
Kiana membutuhkan keyakinan diri agar kekuaannya kembali dan ia bisa pergi ke rumah mertuanya dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.
"Yuk keluar, Nak, kasihan calon suaminya menunggu lama."
Ocehan dan kata-kata ringan yang keluar dari lisan bi Iyem membuat Kiana merasa terhibur hingga senyum semeringah terpampang jelas di wajah cantiknya dan sepertinya kepercayaan diri Kiana kembali.
Kiana dan bi Iyem berjalan menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan menuju ruang tamu dimana Reyhan dan papanya tengah mengobrol dan berbincang-bincang.
Kiana merasa sangat senang dan bahagia karena hubungannya dengan papanya sekarang telah membaik, ia juga kembali ke rumah yang ia tinggalkan beberapa tahun, rumah yang penuh dengan kenangan bersama dengan mamanya. Kini, Kiana akan menemui calon mertuanya untuk meminta restu beliau agar Kiana dan Reyhan bisa menikah, membentuk keluarga bahagia dan melahirkan keturunan-keturunan yang saleh dan saleha.
"Papa, Reyhan," sapa Kiana dengan lembut sehingga membuat dua orang lelaki yang sangat dicintainya itu menatap ke arah Kiana.
Kaget dan ternganga!
Papa Haris dan Reyhan menatap Kiana dengan tatapan takjub karena Kiana benar-benar terlihat sangat cantik seperti seorang bidadari. Mungkin papa Haris melihat putrinya sangat mirip dengan istrinya sehingga kerinduan terhadap istrinya terobati lewat wujud putrinya, sedangkan Reyhan terpana akan kecantikan calon istrinya yang lebih tepat dikatakan sebagai bidadari bukan manusia.
"Kiana, apakah kamu memang secantik ini?" ungkap Reyhan dengan mata yang tidak berhenti menatap Kiana.
Tania merasa malu dengan pujian yang dilontarkan oleh Reyhan kepadanya hingga seluruh tubuhnya gemetaran dan wajahnya memerah karena malu.
"Tania, awas!"
Reyhan berlari cepat mengejar Kiana yang hampir terjatuh.
Reyhan langsung menghampiri Kiana yang hampir saja terjatuh dari tangga karena ia mengenakan high heels. Ya, Reyhan dengan sigapnya menangkap tubuh langsing Kiana yang membuat mereka berdua terlihat seperti dua pasang sejoli dalam drama-drama romantis Korea.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?"
Reyhan terus menatap wajah Kiana yang sangat cantik, khawatir dan tidak rela jika Kiana terluka atau lecet sedikitpun.
"Sayang, aku tidak apa-apa, kenapa kamu menatapku seperti itu? Malu, ada Papa!"
Kiana menyadarkan Reyhan kalau saat ini dunia bukan milik mereka berdua, tapi ada papa dan ibunya disini yang melihat mereka.
__ADS_1
"Ma-maaf, Sayang, aku hanya takut hal yang buruk terjadi kepadamu," ungkap Reyhan.
"Terima kasih, Sayang," ujar Kiana dengan senyum menawan.
Reyhan melepaskan tangannya dari pinggang Kiana, kemudian menggenggam tangan gadis cantik yang sangat dicintainya, karena ia tidak ingin ada hal yang buruk terjadi kepada gadis cantik kesayangannya.
Keduanya berjalan mendekati sang papa sembari bergandengan tangan.
"Sayang, kamu terlihat persis seperti Mama ketika muda," puji papa Kiana ketika sang putri duduk di sampingnya.
"Benarkah, Pa?"
Papa Haris mengangguk, beliau tersenyum kepada putri yang sangat dicintainya itu kalau beliau merasa sangat senang bisa melihat putrinya memakai gaun yang selalu mamanya kenakan dulu, sehingga kerinduan sang papa sedikit terobati karena melihat wujud sang istri dalam diri putrinya.
"Pa, Reyhan izin mengajak Kiana untuk menemui orang tua Reyhan," ungkap Reyhan dengan sangat ramah dan sopan, terlihat sekali kalau ia adalah lelaki bertanggung jawab yang meminta izin membawa seorang gadis kepada ayahnya.
"Tolong jaga Kiana, lindungi dia dan kembalikan putri kesayangan Papa dalam keadaan baik, utuh dan tidak kurang sedikitpun."
Papa Haris memberikan ultimatum kepada calon menantu untuk menjaga dan melindungi putri kesayangannya karena bagi seorang ayah, anak perempuannya adalah harta paling berharga yang ia miliki dan ia tidak akan membiarkan seorangpun melukai hati dan perasaan anak perempuannya.
Reyhan berucap lantang dan tegas sembari memberikan hormat kepada papa Kiana, terlihat sekali kalau ia sangat patuh dan menurut, bertangung jawab dan tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh papa Haris kepadanya.
"Pa, kalau begitu kita pamit ya."
Reyhan menyalami tangan dan mencium punggung tangan papa Kiana, setelah itu melakukan hal yang sama kepada bi Iyem, seseorang yang sudah Kiana anggap seperti ibunya sendiri.
Bagi Reyhan, ibu Kiana adalah ibunya juga, dan Reyhan juga tidak pernah membedakan status sosial orang lain karena yang terpenting bagi Reyhan adalah kebaikan hati seseorang.
"Papa, Ibu, Kiana pamit dulu ya."
Kiana menyalami dan mencim punggung tangan kedua orang tuanya, memeluk kedua orang tuanya dan meminta doa restu kepada keduanya. Kiana sebenarnya masih takut jika ia harus berhadapan dengan kedua orang tua Reyhan yang tidak menyukainya, namun Kiana meyakinkan dirinya jika Reyhan adalah jodohnya maka Tuhan akan mempermudah jalan mereka untuk bersatu.
"Sayang, yuk berangkat!"
__ADS_1
Reyhan menggandeng tangan Kiana dengan lembut, ia menunjukkan cinta dan kasih sayangnya kepada gadis yang sangat ia cintai itu dengan memperlakukan wanitanya itu seperti seorang ratu yang sangat dicintai dan disayanginya.
"Sayang, apakah kamu gugup?"
Reyhan menatap Kiana dengan senyum menawan yang membuat perasaan Kiana merasa lebih baik ketika memandangnya.
"Tidak jika ada kamu di sisiku."
Sebuah kata yang keluar dari lisan Kiana terdengar seperti sebuah gombalan, namun pada kenyataannya itulah yang dirasakan oleh Kiana saat ini.
Reyhan tersenyum tipis dan manis, ocehan ringan yang keluar dari lisan Kiana juga sangat menghiburnya karena sejujurnya bukan hanya Kiana yang gugup saat ini tapi Reyhan juga.
"Sayang, Bismillah."
Reyhan kemudian membukakan pintu untuk Kiana, setelah itu ia menyetir mobilnya dengan kecepatan standar.
"Sayang, apakah kamu ingin mendengar musik?"
Saking gugupnya Kiana dan Reyhan, mereka berdua malah tidak tahu akan mengatakan dan membicarakan apa-apa lagi.
"Aku lebih nyaman jika kita diam seperti ini saja, musik malah membuat berisik."
Kiana sebenarnya saat ini sedang berkonsentrasi untuk berzikir karena kata ibunya jika hati merasa gelisah dan tidak tenang maka cara terbaik yang harus dilakukan adalah dengan beristighfar atau berzikir.
Selang 30 menit waktu berlalu dengan sangat lama, hingga akhirnya sampailah Kiana dan Reyhan di rumah mewah bertingkat dua dengan gaya Eropa, milik Reyhan. Ya, dulu Kiana pernah berkunjung ke rumah ini ketika Reyhna berulang tahun, namun setelah itu Kiana tidak pernah lagi datang ke rumah ini.
"Sayang, yuk turun!"
Reyhan membantu Kiana untuk turun dari mobil, mengulurkan tangannya dan membawa Kiana berjalan memasuki rumahnya.
Keduanya diam membisu dengan seluruh tubuh gemetaran karena grogi.
Ya, Reyhan telah berani mengatakan kepada kedua orang tuanya kalau ia ingin menikahi Tania, bahkan Reyhan memutuskan hubungan perjodohan dengan Wilona sehingga ia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah ia perbuat dengan cara memperkenalkan pilihan hatinya kepada kedua orang tuanya sehingga kedua orang tuanya bisa melihat kalau pilihannya jauh lebih baik untuk dirinya. Bukan karena Wilona tidak baik, hanya saja Wilona lebih cocok menjadi adiknya bukan pasangannya.
__ADS_1
"Sayang, aku takut!"