Upik Abu Vs Bad Boy

Upik Abu Vs Bad Boy
Lamaran Dadakan!


__ADS_3

Lagi dan lagi Reyhan mengungkapkan perasaan dan keseriusannya untuk menikahi Kiana, tapi tetap saja Kiana tidak mempedulikan lamaran Reyhan itu, karena omongan yang keluar dari lisan Reyhan hanya ucapan sesaat anak SMA yang masih belum dewasa.


"Ibu, saya juga ingin menikah dengan Kiana, maukah Ibu menerima saya sebagai menantu Ibu?" ucap Rendi yang juga tidak mau kalah.


Rendi berusaha mendekati bi Iyem agar ia bisa dengan mudah mendapatkan hati Kiana, tapi Kiana bukanlah gadis yang dengan mudahnya bisa ditaklukkan, apalagi Kiana pernah menggalami trauma berat karena kegagalan pernikahan kedua orang tua yang sangat disayangi dan dicintainya.


Kata-kata yang keluar dari lisan Reyhan dna juga Rendi hanya seperti angin lalu bagi Kiana, apalagi mereka belum mengerti dan memahami tentang arti dari pernikahan.


"Kiana, kamu mau 'kan menikah denganku?"


Kata-kata serentak yang keluar dari mulut Reyhan dan Rendi sembari bersujud di depan Kiana membuat Kiana risih dengan kedua lelaki itu. Kiana tidak ingin keduanya melakukan tindakan kekanak-kanakan dengan mempermainkan hati Kiana.


"Reyhan, Rendi, sudahlah! Kalian tidak perlu menunggu jawaban dariku karena aku tidak akan menikah dengan siapapun karena aku telah memutuskan untuk hidup sendiri bersama ibuku saja." jelas Kiana tegas untuk mematahkan semangat kedua lelaki yang ada di depannya.


Kiana tidak suka melihat dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu memperebutkannya apalagi sampai berkelahi untuk mendapatkan cintanya.


"Nak Rendi dan Nak Reyhan, sekarang kalian berdua bangunlah! Nak Kiana tidak ingin menikah dengan siapapun, jadi carilah wanita lain," ungkap bi Iyem mewakili putri kesayangannya.


Ada rasa kecewa yang tergambar di hati keduanya, rasa yang membuat keduanya menunduk dengan membawa kesedihan bersama mereka.


"Saya tetap akan berjuang mendapatkan cinta Kiana, Bu."


Lagi dan lagi Reyhna dan Rendi berbicara serentak untuk mengungkapkan perasaannya kepada Kiana, gadis yang sangat dicintai dan disayanginya.


"Kalian sebenarnya mau apa dariku?"


Kiana berteriak dengan suara keras dan dengan nada suara tinggi. Kiana tidak ingin diganggu hati dan perasaannya hanya untuk memikirkan lelaki yang sama sekali tidak penting untuknya saat ini. Ia baru saja kehilangan mamanya, bagaimana mungkin sekarang ia berpikir untuk membahagiakan dirinya sendiri sementara ada ibu yang harus ia bahagiakan.


"Kiana, maaf!"


Reyhan dan Rendi langsung mendekati Kiana dan keduanya masing-masing menggenggam tanga kiri dan kanan Kiana secara serentak juga.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" bentak Kiana yang merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Reyhan dan juga Rendi.


Kedua lelaki itu dari kemaren selalu bertengkar dan memperebutkan dirinya hingga membuat kepala Kiana benar-benar pusing tujuh keliling. Kiana tidak ingin lagi diganggu oleh keduanya.


"Ibu, Kiana ingin pulang."


Kiana membantu ibunya berberes dan ingin segera pulang ke rumah mereka karena Kiana sudah sangat bosan dan muak melihat dua lelaki yang ada di depannya tengah bertengkar seperti anak kecil.


"Kiana, aku akan mengantarkan kamu pulang!" ucap Reyhan dan Rendi serentak lagi.


"Aku tidak ingin pulang dengan kalian berdua. Aku dan Ibu akan pulang naik taxi!"


Jawaban tegas yang keluar dari lisan Kiana membuat keduanya hanya bisa mengurut dada masing-masing karena jika Kiana telah marah dan merajuk seperti itu tidak ada lagi obatnya selain diam dan menurut dengan apa yang dikatakan oleh Kiana.


"Ayo, Bu."


Kiana membimbing tangan ibunya dan membawa wanita separuh baya itu untuk menaiki taxi online yang sudah ia pesan.


Kiana juga tidak suka pertengkaran antara sesama teman sekolah apalagi keduanya adalah saudara jauh yang masih memiliki hubungan kerabat.


Kiana dan ibunya masuk ke dalam taxi online tanpa menatap ke arah Reyhan dan juga Rendi sama sekali. Sementara Reyhan dan Rendi hanya diam dalam kebisuan melepaskan kepergian Kiana dan ibunya dengan hati yang berkecamuk.


"Pak, antarkan kami ke komplek Pelita ya," ucap Kiana lembut dengan tatapan lurus ke depan.


"Baik, Nona," ucap sang supir.


Untuk sesaat suasana menjadi hening, diam dalam kebisuan, bahkan bi Iyem sama sekali tidak berani bertanya kepada Kiana.


"Ibu, kenapa menatap Kiana seperti itu?"


Sadar diperhatikan, Kiana membuat bi Iyem terbebas dari suasana diam dan canggung ini.

__ADS_1


"Ibu, hanya khawatir," ujar bi Iyem lembut dan sopan, berharap apa yang beliau katakan tidak menyinggung Kiana.


"Jangan khawatir, Ibu, Kia baik-baik saja," ungkap Kiana dengan senyuman sembari menatap ibunya itu.


"Nak, apakah tidak ada dari kedua lelaki itu yang menarik hatimu?"


Bi Iyem sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam hati Kiana, walaupun sebenarnya ia sudah sangat tahu kalau ada nama Reyhan dalam hati Kiana.


"Bu, kita pulang saja ya! Kia sedang tidak ingin membahas apapun sekarang terutama tentang dua lelaki itu."


Pernyataan Kiana membuat bi Iyem tidak lagi bertanya kepada putri kesayangannya itu, karena jika Kiana berkata berhenti itu artinya mood Kiana sedang tidak baik, jika terus dibahas mungkin saja Kiana akan emosi.


"Ibu, saat ini sudah cukup bahagia bersama Ibu, jadi kita tidak usah memikirkan hal lain yang akan menyakiti kepala kita."


Kiana menggenggam tangan ibunya dan mengatakan kepada ibunya untuk tidak lagi membahas hal-hal yang membuat sakit kepala karena Kiana sudah merasa sangat puas dan bahagia karena memiliki orang tua sebaik bi Iyem.


"Nak, Ibu juga sangat bahagia hidup berdua saja denganmu. Tapi, Ibu tidak akan selamanya bisa menemanimu karena usia Ibu mungkin tidak akan lama lagi."


"Ibu, jangan berbicara seperti itu karena Ibu akan memiliki waktu yang lama dengan Kiana."


"Nak, tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk umur, jadi Ibu berharap suatu hari nanti kamu bisa memiliki seorang pendamping hidup yang mencintai dan menyayangimu dengan sangat tulus," ucap bi Iyem sembari menggenggam tangan Kiana dengan lembut, penuh cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus.


"Bu, saat ini hati Kiana masih sangat ragu dan bimbang. Jadi untuk sesaat Kiana ingin menenangkan hati dan perasaan ini terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menerima siapa sebagai suami Kiana," ucapku jujur.


"Oh iya, Nak, bagaimana rasanya mengenakan hijab? Apakah kamu akan menggenakan pakaian muslimah seperti ini sesuai dengan keinginan Mamamu, Nak?"


"Kiana belum tahu, Bu, keputusan apa yang akan Kiana ambil, mungkin Kiana akan memakainya sesuai dengan keinginan Mama atau mungkin akan berpakaian seperti biasa. Satu hal yang pasti, Kiana ingin belajar dan mendalami ilmu agama dan Kiana ingin menutup aurat karena tulus dan murni dari hati Kiana, bukan paksaan dari siapapun," jelas Kiana sembari tersenyum.


Kiana merasa sangat nyaman karena sehari ini ia mengenakan pakaian yang menutup aurat, namun ia belum memutuskan kedepannya akan seperti apa.


"Nak, apapun yang kamu putuskan akan Ibu dukung," ucap ibu sembari memelukku.

__ADS_1


"Oh iya, Nak, apakah besok kamu masuk sekolah kembali?" tanya ibu penasaran.


__ADS_2