Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Kembali ke Rumah Papa


__ADS_3

Ya, dalam waktu 6 jam perjalanan, akhirnya Kiana dan rombongan akhirnya sampai juga disebuah kampung kecil dimana keluarga bi Iyem tinggal.


Sebuah rumah sederhana yang berbahan dasar kayu dan atap rumbia yang lebih mirip dikatakan saung dari pada sebuah rumah, disanalah bi Iyem dan keluarganya tinggal. Rumah yang sangat jauh berbeda dengan rumah Kiana yang sangat mewah sekali, namun untuk ukuran warga desa, rumah keluarga bi Iyem termasuk yang paling bagus dan paling besar.


Kiana dan rombongan turun dari mobil tepat di depan rumah keluarga bi Iyem.


"Assalamualaikum."


Kata-kata pertama yang keluar dari lisan mereka ketika berada di depan rumah keluarga bi Iyem.


"Waalaikumsalam," ucap seseorang yang terdengar seperti suara bi Iyem.


"Tuan, Nak Kiana, Nak Reyhan," sapa bi Iyem dengan wajah yang terlihat merona dan penuh dengan kebahagiaan karena merasa senang melihat ada tamu istimewa, walaupun sebenarnya ada rasa kaget dan tidak percaya seolah apa yang ia lihat sekarang adalah mimpi.


"Ibu!"


Kiana langsung menjatuhkan tubuhnya pada pelukan bi Iyem dengan hati dan perasaan yang sangat bahagia sekali, karena kerinduan yang telah menumpuk itu akhirnya tercurahkan juga.


"Ibu, Kiana kangen sekali sama Ibu, rumah terasa sangat sepi karena tidak ada Ibu," ungkap Kiana dengan nada suara merengek manja.


"Ibu juga sangat rindu sekali dengan kamu, Nak, tapi untuk sekarang Ibu harus merawat keluarga Ibu dulu," jelas bi Iyem dengan rasa menyesal.

__ADS_1


Bi Iyem tidak tega melihat Kiana merasa kesepian karena tidak ada dirinya di rumah untuk menjaga Kiana, apalagi bi Iyem telah berjanji kepada mama Kiana kalau beliau akan menjaga Kiana selamanya. Tapi, saat ini keluarganya jauh lebih mebutuhkannya dari pada Kiana sekarang, karena Kiana telah berbaikan dengan papanya.


"Bi, bawalah keluarga Bibi ke Jakarta dan lakukanlah pengobatan terbaik di rumah sakit di Jakarta," timpal papa Haris.


Papa Haris meminta bi Iyem dan keluarganya pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah Kiana, bahkan papa Haris menanggung semua biaya perawatan dan pengobatan keluarga bi Iyem.


"Bi, Kiana akan saya bawa kembali ke rumah dan tiggal bersama dengan saya, karena saya adalah Papanya dan saya memiliki tanggung jawab penuh kepada putri saya, Bibi dan keluarga juga bisa tinggal di rumah kami. Namun, jika Bibi dan keluarga merasa segan tinggal di rumah kami, maka tinggallah di rumah yang Kiana tempati sekarang, karena saya akan membeli rumah itu dan menghadiahkannya untuk Bibi dan keluarga," jelas papa Haris.


"Iya, Ibu, Kiana setuju dengan apa yang Papa katakan"


Kiana menatap wajah bi Iyem dengan penuh pengharapan, berharap kalau sang ibu mau mengabulkan keinginannya, karena di Jakarta keluarga bi Iyem juga akan mendapatkan perawatan dari rumah sakit dengan dokter dan obat-obatan terbaik.


Ya, tentu saja bi Iyem tidak dengan mudahnya menerima penawaran yang Kiana dan Papanya berikan karena beliau tidak ingin merepotkan orang lain, namun Kiana berusaha meyakinkan beliau kalau beliau adalah keluarganya sekarang jadi beliau tidak boleh menolak keinginan Kiana.


"Ibu, ayolah!" ungkap Kiana merengek manja.


Bi Iyem tidak akan pernah bisa menolak keinginan Kiana, apalagi ia telah berjanji kepada mama Kiana untuk menjaga gadis itu selama beliau masih hidup, apalagi papa Kiana menawarkan bantuan yang sangat luar biasa kepadanya. Walaupun segan, temtu saja bi Iyem tidak akan bisa menolak lagi.


"Terima kasih banyak Tuan atas bantuan yang Tuan berikan, saya tidak tahu akan mengatakan apa sekarang, saya benar-benar sangat bersyukur atas semua nikmat dan kebahagiaan ini."


Perlahan air mata mulai mengalir membasahi bi Iyem, beliau tidak menyangka papa Kiana akan membantunya dengan sangat, bahkan memberikan rumah Kiana kepadanya, tentu saja rasa sukur itu akan membuat air mata jatuh membasah pipi bi Iyem, ia terharu dan ia bersyukur.

__ADS_1


"Bi, harusnya saya yang berterima kasih karena Bibi sedari dulu telah merawat Kiana dan keluarga saya, bahkan Bibi memperlakukan anak saya seperti anak sendiri, jadi rasanya hadiah kecil yang saya berikan masih belum pantas untuk membahagiakan bibi," ujar papa Haris.


Ya, beginilah sifat asli papa Haris, lelaki yang sangat baik dan sangat peduli kepada orang lain. Walaupun untuk sesaat ia berubah karena sebuah alasan, namun sekarang kebaikan hatinya kembali dan itu membuat Kiana merasa sangat bangga dan bersyukur kepada papanya.


'Terima kasih banyak ya Allah, terima kasih karena telah mengembalikan Papa untuk Kiana.'


Tidak henti-hentinya Kiana mengucap syukur di dalam hatinya, karena ia merasa sangat bahagia sekali atas nikmat yang Tuhan berikan kepadanya dan keluarga. Memang dibalik setiap kesulitan ada kemudahan dan setelah hujan pasti ada pelangi indah yang menunggu, hingga seseorang akan lupa bagaimana rasa sakit yang pernah ia rasakan selama ini karena ia telah berbahagia dengan nikmat yang telah Tuhan gantikan untuk menutupi bahagianya.


"Terima kasih, Nak Kia, Ibu merasa teramat sangat bahagia," ungkap bi Iyem sembari mencium kening putrinya itu.


"Jangan mengucapkan terima kasih terus, Bu, sebagai seorang anak harusnya Kia memang berbakti dan membahagiakan Ibu."


Kiana menghapus air mata yang mengalir di pipi ibunya, kemudian semua orang tersenyum bahagia.


"Kalau begitu masuk dulu ke rumah Bibi, Tuan."


Kiana dan rombongan masuk ke rumah bi Iyem, rumah sederhana yang sangat jauh sekali dari kehidupan mewah Kiana. Namun, Kiana sama sekali tidak merasa minder berada di rumah biIyem, ia makan dengan lahap denan hidangan masakan kampung yang disediakan oleh bi Iyem dan keluarganya.


Setelah selesai makan, Kiana dan rombongan bersiap untuk kembali ke Jakarta, membawa bi Iyem dan keluarganya juga turut serta ke Jakarta. Mengantarkan keluarga yang sakit ke rumah sakit terbaik di kota Jakarta serta pindah kembali ke rumah papanya.


"Kia, kita langsung ke rumah Papa aja ya, nanti semua barang-barang yang ada disana akan dibereskan sama Bibi ya, Nak," ungkap sang papa Haris.

__ADS_1


Ya, setelah bertahun-tahun, akhirnya Kiana bisa kembali ke rumah lamanya, rumah masa kecilnya, rumah kenangannya, rumah yang dulu ia tinggalkan karena diusir oleh papanya, dan kini ia kembali ke rumah itu karena permintaan dan keinginan papanya.


Kaki Kiana gemetar ketika memasuki rumahnya untuk pertama kali setelah sekian lama. Kiana merasa gugup karena kenangan masa kecilnya terngiang kembali di benak Kiana, kenangan yang bercampur juga dengan kesedihan mamanya. Namun, kenangan bahagia di rumah ini jauh lebih banyak dari pada kesedihannya sehingga Kiana memilih melupakan cerita sedih itu dengan cerita bahagia saja.


__ADS_2