Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Separuh Jiwaku Pergi


__ADS_3

Rumah sudah dipenuhi dengan para tetangga dan teman sekolah yang datang melayat dan ikut merasakan kesedihan hati Kiana.


Kaki Kiana terasa sangat berat ketika memasuki rumah mereka, tapi kehadiran Reyhna cukup menguatkan Kiana saat ini.


Kiana masih mengingat bagaimana mamanya berbicara dan mengenali dirinya setelah berbulan-bulan lamanya, bahkan dokter mengatakan kalau sang mama sehat dan bisa kembali ke rumah beberapa hari lagi. Ya, ternyata mama Windari memang kembali ke rumah untuk yang terakhir kalinya tetapi sebagai mayat yang sudah tidak lagi bernyawa.


Perlahan mayat mama Windari di mandikan dan hati Kiana terasa sangat hancur ketika kain kaffan menutupi wajah beliau.  Belum pernah Kiana merasakan pedihnya kehilangan seperti ini, perasaan kehilangan yang teramat sangat menyakitkannya, membuat kaki Kiana terasa seolah tidak menginjak bumi lagi, separuh nafas Kiana telah pergi, dunia Kiana serasa sangat hancur, seolah hancur berkeping-keping menjadi butiran debu yang berterbangan.


Mata Tania juga tak henti-hentinya mengalirkan kristal-kristal bening, dadanya terasa sangat sesak dan fikirannya seolah melayang, beginikah kehilangan yang menyakitkan itu?


Hati Tania semakin teriris ketika jenazah mama Windari di masukkan keliang lahat, ditimbun tanah dan bersatu bersama bumi.


Sandaran Kiana telah pergi, malaikat Kiana mendahului, tak ada tempat merengek dan bermanja lagi, tak ada tempat mengadu dan berkeluh kesah lagi.  Kini, ketika Kiana merindukan mamanua, kemanakah ia akan mencarinya?


Ya, jenazah mama Windari akhirnya di kebumikan dengan sederhana, dihadiri oleh orang-orang terdekat dan sebagian teman sekolah dan guru-guru Kiana. Kini, separuh nafas Kiana serasa hilang.  Penyesalan terbesar Terbesar adalah tidak bisa mewujudkan keinginan terakhir mamanya.  Tapi ya sudahlah, mungkin ini adalah takdir terbaik dari Tuhan.  Kiana percaya Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya.  Kini Kiana hidup sebatang kara, sendirian tanpa orang tua.


Huft ....


Kiana menarik nafas panjang, karena terpikir olehnya tentang papanya. Namun, sejak beliau berhianat, Kiana menganggap kalau papanya juga telah tiada.


"Apakah aku mati saja menyusul Mama?"


Sembari menangis di depan makan mama Windari, Kiana memikirkan hal-hal negatif. Sempat terbesit di dalam otaknya untuk pergi menyusul mama Windari, namun pesan beliau masih terngiang-ngiang di dalam benak Kiana.


"Kiana, bahkan jika tidak ada Mama lagi di dunia ini maka tetaplah lanjutkan hidupmu dan jadilah wanita saleha yang mendoakan Mama meskipun Mama telah tiada, karena ada amalan yang tidak akan pernah putus meski kita tidak lagi berada di dunia yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa seorang anak untuk kedua orang tuanya."


Pesan berharga yang merupakan pesan terakhir mama Windari untuk Kiana, putri kesayangannya. Beliau adalah wanita berhati malaikat, dimana beliau juga meminta Kiana untuk memaafkan papanya dan menjadi wanita saleha.


'Bagaimana mungkin wanita baik seperti Mama dihianati oleh Papa?' gumam Kiana di dalam hati.


Kiana sungguh merasa kecewa karena papanya tidak ada disini untuk menemani mama Windari peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


"Kia, ayo kita pulang!"


Reyhan lelaki baik yang selalu menemani Kiana itu membantu Kiana berdiri dan mengajak gadis cantik itu untuk pulang karena sebentar lagi matahari akan segera terbenam.


"Rey, aku tidak ingin pulang!"


Dengan nada suara lemah dan lembut, Kiana menolak. Wajahnya yang pucat tidak menatap Reyhan sama sekali, karena pikirannya saat ini terlihat kosong. Namun bukan Reyhan namanya jika ia tidak bersikap sesuka hatinya, ia tidak akan mendengarkan kata-kata Kiana. Bahkan tanpa persetujuan Kiana lelaki itu menggendong dan mengantarkan Tania kembali ke rumah kontrakannya yang jaraknya sekitar 5 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.


"Rey, Mama sendirian disini!"


Dalam isak tangisan, Kiana terus memanggil-manggil nama mama Windari. Namun, Reyhan tetap berjalan mengantarkannya ke rumah.


Wajah lelaki itu juga terlihat sangat sedih, akan tetapi ia berusaha bersikap tegar untuk menguatkan Kiana.


Hati Reyhan teriris dan sangat sakit ketika Tania seperti mayat hidup yang masih bernyawa.


"Rey, kita sudah sampai di rumah, tolong turunkan aku!"


Reyhan menurut, ia menurunkan Kiana tanpa berkata apa-apa kepada gadis cantik itu.


Secara perlahan, Kiana langkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia baringkan tubuhnya di ranjang, sembari menatap langit-langit kamarnya.


Ia baru saja melepaskan rindu kepada mamanya, namun dalam sekejab semua rindu itu berubah menjadi deraian air mata.


“Mama ...!” Kiana menatap foto mama Windari di dinding kamarnya yang terpajang rapi. Foto terakhir mama Windari tersenyum dengan sangat bahagia. Namun, baru Kiana sadari ternyata di dalam foto itu wajah mama Windari terlihat sangat pucat walaupun telah ditutupi make up.


'Apakah ketika di foto itu Mama sudah merasakan sakit akibat penghianatan Papa? Selama itukah Mama menyembunyikan luka sendirian?' gumam Kiana di dalam hati.


Tok ..., Tok ..., Tok ....


"Kia, apa aku boleh masuk?"

__ADS_1


Kiana mendengar suara Reyhan tengah memanggil namanya dan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Akan tetapi ia memilih untuk tidak mempedulikan Reyhan karena saat ini ia sudah terhanyut dalam lautan air mata.


Kiana memilih untuk menelungkupkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Kia, maafkan aku, aku harus masuk!"


Reyhan kemudian memasuki kamar Kiana dengan ditemani oleh wanita separuh baya yang merupakan asisten rumah tangga, wanita yang mulai hari ini akan bekerja dan tinggal bersama Kiana untuk menjaga dan menemani Kiana.


"Kia, ini ada Bi Iyem," ujar Reyhan.


"Non Kia, bangun, Non, ini Bibi," ujar wanita separuh baya itu.


Bi Iyem adalah asisten rumah tangga yang dulu bekerja di rumah Kiana, wanita yang menjaga Kiana ketika kedua orang tuanya sedang sibuk bekerja. Wanita yang menjadi sandaran dan tempat bercerita bagi Kiana saat ia merasakan kesepian dan membutuhkan teman untuk bercerita.


Ya, sejak tidak ada Kiana lagi di rumah papanya, bi Iyem memutuskan untuk berhenti bekerja juga. Beruntung beliau bertemu dengan Reyhan beberapa minggu yang lalu, hingga akhirnya Reyhan memintanya untuk menjaga Kiana.


"Non, Bibi kangen sama Non," ujar bi Iyem sekali lagi.


Kiana membalikkan badannya, ia melihat wanita separuh baya itu tengah tersenyum kepadanya namun dengan mata berkaca-kaca.


Kiana juga merindukan wanita itu, wanita yang sangat ia sayangi dan memiliki tempat tersendiri di hati Kiana. Ya, walaupun beliau bukan orang tua Tania, namun Kiana telah menganggapnya seperti orang tuanya sendiri.


"Bi, belahan jiwa Tania telah pergi, Kiana sendirian sekarang!"


Kiana langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan bi Iyem. Walaupun tidak sehangat pelukan mama Windari, tapi pelukan bi Iyem juga sangat menenangkan Kiana.


Gadis cantik itu menangis dan terisak dalam pelukan bi Iyem. Ia mengungkapkan kesedihan dan air matanya dalam pelukan itu.


Kiana sebatang kara dan ia tidak lagi memiliki siapa-siapa, malaikatnya telah tiada, belahan jiwanya sudah tidak lagi berada di dunia.


"Sabar, Non, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya dan Non harus tahu kalau setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati."

__ADS_1


Kata-kata penenang yang membuat perasaan Kiana merasa lebih baik. Namun tetap saja tidak bisa mengembalikan mamanya.


"Bi, bagaimana keadaan lelaki itu sekarang?"


__ADS_2