
Entah apa yang merasuki Reyhan, lelaki itu terus saja mengungkapkan kecemburuan dan rasa tidak sukanya kepada para lelaki yang mendekati Kiana, bahkan ia mengungkapkan perasaan hatinya kepada Kiana seolah mereka telah dewasa.
Ya, seorang Reyhan, ia adalah seorang CEO dengan sejuta rasa percaya diri dan gengsi yang dimilikinya, mengungkapkan perasaannya kepada Kiana, sekretaris pribadi yang selama ini selalu ia perlakukan dengan seenak hatinya, seperti Upik Abu yang selalu dipekerjakannya layaknya babu.
Memenga, cinta itu tidak pandang bulu, perasaan kasihan bisa saja berubah menjadi rasa sayang, rasa benci juga dengan mudahnya berubah menjadi rasa cinta mendalam.
"Pak Bos, saat ini adalah jam dinas dan saya disini bekerja sebagai sekretaris Bapak, jadi Bapak tolong jauhkan perasaan pribadi Bapak karena saya merasa tidak nyaman sama sekali dengan perasaan Bapak," ungkap Kiana menolak dengan sangat berwibawa.
"Kia, berani sekali kamu menolak atasan, apakah kamu mau dipecat?"
Reyhan selalu mengancam Kiana dengan kata-kata pemecatan, tapi semua tidak lagi dipedulikan oleh Kiana.
"Iya, silahkan pecat gw! Gw muak sama Bos yang tidak punya rasa iba dan kasihan kepada atasan seperti lo. Gw capek jadi babu lo dan gw sudah nggak ingin lagi terlibat sama lo. Bahkan jika gw punya hutang sama lo nanti akan gw bayar!"
Kiana memaki dan berteriak sangat keras kepada Reyhan, menunjuk wajah Reyhan dengan jarinya, bahkan menyampaikan semua isi hati yang selama ini ia tahan.
Kiana susah muak dan sudah tidak tahan lagi dengan sikap Reyhan yang berkelebihan kepadanya, walaupun ia terkadang bersyukur ketika Reyhan memberikan banyak pekerjaan kepadanya karena ia bisa melupakan setiap masalah yang ia hadapi lewat tumpukan pekerjaan yang diberikan itu.
Reyhan diam, ia tidah membantah atau melawan Tania, ia hanya membiarkan Kiana menyampaikan isi hatinya dan ia ingin mendengarkan luapan emosi Kiana agar wanita itu bisa lebih tenang setelah menyampaikan unek-unek yang ia rasakan. Ya, setelah semua luapan emosi itu air mata jatuh membasahi pipi Kiana, ia menangis sejadi-jadinya dan terlihat sekali kalau perasaannya menjadi sangat lega sekarang.
"Kia, maafkan aku!" Reyhan langsung memeluk Tania dan mengatakan kepada gadis cantik itu kalau semua yang terjadi adalah salahnya. Ia juga mengatakan kalau ia akan mengabulkan apapun keinginan Kiana hari ini agar wanita cantik yang sangat dicintai dan disayanginya itu tidak kabur atau mengundurkan diri dari perusahaannya.
"Kamu jahat!"
Kiana meninju-ninju dada bidang Reyhan dengan lembut. Bagaimanapun juga Kiana tidak akan tega membuat Reyhan merasakan sakit apalagi karena dirinya.
Kini wajah Kiana mulai merasakan debaran tak biasa dari jantung Reyhan, debaran yang sama dengan yang ia rasakan, namun keduanya sama-sama gengsi mengakui hati dan perasaan masing-masing.
__ADS_1
"Kia, apakah kamu mendengar debaran jantungku?" ucap Reyhan lembut.
Ya, Reyhan tetap saja seorang lelaki yang akan mengambil kesempatan jika ada waktu untuk mengungkapkan hati dan perasaannya.
"Kenapa? Apakah jantungmu berdetak kencang karena aku memukulnya?"
Kiana tidak ingin salah tingkah, ia tetap piawai menyembunyikan perasaannya.
"Kia," Reyhan menggenggam tangan Kiana kemudian gadis cantik yang sedang menangis di dadanya itu semakin tertunduk malu dengan seluruh wajah yang berubah menjadi merah.
"Kia, tatap mataku, aku mengatakan sesuatu yang serius kepadamu!"
Reyhan meminta Kiana menatap matanya namun Kiana tidak sanggup menatap mata itu, karena ia takut perasaannya untuk Reyhan akan diketahui oleh Reyhan.
Kiana tahu dan sangat sadar kalau Reyhan akan bertunangan dengan Wilona, jadi Kiana tidak mengkin masuk ke dalam hubungan Reyhan dan Wilona apalagi sampai menjadi perusak hubungan dua orang itu.
"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan! Aku ingin cepat sampai di rumah."
Kiana melepaskan diri dari pelukan Reyhna, kemudian berjalan kembali memasuki mobil mereka, tapi Reyhan menarik tangan Kiana.
"Kiana, tunggu!"
Kiana membalikkan badannya dan menoleh kepada Reyhan, ia tidak tahu lagi apa yang diinginkan oleh lelaki itu, tapi kali ini Kiana tidak ingin memperpanjang masalah atau berdebat lagi dengan Reyhan karena ia hanya ingin urusan mereka cepat beres dan Kiana bisa kembali ke rumahnya, menikmati hari libur bersama ibunya serta menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Bekerja bagai kuda 5-7 hari seminggu serta tidak mengenal waktu dan jam kerja memang harus dilakoni oleh Kiana karena ia adalah sekretaris pribadi Reyhan. Mau tidak mau, suka tidak suka Kiana harus mengikuti kemanapun Reyhan pergi, bahkan jika itu di hari liburnya. Sejujurnya Kiana tidak masalah diperlakukan seperti itu oleh Reyhan, hanya saja terkadang ia sedang dalam mood yang tidak baik, jadi ia bisa saja terbawa perasaan jika Reyhan telah jahat dan bersikap semena-mena kepadanya.
"Kia, sebenarnya Papa memintaku menemani anak investor yang datang berlibur, namun ia sudah membatalkan temu hari ini diluar kota, karena mereka mengatakan kalau mereka hari senin akan ke Jakarta."
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Reyhan membuat Kiana naik pitam, ingin sekali ia menonjok jidat Reyhan tetapi lelaki itu segera mengakui kesalahannya. Reyhan langsung bersujud di depan Kiana mengatakan kepada Kiana kalau sebenarnya ia hanya ingin berjalan-jalan dengan Kiana di hari libur karena ia akan sangat merindukan Kiana, jika tidak ada Kiana maka Reyhan akan merasa kesepian, apalagi sebentar lagi ujian, Reyhan ingin membuat pikiran Kiana rileks.
__ADS_1
Luluh!
Ya, Kiana tidak akan tega memnghukum Reyhan atas kesalahan yang dilakukannya, lagian ia juga merasa sangat senang ketika Reyhan jujur tentang perasaan dan isi hatinya, setidaknya Reyhan tidak lagi menebak-nebak tentang perhatian lelaki itu kepadanya.
"Ayo, pulang! Kita ngobrol di rumah saja, kasihan Ibu sendirian di rumah."
Kiana berjalan menuju mobil dan Reyhan mau tidak mau mengikuti gadis yang sangat dicintainya itu, namun kali ini Reyhan tidak meminta Kiana menyetir mobil, dengan semangat empat lima dan rasa tanggung jawabnya Reyhan menyetir mobil hingga ke Jakarta, bahkan lelaki tampan itu meminta Kiana untuk tidur dan bersantai melepaskan kepenatannya.
Setelah satu jam perjalanan, Reyhan mampir di sebuah mini market untuk membeli kue dan makanan yang akan dinikmati di rumah, tidak hanya itu Reyhan khusus membelikan kue dan buah-buahan yang disukai oleh Kiana dan ibunya. Sungguh, lelaki itu sangat pandai sekali megambil hati mertuanya.
"Kia, bangun! Kita sudah sampai di rumah."
Itulah ucapan lembut yang keluar dari lisan Reyhan ketika mereka sampai di rumah.
Kiana membuka matanya dengan perlahan dan melihat sekeliling, ternyata memang benar mereka telah sampai di rumah, bahkan Kiana sangat kaget dengan semua belanjaan Reyhan.
"Rey, banyak sekali ini, buat apa?" tanya Kiana kaget.
"Buat kita makan bersama," balas Reyhan dengan senyuman.
Reyhan dengan semangat membukakan pintu untuk Kiana, kemudian mengeluarkan semua barang-barang yang ia beli keluar.
"Kamu ingin makan di sini?" tanya Kiana sembari terus melangkah memasuki rumahnya, sementara Reyhan berjalan di samping Kiana dengan tentengan barang yang ia bawa.
"Rey, silahkan duduk, aku akan memanggil Ibu dan membuatkan minum," ungkap Kiana sembari berjalan memasuki rumahnya. Namun, tiba-tiba Kiana berteriak.
"Reyhan, Reyhan, tolong ...!"
__ADS_1