
Kiana mendengarkan teriakan papanya ketika memanggil-manggil namanya, namun Kiana memilih untuk tidak mendengarkan sama sekali karena Kiana tidak sanggup untuk bertemu dengan papanya, kebencian memuncak kepada lelaki yang dahulu malaikatnya itu membuat Kiana tidak sanggup untuk menatap papanya. Kiana takut jika ia mengeluatkan kata-kata kasar yang akan menyakiti hati dan perasaan papanya, hingga ia memilih untuk menghindar.
"Kiana, Papa minta maaf, Nak!" ucap sang papa dengan nada suara bergetar seolah beliau sedang menahan tangisannya.
'Minta maaf? Untuk apa? Mengapa harus sekarang?' ucap Kiana di dalam hati dengan sejuta amarah yang tengah di genggamnya.
Kiana mengepalkan tangannya, dan rasanya saat ini ia ingin meninju dinding rumah sakit ini untu kelepaskan amarah yang memuncak itu.
"Nak, Papa tahu Papa salah, Papa menyesal!"
Kata-kata penyesalan itu terlontar dari bibir papa Tania hingga Kiana menghentikan langkah kakinya.
Dulu Kiana dan mamanya sangat menunggu penyesalan dan permintaan maaf papanya, tapi sekarang semua telah berubah, bertahun berlalu dan Kiana merasa ditelantarkan.
Papa Haris mengejar Kiana, menggenggam tangan Kiana, putri kesayangan yang sangat ia rindukan.
"Lepaskan aku!" ucap Kiana dengan nada suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
Kiana tahu kalau ia tidak boleh durhaka dan melawan kepada orang tua, namun kekecewaan dari sebuah penghianatan membuat Kiana tidak ingin lagi bertemu dengan papanya itu.
Kiana tidak tahu dari mana papanya mengetahui kalau ia ada di rumah sakit ini, bahkan saat mamanya meninggal papanya tidak menampakkan muka sama sekali, jadi bagaimana mungkin sekarang beliau datang menemui Kiana bertingkah seperti seorang papa yang baik yang membela Kiana dari seseorang yang mengganggunya.
"Kia, Papa rindu, Nak!"
Mata papa Haris berkaca-kaca, wajahnya memang terlihat penuh dengan penyesalan yang teramat sangat.
"Rindu? Rindu? Papa masih bisa bilang rindu? Selama ini Papa kemana?"
Dengan nada suara tinggi Kiana membentak papanya dan meluapkan semua yang ia rasakan di hatinya agar hatinya merasa lega.
"Maaf, Papa bersalah!"
Kiana melihat air mata jatuh membasahi pipi papanya. Sungguh hal seperti itu belum pernah terjadi dan belum pernah Kiana lihat.
Ada rasa iba di hati Kiana, rasanya ia tidak tega melihat air mata jatuh membasahi pipi papanya, bahkan Kiana ingin memeluk papanya dan mengatakan pada papanya kalau papanya jangan menangis. Bagaimanapun juga papa Haris adalah ayah kandungnya dan ia tidak bisa membohongi itu. Namun, kebencian dan kekecewaan membuat Kiana belum bisa memaafkan papanya.
__ADS_1
"Kia, Papa tahu Papa salah, tapi Papa benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi," ucap papa Haris.
"Pa, apa Papa tahu apa yang Papa lakukan? Papa bahkan membunuh Mama!"
Air mata Kiana mengalir membasahi pipinya, dan ia merasa lega setelah menyampaikan isi hatinya.
"Apa yang terjadi pada Mama?"
Papa Haris terlihat heran dengan apa yang disampaikan oleh Kiana, hingga air matanya terus membasahi pipi lelaki separuh baya itu.
Walaupun papa Haris berselingkuh, ia tidak menceraikan istrinya, walaupun secara agama mereka telah bercerai karena tidak ada lagi nafkah lahir dan batin tapi secara hukum mereka tetap suami istri.
"Mama depresi dan selama hidupnya dihabiskan di rumah sakit jiwa, Papa tidak tahu 'kan?" bentak Kiana.
Kiana menahan semuanya di dalam hati selama ini, hingga kinilah saatnya ia menumpahkan semuanya.
"Maaf!"
Kata-kata maaf itu tertumpahkan hingga papa Kiana menjatuhkan tubuhnya di lantai.
"Nak, kapan Mama meninggal?"
Papa Haris menggenggam tangan Kiana, namun Kiana menapisnya, tidak sudi kalau papanya menyentuhnya sedikitpun.
"Pa, sudahlah! Anggap Mama dan Kiana telah meninggal jadi jangan pernah lagi menampakkan diri Papa dihadapan Kia, karena Kia sudah cukup bahagia dengan hidup Kia sekarang," ucap Kiana tegas.
Kiana menghapus air maya yang mengalir di pipinya, ia tidak ingin lagi menangis atau menangguh kesedihan apapun lagi karena ia ingin fokus dengan ibunya yang kini tengah sakit.
"Kia, izinkan Papa tahu dimana Mama dikuburkan?" ucap papa Haris dengan teriakannya yang terdengar bergetar karena penuh dengan penyesalan.
Kiana tidak menjawab pertanyaan papanya, hanya terus melangkah maju dan tidak ingin memalingkan wajahnya sedikitpun.
Kecewa!
Rasa kecewa mendalam dengan sejuta kesedihan telah ia lepaskan dan ia tidak ingin lagi menatap atau kembali ke masa lalu karena ia akan melukai hati dan perasaannya.
__ADS_1
Walaupun sedikit kerinduan yang ia simpan di hatinya terlepaskan, tapi rindu itu tidak membuat Kiana memaafkan papanya.
Kiana menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya, memastikan wajahnya baik-baik saja agar ketika memasuki ruangan ibunya ia terlihat ceria. Kiana tidak ingin membuat ibunya sedih atau menambah beban kesedihan ibunya. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Kiana, perkara kedatangan papanya ke rumah sakit. Sekilas Kiana memperhatikan wajah papanya yang terlihat sangat pucat seperti seseorang yang tengah sakit.
'Ah, sudahlah, Kiana, lupakan!'
Ya, Kiana memilih untuk tidak lagi memikirkan masa lalu yang membuat hatinya semakin hancur dan terluka.
Bismillah!
Dengan bismillah Kiana melangkahkan kakinya memasuki kamar ibunya tentu saja dengan senyuman yang ia paksakan, senyuman yang terlihat sangat indah. Namun, langkah kaki Kiana terhenti karena tangannya di tarik oleh seseorang.
"Hai, Kiana!"
Reyhan datang dan menarik tangan Kiana, kemudian membawa gadis cantik itu kedalam pelukannya.
Kiana diam dan membiarkan dirinya dipeluk oleh Reyhan karena saat ini ia memang membutuhkan sebuah pelukan dari seseorang untuk berbagi sedikit kesedihan dan duka yang ia rasakan.
"Upik Abu jelek, kamu menangis?" tanya Reyhan.
Reyhan membalikkan badan Kiana untuk menghadap ke arahnya. Ia mengangkat wajah Kiana yang tertunduk sedih, seolah ingin memastikan keadaan Kiana baik-baik saja.
"Kiana," ucap Reyhan lagi karena reaksi Kiana hanya diam.
Kiana adalah gadis yang akan pertes dan memberontak jika ia dipeluk dalam keadaan bahagia, namun jika ia banya diam bertanda ia sedang menanggung kesedihan dan Reyhan sangat paham sekali akan itu.
Reyhan kemudian memeluk Kiana kembali sembari menepuk-nepuk lembut pundak Reyhan, berharap gadis yang sangat dicintainya itu bisa tenang dan merasa lebih baik.
"Apapun yang terjadi percayalah, semua akan baik-baik saja karena ada aku disini," ucap Reyhan lembut di telinga Kiana, hingga perasaan Kiana merasa lebih baik dan lebih tenang.
"Papa tadi kesini dan ia membuatku sedih!"
Akhirnya Kiana menyampaikan apa yang ia rasakan di hatinya, berbagi beban dan kesedihan yang ia rasakan kepada lelaki yang sangat dicintai dan disayanginya.
"Lantas, dimanakah beliau sekarang?" tanya Reyhan ragu.
__ADS_1
"Kenapa kamu menanyakan keberadaan lelaki itu?"