Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Bahagia Bersama Papa


__ADS_3

Ada rasa segan di hati papa Kiana untuk ikut bersama dengan anak dan calon menantunya, tapi bukan Kiana dan Reyhan namanya jika tidak berhasil mengajak orang yang disayang untuk ikut dengan mereka.


"Papa, bukankah Kiana anak Papa? Apakah Papa akan merasa sangat canggung kepada Kiana seperti ini?"


Kata-kata yang keluar dari lisan Kiana membuat papanya tidak lagi bisa menolak lagi.


Sungguh, pemandangan pagi hari itu sangat berbeda bagi Kiana, ia merasa sangat senang dan bersyukur karena bisa makan kembali dengan papanya dan calon suami yang sangat ia cintai.


Meja makan yang tadinya penuh terlihat ludes, bekal makanan yang tadinya dibungkus Kiana untuk dinikmati bersama akhirnya habis. Kini yang tersisa hanya piring kotor yang harus dibereskan.


"Sayang, kamu ngobrol aja sama Papa, biar aku yang mencuci piring."


Karena telah akrab dengan papa Kiana, kini panggilan Reyhan ke papa Kiana juga berubah, kini bukan lagi om tetapi papa, dan dengan sigapnya Reyhan bersikap seperti seorang pahlawan yang membantu meringankan kerjaan Kiana padahal sebelumnya ia selalu bersikap semena-mena kepada Kiana ketika mereka berada di sekolah.


"Nak, Papa senang melihat kamu dan Reyhan bersama dan Papa bahagia lelaki seperti Reyhan yang menjadi kekasihmu."


Sang papa menggenggam tangan putrinya dan mengungkapkan kepada sang putri betapa ia merasa sangat senang dan bahagia karena memiliki calon menantu seperti Rendra yang akan menjaga putri cantik kesayangannya.


"Reyhan memang lelaki yang sangat baik yang mencintai dan menyayangi Kiana dengan sangat tulus dan tidak akan Kian biarkan lelaki seperti Reyhan diambil lagi dari dirinya."


Setelah menyadari perasaannya dan mengakui kalau selama ini ia sangat mencintai dan menyayangi Reyhan, Kiana tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan bersama Reyhan. Ia ingin menghabiskan sisa-sisa umurnya bersama Reyhan, menjalani pernikahan bahagia bersama anak-anak mereka kelak.


"Papa, Kiana, lagi ngegosipin aku ya!"


Reyhan datang memeluk Kiana dan papanya dari belakang dengan senyum menawan yang tergambar di wajahnya.


"PD banget sih!"


Kiana dan Papanya terlihat kompak menjawab pertanyaan Reyhan, terlihat sekali keakraban dan tidak ada lagi dendam serta salah paham yang selama ini pernah terjadi antara ayah dan anak itu.


Reyhan juga terlihat merasa sangat senang dan bahagia sekali melihat kekasih hati dan calon mertuanya tengah berbahagia dengan senyum yang sangat merona.

__ADS_1


"Papa, Kiana, yuk berangkat keburu siang!"


Reyhan membimbing tangan Kiana dan calon mertuanya dengan hati dan perasaan berbunga-bunga. Ia juga membukakan pintu mobil untuk dua orang yang sangat ia sayangi itu dengan hati yang teramat sangat tulus sekali.


"Hati-hati berkendara ya, Nak!"


Perhatian dan kasih sayang yang dituangkan oleh calon mertua kepada menantunya membuat Kiana merasa sangat bahagia melihat dua lelaki yang sangat dicintainya itu ada di depannya saat ini.


'Ma, Kiana dan Papa sudah berbaikan.'


Kiana berkata di dalam hatinya, mengatakan kepada mamanya kalau hubungannya dengan papanya saat ini sangat baik-baik saja.


Andai saat ini mama Kiana ada disini pasti kehidupan Kiana akan sangat sempurna. Rasanya Kiana benar-benar sangat merindukan kasih sayang dan cinta dari mamanya, tapi hanya doa yang dapat Kiana panjatkan agar mamanya di surga berbahagia dan tersenyum melihat ia dan papanya telah berbaikan.


'Ibu, apa kabar Ibu saat ini?'


Kerinduan pun akhirnya terasa dari seorang yang sudah menjadi ibu bagi Kiana. Apalagi sang ibu telah pergi selama seminggu ke kampung tanpa menelpon atau menghubungi Kiana karena tidak ada jaringan ponsel atau internet di sana.


"Nak, ada apa, kenapa hanya diam? Gugup mau ujian? Bagaimana kalau selesai ujian kita jalan-jalan?"


"Kiana hanya rindu kepada Mama dan Ibu," ungkap Kiana dengan nada suara merengek manja.


Saat ini Kiana adalah salah satu wanita disini, jadi keberadaannya sangat diperhatikan oleh papa dan calon suaminya, sehingga Kiana bisa merengek dan bermanja-manja kepada keduanya agar keinginannya dipenuhi.


"Bagaimana kalau setelah ujian kita ke makam Mama dahulu setelah itu kita ke rumah Ibu," usul Reyhan.


"Papa setuju dengan Reyhan."


Papa Kiana terlihat ingin mengabulkan semua keinginan anak kesayangannya untuk menebus masa lalu akibat kesalahan yang dilakukannya.


"Tapi, Pa, Kiana tidak tahu dimana Ibu tinggal."

__ADS_1


Dengan wajah sedih Kiana memanyunkan wajahnya, karena selama ini ia tidak terlalu perhatian kepada ibunya itu.


"Papa tahu kampung Bi Iyem, dulu Papa dan Mama pernah kesana ketika Ayah dari Bi Iyem meninggal."


"Beneran Papa tahu, Pa?" tanya Kiana bersemangat.


Papa Kiana mengangguk dan tersenyum kepada putri kesayangannya, ia merasa sangat bersyukur karena ia masih diberikan kesempatan untuk membahagiakan putri kesayangannya itu.


"Baiklah, kalau begitu kalian berdua sekolah dulu, ujian dan dapatkan hasil terbaik, setelah itu kita akan ke makam Mama dan ke rumah Ibu," jelas sang papa menyemangati anak dan calon menantunya.


"Siap, Papa."


Tidak hanya Reyhan yang bersemangat akan mengunjungi mama mertuanya, tapi juga papa Kiana, ia merasa bahagia bercampur dek-dekan karena ia akan bertemu dengan istri yang telah disia-siakannya.


Ya, papa Kiana menyesal telah menyia-nyiakan anak dan istrinya, sampai menelantarkan anak dan istrinya hanya sebuah nafsu sesaat yang menghancurkan keluarga yang telah ia bangun selama puluhan tahun.


"Sekarang kalian masuklah ke dalam," ujar papa Haris.


Ya, Kiana dan Reyhan turun dari mobil, setelah itu keduanya menyalami dan mencium punggung tangan sang papa, meminta doa dan restu agar dalam ujian bisa mendapatkan nilai terbaik.


"Papa akan menunggu kalian di mobil sampai kalian pulang sekolah, setelah itu kita makan siang bersama ya!" ucap papa Haris.


"Apa tidak apa-apa Papa menunggu di mobil sendirian?" tanya Kiana yang merasa tidak tega harus meninggalkan papanya sendirian.


"Papa nggak apa-apa, buruan kalian masuk kelas!"


"Papa kalau bosan keliling-keliling aja, Pa," usul Reyhan dengan senyuman.


"Jangan khawatirkan Papa, berangkat gih!"


Reyhan kemudian menggenggam tangan Kiana, ia membawa gadis cantik itu berlari menuju kelas karena lima menit lagi bel masuk akan berbunyi.

__ADS_1


Ya, keduanya terlihat sangat manis dan romantis, berlari berpegangan tangan sembari menebar senyuman. Baju seragam SMA yang mereka kenakan menjadi lambang dan saksi dari cinta mereka di SMA, yang suatu saat nanti akan mereka kenang selamanya.


"Kiana, apakah kamu bahagia menjadi kekasih ku?" tanya Reyhan ketika keduanya berada di depan kelas.


__ADS_2