
Rendi memastikan dengan wajah penuh harap untuk bisa menjadi sahabat Kiana kembali.
Kiana mengangguk dan tersenyum kepada Rendi, hingga sampailah mereka di parkiran.
"Kia, kita ke klinik terlebih dahulu ya, setelah itu kita jalan-jalan ke pantai," jelas Rendi bersemangat.
Kiana mengangguk, karena saat ini ia hanya ingin kabur dari sekolah ini dan pergi menghindari Reyhan.
Kiana ingin menenangkan dirinya dan menghapus semua memori yang baru saja ia lihat antara Reyhan dan Wilona agar hatinya tidak rusak dan terluka.
"Kia, terima kasih banyak."
Reyhan tersenyum ketika menatap Kiana, ia terlihat sangat bahagia karena bisa menjadi bagian dari hidup Kiana, bersama-sama lagi dengan Kiana walaupun hanya sebatas teman saja.
"Ren, harusnya aku yang berterima kasih karena kamu telah membantuku. Setidaknya sekarang aku bisa pergi jauh dari sekolah berkat kamu," ucap Kiana dengan pandang yang tetap lurus ke depan tanpa menatap Rendi.
Ya, saat ini pikiran Kiana masih di tempat Reyhan, yang saat ini bersama Rendi hanya tubuhnya saja.
"Kia, aku berdoa untuk kebahagiaanmu," ucap Rendi yang terus-terusan menatap Kiana dari spion motornya padahal dirinya tengah menyetir.
"Ren, menyetir saja! Jangan terus-terusan menatapku dari spion karena itu membuatku risih!" ucap Kiana dengan tatapan datar dan kosongnya.
"Maaf, maaf, Kia!"
Rendi gugup dan terlihat salah tingkah karena sikapnya yang masih mencintai Kiana terlihat jelas.
Untuk beberapa menit kemudian suasana menjadi hening, diam dan membisu, tidak ada canda tawa, tidak ada obrolan apapun, baik Tania maupun Rendi hanya diam dalam kebisuan.
Hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah klinik.
Rendi bergegas dan dengan sigap memarkirkan motornya dan berusaha untuk membantu Kiana.
"Kia, maaf!"
Rendi menggendong tubuh langsing Kiana untuk segera memasuki klinik.
__ADS_1
Kiana hanya diam, tidak protes dan tidak berontak kecuali melingkarkan tangannya di leher Rendi sembari menatap wajah tampan lelaki itu.
"Terima kasih, Ren," hanya itu kata-kata yang ke luar dari mulut Kiana.
Entah terima kasih untuk apa dan entah berapa kali lagi terima kasih yang akan Kiana ungkapkan untuk Rendi, yang jelas saat ini ia hanya ingin berterima kasih kepada lelaki itu.
'Reyhan, apakah saat ini kamu masih bersama dengan Wilona? Apakah kamu selalu semesra itu dengan Wilona? Iis, jijik!' Berbagai macam hal kembali muncul dipikiran Kiana.
Kiana merasa sangat kesal hingga air mata akhirnya kembali terjatuh menggenangi pipinya.
"Kia, sakit ya? Tahan dulu ya, Kia, sebentar saja!" ujar Rendi.
Lelaki tampan itu mengira kalau Kiana sakit karena kakinya terkilir.
"Ren, apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Kiana tiba-tiba.
Rendi terdiam, mulutnya kaku dan hati kecilnya sungguh tidak bisa membohongi perasaannya kalau ia memang sangat mencintai Kiana, dari dulu hingga sampai detik ini nama Kiana selalu ada di dalam hati ya. Ya, Rendi memang pernah melakukan kesalahan dan menyakiti hati Kiana. Kesalahan itu membuatnya benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan Kiana. Namun, Rendi sadar kalau Kiana adalah wanita yang sangat baik yang telah disia-siakannya. Penyesalan membuat Rendi ingin menebusnya dengan membahagiakan Kiana kembali. Namun, penyesalan itu sudah tidak ada lagi gunanya, nasi telah menjadi bubur, perasaan Kiana telah hancur lebur hingga menjadi kepingan-kepingan yang tidak mungkin lagi bisa disatukan.
"Ren, kenapa kamu diam?" ujar Kiana menatap tajam mata Rendi.
"Tanpa aku katakan kamu pun pasti merasakan bagaimana perasaanku kepadamu saat ini, Kia. Hanya saja, aku tidak ingin kamu merasa terbebani, aku hanya ingin bersahabat denganmu, perihal rasa tidak perlu kamu risaukan," jawab Rendi dengan tegas.
Rendi tidak ingin membohongi perasaannya kepada Kiana, namun karena ia tidak ingin membebani Kiana dengan perasaannya, ia takut Kiana tidak nyaman sehingga membatalkan pertemanan mereka yang baru saja di mulai.
Untuk beberapa saat dua orang insan itu saling tatap menatap, seolah mata mereka saling berbicara tentang apa yang mereka rasakan saat ini.
"Apa yang terjadi, Nak?" tanya salah seorang perawat menghampiri Rendi dan Kiana.
"Kaki teman saya terluka dan terkilir, mohon berikan perawatan terbaik!" pinta Rendi sembari membaringkan Kiana di ranjang untuk diperiksa.
Kiana mendapatkan perawatan dan pelayanan terbaik dari dokter yang tidak lain adalah temannya Rendi. Namun, Kiana masih belum bisa berjalan seperti sedia kala karena untuk sesaat ia harus beristirahat. Namun, bukan Kiana namanya jika ia tidak bergerak aktif. Kakinya memang sakit tapi pikirannya tidak sakit sama sekali, kegelisahan hati memikirkan Reyhan tidak akan membuat Kiana diam dan duduk manis saja.
"Untuk sementara sebaiknya Nona jangan berkegiatan terlalu berlebihan," ujar sang perawat memberikan nasehat kepada Kiana.
Kiana hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. Dalam otak Kiana hanya ada tumpukan pekerjaan dan bagaimana Reyhan akan bersikap kasar kepadanya nanti jika pekerjaan tidak diselesaikan dengan baik.
__ADS_1
"Kia, kamu lebih baik izin untuk hari ini, bagaimana kalau aku antarkan pulang?" ujar Rendi menawarkan.
"Aku tidak ingin pulang, Ren."
Kiana menatap wajah tampan Rendi dengan tatapan serius seolah menginginkan sesuatu.
"Kenapa, Kia?" tanya Rendi yang seolah mengerti kalau saat ini Kiana menginginkan sesuatu darinya.
"Apakah tawaranmu untuk mengajakku jalan-jalan ke pantai masih berlaku?"
Kiana mengungkapkan keinginannya untuk melepaskan semua beban di hatinya, menghilangkan penat dan gunda yang dirasakannya dengan berjalan-jalan menikmati keindahan alam.
"Tentu saja, Kia," jawab Rendi dengan memberikan senyuman terbaiknya.
Salah satu kebahagiaan tersendiri bagi Rendi bisa mengajak Kiana jalan-jalan. Setidaknya Rendi bisa menghibur Kiana dan menebus semua kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu.
"Terima kasih, Ren," ucap Kiana dengan senyum merekah indah di wajahnya, seperti bunga mawar yang tengah bermekaran.
"Tapi, Kia, kakimu masih sakit, apa tidak apa-apa nanti kalau kamu tidak bisa bergerak bebas dan hanya duduk di kursi roda?" ucap Rendi mengingatkan Kiana.
Tapi, ketika Kiana telah bertekat maka ia tidak akan mundur. Dalam otak Kiana saat ini, ia ingin menghindari Reyhan dan tidak ingin bertemu dengan lelaki yang telah membuat otak Kiana pusing dan sakit.
"Aku ingin jalan-jalan ke pantai walaupun hanya sekedar duduk sembari menatap laut itu sudah cukup," ujar Kiana dengan wajah penuh harap.
"Baiklah kalau begitu kita ke pantai sekarang!"
Rendi bersemangat karena ia juga sudah lama sekali tidak jalan-jalan dan melepaskan penat dari rutinitas hariannya.
Sejujurnya, pergi bersama Kiana lagi adalah impian Rendi, tentu saja Rendi merasa sangat senang dan bahagia karena bisa jalan-jalan bersama wanita yang sangat dicintainya walaupun sebentar.
"Kia, kita mau ke pantai mana?" tanya Rendi di sela-sela menyetir mobilnya.
"Tersera kamu aja, yang penting ke pantai," jawab Kiana dengan tatapan lurus ke depan.
Ya, badan Kiana memang berada di mobil ini, namun hati dan pikirannya tetap memikirkan Reyhan, lelaki yang sangat berharga dalam hidupnya, lelaki yang selalu ada dalam setiap suka dan dukanya Kiana, lelaki yang selalu membuat Kiana tersenyum. Namun, terkadang lelaki itu juga memberikan duka dan air mata di hati Kiana.
__ADS_1