
Ibu menatap Kiana dengan tatapan serius, sorot matanya memperlihatkan kalau beliau sedang tidak bercanda.
Beliau sangat menyayangi Kiana dan beliau sangat ingin melihat Kiana menikah sebelum ajal mungkin saja menjemput dalam waktu dekat.
Sementara Kiana, ia mulai merasa takut ketika melihat keseriusan di wajah ibunya. Ia takut tidak bisa mengabulkan permintaan terakhir sang ibu seperti saat ia tidak bisa mengabulkan keinginan mamanya.
"Ibu, Kiana akan menikah dengan lelaki yang Kia cintai dan akan memberikan cucu untuk Ibu, ta-pi,"
Untuk sesaat Kiana mengehentikan ucapannya, seolah tidak sanggup melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.
"Tapi apa, Nak? Apakah kamu takut kalau Reyhan tidak datang tepat waktu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan?"
Seolah tahu dengan apa yang Kiana pikirkan, bi Iyem ingin sekali menguatkan putrinya.
"Nak, perkara maut, rezeki dan jodoh, sudah diatur oleh Allah jauh sebelum kita terlahir ke dunia, jadi kita hanya diminta untuk berikhtiar dengan maksimal, berdoa agar orang yang kita sukai menjadi jodoh kita, namun jika ia yang kita cintaia bukanlah jodih kita, maka kita harus bersiap dengan jodoh yang telah Allah siapkan untuk kita dan siapapun orangnya, ia adalah yang terbaik untuk kita, Nak. Karena, bisa jadi kita menyukai sesuatu tapi tidak baik untuk kita dan bisa jadi kita membenci sesuatu padahal ia sangat baik untuk kita, Allah Maha Tahu sementara kita tidak, Nak," ucap bi Iyem menasehati Kiana.
Kiana tahu, apa yang disampaikan oleh ibu benar adanya, namun tetap saja ada kekhawatiran di hatinya jika Reyhan tidak datang berarti ia harus siap menikah dengan Rendi.
"Ibu, sekarang Ibu istirahatlah! Kiana ingin Ibu cepat sehat," ucap Kiana lembut.
Kiana membantu bi Iyem berbaring kemudian menyelimuti wanita separuh baya itu.
"Terima kasih banyak, Nak, sekarang kamu juga istirahatlah!"
"Iya, Bu," jawab Kiana lembut sembari tersenyum.
Setelah memastikan ibunya tertidur, Kiana kemudian berjalan ke sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Kiana melihat kakinya yang berbalut plester dengan motif hati berwarna merah muda pemberian Reyhan.
Kiana tersenyum dan merasa sangat senang dengan apa yang dikatakan oleh Reyhan kepadanya. Ya, walaupun Reyhan terkadang bersikap kasar, hatinya tetap baik dan Reyhan tetap sama, ia tidak berubah sama sekali. Reyhan tetap menjadi malaikat yang menjaga dan melindungi Kiana dengan segenap hatinya.
Namun, ada kegelisahan di hati Kiana tentang keadaan Reyhan saat ini.
Kiana kemudian meletakkan tangannya di dada, ia lalu memejamkan matanya, membayangkan wajah tampan Reyhan sembari mendoakan yang terbaik untuk Reyhan.
__ADS_1
'Rey, aku berdoa yang terbaik untuk kelancaran hubungan kita, semoga kamu mendapatkan restu dari kedua orang tuamu agar kita bisa bersama,' ucap Kiana di dalam hati hingga perasaannya merasa lebih baik.
Huft ...
Kiana menarik nafas panjang beberapa kali, ia merasakan segenap perasaannya
Kiana kemudian membaringkan tubuhnya di sofa.
Namun, tiba-tiba Kiana teringat dengan papanya. Kiana mulai membayangkan bagaimana ia akan menikah tanpa seorang wali. Ia tidak ingin lagi berhubungan dengan papanya, tapi menikah harus dengan restu dari papanya, bahkan jika orang tua masih ada harus orang tua laki-lakilah yang menikahkannya, tidak boleh diwakilkan dengan siapapun.
'Pa, bagaimana keadaan Papa sekarang? Apakah Papa sehat dan baik-baik saja?' ucap Kiana di dalam hati.
Kiana sudah lama sekali tidak bertemu dengan papanya, hampir setahun Kiana juga tidak pernah lagi mendengar kabar apapun tentang papanya, hilang kontak dan tidak ada komunikasi lagi.
"Woi gadis nggak tahu diri, enak-enak ya kamu tidur disini. Puas menghancurkan hubungan orang lain?"
Tiba-tiba rambut Kiana dijambak dan ia dibentak dengan kasar oleh Wilona.
"Lepaskan! Sakit!"
Hanya itu kata-kata yang keluar dari lisan Kiana, ia berusaha menurut karena ia tidak ingin membuat ibunya terbangun.
Kiana tidak masalah jika ia dibentak atau diperlakukan kasar oleh Wilona, tapi ia tidak suka jika kesenangan ibunya diganggu. Ia tidak ingin ada orang lain yang mengusik atau membuat ibunya terganggu.
Kiana melepaskan tangan Wilona yang menarik rambutnya. Kini Kiana yang menarik tangan Wilona dan menyeretnya keluar dari ruangan.
"Lepaskan gw!"
Bentakan Wilona tidak dihiraukan oleh Kiana sama sekali. Kiana harus melawan dan terlihat kuat agar ia tidak lagi diinjak-injak.
"Yang pertama jangan bersikap tidak sopan kepadaku, Ibuku sedabg sakit! Yang kedua jangan menyakitiku dengan sikapmu yang sangat kasar karena aku tidak suka!"
Bentakan keras akhirnya Kiana lontarkan. Ia sebenarnya tidak ingin membalas atau berhadapan dengan Wilona, tapi kini masalah harga diri dan kesehatan ibunya.
"Gara-gara lo pertunanganan gw dan Mas Reyhan harus hancur dan berantakan, mikir nggak sih?"
__ADS_1
Wilona menunjuk kiri jidat Kiana dengan mata memerah dan amarah yang memuncak.
"Yang pertama, aku bukan orang yang membuat hubungan kalian berakhir, tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan!"
Setelah mengucapkan kata-kata itu Kiana pergi meninggalkan Wilona, ia tidak ingin lagi mencari gara-gara lagi dengan wanita kasar yang tidak sopan itu.
Kiana membalikkan badannya dan berjalan pepan untuk kembali ke kamar ibunya.
"Dasar wanita lajang!"
Wilona menarik rambut Kiana dengan sangat kasar, lebih kasar dari yang sebelumnya hingga ada beberapa helai rambut Kiana yang rontok.
"Lepaskan tanganmu dari tangan anak saya!" ucap seseorang yang sangat Kiana kenal suaranya.
'Papa, apa itu benar-benar Papa?' ucap Kiana di dalam hati.
'Ah, tidak mungkin, mana mungkin Papa akan datang ke rumah sakit ini, pasti sekarang Papa sedang bahagia dengan selingkuhannya.'
Hati Kiana membantah dan tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Tolong lepaskan tangan itu!"
Suara itu terdengar sekali lagi di telinga Kiana dan terdengar semakin dekat.
"Anak?" ucap Wilona hingga pegangan tangannya di kepala Kiana menjadi longgar.
Kiana membalikkan badannya dan alangkah terkejutnya ia melihat sosok yang ada di depan matanya memang papanya, sosok pria yang sudah tidak ia temui hampir dari setahun belakangan.
Ada kerinduang dan kebencian yang menyatu hingga Kiana rasanya ingin memaki dan kabur dalam waktu bersamaan.
"Jangan pernah lagi kamu menyakiti dan melukai anak saya!" ucap lelaki paruh baya dengan keriput dan garis halus yang kini bertambah di wajah tampan lelaki itu.
"Saya harus pergi!"
Kiana akhirnya memutuskan pergi dari dua orang yang ingin dihindarinya. Langkah kaki Tania sangat cepat dengan sejuta kebencian dan kerinduan yang menjadi satu yang membuat air mata Kiana jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
Kekecewaan dan kerinduan itu membuat Kiana lemah dan tidak berdaya hingga tidak ada yang bisa dilakukannya selain menangis dan meneteskan air mata.
"Kiana, tunggu! Papa ingin bicara."