Mama Windari langsung menatap ke arah Reyhan yang sedari tadi hanya diam, menyaksikan kedekatan dan kehangatan ibu dan anak itu. Ya, Kiana kini telah kelas tiga dan sebentar lagi ia lulus SMA, jadi sepertinya sang mama ingin putrinya menikah muda.
“Reyhan sudah punya calon istri, Ma," ujar Kiana dengan nada suara lembut tapi terdengar menegaskan.
Mendengar jawaban Kiana raut wajah mama Windari terlihat sangat sedih, sementara Reyhan hanya diam, tidak tahu apa yang akan dijelaskannya kepada mama Windari.
“Mama, sekarang istirahat ya,” pinta Kiana sembari menyelimuti mama Windari. Ia tidak ingin sang mama terlalu lelah dan capek hingga membahayakan kesehatannya.
"Baiklah, Nak!"
Mama Windari terlihat menurut kepada putrinya, namun ada satu hal yang Kiana takuti, ia takut kalau setelah bangun nanti mama Windari kembali lupa kepadanya.
"Nak, jangan membenci Papa!"
Ucapan yang keluar dadmri mulut mama Windari membuat hati Kiana berdesir. Entah apa maksud mamanya mengatakan hal seperti itu, namun permintaan itu terlihat sangat tulus.
Kiana hanya diam dan memberikan senyum terbaik kepadanya, ia terus membelai lembut tangan mamanya sembari terus memandang wajah mamanya itu dengan seksama.
Untuk beberapa saat, akhirnya mama Windari pun tertidur lelap. Namun, hati Kiana tetap saja merasakan kesedihan dan luka yang teramat sangat. Wanita separoh baya yang sangat Kiana sayangi itu, kini tengah terbaring lemah tak berdaya di kamar rumah sakit jiwa yang dingin ini. Hati Kiana merasa sangat teriris, separuh jiwanya terasa hilang.
Setelah mama Windari terlelap, Kiana dan Reyhan berencana untuk segera menemui dokter untuk menanyakan apakah mama Windari sudah bisa dibawa pulang ke rumah.
“Ma, Kia pulang dulu ya! Nanti Kia akan datang lagi dan membawa Mama pulang," ucap Kiana sembari mencium kening mamanya dengan lembut.
Dengan berat hati aku harus meninggalkan mamanya di rumah sakit ini. Sembari berjalan, air mata yang sedari tadi ia tahan tidak bisa lagi terbendungkan, ia menangis meluapkan semua beban dan sesak yang ada di hatinya. Ingatan Kiana kembali ke masa kecilnya, di mana mama Windari selalu memanjakan dan menuruti semua keinginan Kiana. Namun, kini setelah dewasa Kiana masih saja merepotkan beliau, bahkan satu keinginan mama saja belum bisa ia penuhi. Perlahan otak Kiana mulai berpikir dan terus mencari cara dan cara, entah apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi keinginan beliau.
'Apakah aku harus menikah muda? Siapakah lelaki yang akan menjadi jodohku dan mau menikah denganku? Kemana aku akan mencarinya?' ucap Kiana di dalam hati.
__ADS_1