
Dalam sepi dan sunyinya malam, Kiana teringat akan kenangannya semasa kecil bersama mama dan papanya. Kehidupan harmonis yang tidak akan pernah disangka akan berakhir tragis. Sungguh, rasanya saat itu Kiana diperlakukan seperti seorang putri oleh kedua orang tuanya, selain itu kedua orang tuanya terlihat saling mencintai dan menyayangi seperti sepasang insan manusia yang tidak bisa dipisahkan. Namun, kini mamanya telah tiada dan saat ini Kiana hanya tinggal bersama bibi yang sudah merawatnya sejak kecil dan kini telah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Sementara itu, papa yang disayangi sekaligus dibenci saat ini terlihat tidak baik-baik saja karena menyesal telah melakukan kesalahan kepadanya.
Hampir setiap hari papa Kiana menelpon, namun Kiana memilih untuk mengabaikannya karena Kiana masih belum bisa memaafkan papanya itu. Jangankan untuk memaafkan, untuk berbicara saja Kiana enggan. Kiana selalu terbayang bagaimana pengkhianatan papanya kepada mamanya dan bagaimana menderitanya ia dan mamanya akibat dari perbuatan papanya.
'Papa, kenapa hari ini tidak ada panggilan telepon dari Papa? Apakah Papa telah menyerah meminta maaf kepadaku?' ucap Kiana di dalam hati.
Terkadang kerinduan kepada papanya sedikit terobati ketika papanya menghubungi. Setidaknya papanya masih mengingat putri yang dulu disayanginya.
'Ah, mungkin dia sedang bersenang-senang,' ucap Kiana di dalam hati sembari memiringkan mulutnya.
Ya, ini kali pertama setelah sebulan Kiana merasa kecewa karena papanya tidak menghubunginya.
Kring ..., kring ..., kring ....
Ponsel Kiana berdering dan dengan terburu-buru Kiana langsung segera mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.
[Apa? Ngapain menelpon malam-malam seperti ini? Ingin meminta maaf lagi?]
Ungkapan tanpa basa-basi sperti itu malah membuat Reyhan tersenyum dari seberang sana.
Reyhna sangat suka melihat Kiana mengomel dan cerewet seperti itu karena Kiana terlihat sangat lucu sekali.
[Sayang, kok belum tidur?]
Terdengar oleh Kiana suara lembut Reyhan yang membuat Kiana malu dan salah tingkah. Ya, walaupun Kiana sering marah-marah dan melampiaskan amarahnya kepada Reyhan, tapi saat ini Reyhan telah berstatus sebagai kekasihnya, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
[Iih, Reyhan, ngapain sih!]
Kiana tahu kalau Reyhan mungkin saja menghuubunginya karena masalah pekerjaan atau urusan tugas sekolah yang harus dikumpulkan sebelum ujian, atau hanya untuk sebuah kata, "Sayang, aku merindukanmu." Namun, saat ini Kiana benar-benar tidak mood untuk meladeni kekasihnya yang sangat usil itu, karena ia sedang merindukan papanya dan menunggu panggilan telepon dari papanya.
[Sayang, jangan cemberut, nanti makin jelek!]
Ocehan receh yang keluar dari lisan Reyhan memang sangat menghibur Kiana, apalagi ocehan itu dari seorang sahabat, bos sekaligus kekasih hati yang teramat sangat Kiana cintai.
__ADS_1
[Sayang, keluarlah!]
Aneh bin ajaib, Reyhan meminta Kiana keluar dari rumahnya padahal jam dinding telah menunjukkan pukul 12.30 dini hari.
[Apaan sih!] balas Kiana sinis.
[Buka deh jendelanya, Sayang!}
Kiana menurut, ia membuka jendela kamarnya dan yang benar saja, ia melihat ada Reyhan disana dengan senyum semeringah yang terlihat indah walaupun di balik lampu dan gelapnya malam.
[Sayang, kamu ngapain malam-malam kesini?]
Kiana ingin segera berlari keluar dan langsung mmenjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Reyhan, namun Reyhan menahannya dan meminta Kiana tetap disana karena ia hanya sebentar untuk melepaskan rindu di hatinya.
[Sayang, besok adalah hari libur, bagaimana kalau kita jalan-jalan?]
Kata-kata yang sangat membangkitkan mood karena aku memang sudah lama sekali tidak jalan-jalan. Hari-hariku sibuk dengan pekerjaan yang sangat sibuk sehingga sulit sekali memiliki waktu untuk menyenangkan diri sendiri.
Kiana penasaran kemana Reyhan akan membawanya, karena Kiana sering sekali dibohongi sama Reyhan yang mengatakan akan mengajaknya berjalan-jalan, tapi ternyata hanya mengurus pekerjaan.
[Yang pastinya bukan mengurus pekerjaan.]
Seolah bisa membaca pikiran Kiana, Reyhan membantah apa yang ada di dalam hati Kiana itu sehingga senyum semeringah tergambar jelas di wajah Kiana.
[Sekarang kamu istirahatlah! Aku akan pulang dan jangan memikirkan apa-apa lagi, segera tidur!]
Kiana patuh dan menurut, setelah memastikan Reyhan pergi, Kiana segera tidur dan menutup matanya.
Rasanya sepi sekali di rumah ini karena ibunya pulang kampung beberapa hari, sebab ada keluarga di kampung sedang sakit.
Kiana juga sangat tahu, kalau kedatangan Reyhan saat ini ke rumahnya adalah untuk memastikan keadaannya baik-baik saja
Kiana bersyukur karena ia memiliki kekasih seperti Reyhan, lelaki yang bisa menjadi teman, sahabat yang selalu ada untuknya. Namun, Kiana belum siap menikah dengan Reyhan dalam waktu dekat karena mereka berdua masih terhalang restu, papa Reyhan belum merestui hubungan mereka seutuhnya jika Reyhan dan Kiana belum bisa membuktikan kesuksesan perusahaan mereka.
__ADS_1
'Ah, sudahlah!'
Kiana menutup matanya dan berharap esok hari ia terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang lebih baik.
Ya, azan subuh membangunkan Kiana, suara merdu yang menggema itu membuat Kiana segera bangkit dan memenuhi panggilan jiwa. Setelah itu, Kiana beberes untuk menyiapkan makanan yang akan ia bawa piknik.
Kiana saat ini suka sekali memasak karena ibunya mengajarkannya memasak, apalagi ia akan menikah, ia lebih rajin belajar memasak karena nanti ia ingin menyajikan masakan-masakan enak untuk suami dan anak-anaknya.
"Reyhan suka sekali dengan spagetti teriyaki bikinan aku, aku harus membuatkannya untuk Reyhan," ucap Kiana bersemangat.
Kiana dengan piawainya memasak dengan penuh ketulusan, cinta dan kasih sayang yang tulus untuk kekasih hatinya. Setelah itu Kiana bersiap-siap sebelum Reyhan datang menjemputnya.
Kiana menggenakan seragam sekolah berwarna putih dengan rom dengan panjang melebihi lututnya. Rambunya dibiarkan panjang terurai dan gaya natural sederhana yang membuat penampilannya terlihat sangat cantik.
Ting ..., tong ....
Bel rumah Kiana berbunyi dan dengan segera gadis cantik itu segera berlari keluar rumahnya, karena ia sangat tahu kalau Reyhan-lah yang datang untuk menjemputnya.
'Tumben cepat banget datangnya,' ucap Kiana di dalam hati.
Tapi Tania merasa sangat senang sekali jika mereka cepat berangkat ke sekolah karena mereka akan memiliki banyak waktu untuk sekedar berkeliling sekolah agar tidak terlalu stres sebelum ujian dimulai.
"Reyhan, kamu ce-,"
Untuk sesaat Kiana terdiam, karena yang berdiri di depannya bukanlah Reyhan, tapi sosok lelaki separuh baya dengan uban yang telah bersarang di kepalanya, lelaki dengan menggenakan jas berwarna hitam dengan senyum yang masih khas. Lelaki yang Kiana rindukan dan lelaki yang sangat Kiana sayangi dan cintai namun juga Kiana benci.
"Assalamualaikum, Nak, selamat pagi," sapa papa Kiana dengan lemah lembut.
Kiana senang melihat sosok papanya ada disini karena sedari malam tadi Kiana sangat merindukan papanya itu dan kini Kiana bisa melihat sosok yang sangat dirindukannya itu. Namun, Kiana diam tertunduk karena rasa rindu bercampur kebencian itu masih menyelimuti hati Kiana.
"Kiana, Papa minta maaf untuk semua yang terjadi, Papa menyesal!"
Papa Kiana bersujud dan meminta maaf dengan tulus di depan Kiana dengan cucuran air mata yang jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1