Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Debaran Tak Biasa


__ADS_3

Keduanya salah tingkah dengan wajah memerah seperti kepiting rebus yang telah matang. Debaran jantung keduanya juga tidak karuan, seolah ada kelinci-kelinci kecil yang tengah melompat-lompat di sana.


Entah sejak kapan ada perasaan berbeda di antara keduanya, yang jelas keduanya saling mencintai dan saling membutuhkan walaupun mulut mereka terus menyangkalnya.


'Kiana sadar, Reyhan telah bertunangan dan ia tidak menyukaimu. Apa yang kamu harapkan? Kalian berdua tidak lebih dari sekedar sahabat dan rekan kerja.'


Kiana berbicara kepada dirinya sendiri, untuk menyadarkan dirinya agar hatinya tidak berharap kepada manusia termasuk Reyhan.


"Rey, kenapa kamu menatapku seperti itu? Bisakah kamu bangkit? Malu dilihat orang."


Kiana memulai pembicaraan di antara mereka dengan nada suara kaku dan dengan hati yang tidak menentu.


"Ma-maaf, Kia, a-aku,"


Reyhan terlihat gugup dan kaku, ia terlihat seperti ingin mengungkapkan sesuatu namun ia mengurungkan niat hatinya itu.


'Sebenarnya apa yang Reyhan pikirkan? Apa yang ingin ia katakan?' ungkap Kiana di dalam hati.


Posisi mereka saat ini masih sama, Reyhan masih menimpa tubuh Kiana sembari terus menatap Kiana seolah memikirkan banyak hal.


"Kiana, maukah kamu menikah denganku?" ungkap Reyhan tiba-tiba.


Entah apa yang difikirkan oleh Reyhan saat ini sehingga ia mengatakan perkataan-perkataan yang sama sekali tidak main-main itu.


Bruk ....


Kiana menendang bagian vital Reyhan dengan sedikit kekuatannya sehingga lelaki tampan itu mengaduh dan marah kepada Kiana.


"Kiana, kenapa kamu menyentuh aset gw dengan kasar?" protes Rendi dengan nada suara tinggi dan berteriak.


"Habis siapa suruh genit! Enak aja mau melamar orang. Lu pikir menikah itu urusan becanda? Itu adalah janji antara manusia dengan Tuhan, Apalagi kita belum tamat SMA" jelas Kiana.


Kiana kesal karena Reyhan bersikap semena-mena kepadanya hingga menjadikan pernikahan sebagai bahan bercanda untuknya.


"Aku tidak bercanda, aku serius!"

__ADS_1


Reyhan mengungkapkan isi hatinya kepada Kiana. Bukan main-main, ia tidak meminta Kiana menjadi kekasihnya tapi menjadi istrinya.


"Apa kamu ingin lari dari perjodohan dengan Wilona hingga melibatkan ku dalam masalahmu?"


Kiana memalingkan wajahnya dari Reyhan, ia tidak suka selalu dijadikan budak dan dimanfaatkan oleh Reyhan hanya karena ia tidak memiliki uang saat ini.


Kiana tahu jika ia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk bekerja dengan Reyhan sekarang karena sebuah hutang budi, tapi bukan berarti Reyhan bisa bersikap seenak hatinya saja. Kiana bukan boneka, ia juga bukan robot, ia adalah manusia yang memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya.


Kianq pantas bahagia dan ia ingin menentukan jalan hidupnya sendiri bukan malah menjadi budak Reyhan.


"Rey, aku tahu kalau aku telah berhutang budi sangat banyak kepadamu tapi bukan berarti kamu bisa memperlakukanku seenak hatimu saja! Jangan menjadikan aku boneka untuk menghindari pernikahan bisnismu dengan Wilona. Aku bukan budak yang bisa kamu perlakukan seenak hatimu saja!"


Kiana membalikkan badannya dari Reyhan, tidak ingin menatapnya dan tidak ingin memperlihatkan kepadanya bagaimana wajahnya yang saat ini tengah kesal.


Sejujurnya, sebagian dari hati kecil Kiana merasa sangat senang karena Reyhan ingin menjadikannya istrinya, tapi Reyhan bukan wanita yang tidak punya hati nurani sama sekali yang tega menghancurkan pernikahan orang lain hanya karena perasaan yang tidak jelas yang ia rasakan kepada Reyhan.


"Kia, tatap aku!


Reyhan membalikkan badan Kiana dan meminta gadis itu untuk menatapnya, namun tidak ada yang bisa Kiana lakukan selain tetap menunduk karena ia tidak suka dengan kondisi canggung dan aneh seperti ini.


Kiana kini merasakan debaran yang tidak biasa di dada Reyhan, getaran yang sama seperti yang ia rasakan di dadanya saat ini, debaran yang sedari tadi masih tetap sama dan tidak bisa dihentikan sama sekali.


'Apa ini? Kenapa ada debaran jantung seperti ini? Tidak mungkin ada cinta antara aku dan Reyhan, kamu hanya bersahabat dan ia tidak lebih dari seorang bos yang bersikap semena-mena kepadaku,' ucap Kiana di dalam hati seolah tidak terima dan tidak mengakui kebenaran dari perasaannya sendiri.


"Kiana, aku tahu aku memperlakukanmu dengan sangat kasar ketika kita belerja, aku juga seolah memperlakukanmu seperti boneka. Eh salah, bukan boneka tapi lebih seperti budak yang selalu aku bentak dan aku sangat sadar dengan itu, tapi sikap seperti itu hanya caraku untuk menghiburmu. Aku tidak ingin kamu mengingat masalah yang selalu kamu pikirkan setiap hari," jelas Reyhan.


Ya, Reyhan punya cara tersendiri mencintai dan ia juga punya cara tersendiri untuk menghibur orang yang ia sayang karena Reyhan tidak akan bosa menunjukkan hatinya yang sesungguhnya kepada orang yang benar-benar ia cintai.


Kriuk ..., Kriuk ..., Kriuk ....


"Reyhan, aku lapar!"


Suasana romantis dan manis itu seketika berubah ketika cacing-cacing di perut Kiana protes.


Sejak keluar dari rumah sakit, Kiana menjadi sering lapar dan rasanya ia selalu ingin makan makan saja.

__ADS_1


Kiana memegang perutnya yang terus berbunnyi sementara Reyhan tersenyum tipis melihat tingkah Kiana yang dianggapnya sangat manis dan lucu.


"Kia, kenapa nggak makan dulu sih sebelum main pasir?"


"Sudah ah, jagan banyak bicara, menghabiskan energi saja!"


Kiana berjalan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Reyhan untuk menemui ibunya yang saat ini terlihat sedang bercengkrama dengan Rendi.


Reyhan terus mengikuti langkah kaki Kiana, sepangkah demi selangkah Reyhan mengikuti jejak kaki Kiana, sungguh terlihat sangat manis dan romantis seperti yang terdapat dalam drama-drama Korea.


Sadar diikuti langkahnya, Kiana membalikkan badannya dan mendapati Reyhan yang juga ikut berhenti dengan satu kaki terangkat karena ia tengah menunggu Kiana untuk melangkah ke langkah berikutnya.


"Kamu ngapain sih Rey?"


Kiana menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian tersenyum tipis melihat tingkah Reyhan.


Sejujurnya, kehadiran Reyhan saat ini menghibur Kiana yang sedang gundah gulana. Kiana suka dengan hiburan-hiburan kecil yang membuatnya tersenyum hingga lupa kalau ia tengah memikirkan sesuatu yaitu kerinduan kepada papanya, lelaki yang teramat sangat ia benci tali ia rindukan.


"Rey!"


Kiana berhenti dan membalikkan badan lagi hingga posisi Reyhan kembali mengangkat satu kaki.


Jepret, jepret!


Kiana menjadikan momen langka itu untuk ia abadikan.


'Kapan lagi ngerjain Bos seperti ini,' ucap Kiana di dalam hati.


"Kiana, apa yang kamu lakukan?"


Merasa tidak terima dengan sikap manis Kiana, Reyhan langsung merebut ponsel Kiana dengan harapan bisa menghapusnya, namun Kiana mengelak hingga terjadilah proses perebutan ponsel yang membuat keduanya saling bercengkrama hingga keduanya kembali terjatuh ke pasir putih dan kini posisi tubuh Reyhan-lah yang ditimpa oleh Kiana.


Wajah cantik Kiana tengah berada di dada bidang Reyhan dan kali ini Kiana benar-benar merasakan debaran luar biasa dari jantung Reyhan hingga Kiana merasa sangat gugup.


"Kiana, apakah kamu masih meragukan perasaanku kepadamu?" tanya Reyhan lagi.

__ADS_1


__ADS_2