
"Kak Sya, dia adalah lelaki yang sangat baik dan sangat aku cintai. Lelaki yang ada dalam setap suka dan dukaku, lelaki yang mencintaiku dengan sangat tulus dan ia tidak pernah meninggalkanku bahkan dalam situasi apapun. Walaupun terkadang caranya mencintai sangat berbeda dengan orang lain, tapi aku yakin kalau ia adalah lelaki yang sangat baik yang pantas untuk mendampingi ku kelak."
Kiaan menjelaskan kepada dokter Rasya kalau ia sangat mencintai dan menyayangi Reyhan dengan segenap hatinya, bahkan rasa itu telah ada sejak lama dan sama sekali tidak pernah hilang bahkan semakin hari rasa itu semakin bertambah.
"Kia, jika dia memang lelaki yang sangat baik maka aku akan mendukungmu untuk bersatu dengannya, tapi kenapa kamu bersikap cuek kepadanya?"
Dokter Rasya penasaran dengan sikap Kiana yang cuek seolah tidak mencintai Reyhan sama sekali.
"Aku hanya tidak ingin menunjukkan kepadanya betapa aku sangat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati dan perasaan yang kumiliki."
"Kenapa, Kia?"
"Karena aku tidak ingin terlalu sakit dan kecewa jika seandainya suatu hari nanti cintanya untukku berubah maka aku tidak perlu lagi menampakkan betapa tersiksanya aku kehilangan dirinya."
Kiana memang mengalami trauma yang sangat berat karena hubungan kedua orang tuanya harus kandas karena sebuah penghianatan, bahkan Kiana juga pernah ditinggalkan oleh lelaki yang sangat ia cintai dan sayangi dengan segenap hati dan perasaan yang dimilikinya, sehingga ada rasa trauma di hatinya, takut semua hal yang pernah terjadi itu terulang kembali.
"Kia, maaf ya, maaf karena aku membuatmu merasa sedih."
Dokter Rasya menggengga tangan Kiana sembari menatap iba kepada gadis yang ada di depannya itu.
Sebagai sahabat sekaligus kakak, atau lebih tepatnya sahabat baik dan cinta pertama, tetap saja dokter Rasya memiliki tempat tersendiri di hati Kiana yang tidak mungkin bisa ia lupakan. Ya, dokter Rasya dan Kiana pernah saling jatuh cinta ketika Kiana baru saja menjadi gadis SMA dan saat itu dokter Rasya berstatus mahasiswa yang sedang koas.
"Lepaskan!"
Reyhan berteriak dengan mata memerah dan membelalak. Wajahnya terlihat sangat marah dan penuh dengan emosi yang terlihat memuncak.
Dokter Rasya yang menggenggam tangan Kiana langsung melepaskannya, karena ia mungkin paham kalau saat ini yang ditunjukan oleh Reyhan adalah kecemburuannya untuk wanita yang sagat ia cintai dan sayangi dengan segenap hatinya.
"Dokter, Kiana adalah calon istri saya dan saya tidak menyukai ada lelaki manapun yang menyentuh tangan kekasih yang sangat saya cintai ini," ungkap Reyhan dengan nada suara tunggi.
__ADS_1
"Reyhan, apa-apaan sih!"
Kiana merasa malu karena sikap Reyhan yang tidak sopan kepada dokter Rasya, apalagi ini adalah rumah sakit. Ya, walaupun Kiana sangat tahu kalau semua yang dilakukan oleh Reyhan adalah sebuah kecemburuan karena ia terlalu mencintai dan menyayangi Kiana.
"Aku hanya tidak suka ada orang lain yang menyentuhmu!"
"Tapi Rasya adalah sahabatku," bantah Kiana.
"Aku calon suamimu dan aku akan menjadi ayah dari anak-anakmu kelak," ungkap Reyhan dengan nada suara lantang, keras dan penuh dengan sejuta keyakinan.
Kiana menatap Reyhan dengan seksama, ada rasa haru dan salut dari diri Kiana, karena lelaki yang sangat ia cintai itu juga menyimpan sejuta cinta yang sangat dalam untuknya.
Kiana mulai berkaca-kaca karena selama ini ia selalu meragukan cinta Reyhan untuknya. Kiana selalu berpikir kalau Reyhan tidak akan mepertahankan ia sebagai calon istrinya, apalagi sekarang ia bukanlah Kiana yang bergelimang harta seperti dulu.
"Sayang, maaf!"
"Sayang, kamu menangis?"
Reyhan mencium puncak kepala Kiana dan mengungkapkan betapa ia bersedih jika wanita yang sangat dicintainya itu menangis.
Mereka berdua saling mengungkapkan cinta dan kasih sayang masing-masing tanpa peduli kalau saat ini banyak orang yang memandang ke arah mereka termasuk dokter Rasya. Mereka menjadikan dunia seperti milik mereka sendiri karena rasa di hati yang selama ini di tahan akhirnya bisa terlepaskan juga.
"Kiana, aku akan menebus obat untuk kamu!"
Dokter Rasya melangkah pergi meninggalkan Kiana dan Reyhan, membiarkan dua orang yang baru menyadari perasaannya itu untuk mengungkapkan rasa yang terpendam sebelumnya itu.
"Sayang, jangan menangis!"
Reyhan menatap wajah Kiana, menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya itu, karena Reyhan sangat tidak ingin setetespun air mata jatuh membasahi pipi wanita yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
"Sayang, aku akan menikah denganmu dan akan berjuang mendapatkan restu dari kedua orang tuamu," hanya kata-kata itu yang Kiana ucapkan dalam isak tangisnya. Ia tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan ia tidak peduli lagi jika ia harus mengadapi kekerasan dan kekasaran Wilona.
"Benarkah apa yang kamu katakan, Sayang?"
Reyhan tidak menyangka bisa mendengarkan hal seperti itu dari mulut Kiana. Ia merasa satu persatu jalannya menuju pernikahan dengan Kiana semakin dipermudah, mulai dari restu papa Kiana hingga keinginan Kiana untuk berjuang bersamanya dalam mengarungi biduk dan bahtera rumah tangga mereka kelak.
"Aku serius," balas Kiana dengan senyum yang sangat menawan.
"Kalau begitu kamu jangan lagi dekat-dekat dengan lelaki lain ya termasuk Rendi dan Dokter Rasya itu, karena aku tidak suka dan aku sangat cemburu."
Reyhan akhirnya mengungkapkan rasa cemburu yang tersimpan di hatinya ketika Kiana didekati oleh lelaki lain.
"Sayang, kamu terlihat tampan ketika sedang cemburu."
Kiana tersenyum tipis dan sangat manis, kemudian ia mencubit pipi Reyhan yang membuatnya gemes. Setelah itu Kiana berlari menjauhi Reyhan berharap lelaki yang sangat ia cintai itu bisa mengejarnya, namun tiba-tiba tubuh Kiana menabrak seseorang.
"Ma-maaf!" ungkap Kiana sembari mengaitkan kedua tangannya memohon maaf kepada seseorang yang ia tabrak.
"Kiana, kenapa lari-larian?"
Kiana langsung mengangkat wajahnya dan menatap lelaki yang saat ini ada di depannya adalah lelaki yang sangat ia kenal, ialah Rendi.
"Rendi, maaf, aku tidak sengaja," balas Kiana dengan senyum manis dan terlihat malu.
"Kiana, kamu kenapa lari-larian? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi pada Ibu?" tanya Rendi dengan wajah yang menyimpan kekhawatiran untuk wanita yang sangat dicintainya itu.
"Rendi, mulai sekarang lo nggak usah sok baik dan sok perhatian lagi sama Tania karena aku dan Tania akan menikah," ucap Reyhan menghampiri Kiana dan Rendi.
"Menikah? Apakah benar kamu akan menikah dengan Reyhan, Kia?"
__ADS_1