Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Menikmati Malam Bersama Papa


__ADS_3

Untuk sesaat dua insan yang sedang jatuh cinta itu sedang terhanyut dalam lautan cinta yang menggelora, namun tiba-tiba Kiana mendorong tubuh Reyhan dengan lembut, sebagai isyarat kalau ia tidak ingin melakukan hal-hal yang membuat kesucian cinta mereka menjadi rusak di masa remaja mereka. Apalagi sampai melewati batas sebagai seorang remaja.


"Rey, sebaiknya kamu pulang, sudah malam!" ungkap Kiana lembut dengan sejuta rasa malu yang ia bawa bersamanya saat ini, karena ini kali pertama ia berciuman dengan seseorang.


Andai saja hari ini tidak malam hari, mungkin saja Reyhan akan melihat betapa pipi sang kekasih merah merona. Tapi kali ini Kiana beruntung, langit sedang berpihak kepadanya. Ia bisa bersembunyi di balik gelapnya malam.


"Sayang, terima kasih banyak untuk hari ini, aku pulang dulu ya!"


Seolah kaki Reyhan merasa berat untuk dilangkahkan, ia tidak ingin pulang karena ia tidak ingin berpisah dengan Kiana. Namun, saat ini ia dan Kiana belum resmi menikah, jadi tidak ada pertemuan sampai tengah malam untuk mereka karena mereka berdua belum halal.


"Hati-hati," ungkap Kiana sembari melambaikan tangannya.


Kiana dan Reyhan saling tersenyum dan tersipu malu, mereka berbunga-bunga dengan cinta yang menggelora di dalam dada. Keduanya terlihat bahagia karena cinta yang selama ini terpendam akhirnya menjadi satu dan sebentar lagi akan berlabuh ke pelaminan.


"Sayang, masuklah!"


Reyhan meminta Kiana untuk kembali ke dalam rumah, namun Kiana menolak karena ia tidak ingin kemana-mana sebelum melepaskan kepergian Reyhan.


Kiana sungguh sangat ingin melihat sang kekasih pergi walaupun hanya melihat punggung mobilnya saja. Bahkan ketika mobil itu sudah pergi jauh, tetap saja Kiana masih berdiam diri di tempat itu karena ia masih tidak percaya kalau ia dan Reyhan saat ini telah menjadi sepasang kekasih dan sebentar lagi akan menikah.


"Kia, Sayang, kok masih disini, Nak!"


"Astagfirullahalazim," ucap Kiana kaget sembari mengurut dadanya. Matanya terbelalak dengan jantung yang berdetak luar biasa hebatnya. Kiana sungguh tidak menyangka sang papa datang menghampirinya ke halaman rumah mereka dengan senyum merekah yang terlihat indah di wajah beliau.


Kiana jadi malu dengan wajah yang semakin memerah, ia gugup dan takut jika sang papa melihat adegan mesranya dengan Reyhan. Ya, mau tidak mau suka tidak suka tetap saja Kiana merasa malu muka di hadapan papanya.

__ADS_1


"Papa, sejak kapan Papa disana?" tanya Kiana dengan nada suara lembut.


"Baru saja, Nak, Papa hanya khawatir saja kenapa kamu belum kembali ke rumah makanya Papa susul keluar."


Kiana berjalan mendekati papanya, kemudian ia menggandeng sang papa sembari berjalan untuk memasuki rumah.


Keduanya teringat akan kenangan masa lalu, dimana Kiana sangat sering sekali berjalan bergandengan bersama sang papa. Ya, dulu Kiana suka sekali menunggu papanya pulang dari kantor, karena sang papa selalu membelikan sesuatu untuk sang putri seperti boneka atau hanya sekedar makanan ringan saja.


"Kia, sepertinya rembulan malam ini indah sekali, Nak."


Pandangan Kiana dan sang papa langsung menatap ke arah rembulan malam yang terlihat penuh dan bersinar sangat terang dengan didampingi gugusan bintang-bintang di sampingnya.


"Pa, bagaimana kalau kita duduk di taman sembari menikmati pemandangan malam?"


"Iya, Nak, Papa baru saja akan mengatakan itu."


Ternyata bukan hanya Kiana, tapi sang papa juga merindukan masa lalu mereka yang sangat indah sekali, dimana kenangan itu sekarang tersimpan jelas di relung hati dan pikiran mereka. Ya, walaupun sang mama telah tiada, namun momen terindah dan kebersamaan mereka tidak akan terlupakan untuk selamanya, karena kenangan itu ada di dalam hati mereka.


"Mama, apakah Mama melihat Kia dan Papa?"


Kiana menatap ke arah langit dengan mata berkaca-kaca. Ia merasakan kehadiran mamanya disana dan ia mengatakan kepada mamanya kalau ia merasa sangat bahagia sekali karena hubungannya dengan sang papa menjadi membaik sekarang ini.


"Ma, Papa dan Kiana rindu sama Mama. Mama juga pasti merindukan kita 'kan?"


Papa haris juga menatap ke arah langit dengan mata yang juga berkaca-kaca, seolah saat ini beliau juga berharap wanita yang sangat ia cintai dan sayangi itu juga melihatnya.

__ADS_1


Kerinduan demi kerinduan yang memuncak itu tersimpan di dada, bahkan kenangan itu terukir indah dalam memori yang membuat mereka merasa kalau sang mama saat ini sebenarnya ada di tempat itu bersama mereka.


"Pa, terima kasih karena Papa telah kembali kedalam kehidupan Kiana dan Kiana merasa teramat sangat senang sekali," ucap Kiana sembari menjatuhkan tubuhnya memeluk sang papa.


"Harusnya Papa yang berterima kasih karena anak kesayangan Papa telah memaafkan Papa dan kembali ke rumah ini."


Papa Haris mengatakan kalau ia merasa sangat kesepian sekali di rumah yang sangat besar dan luas ini sejak tidak ada Kiana dan mamanya di rumah ini. Jiwanya terasa kosong dan hampa hidup sendirian dengan rasa bersalah yang tertanam di dada.


Ternyata masalah hidup dan sebuah penghianatan besar memberikan banyak pelajaran hidup untuk Kiana dan papanya, dimana keduanya lebih bersyukur karena dulu menjadi keluarga yang bahagia yang memiliki banyak cinta dan kenangan indah didalam hidup sehingga ketika masalah datang menghampiri maka cinta yang tulus akan menang melawan cinta yang bersifat nafsu sesaat saja.


"Nak, nanti kalau kamu dan Reyhan menikah maka kamu lahirkanlah banyak anak karena ketika Papa pensiun dari pekerjaan Papa sangat ingin sekali bermain dengan cucu-cucu Papa," jelas sang papa dengan penuh pengharapan.


Ya, impian Papa sama dengan impian mama. Keduanya mengiginkan banyak cucu yang terlahir dari rahim Kiana, karena beliau ingin menikmai waktu tuanya dengan bermain bersama cucu-cucu.


Ya, bagi sang papa yang memang terlahir dari keluarga berada, papa Haris telah menghabiskan banyak waktu di kantor dan untuk bekerja, jadi di masa tuanya beliau ingin berbahagia dan bersantai dengan anak cucunya kelak.


"Papa doakan kelancaran hubungan Kiana dan Reyhan ya, Pa."


Kiana memeluk papanya, ia melepaskan tahun-tahun terakhir yang telah lewat untuk melepaskan kerinduannya kepada sang papa.


"Kia, anak gadis kesayangan Papa ternyata sudah dewasa."


Sungguh papa Haris merasa sangat beryukur sekali karena beliau memiliki anak seperti Kiana, yang tidak hanya cantik wajahnya tapi juga cantik hatinya, dan siapapun yang mendapatkan Kiana menjadi istrinya akan menjadi lelaki yang sangat beruntung.


"Nak, apakah kamu ingin Papa tunjukkan sebuah rahasia?? ungkap papa Haris dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2