
"Kia ingin kita semua hidup bahagia selamanya, saling mencintai dan menyayangi dengan segenap hati, tidak membenci dan selalu menyelesaikan semua masalah yang terjadi dengan kepala dingin."
Kiana pernah mengalami rasa sakit yang teramat sangat yang membuat ia merasa sangat trauma sekali. Namun, seiring berjalannya waktu, Kiana mulai sembuh dan Reyhan adalah malaikat yang menyembuhkan semua luka yang ada di dalam hatinya.
"Sayang, Papa berjanji tidak akan lagi mengecewakan kamu, Nak."
Papa Haris memeluk Kiana, mencium puncak kepala sang putri dan mengungkapkan janji seorang ayah kepada putri kesayangannya.
Papa Haris memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, tapi ia sangat ingin memperbaiki semua keadaan dan memulai hari baru yang lebih baik dan berjanji tidak akan lagi mengecewakan dan melukai putri kesayangannya.
"Pa, terima kasih banyak karena Papa telah kembali menjadi Papa yang dulu. Papa yang mencintai dan menyayangi Kiana dengan tulus bahkan rela berkorban melakukan apa saja demi kebahagiaan Kiana."
Kiana menitikkan air mata, ia merasa sangat senang sekali karena papanya telah kembali seperti keyakinan mamanya kalau sang papa adalah lelaki yang sangat baik, dan ketika beliau melakukan kesalahaan itu hanya khilaf dan suatu hari nanti sang papa akan kembali baik.
"Sayang, harusnya Papa yang berterima kasih karena memiliki anak sebaik dengan hati sebaik malaikat seperti kamu," ungkap papa Haris dengan mata yang juga berkaca-kaca.
"Pa, apa Kiana boleh meminta sesuatu lagi?"
"Apa, Nak, jika Papa sanggup maka akan Papa kabulkan."
Seorang ayah yang sangat mencintai dan menyayangi putrinya terlebih lagi beliau pernah melakukan kesalahan, tentu saja beliau rela melakukan apapun untuk putrinya termasuk mengabulkan apapun yang menjadi keinginan putri kesayangannya itu.
"Hiduplah yang lama dan berbahagialah dengan anak dan cucu Papa kelak."
Harapan seorang anak yang membuat orang tua merasa sangat bangga dan bersyukur memilikinya, bahkan rasanya beliau sudah tidak lagi menginginkan apapun di dunia ini.
"Oh iya, Pa, masalah baju kita, Kiana punya ide cemerlang nih."
"Apa, Nak?"
"Kiana ingin warna kaos yang kita beli adalah merah muda," ujar Kiana bersemangat.
__ADS_1
"Merah muda? Apa tidak salah, Kia?" protes Reyhan dan sang papa serentak dengan nada suara tinggi.
Keduanya saling pandang dengan mata membelalak, membayangkan betapa keduanya sangat tidak setuju dengan warna pakaian yang Kiana inginkan. Ya, tentu saja memakai baju dengan warna merah muda sangat tidak disukai oleh makhluk yang bernama laki-laki
"Katanya ingin menuruti semua keinginan Kiana, mau dong!" tantang Kiana.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Reyhan dan sang papa harus menuruti keinginan Kiana karena apapun yang diinginkan oleh Kiana adalah yang terpenting sekarang.
"Papa, Reyhan, ayo!"
Kiana menggandeng tangan sang papa dan Reyhan menuju sebuah toko pakaian bermerek yang sering didatangi oleh Kiana dan mamanya.
Kiana berputar-putar dan memilih sesuai keingian hatinya, hingga pilihannya tertuju pada satu pakaian yang disukainya.
"Papa, Reyhan, Kia sudah menemukannya, sekarang pakailah!"
Kiana memberikan pakan itu kepada Reyhan dan juga papanya untuk dipakai sekarang juga sesuai keinginannya.
Kiana, Reyhan dan sang papa memakai baju kaos keluarga berwarna merah muda seperti keinginan Kiana. Kata Kiana mamanya juga sangat menyukai warna merah muda jadi kalau ingin membuat mamanya bahagia dari atas sana maka berikanlah hal terbaik yang mama suka dan Kiana juga menyukainya.
"Papa, Reyhan, sini!"
Kiana langsung memotret dua orang yang sangat dicintainya itu beberapa kali.
"Kiana, suka sekali mengambil foto tanpa izin," protes sang papa sembari menutup wajahnya.
Ya, memakai baju berwarna merah muda benar-benar membuat sang papa malu, tapi demi anak kesayangan apapun akan dilakukan.
"Papa, kapan lagi kita memakai baju ini bertiga."
Kiana merengek dan mengungkapkan keinginan hatinya dan pada akhirnya sang papa berjalan dengan percaya diri dengan memakai baju berwarna merah muda itu.
__ADS_1
"Pa, kita makan dulu ya, setelah itu kita foto bersama."
"Baik, Nak."
Kiana, Reyhan dan sang papa akhirnya sampai di sebuah restoran yang menjual makanan Jepang. Namun ada yang unik karena semua orang menatap ke arah meraka karena pakaian yang mereka kenakan, tapi mereka tidak peduli, mereka tetap percaya diri dengan apa yang mereka kenakan.
"Pa, kita duduk di lantai atas menghadap keluar ya, Pa."
Kiana menginginkan tempat yang sering ia duduki bersama mama dan papanya karena dulu mereka sering duduk disana. Bahkan ketika ada orang yang menduduki tempat itu, Reyhan rela menyewa satu restoran dan membayar mahal restoran itu agar keinginan Kiana terkabulkan.
Kiana merasa sangat senang dan bahagia sekali karena apa yang diinginkannya bisa dipenuhi oleh sang papa dan juga sang kekasih, sehingga ia bisa bernostalgia dan mengenang sang mama sepuas hatinya.
"Kia, kamu ingin memesan apa?" tanya Reyhan.
"Aku ingin memesan ramen, masakan yang sering dipesan oleh mama ketika kesini, selebihnya apapun yang ingin papa dan kamu inginkan aku akan memakannya," ujar Kiana.
Semua makanan akhirnya tersajikan di meja makan, dan Kiana dipersilahkan untuk menyicipi semua masakan Jepang yang terkenal dengan daging berkualitas dan ramen yang sangat enak.
Kiana memakan semua makanan yang disukai oleh mamanya sembari mengabadikan setiap detik itu dalam sebuah foto dan update story di media sosial.
Kiana, gadis yang selama beberapa tahun terakhir ini sibuk bekerja dan mengabdikan dirinya kepada Reyhan, akhirnya bisa kembali menikmati kemawahan seperti yang dulu ia rasakan bersama kedua orang tuanya.
Namun, ada yang kurang yang Kiana rasakan, kebahagiaannya saat ini terasa sepi dan tidak lengkap karena tidak ada mama dan ibu yang sangat dicintai dan disayanginya dengan segenap hati dan perasaannya.
"Kia, kok ramennya sedari tadi cuma diaduk-aduk saja? Kamu tidak suka, Nak? Atau ramennya tidak enak?" tanya sang papa karena merasa khawatir anaknya tidak memakan ramennya.
"Kia, Kia, kok diam, Nak?"
Papa Haris akhinya menyadarkan Kiana kalau ia terlena karena memikirkan mama dan ibunya.
"Maaf, Pa, Kia hanya kembali teringat dengan Mama dan Ibu," jelas Kiana dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Tania sangat ingin sekali dipeluk oleh seorang ibu sekarang, baik itu mama kandungnya atau ibu angkatnya, namun tidak ada seorang ibupun disini dan itu membuat Kiana merasa hampa dan kesepian.
"Nak, ada Papa disini, ada Reyhan juga. Bukanka setelah foto keluarga kita akan pergi menjemput Bi Iyem ke kampungnya?" ungkap sang papa menghibur putri kesayangannya.