
Rendi akhirnya mengutarakan niat yang selama ini ia simpan di hatinya. Sejak berpisah dengan Kiana, Rendi merasakan penyesalan yang teramat sangat. Rendi tidak bisa hidup tanpa Kiana dan Rendi merasa hidupnya tidak lagi berarti apa-apa tanpa kehadiran Kiana di sisinya.
"Kiana, maukah kamu menjadi kekasihku lagi?"
Rendi menggenggam tangan Kiana dengan lembut, ia bersujud di depan Kiana sembari menatap wajah cantik Kiana dengan penuh cinta dan kasih sayang yang terlihat teramat sangat tulus.
Bi Iyem yang menyaksikan turut dibawa suasana baper.
Kiana kemudian melepaskan tangan Rendi dengan lembut, sebuah penolakan halus yang membuktikan kalau Kiana tidak bisa menerima cinta Rendi, karena di dalam hati Tania hanya ada Reyhan sekarang. Namun, Kiana masih menyangkal hatinya, bahwa yang ia rasakan itu adalah cinta. Ya, memang beda tipis antara cinta dan benci, tapi zona friendzone yang terjadi antara Kiana dan Reyhan telah menumbuhkan benih-benih cinta yang sama sekali tidak mereka sadari.
"Rendi, maaf, saat ini aku masih belum siap untuk memulai hubungan baru lagi dengan siapapun!"
Kata-kata penolakan yang keluar dari lisan Tania terdengar sangat lembut dan halus, namun bagi Rendi cukup membuat hatinya terluka namun tak berdarah.
Rendi menyesal kerena dulu telah menyia-nyiakan cinta Kiana, padahal Kiana adalah gadis yang berhati malaikat dengan wajah secantik bidadari.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, dan ketika hati orang yang dicintai sudah tidak dimiliki, maka itu adalah hukuman atas kesempatan yang pernah disia-siakan.
"Kiana, aku tahu mungkin kamu sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi kepadaku, tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau aku masih sangat mencintai dan menyayangiku dengan tulus," ucap Rendi lembut dengan sorot mata yang terlihat sangat tulus.
Mata Rendi juga terlihat berkaca-kaca seolah ada sejuta penyesalan yang ia tanggung di dalam hatinya saat ini.
Sementara aku, saat ini yang ada dalam otakku adalah Reyhan, Reyhan dan Reyhan.
Aku tidak tahu perasaan apa yang kumiliki untuk Reyhab akan tetapi lelaki itu entah siapa bagi Kiana, dibilang pacar bukan, dibilang sahabat tapi lebih dari sekedar sahabat.
Kiana kemudian melangkahkan kakinya menyusuri pasir putih, meninggalkan Rendi dan juga ibunya. Kiana ingin menyendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk oleh Rendi.
Kiana bukannya tidak suka kepada Rendi, hanya saja rasa suka itu tidak labih dari pada rasa sebagai seorang teman dan juga sahabat. Rasa yang dulu pernah ada di hati Kiana kini telah hilang dan tergantikan.
'Wahai hati, apakah yang sebenarnya kamu rasakan?' ungkap Kiana dalam hatinya.
Kiana kemudian duduk di pasit putih sembari memandang lautan lepas. Ia membuka kaca mata hitam yang ia kenakan hingga terlihatlah pemandangan laut lepas yang terlihat begitu mempesona.
Angin laut mengibas jilbab Kiana, hingga hembusan itu membuat wajah Kiana terlihat sangat cantik.
Kiana kemudian membentangkan kedua tangannya, sembari menutup matanya secara perlahan. Ia ingin menghirup udara segar tepi pantai sembari melupakan semua beban yang ia rasakan di dalam hatinya.
Kiana teringat dengan lamaran Rendi yang terlihat tulus, namun sayangnya hati Kiana bukan lagi untuk Rendi.
__ADS_1
Kiana kemudian membayangkan Reyhan, lelaki dengan sikap berubah-ubah kepadanya, terkadang baik dan terkadang juga bersikap sangat semena-mena kepadanya.
Akan tetapi, tiba-tiba Kiana teringat kepada kedua orang tuanya, pernikahan bahagia yang berjalan lebih dari 25 tahun harus hancur karena orang ketiga yang membuat kebahagiaan itu hanya kenangan hampa yang tidak ingin lagi Kiana kenang.
Dalam keadaan mata tertutup itu Kiana meneteskan air mata kesedihan, air mata penyesalan dan air mata yang penuh dengan sejuta gundah dan lara.
Namun, Kiana merasakan ada sentuhan tangan halus yang menghapus air matanya.
Kiana langsung menapis tangan itu karena ia tidak suka ada orang yang menyentuhnya, apalagi saat ini Kiana sedang ingin mendekatkan diri kepada Tuhannya agar lebih menjaga diri.
"Apa yang kamu lakukan disini, Kia?" sapa seseorang yang sangat Kiana kenal suaranya.
'Apakah itu benar-benar kamu? Apa aku bermimpi?' ucap Kiana di dalam hati.
Ya, saat Kiana membayangkan ada Reyhan disini bersamanya dan menemaninya, Kiana malah mendengar suara lelaki itu.
Kiana bahkan tidak ingin membuka matanya sama sekali agar ia mendengar suara lelaki itu, lelaki yang sangat Kiana harapkan kehadirannya disini bersamanya.
"Kiana, apa kamu tertidur?" Lagi dan lagi Kiana mendengar suara lembut itu.
'Reyhan? Apakah kamu memang hadir di mimpiku?' batin Kiana.
"Iya, Pak Bos, tunggu!" ujar Kiana sembari terus berlari terpanting-panting.
Aw!
Kiana tersandung ke pasir putih yang lembut itu, hingga ia sadar kalau saat ini ia ada di pantai dan sedang bertamasya dengan ibunya dan juga Rendi, bukan berada di sekolah untuk menuruti keinginan Reyhan, bosnya itu.
Saking sigap dan cekatannya Kiana, dalam berlibur pun ia tetap mengingat dan mengenang Reyhan. Ya, dalam pikiran dan hati Kiana hanya ada nama Reyhan.
"Aduh ...,sakit!"
Kiana merengek kesakitan dengan air mata yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipinya.
'Bodoh sekali kamu, Kiana!"
Kiana memukul-mukul kepalanya sendiri karena ia merasa bodoh.
"Kiana, sadar! Tidak mungkin ada Reyhan disini."
__ADS_1
Kiana meyakinkan dirinya sendiri kalau ia hanya berilusi.
"Ayo bangun!"
Sebuah tangan tengah diulurkan oleh seseorang untuk membantu Kiana.
Kiana menengadahkan wajahnya dan menatap heran kepada sosok tampan yang ada di depannya.
Wajah tampan itu terlihat khawatir dan penuh dengan sejuta beban di sana.
'Apa ini nyata? Apakah ini benar-benar Reyhan?'
Kiana mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan kalau seseroang yang ada di depannya itu adalah Reyhan.
"Kenapa bengong? Apakah aku terlalu tampan?" ungkap Reyhan dengan senyum tipis yang terlihat sangat percaya diri dibandingkan dengan yang lainnya.
Aku mencubit pipiku sendiri untuk memastikan bahwa apa yang aku lihat bukanlah mimpi melainkan kenyataan.
"Aw, sakit!" teriakku mengaduh.
"Kia, ini aku, Reyhan."
Senyum merekah terpancar di wajah tampan Reyhan, dan entah kenapa kali ini membuat jantung Kiana berdebar tidak biasa.
Dak ..., Dik ..., Duk ....
Kiana merasakan ada kelinci-kelinci kecil yang tengah melompat-lompat di hatinya.
"Kia, yuk bangun!"
Tangan Reyhan masih menunggu Kiana untuk meraihnya, dan kali ini Kiana menerima uluran tangan itu. Namun, ada segerombolan anak yang menyenggol tubuh Reyhan hingga membuat Reyhan terjatuh.
Reyhan menimpa tubuh Kiana dan saat ini posisi Reyhan berada di depan Kiana.
Jarak mereka berdua sangat dekat hingga keduanya bisa merasakan hembusan nafas dan debaran jantung masing-masing.
Keduanya kikuk dan salah tingkah, namun menikmati suasana romantis itu.
Reyhan menatap wajah Kiana hingga dua bola mata mereka saling bertemu.
__ADS_1